Chapter 26
"Hamba telah mengenalnya sebagai seorang majikan penguasa Rawa Rontek. Paman Bango Samparan datang bersama putrinya ke Kotaraja ini memang bermaksud bertemu dengan Nyi Ayu," kata Gajahmada perlahan.
"Dia datang bersama putrinya?" tanya Dewi Kaswari dengan wajah penuh kegembiraan yang terpancar dari rona cerah di matanya. "Berapa usia putrinya itu?" tanya Dewi Kaswari kembali.
"Lebih muda sedikit dari usia hamba saat ini," jawab Gajahmada.
"Di mana aku dapat menemui mereka?" tanya Dewi Kaswari dengan tidak sabar.
"Paman Bango Samparan berkata kepadaku bahwa ia tidak ingin kehadirannya mengganggu kehidupan Nyi Ayu. Kedatangannya ke Kotaraja Kawali hanya untuk mempertemukan putri kandungnya dengan Nyi Ayu. Untuk hal itu, hamba dapat mengaturnya," kata Gajahmada perlahan sembari memperhatikan sikap Dewi Kaswari. Ternyata dugaannya benar; Dewi Kaswari tampak sangat gembira, terutama saat mendengar ada seorang putri yang datang bersama Bango Samparan.
Dewi Kaswari merenung sejenak seperti sedang berpikir. "Apakah Bibi Ijah punya pemikiran agar aku dapat menemui putriku itu?" tanya Dewi Kaswari kepada Bibi Ijah yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.
Sementara itu, Gajahmada yang telah mendengar kisah asmara Bango Samparan dan Dewi Kaswari dapat memaklumi keraguan Dewi Kaswari saat menyebut kata "putriku"—sebuah kata rahasia yang telah lama dipendam rapat-rapat.
Bibi Ijah, yang juga mengetahui rahasia kisah cinta majikannya, menarik napas dalam-dalam dan berusaha berpikir keras. Wajah Bibi Ijah kemudian menjadi cerah dengan sedikit senyuman di bibirnya, pertanda ia telah menemukan jalan keluar.
"Siapa nama putri Bango Samparan?" tanya Bibi Ijah kepada Gajahmada.
"Namanya Andini," jawab Gajahmada.
"Kita dapat membawanya ke sini. Untuk menghindari kecurigaan orang, kita bisa menyusupkannya sebagai seorang pelayan dalam. Apakah Nyi Ayu tidak berkeberatan dengan pemikiranku ini?" tanya Bibi Ijah sambil menoleh ke arah Dewi Kaswari.
Sejenak Dewi Kaswari menatap wajah pelayan tua yang sangat dikasihi dan dipercayainya itu. Tanpa berkata apa pun, Dewi Kaswari menganggukkan kepala sebagai tanda menyetujui usulan Bibi Ijah.
Seperti untaian benang emas yang disulam di atas tenunan kain sutra, cahaya matahari di atas bumi Kotaraja Kawali pada musim penghujan itu memberikan anugerah kehangatan sejenak bagi para penghuni bumi. Hari-hari di kediaman Patih Anggajaya pun menjadi lebih hangat semenjak kehadiran seorang gadis jelita bernama Andini.
Selain Gajahmada, Bibi Ijah, dan Dewi Kaswari, tidak ada seorang pun di kediaman Patih Anggajaya yang mengetahui jati diri Andini sebenarnya. Mereka hanya tahu bahwa Andini adalah kemenakan Bibi Ijah yang datang untuk ikut bekerja. Tak ada yang menaruh curiga, meski terkadang mereka melihat sikap Dewi Kaswari yang sangat istimewa kepada Andini. Orang-orang menganggap sikap itu hanyalah pelampiasan naluri seorang wanita yang belum dikaruniai anak setelah sekian lama menikah.
Bagaimana dengan sikap Patih Anggajaya terhadap perlakuan istimewa istrinya itu? Sebagaimana orang lain, ia pun memaklumi perasaan istrinya. Namun, kehadiran gadis jelita itu telah membuat iri kawan-kawan Gajahmada, terutama setelah melihat perhatian khusus Andini kepada Gajahmada.
"Hari ini kami membuat kudapan getuk manis, mudah-mudahan kamu menyukainya," kata Andini yang datang ke gardu penjagaan menemui Gajahmada.
"Terima kasih," jawab Gajahmada sambil menerima pemberian makanan itu.
"Berkahnya bertugas bersamamu, selalu ada kiriman camilan dari dalam," celetuk kawan Gajahmada setelah Andini kembali masuk ke dalam rumah. Gajahmada tidak menyahut, ia hanya tersenyum tipis sambil menikmati sejumput getuk manis pemberian Andini.
Demikianlah hari-hari berlalu di kediaman Patih Anggajaya. Hingga pada suatu siang, saat kawan-kawan Gajahmada sedang tidak ada di gardu penjagaan, Andini mendekati Gajahmada yang tengah sendirian.
"Ada berita yang kudapat dari Ibunda Dewi Kaswari mengenai rencana rahasia Patih Anggajaya," bisik Andini kepada Gajahmada.
"Sebuah rencana?" tanya Gajahmada.
"Benar, sebuah rencana," jawab Andini, yang kemudian menceritakan rencana Patih Anggajaya yang ia dengar dari Dewi Kaswari.
Malam baru saja berganti manakala seorang pemuda berjalan keluar dari kediaman Patih Anggajaya. Ketika cahaya obor di sebuah regol menerangi wajahnya, terlihat jelas bahwa pemuda itu adalah Gajahmada. Setelah mendengar penuturan Andini, Gajahmada tidak menunggu hingga esok. Malam itu juga ia keluar untuk menemui Putu Risang di pondokannya.
"Pasti ada berita sangat penting sehingga kamu tidak menunggu sampai pagi," kata Putu Risang kepada Gajahmada. Ternyata di pondokan itu juga hadir Pangeran Jayanagara dan Bango Samparan.
"Ada berita yang sangat penting," ujar Gajahmada membenarkan dugaan Putu Risang. Ia pun langsung menuturkan rencana Patih Anggajaya sebagaimana yang didengarnya dari Andini.
"Ternyata Patih Anggajaya sudah menyiapkan seorang 'tumbal arang'," kata Gajahmada dalam penuturannya.
Siapakah yang dimaksud sebagai tumbal arang oleh Gajahmada? Sebagaimana yang dituturkan kepada Putu Risang, Pangeran Jayanagara, dan Bango Samparan, ternyata Patih Anggajaya telah berhasil menghasut seorang senapati muda bernama Suradilaga, pahlawan Pasundan yang berjasa dalam berbagai peperangan.
Dengan kelicikannya, Patih Anggajaya memindahtugaskan senapati muda itu ke tempat yang jauh. Ia kemudian membakar perasaan Suradilaga dengan memfitnah bahwa pemindahan tugas tersebut berkaitan dengan putri Tumenggung yang dicintai sang senapati. Patih Anggajaya menyebarkan berita palsu bahwa Baginda Raja akan melamar gadis itu untuk putranya, Pangeran Citraganda.
"Baginda Raja Ragasuci tidak ingin pamormu menghalangi kewibawaannya, itulah sebabnya kamu dikucilkan ke tempat jauh," hasut Patih Anggajaya kepada Senapati Suradilaga.
Setelah berhasil membakar perasaan Suradilaga, Patih yang licik itu menawarkan kesepakatan yang membuat sang senapati terbuai. Patih Anggajaya menjanjikan takhta jika Suradilaga berhasil membunuh Sang Raja. Kesepakatan pun diatur untuk membunuh Raja Ragasuci saat musim perburuan di Hutan Sindur.
"Tumbal arang itu pasti akan dihabisi oleh Patih Anggajaya di saat yang tepat," kata Gajahmada mengakhiri penjelasannya.
Namun, di saat mereka masih membicarakan rencana tersebut, muncul Pangeran Citraganda di pondokan mereka.
"Kamu datang di saat yang tepat," sambut Putu Risang kepada Pangeran Citraganda yang baru datang itu.
"Entah mengapa aku rindu bertemu kalian," kata Pangeran Citraganda sambil duduk berkumpul di atas balai-balai. Putu Risang pun menyampaikan apa yang baru saja didengar dari Gajahmada kepada Pangeran Citraganda.
"Senapati Suradilaga bulan lalu telah diangkat menjadi Adipati di Singaparna karena jasa-jasanya. Sungguh jahat Patih Anggajaya yang telah memutarbalikkan kebaikan Ayahanda," ujar Pangeran Citraganda setelah mendengar penuturan Putu Risang.
"Baginda Raja Ragasuci harus segera mengetahui rencana jahat ini," tegas Putu Risang.
"Malam ini juga aku akan menyampaikannya kepada Ayahanda," jawab Pangeran Citraganda. "Besok kita berangkat bersama ke Padepokan Prabu Guru Darmasiksa untuk melaporkan berita ini."
"Kalau begitu aku akan kembali ke istana. Besok kita bertemu di gerbang batas kota untuk berangkat ke lereng Gunung Galunggung menemui Eyang Prabu," pungkas Pangeran Citraganda.
Sebelum kembali ke istana, Pangeran Citraganda sempat memberikan pesan kepada Gajahmada. "Kapan kamu bebas tugas?" tanyanya sambil tersenyum.
"Besok lusa," jawab Gajahmada, tanpa tahu arah pertanyaan itu.
"Besok lusa jangan ke mana-mana. Ada seorang putri istana yang ingin diantar oleh seorang prajurit pengawal," kata Pangeran Citraganda tetap dengan senyumnya.
Mendengar perkataan itu, Gajahmada ikut tersenyum. Ia terbayang seorang gadis manis yang manja namun menyenangkan hati, Diah Rara Wulan.
Setelah Pangeran Citraganda pergi, Gajahmada pun mohon pamit untuk kembali ke kediaman Patih Anggajaya. Di bawah keremangan malam, ia menyusuri jalan Kotaraja Kawali.
"Kukira kamu tidak akan kembali," sambut kawan Gajahmada di gardu penjagaan.
"Apakah tidak ada kejadian apa pun selama aku pergi?" tanya Gajahmada.
"Untungnya tidak ada kejadian apa pun selama kamu belum datang," jawab kawannya.