Chapter 25
"Itulah sebabnya, di malam hari kami bermaksud ingin meyakini bahwa ibunya Andini benar-benar berada di rumah itu," kata Kebo Samparan, menjelaskan semuanya kepada Gajahmada.
"Mengapa tidak datang secara terang-terangan di siang hari?" bertanya Gajahmada.
"Kami takut Ibunda Andini belum siap menerima kami," kata Kebo Samparan, memberikan sebuah alasan.
Terlihat Gajahmada, yang pernah mendengar sebuah cerita tentang kisah asmara Paman Kebo Samparan dengan seorang putri dari Kerajaan Rakata itu, diam-diam dapat memahami alasan Kebo Samparan mendatangi kediaman Patih Anggajaya di malam hari.
"Waktu kita sangat singkat, ada yang perlu kalian ketahui tentang Patih Anggajaya. Besok kutunggu kalian di tepian sungai selatan Kotaraja Kawali," kata Gajahmada kepada Andini dan Kebo Samparan.
"Baik, kami akan ke sana besok pagi," kata Kebo Samparan sambil memegang tangan Andini dan melambaikan tangannya kepada Gajahmada.
Kegelapan malam seperti telah menelan tubuh mereka yang sudah tidak terlihat lagi.
Sementara itu, Gajahmada masih berdiri menarik napas panjang, entah apa yang dipikirkannya. Apakah kepergian gadis jelita itu, atau kisah ayah dan anak yang berkaitan dengan Patih Anggajaya, seorang yang gerak-geriknya tengah dibayangi sehingga ia menyamar sebagai seorang prajurit pengawal?
Terlihat Gajahmada telah berbalik badan kembali ke rumah Patih Anggajaya, sebagaimana ia keluar, yakni dari dinding pekarangan belakang.
Pekarangan belakang rumah Anggajaya masih terlihat sepi.
"Lama sekali kamu ke belakang," kata kawan Gajahmada ketika melihatnya muncul kembali di muka gardu penjaga.
"Ki Ijam masih belum tidur, minta ditemani berbincang-bincang," kata Gajahmada, memberikan sebuah alasan.
Pagi itu cahaya matahari telah menerangi bumi Kotaraja Kawali.
Terlihat beberapa orang sudah berlalu-lalang di jalan Kotaraja, mungkin ada di antara mereka yang tengah berangkat ke pasar Kotaraja.
Di antara orang-orang yang berlalu-lalang di jalan Kotaraja, terlihat seorang pemuda tengah berjalan ke arah selatan Kotaraja.
Pemuda itu adalah Gajahmada yang tengah menuju ke sebuah tepian sungai, sebuah tempat yang sangat sepi dan jarang sekali dikunjungi oleh siapa pun saat itu.
Ketika Gajahmada tiba di tepian sungai itu, dilihatnya Andini bersama ayahnya sudah mendahuluinya.
Andini menyambutnya dengan sebuah senyum, juga ayah kandungnya tersenyum ramah kepada Gajahmada.
"Kita bertemu lagi, sahabat muda," kata Kebo Samparan kepada Gajahmada ketika telah mendekati mereka berdua.
"Apakah kalian berdua sudah lama menunggu?" bertanya Gajahmada.
"Kami belum lama datang," jawab Andini.
"Kita masih harus menunggu dua orang kawan lagi," kata Gajahmada.
"Siapa dua orang kawan kita itu?" kali ini Kebo Samparan yang bertanya kepada Gajahmada.
"Kakang Putu Risang dan Pangeran Jayanagara," kata Gajahmada singkat.
"Ternyata mereka ada di Kotaraja Kawali pula," kata Kebo Samparan yang masih ingat dengan Putu Risang dan Pangeran Jayanagara.
"Apakah kalian biasa bertemu di tepian sungai ini?" tanya Andini kepada Gajahmada.
"Dalam hari-hari tertentu, biasanya di saat aku bebas tugas sebagai pengawal prajurit," kata Gajahmada menjelaskan.
Ternyata mereka tidak perlu lama menunggu, tidak lama berselang telah terlihat Putu Risang dan Pangeran Jayanagara tengah mendatangi mereka.
"Dunia sepertinya begitu sempit," kata Kebo Samparan penuh kegembiraan telah bertemu kembali dengan Putu Risang dan Pangeran Jayanagara.
Sebelum Putu Risang bertanya, Gajahmada pun dengan singkat telah bercerita tentang pertemuan mereka tadi malam di kediaman Patih Anggajaya.
Putu Risang dan Pangeran Jayanagara, yang pernah mendengar kisah asmara antara Kebo Samparan dan seorang putri bangsawan Kerajaan Rakata, sudah langsung dapat mengerti kepentingan ayah dan anak itu, yaitu ingin mengetahui keadaan Ibunda Andini, yang saat itu telah menjadi istri Patih Anggajaya.
Maka dengan singkat pula, Putu Risang memberikan penjelasan mengapa mereka berkeliaran di sekitar Kotaraja Kawali, di samping masih berkaitan dengan hilangnya Kujang Pangeran Muncang, juga tengah membayangi sebuah gerakan hitam yang akan dilakukan Patih Anggajaya.
Dan hari-hari pun berlalu bersama musim penghujan di bumi Kotaraja Kawali saat itu, di mana para petani menjadikannya sebagai masa-masa penuh gairah sebagai awal musim untuk memulai bercocok tanam.
Sebuah perputaran musim yang masih terus teratur sepanjang tahun, sebuah anugerah alam dalam perputaran iklim dan musim di atas tanah Pasundan yang subur.
Namun, musim penghujan kali ini telah membuat suasana di atas Kotaraja Kawali menjadikan hari-harinya lebih dingin lagi, terutama manakala malam tiba.
Dingin dan kebekuan memang telah menyelimuti suasana malam di bumi Kotaraja Kawali.
Seperti itu pula suasana jiwa yang mengiringi hari-hari Dewi Kaswari, seorang wanita yang telah disunting oleh Patih Anggajaya menjadi istrinya itu.
Semula Dewi Kaswari telah berharap bahwa perkawinannya dapat menghapus segala keresahan dan kegetiran hidupnya.
Dewi Kaswari telah berharap bahwa suaminya, Anggajaya, adalah seorang pria yang dapat membawanya ke dalam kehidupan penuh ketenteraman hati.
Namun, semua harapan itu seperti hanya tergantung dalam langit khayal, Anggajaya ternyata bukan seorang suami yang baik.
Kehadirannya di sisi putri kesayangan Raja Rakata itu ternyata hanya sebuah batu pijakan dalam sebuah hasrat ambisi yang membumbung menggulung-gulung dalam jiwa lelaki itu.
Anggajaya adalah sebuah sosok lelaki yang terlahir dan dibesarkan membawa benih dendam kesumat dari sebuah pergolakan dan kekalahan sebuah peperangan.
Dia adalah putra seorang Senapati Kerajaan Rakata yang terbunuh dalam sebuah peperangan besar dalam perebutan kekuasaan di bumi Pasundan.
Dan sepertinya, akhir perjalanan hasrat Patih Anggajaya akan tergelincir di ujung harapannya. Hingga pada sebuah pagi, seorang pemuda, seorang pengawal prajurit yang bertugas di rumahnya, datang menghadap menemui Dewi Kaswari di pendapa Patih Anggajaya.
"Mohon ampun Nyi Ayu, perkenankan hamba menghadap," kata prajurit pengawal muda itu yang ternyata adalah Gajahmada.
"Kuperkenankan engkau menghadap, apa kiranya yang hendak kamu sampaikan wahai anak muda?" kata Dewi Kaswari yang sudah mengenal Gajahmada sebagai seorang prajurit muda yang baru bertugas di lingkungan tempat tinggalnya.
Terlihat Dewi Kaswari bersama seorang pelayan tua memperhatikan dengan saksama ke arah Gajahmada yang tengah mengambil sesuatu dari balik pakaiannya.
Dengan penuh hormat, Gajahmada memperlihatkan sebuah benda di hadapan Dewi Kaswari, berbentuk seperti sebuah tusuk konde dari bahan perak berukir pohon pisang, sebuah benda hasil karya yang unik dan halus. Siapa pun di zaman itu akan tahu pasti bahwa itu adalah buah karya para perajin dari Kotaraja Rakata yang sudah termasyhur di penjuru dunia pada zamannya.
"Hamba ingin menyerahkan benda ini kepada Nyi Ayu," kata Gajahmada kepada Dewi Kaswari.
Terlihat Dewi Kaswari begitu terperanjat menatap benda di tangan Gajahmada.
Dewi Kaswari tidak langsung mengambil benda itu dari tangan Gajahmada, matanya masih terpaku pada benda berbentuk tusuk konde itu.
Dan seperti sebuah untaian manik-manik yang ditarik paksa, pecah berurai seketika.
"Bibi!!" hanya itu yang terdengar dari suara Dewi Kaswari yang telah rebah memeluk pelayan tua di sampingnya.
Bibi Ijah, demikianlah nama panggilan pelayan tua itu, terlihat tengah mengusap-usap rambut majikannya.
Seperti seorang ibu, Bibi Ijah yang telah merawat Dewi Kaswari sejak kecil itu sepertinya tahu betul apa yang ada dalam perasaan majikannya.
"Biarkan kami berdua di sini," kata Bibi Ijah kepada Gajahmada dengan suara berbisik.
Dan Gajahmada mengerti maksud perkataan Bibi Ijah, maka diserahkannya benda itu kepada Bibi Ijah sambil pamit untuk kembali bertugas di gardu penjagaan.
Terlihat Gajahmada sudah berada di pekarangan rumah menuju ke gardu penjagaan.
Hati dan perasaan Gajahmada masih terbawa suasana di atas pendapa kediaman Patih Anggajaya itu.
Gajahmada memahami perasaan Dewi Kaswari saat itu sebagai perasaan seorang wanita yang sangat halus mengingat kembali masa yang tidak akan mungkin dapat dilupakannya.
"Tolong panggilkan untukku pengawal prajurit itu, Bibi," kata Dewi Kaswari yang sudah mulai dapat menguasai perasaan hatinya.
Maka Bibi Ijah segera bangkit berdiri turun dari pendapa menuju ke gardu penjagaan.
"Nyi Ayu memintamu datang menghadapnya," kata Bibi Ijah kepada Gajahmada yang telah berada di gardu penjagaan bersama kawannya.
Maka segera terlihat Gajahmada sudah berjalan bersama Bibi Ijah di pekarangan rumah menuju pendapa rumah di mana Dewi Kaswari sedang duduk menunggu mereka.
Ketika mereka naik ke atas pendapa, terlihat Bibi Ijah langsung duduk di sebelah majikannya.
Sementara Gajahmada telah bersimpuh penuh hormat di hadapan Dewi Kaswari.
Terlihat Gajahmada menarik napas panjang, melihat sebentar kelopak mata Dewi Kaswari yang tebal seperti habis menangis.
"Dapatkah kamu bercerita siapa yang memberikan benda tusuk konde itu kepadamu?" tanya Dewi Kaswari kepada Gajahmada.
Terlihat Gajahmada tidak langsung menjawab, hanya menarik napas dalam-dalam kembali.
"Lelaki yang meminta hamba menyerahkan benda itu bernama Kebo Samparan," kata Gajahmada, berhenti sebentar sambil mengawasi apakah ada perubahan sikap di wajah Dewi Kaswari manakala ia menyebut sebuah nama.
Ternyata Dewi Kaswari sudah dapat menduga bahwa benda itu memang milik seorang lelaki yang sangat dikenalnya.
Sekilas Gajahmada melihat sebuah kilatan kegembiraan di mata Dewi Kaswari.
"Di mana kamu bertemu dengannya? Apakah ada pesan darinya? Di mana aku dapat menemuinya?" tanya Dewi Kaswari kepada Gajahmada.
Mendengar pertanyaan yang beruntun itu, Gajahmada terlihat sedikit tersenyum.