Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 27

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 27

Pagi itu udara masih berkabut kuat di atas Kotaraja Kawali. Empat ekor kuda telah keluar dari gerbang kota sebelah barat. Keempat penunggangnya tidak memacu kudanya dengan cepat, namun debu mengepul di belakang mereka. Angin pagi yang dingin menyapu wajah dan rambut mereka. Keempat penunggang itu adalah Putu Risang, Pangeran Jayanagara, Pangeran Citraganda, dan Bango Samparan. Mereka berjalan menuju Gunung Galunggung untuk menemui Prabu Guru Darmasiksa.

Tidak ada kejadian berarti selama perjalanan. Jarak antara Gunung Galunggung dan Kotaraja Kawali tidak begitu jauh. Menjelang senja, ketika matahari mulai meredup, mereka tiba di lereng Gunung Galunggung.

"Kami di sini selalu menunggu kabar dari kalian," sapa Prabu Guru Darmasiksa menyambut kedatangan mereka.

Putu Risang memperkenalkan Bango Samparan kepada semua yang hadir di pendapa Padepokan Prabu Guru Darmasiksa. Di sana juga hadir Jayakatwang dan Pendeta Gunakara. Setelah membersihkan diri dan beristirahat, Putu Risang menceritakan perkembangan di Kotaraja Kawali secara rinci.

"Jadi, Patih Anggajaya akan menggunakan Adipati Suradilaga untuk membunuh Raja Ragasuci?" kata Prabu Guru Darmasiksa setelah mendengar cerita Putu Risang.

"Masa perburuan direncanakan pada purnama bulan depan," tambah Pangeran Citraganda.

"Kita buat sebuah jebakan agar Patih Anggajaya memakan senjatanya sendiri," ujar Prabu Guru Darmasiksa, menyusun siasat.

"Cucunda belum mengerti maksud Eyang Prabu," tanya Pangeran Citraganda yang belum memahami maksud pembicaraan Prabu Guru Darmasiksa.

Prabu Guru Darmasiksa tidak langsung menjawab, hanya tersenyum mendengar pertanyaan cucunya. "Kita harus membuka mata hati Adipati Suradilaga. Dengan begitu, kita bisa menjadikannya sekutu yang baik," kata Prabu Guru Darmasiksa sambil memandang semua yang hadir di pendapa padepokannya.

"Sekarang cucunda paham," ujar Pangeran Citraganda sambil mengangguk-angguk tanda mengerti pikiran kakeknya.

"Sekarang, siapa yang dapat mendatangi Adipati Suradilaga?" tanya Pangeran Jayanagara.

Mendengar pertanyaan itu, semua mata tertuju pada Pangeran Citraganda. Semua orang berharap pada Pangeran Citraganda, karena dialah yang mungkin dapat membuka mata hati Adipati Suradilaga, terutama terkait lamaran palsu antara Pangeran Citraganda dengan putri seorang Tumenggung yang sengaja disebarkan oleh Patih Anggajaya.

"Kamulah yang akan dapat mendekati Adipati Suradilaga," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada Pangeran Citraganda.

"Cucunda akan segera berangkat besok ke Singaparna menemui Adipati Suradilaga," kata Pangeran Citraganda menyanggupinya.

"Patih Anggajaya telah banyak mempengaruhi beberapa kesatuan prajurit di Kotaraja Kawali. Akan banyak korban sesama kita jika kita beradu tangan langsung menghadapinya," kata Prabu Guru Darmasiksa.

"Kita buat pemberontakan palsu untuk mengalihkan sebagian prajurit agar tidak terpusat pada kepentingan Patih Anggajaya di hutan perburuan Sindur," usul Jayakatwang.

"Pendapat yang cemerlang. Kita alihkan sebagian prajurit dengan pemberontakan palsu. Semoga Adipati Suradilaga dapat memainkan peran ganda itu," ujar Prabu Guru Darmasiksa, menyetujui usulan Jayakatwang.

"Kita akan membuat Patih Anggajaya seperti hewan perburuan yang terkejut," kata Pangeran Citraganda, memahami jalan pikiran kakeknya.

"Apa pendapat Ayahandamu jika kamu ceritakan tentang rencana busuk Patih Anggajaya?" tanya Prabu Guru Darmasiksa kepada Pangeran Citraganda.

"Pada awalnya Ayahanda tidak percaya, tetapi setelah cucunda jelaskan bahwa Eyang Prabu telah mengamati sejak jauh-jauh hari, Ayahanda menunggu semua keputusan dan rencana dari Eyang Prabu," kata Pangeran Citraganda mengenai sikap ayahnya.

"Besok kamu akan berangkat ke Singaparna, semoga tugasmu dapat terlaksana dengan baik. Semua rencana kita masih menunggu sikap Adipati Suradilaga setelah kamu kunjungi," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada Pangeran Citraganda.

"Cucunda mohon doa restu dari Eyang Prabu," ujar Pangeran Citraganda dengan hormat.

"Ki Lurah Prajoga adalah seorang prajurit yang sangat setia kepada Raja. Kita dapat menjadikannya sekutu yang baik," kata Putu Risang, menceritakan kejadian penolakan Ki Lurah Prajoga menjadi tumbal arang.

"Bagus, semakin banyak sekutu, tugas kita akan semakin ringan," kata Prabu Guru Darmasiksa.

Malam itu, di pendapa Padepokan Prabu Guru Darmasiksa, mereka terus membicarakan rencana menghadapi Patih Anggajaya di hutan perburuan. Menjelang pagi, mendung pekat menyelimuti padepokan di lereng Gunung Galunggung.

"Semoga Gusti Yang Maha Agung merestui perjalanan kalian. Mendung pekat di awal pagi pertanda hari ini akan cerah sepanjang hari," kata Prabu Guru Darmasiksa mengantar kepergian Pangeran Citraganda dan kelompok Putu Risang.

Sesuai rencana, Pangeran Citraganda akan berangkat ke Singaparna untuk menemui Adipati Suradilaga. Sementara itu, Putu Risang, Pangeran Jayanagara, dan Bango Samparan kembali ke Kotaraja Kawali. Di persimpangan jalan, Pangeran Citraganda mengambil arah selatan.

"Kutunggu kabarmu di Kotaraja Kawali," kata Pangeran Jayanagara kepada Pangeran Citraganda sambil melambaikan tangan, mengambil arah utara di persimpangan itu.

Sebagai pemuda yang sering mengembara, Pangeran Citraganda sudah mengetahui arah menuju Singaparna. Belum senja, ia sudah memasuki daerah Singaparna. Tidak sulit mencari kediaman Adipati Suradilaga.

Adipati Suradilaga terkejut bukan kepalang saat mengetahui tamu yang datang adalah Pangeran Citraganda.

"Entah angin apa yang membawa Pangeran datang ke kediaman hamba ini," kata Adipati Suradilaga yang sudah mengenal Pangeran Citraganda.

"Hanya angin yang bertiup penuh kerinduan," balas Pangeran Citraganda dengan senyum, berusaha mengurangi ketegangan di wajah Adipati Suradilaga.

"Hamba jadi semakin berdebar. Pasti ada kabar yang Pangeran bawa dari istana Kawali," ujar Adipati muda itu, masih penuh tanya di kepalanya tentang kedatangan putra mahkota itu.

"Aku memang sengaja datang menemuimu guna meluruskan sebuah masalah," kata Pangeran Citraganda dengan senyum persahabatan.

"Meluruskan sebuah masalah?" tanya Adipati Suradilaga.

"Benar, meluruskan sebuah masalah," jawab Pangeran Citraganda.

"Masalah apa?" tanya Adipati Suradilaga, mencoba menerka.

Namun, Adipati Suradilaga tidak perlu banyak menebak. Pangeran Citraganda langsung memberikan penjelasan tentang berita bohong mengenai lamaran putri seorang Tumenggung.

"Tentang perjodohan itu hanyalah berita kebohongan yang sengaja ingin merusak hubunganmu dengan keluarga Istana," kata Pangeran Citraganda, meyakinkan Adipati Suradilaga.

Pangeran Citraganda melihat raut wajah Adipati Suradilaga sudah sedikit mengendur.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment