Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 28

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 28

"Di mata Ayahanda Baginda Raja, kamu adalah seorang pahlawan Kawali yang setia. Sudah sepatutnya beliau mengangkat dirimu menjadi seorang Adipati di Singaparna ini untuk menjaga penuh kesetiaan tanah dan bumi Singaparna, dan bukan mengucilkan dirimu jauh dari Kotaraja Kawali," kata Pangeran Citraganda sambil memperhatikan sikap dan raut muka Adipati Suradilaga yang tampaknya tengah merenungi sesuatu.

"Buang jauh-jauh perasaan disingkirkan, sadarlah dirimu tengah diperalat oleh seseorang," kembali kata Pangeran Citraganda.

Tercengang Adipati Suradilaga mendengar kata-kata terakhir Pangeran Citraganda itu.

"Istana telah mengetahui hubungan hamba dengan orang itu?" bertanya Adipati Suradilaga dengan suara gemetar, merasa telah melakukan sebuah kesalahan besar.

"Kami sudah mengetahui banyak, tidak usah merasa bersalah karena itu bukan kesalahanmu. Yang kami butuhkan darimu saat ini adalah sebuah kerja sama. Sebuah jalan guna menunjukkan kesetiaanmu yang tinggi kepada kami," kata Pangeran Citraganda.

"Terima kasih telah mengampuni dosa besar hamba, katakan kesetiaan apa yang dapat hamba tunjukkan. Selama dapat hamba pikul dan junjung, selama itu akan hamba laksanakan," kata Adipati Suradilaga dengan suara penuh kesungguhan.

Maka akhirnya dengan perlahan, Pangeran Citraganda mencoba menjelaskan sebuah rencana sebagaimana yang telah didengar dari Prabu Guru Darmasiksa.

"Kita akan menjebak Patih Anggajaya di hutan perburuan," kata Pangeran Citraganda mengakhiri penjelasannya.

"Di hadapan Pangeran, hamba merasa begitu kerdil, hamba merasa malu telah masuk dalam penjara hasutan. Patih Anggajaya telah mencoba membakar api amarah dalam diri hamba," kata Adipati Suradilaga sambil menundukkan wajahnya.

"Lupakan yang telah terjadi, siapa pun kadang salah langkah. Siapkan diri kita untuk menghadapi bulan purnama di hutan perburuan," kata Pangeran Citraganda.

Maka kembali Pangeran Citraganda menjelaskan dengan rinci apa yang dapat mereka lakukan di hutan perburuan nanti kepada Adipati Suradilaga.

Sementara itu, malam mulai tiba. Adipati Suradilaga tidak juga dapat memaksa Pangeran Citraganda untuk menginap bermalam di rumahnya.

"Waktuku begitu sangat singkat, aku harus segera kembali menghadap Eyang Prabu Guru dan ke Kotaraja Kawali menghadap Ayahanda Baginda Raja," kata Pangeran Citraganda yang dengan halus mencoba menolak permintaan Adipati Suradilaga untuk bermalam di kediamannya.

"Pada saat berbeda, hamba akan memaksa Pangeran bermalam di Singaparna ini," kata Adipati Suradilaga ketika mengantar Pangeran hingga ke regol pintu gerbang rumahnya.

Demikianlah, Adipati Suradilaga masih dapat melihat bayangan punggung Pangeran Citraganda dan kudanya yang akhirnya lenyap di kejauhan, terhalang oleh kegelapan malam. Pangeran Citraganda tampaknya tidak ingin membuang waktu sedikit pun, terlihat terus berjalan dengan kudanya meskipun sudah larut malam.

Perjalanan malam Pangeran Citraganda memang tidak sama seperti di siang hari. Pangeran Citraganda tidak memacu kudanya dengan cepat. Hanya terkadang, manakala berada di jalan lapang dengan penerangan cahaya langit malam, ia memacu kudanya berlari menembus angin malam. Namun, karena perjalanan dari Singaparna menuju Gunung Galunggung melewati beberapa hutan lebat, terpaksa Pangeran Citraganda harus bersabar dengan membawa kudanya berjalan menembus lebatnya hutan.

Hingga akhirnya, ketika langit malam mulai memerah sebagai tanda pagi akan tiba, terlihat Pangeran Citraganda telah berada di sekitar kaki Gunung Galunggung.

"Pasti kamu lelah setelah berjalan sepanjang malam," kata Pangeran Citraganda sambil mengusap-usap perut kudanya setelah turun dari punggungnya.

Pangeran Citraganda menuntun tali kudanya ke sebuah pohon rindang di tepian hutan, di sekitar kaki Gunung Galunggung. Di sebuah pohon besar di antara tanah lapang berbatu, Pangeran Citraganda telah merebahkan tubuhnya, bersandar di pohon besar itu.

Pangeran Citraganda tidak langsung naik ke lereng Gunung Galunggung, tetapi beristirahat sejenak sambil menunggu pagi tiba dan tanah menjadi terang. Ketika matahari telah menyinari tanah lapang berbatu itu, terlihat Pangeran Citraganda bangkit berdiri menghampiri kudanya yang tampaknya sudah kenyang menikmati rumput-rumput hijau yang tumbuh di antara sela-sela bebatuan.

"Kita lanjutkan perjalanan kita," kata Pangeran Citraganda sambil mengusap perut kudanya, lalu melompat ke atas punggung kuda.

Angin pagi menyapu pangeran muda yang tampan itu. Kuda tunggangannya yang berwarna putih bertotol hitam di lehernya tampaknya sudah tahu sendiri jalan pulang menuju Padepokan Prabu Guru Darmasiksa di lereng Gunung Galunggung.

"Cepat bersih-bersih dan beristirahat, tampaknya semalaman kamu berkuda," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada Pangeran Citraganda ketika ia sudah tiba di Padepokan.

"Cucunda sudah beristirahat cukup di kaki gunung, menunggu tanah terang," kata Pangeran Citraganda sambil tersenyum kepada kakeknya.

Demikianlah, setelah bersih-bersih di pakiwan, terlihat Pangeran Citraganda langsung menuju pendapa Padepokan, di mana sudah menunggu kakeknya. Juga terlihat ada Jayakatwang dan Pendeta Gunakara di sana.

"Adipati Suradilaga bersedia bekerja sama dengan kita," kata Pangeran Citraganda.

Terlihat Prabu Guru Darmasiksa menarik napas lega mendengar laporan Pangeran Citraganda itu.

"Syukurlah bila demikian, artinya kita telah meredam sebuah anak panah mereka. Saatnya kita membuat kekuatan mereka rapuh," kata Prabu Guru Darmasiksa sambil meraba janggut putihnya, tampaknya tengah berpikir mencari jalan.

"Patih Anggajaya telah menyusupkan kekuatan dalam pasukan prajurit Kawali melalui penggalangan beberapa perwira yang berasal dari Kotaraja Rakata, asalnya sendiri," kata Pangeran Citraganda, menjelaskan situasi yang terjadi dalam setiap kesatuan prajurit Kawali saat itu.

"Kita coba merusaknya dengan cara yang sama, yaitu menyusupkan para putra daerah ke dalam kesatuan prajurit yang sama," kata Prabu Guru Darmasiksa dengan wajah cerah, seolah telah menemukan jalan keluar.

"Sampaikan kepada ayahandamu agar mengangkat para putra daerah, mereka pasti memiliki kesetiaan yang lebih kuat daripada orang-orang Rakata itu," kata Prabu Guru Darmasiksa lagi.

Terlihat Jayakatwang manggut-manggut sendiri, tampaknya menyetujui usulan Prabu Guru Darmasiksa tentang memecah kekuatan lawan. Sementara itu, Pendeta Gunakara terlihat diam membisu. Baginya, bentuk peperangan apa pun hanya akan melahirkan banyak penderitaan. Terlihat sinar matanya seolah menerawang, menyaksikan peperangan antara manusia, sesama saudara.

"Siang ini, cucunda akan kembali ke Istana Kawali. Semua rencana dari Prabu Guru Darmasiksa akan cucunda sampaikan kepada Ayahanda Baginda Raja," kata Pangeran Citraganda.

"Sampaikan salamku kepada Ayahandamu, kami dari Padepokan Lereng Galunggung akan turun gunung, siap berada di belakang para prajurit Kawali," kata Prabu Guru Darmasiksa sambil menambahkan beberapa usulan rencana menghadapi Patih Anggajaya di hutan perburuan Sindur.

Ketika matahari mulai condong bergeser sedikit dari puncaknya, terlihat seorang penunggang kuda telah keluar dari regol gerbang Padepokan Prabu Guru Darmasiksa. Siapa lagi penunggang kuda berwarna putih bertotol hitam di lehernya itu selain Pangeran Citraganda? Saat itu memang Pangeran Citraganda baru saja keluar dari regol gerbang Padepokan menuju Kotaraja Kawali.

Sementara itu, pada waktu yang sama, di Taman Keputren Istana Kawali, terlihat seorang gadis jelita tengah duduk di pinggir kolam, dinaungi pohon rangon kuning yang tengah berbunga. Wajah gadis itu begitu suram, tidak bergairah. Beberapa inang pengasuh tidak berani mendekatinya, takut terkena sasaran kekesalannya. Terlihat ikan sepat kecil bergerombol mengelilingi pinggir kolam, sesekali merobek lumut hijau yang tumbuh subur di pinggiran kolam. Tetapi mata gadis itu seolah tidak bergeming sedikit pun. Tubuhnya seperti patung, diam membisu, memandang kosong ke arah air kolam yang bening, penuh tanaman teratai putih.

Ternyata, gadis jelita bunga Taman Keputren Istana Kawali itu adalah Sang Putri Dyah Rara Wulan. Hati dan perasaan Dyah Rara Wulan memang tengah gundah gulana. Hati dan perasaannya tengah terbakar api cemburu sejak mendengar bahwa Andini telah tinggal di rumah kediaman Patih Anggajaya, di tempat yang sama Gajahmada juga tengah bertugas.

"Aku takut mendekati Cah Ayu untuk mengingatkannya bahwa makan siang sudah disiapkan," kata seorang inang pengasuh kepada seorang lelaki petugas pengalasan tidak jauh dari tempat Sang Putri duduk di pinggir kolam.

"Kukira hati seorang putri seperti Cah Ayu dan para pembesar tidak akan pernah gundah sepertiku," kata lelaki pengalasan itu sambil tersenyum kepada wanita inang pengasuh itu.

"Manusia, siapa pun orangnya, pasti sama. Bisa senang dan gembira, kadang berduka," kata wanita inang pengasuh itu.

"Apa yang telah membuat Cah Ayu berduka? Semua serba berkecukupan, bahkan berlebihan menurutku," kata sang pengalasan itu.

"Semula aku berpikir seperti itu, alangkah enaknya terlahir sebagai putra dan putri seorang raja. Namun, ternyata aku melihat mereka kadang tidak bahagia, seperti yang terjadi pada Cah Ayu saat ini. Akhirnya, aku berpikir bahwa bukan harta yang bergelimang akan membuat hati seseorang selalu senang, tetapi kesenangan itu milik Gusti Yang Maha Agung. Dialah yang memilih siapa yang diberi rasa senang hari ini, siapa pula yang ditarik rasa senangnya hari ini. Dia pulalah yang mempunyai rasa susah, memberikan dan menariknya dari hati kita," kata wanita inang pengasuh itu kepada kawan lelaki pengalasan itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment