Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 24

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 24

Pada akhirnya kalian sendiri yang akan mengenal kekuatan itu yang akan tumbuh berkembang dengan sendirinya," berkata Putu Risang setelah merinci apa dan bagaimana kekuatan sejati itu tumbuh berkembang.

Sementara itu, langit di atas tepian sungai terlihat mulai berkabut tebal, pertanda akan segera turun hujan.

"Hari akan turun hujan, kita kembali ke tempat masing-masing sambil menunggu perkembangan selanjutnya tentang tugas kita ini, membayangi gerakan Patih Anggajaya," berkata Putu Risang sambil bangkit berdiri.

Terlihat Gajahmada dan Pangeran Jayanagara ikut berdiri.

Kabut di atas langit terlihat semakin menebal hitam, namun belum juga turun hujan ketika mereka bertiga telah menyusuri jalan Kotaraja Kawali.

"Carilah kami di pasar," berkata Putu Risang kepada Gajahmada ketika dirinya berbelok berpisah menuju tempat pondokannya.

Dan hujan mulai turun rintik-rintik ketika Gajahmada memasuki barak prajurit.

"Manakala Ki Lurah Prajoga menunggumu," berkata seorang prajurit yang mengenal Gajahmada.

Mengetahui dirinya tengah ditunggu oleh Ki Lurah Prajoga, Gajahmada langsung menuju sebuah tempat di barak itu yang biasa digunakan sebagai tempat pertemuan para perwira. Di ruang itu, Gajahmada melihat ada dua orang tengah bercakap-cakap, dua orang yang sudah dikenalnya, yaitu Ki Lurah Prajoga dan Ki Lurah Pramuji.

"Kukira kamu datang menjelang malam nanti," berkata Ki Lurah Prajoga menyambut kedatangan Gajahmada.

"Di Kotaraja ini aku tidak punya kerabat, jadi seharian ini cuma jalan-jalan ke pasar," berkata Gajahmada kepada Prajoga.

"Kami memang sedang menunggumu," berkata Prajoga mengawali pembicaraan yang akhirnya ternyata mengarah kepada penugasan Gajahmada.

"Ki Lurah Pramuji telah meminta dirimu bertugas di lingkungan prajurit pengawal. Kamu ditempatkan sebagai pengawal pribadi Patih Anggajaya," berkata Prajoga kepada Gajahmada.

"Sebenarnya secara pribadi, aku telah menyukai dirimu, menginginkan dirimu bertugas di kesatuanku," berkata Prajoga kembali.

"Persiapkan dirimu, aku akan mengantarmu ke tempat kediaman Patih Anggajaya," berkata Ki Lurah Pramuji sambil tersenyum. Entah apa yang dipikirkannya tentang Gajahmada yang dinilainya punya nilai khusus di hati Pangeran Citraganda dan Putri Dyah Rara Wulan, sampai-sampai kedua putra dan putri istana itu telah menitipkan sebuah pesan amanat tentang sebuah tugas pada diri seorang prajurit baru itu, seorang anak dusun, orang biasa seperti Gajahmada itu.

Mendengar sebuah tugas baru itu, terlihat Gajahmada pura-pura baru mendengar, padahal semua sudah direncanakan sebelumnya.

"Pengaruh Pangeran Citraganda cukup kuat di istana ini," berkata Gajahmada dalam hati.

"Kamu dapat belajar dengan para prajurit lainnya di sana," berkata Ki Lurah Pramuji kepada Gajahmada.

"Aku akan mempersiapkan diri," berkata Gajahmada sambil berdiri bangkit dari duduknya, berjalan keluar ruangan itu menuju ke baraknya untuk mengambil beberapa barang miliknya.

Demikianlah, sore itu Gajahmada diantar Ki Lurah Pramuji ke tempat kediaman Patih Anggajaya. Tempat kediaman Patih Anggajaya berada di pinggir jalan Kotaraja Kawali. Sebuah bangunan rumah yang cukup megah dan luas berjajar dengan rumah para bangsawan Kawali pada umumnya.

"Aku membawa seorang prajurit baru, namanya Mahesa Muksa," berkata Ki Lurah Pramuji memperkenalkan Gajahmada kepada kepala prajurit pengawal di rumah Patih Anggajaya.

"Selamat bergabung di lingkungan para prajurit pengawal," berkata Kepala Prajurit itu kepada Gajahmada.

Demikianlah, sejak saat itu Gajahmada telah bergabung sebagai prajurit pengawal yang ditempatkan di rumah kediaman Patih Anggajaya. Baru satu dua hari saja, Gajahmada sudah banyak mengenal orang-orang yang berada di kediaman rumah Patih Anggajaya, seorang pekatik, para pengalasan, dan beberapa pelayan dalam. Dan semua pekerja di lingkungan rumah Patih Anggajaya dalam waktu begitu singkat telah mengenal Gajahmada sebagai seorang prajurit muda yang ramah, rendah hati, serta begitu mudah bergaul.

Putu Risang dan Pangeran Jayanagara akhirnya seperti hapal kapan dapat menjumpai Gajahmada, yaitu bila suatu hari Gajahmada bertugas malam, maka siangnya mereka biasa bertemu di tepian sungai yang sepi. Demikianlah Gajahmada dan Pangeran Jayanagara berlatih meningkatkan pemahaman tentang kekuatan yang ada di dalam diri mereka, tenaga sakti sejati. Dan semakin hari mereka berdua semakin cepat meningkat, lebih-lebih Gajahmada yang telah mempunyai tambahan tenaga sakti dari ayahnya sendiri, sang pertapa dari Gunung Wilis.

Demikianlah, sore itu Kotaraja Kawali baru saja diguyur hujan lebat sehingga ketika menjelang malam hari udara di sekitar Kotaraja Kawali menjadi begitu dingin dan sepi.

"Udara begitu dingin," berkata seorang pengawal prajurit yang tengah bertugas di gardu ronda rumah kediaman Patih Anggajaya kepada Gajahmada yang tengah bertugas jaga di malam itu.

"Nampaknya semua orang sudah tertidur pulas," berkata Gajahmada menyambut perkataan kawannya itu.

"Di saat udara dingin dan sepi seperti ini kita harus semakin waspada," berkata kawan Gajahmada.

"Benar, orang yang bermaksud jahat biasanya menunggu saat seperti ini," berkata Gajahmada.

Dan malam di atas rumah kediaman Patih Anggajaya saat itu memang terlihat begitu dingin dan sepi, temaram cahaya pelita tidak mampu menerangi kekelaman malam di halaman muka yang cukup luas itu. Suasana malam pun menjadi semakin sepi manakala terdengar sayup suara kentongan nada dara muluk terdengar dari sebuah tempat yang jauh.

"Tunggulah di sini, aku ingin berkeliling melihat suasana," berkata Gajahmada kepada kawannya itu. Maka di keremangan suasana malam, terlihat Gajahmada telah keluar dari gardu ronda berjalan lewat halaman samping menuju ke arah belakang rumah utama. Ternyata Gajahmada memang tengah merasakan panggraitanya yang sudah semakin tajam. Terlihat Gajahmada telah merapat di dinding rumah ketika melihat ada dua bayangan berkelebat masuk melewati dinding pagar rumah yang cukup tinggi.

"Dua orang yang berilmu cukup tinggi," berkata Gajahmada dalam hati ketika dua bayangan itu begitu hinggap di pekarangan rumah, sudah langsung melesat dan melenting dengan begitu mudahnya, sudah berada di atas atap rumah. Namun tanpa rasa gentar sedikit pun, Gajahmada sudah menghentakkan kakinya, melesat tinggi hinggap di atas atap wuwungan rumah. Bukan main terkejutnya dua orang yang sudah lebih dahulu berada di atas atap wuwungan rumah itu melihat ada orang lain di belakang mereka.

"Jangan lari!!" berkata Gajahmada kepada kedua orang itu yang telah melesat berlari di atas atap rumah, mungkin karena melihat kehadiran Gajahmada. Terlihat Gajahmada terus memburu kedua orang itu yang sudah turun meloncat ke bawah. Kedua orang itu pastilah punya ilmu yang cukup tinggi, karena begitu ringan dan mudahnya melompat ke pekarangan belakang dan langsung pergi melompati dinding pagar yang juga cukup tinggi.

Tapi Gajahmada yang sudah sering berlatih, mengenal kekuatan ilmu sejatinya, sudah langsung melesat mengikuti kemana arah lari kedua orang itu. Maka kejar-kejaran pun terlihat di malam gelap itu.

"Berhenti!!" berkata Gajahmada yang sudah berada dekat dengan mereka. Bukan main kagetnya kedua orang itu, tidak menyangka sama sekali bahwa seorang pengawal prajurit dapat mengimbangi kecepatan mereka berlari. Mungkin karena merasa yang mengejar hanya seorang diri, maka kedua orang itu memang telah menghentikan langkahnya dan langsung berbalik badan.

"Menyerahlah, aku akan menangkap kalian," berkata Gajahmada kepada kedua orang itu. Kedua orang itu terlihat memakai cadar hitam tertutup, sukar sekali mengenali wajah mereka, apalagi saat itu suasana terlihat begitu gelap. Kedua orang itu tidak langsung menjawab, terlihat mereka berdua saling berbisik satu dengan yang lainnya.

"Apakah kamu hendak menangkap kami, Mahesa Muksa?" bertanya salah seorang di antara mereka.

"Siapa kalian?" berkata Gajahmada menjadi meragu mendengar salah seorang di antara mereka menyebut namanya.

"Baru beberapa pekan sudah lupa denganku?" berkata seorang yang tadi berkata sambil melepas cadar hitamnya. Terkejut bukan kepalang Gajahmada manakala telah mengenali siapa salah seorang dihadapannya.

Malam memang terlihat begitu suram menghalangi wajah orang yang telah membuka cadar hitamnya, tapi penglihatan Gajahmada tidak akan salah mengenali sebuah wajah dan suara itu. Ternyata wajah dan suara itu masih dikenal oleh Gajahmada sebagai wajah seorang gadis jelita yang siapapun bila pernah berjumpa dengannya pasti tidak akan melupakannya. Siapakah gadis jelita yang sudah dikenal oleh Gajahmada? Ternyata gadis itu adalah Andini, seorang putri penguasa Rawa Rontek.

"Andini?" berkata Gajahmada perlahan menyebut nama gadis itu.

"Ternyata kamu seorang prajurit pengawal," berkata seorang lagi yang juga telah membuka cadarnya.

"Paman Kebo Samparan!" berkata Gajahmada memandang orang kedua yang juga masih dikenali sebagai ayah kandung dari Andini, penguasa dan majikan Rawa Rontek.

"Apakah kamu masih ingin menangkap kami?" berkata Paman Kebo Samparan kepada Gajahmada. Terlihat Gajahmada seperti ragu, merasa bimbang apa yang akan dilakukan olehnya terhadap kedua orang yang dikenalnya itu. Gajahmada pun berpikir dalam hati bahwa ayah dan anak itu bukanlah seorang penjahat.

"Kalau boleh tahu, apa yang kalian inginkan dengan memasuki kediaman Patih Anggajaya di malam hari, juga dengan cara sembunyi?" berkata Gajahmada.

"Ayahku dapat menjelaskannya," berkata Andini sambil menoleh kepada ayahnya, Kebo Samparan, yang diharapkan dapat menjelaskan semuanya hingga tidak ada salah paham sedikit pun dari Gajahmada.

"Kami bersama Andini telah mencari tahu tentang keberadaan ibunya. Di Kotaraja Rakata kami mendapat sebuah keterangan bahwa ibunya Andini telah menjadi seorang istri seorang pejabat istana Pasundan. Akhirnya pejabat itu kami ketahui adalah Patih Anggajaya."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment