Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 29

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 29

"Kamu berbicara seperti seorang pendeta," ujar kawannya seolah tidak percaya kalimat bermakna itu keluar dari mulut seorang wanita inang pengasuh.

"Sang putri sering memintaku membacakan kitab untuknya," sahut wanita itu sambil tersipu malu.

Namun, pandangan mereka beralih ke arah pintu gerbang taman Keputrian saat melihat seorang prajurit penjaga datang menghampiri.

"Ada seorang prajurit muda ingin bertemu dengan Tuan Putri," lapor prajurit penjaga itu.

"Aku akan menyampaikannya kepada Tuan Putri," jawab sang inang pengasuh sambil berjalan mendekati Dyah Rara Wulan.

"Prajurit penjaga menyampaikan bahwa ada seorang prajurit muda ingin bertemu dengan Cah Ayu," kata inang pengasuh kepada Dyah Rara Wulan.

Mendengar perkataan itu, wajah Dyah Rara Wulan langsung berubah penuh keceriaan. Hal itu membuat inang pengasuh ikut merasa senang melihat kegembiraan majikannya.

"Katakan bahwa aku akan segera menemuinya," ujar Dyah Rara Wulan.

"Siapa pemuda yang telah mampu mengubah perasaan Cah Ayu menjadi begitu gembira?" batin inang pengasuh sambil berjalan kembali menemui prajurit penjaga yang tengah menunggunya.

Siapakah prajurit muda yang datang ingin bertemu dengan sang putri itu?

Lelaki muda itu ternyata adalah Gajah Mada, seorang pemuda yang baru saja diangkat menjadi prajurit pengawal. Memang, setiap lelaki di dunia ini harus memiliki nyali untuk mendatangi seorang gadis, entah dia putri pembesar atau rakyat biasa.

Gajah Mada adalah lelaki pertama yang datang ke istana untuk menemui putri raja. Hal ini membuat beberapa prajurit pengawal istana saling berbisik. Mereka ragu apakah benar pemuda yang mereka saksikan itu hanyalah seorang prajurit biasa yang ingin bertemu dengan putri raja, majikan mereka.

"Apakah Tuan Putri Dyah Rara Wulan yang memintamu datang ke istana ini untuk menemuinya?" tanya seorang prajurit penjaga dengan sangsi. Ia bahkan menduga pemuda itu mungkin kurang waras.

"Tuan Putri tidak memintaku, tetapi Pangeran Citraganda yang menyuruhku datang menemui Tuan Putri," jawab Gajah Mada dengan suara datar apa adanya.

"Kamu mengenal Pangeran Citraganda?" tanya prajurit penjaga itu kembali sambil memandang Gajah Mada dari ujung kaki hingga kepala, seolah tak percaya seorang prajurit biasa mengenal majikannya.

Gajah Mada tidak langsung menjawab karena dari kejauhan ia melihat seorang gadis datang menghampirinya bersama seorang wanita tua. Ketika mereka semakin dekat, ternyata mereka adalah Dyah Rara Wulan dan inang pengasuhnya.

Gajah Mada memang belum sempat menjawab pertanyaan prajurit penjaga itu karena Dyah Rara Wulan sudah mendekat dan langsung menarik tangannya, mengajaknya keluar pintu gerbang istana.

Beberapa prajurit penjaga yang melihat pemandangan itu ternganga. Mereka merasa iri melihat keberuntungan Gajah Mada, seorang yang mereka kenal hanya sebagai prajurit biasa, namun ternyata begitu dekat dengan putri raja.

"Ternyata anak muda inilah yang telah membuat majikanku sering melamun sendirian," gumam sang inang pengasuh sambil berjalan di belakang Gajah Mada dan Dyah Rara Wulan yang telah berada di luar istana.

Wanita sederhana itu berusaha tidak menghakimi siapa pun. Ia memandang Gajah Mada sebagai kawan dekat majikannya yang harus ia hargai. Hatinya ikut gembira melihat keceriaan yang memancar dari wajah junjungannya.

"Ternyata kamu sangat berani datang menemuiku di istana," kata Dyah Rara Wulan sambil memandang pemuda yang telah mencuri hatinya itu.

"Kakakmu, Pangeran Citraganda, yang memintaku untuk datang menemuimu," jawab Gajah Mada datar sambil terus mengikuti langkah Dyah Rara Wulan.

"Jadi, kamu datang menemuiku hanya karena permintaan kakakku?" tanya Dyah Rara Wulan sambil menghentikan langkahnya. Wajahnya yang semula ceria seketika berubah menjadi cemberut.

Gajah Mada ikut berhenti melangkah. Sejenak ia memandang wajah Dyah Rara Wulan. "Adakah yang salah dalam ucapanku?" batinnya.

"Bukan hanya karena permintaan kakakmu, tetapi keinginanku pun kebetulan searah untuk bertemu denganmu," ujar Gajah Mada dengan sebuah senyuman.

Dyah Rara Wulan menarik napas panjang mendengar perkataan itu. Senyum pemuda itulah yang selalu membuatnya luluh.

"Aku lapar. Mari kita ke kedai di pasar tempat kita pernah makan bersama," ajak Dyah Rara Wulan, seolah melupakan kekesalannya.

Mereka kembali melangkah menyusuri jalanan Kotaraja Kawali yang masih cukup ramai. Sementara itu, beberapa orang yang mengenali putri raja tidak lepas memandang gadis manis itu dan pemuda beruntung yang bersamanya.

"Beruntung sekali nampaknya anak muda itu," kata seorang pejalan kaki kepada kawannya.

"Selama janur kuning belum melengkung, selama itu pula kesempatan kita masih ada, Sahabat," sahut kawannya sambil bertolak pinggang memandangi langkah sang putri yang menjauh.

"Anak Ki Buyut saja tidak dapat kamu taklukkan, bagaimana mungkin kamu dapat menaklukkan putri seorang raja," ejek kawannya meremehkan.

"Sebentar lagi anak Ki Buyut itu akan mengejar-ngejarku. Kemarin malam aku telah diberi jampi-jampi ampuh dari Ki Jasmita. Syaratnya mudah, cukup puasa mutih selama tujuh hari tujuh malam," jawabnya penuh kebanggaan.

"Setahuku, kamu tidak akan mampu sehari saja makan tanpa lauk-pauk dan sambal terasi," goda kawannya lagi.

"Demi anak Ki Buyut, aku rela melupakan kegemaranku itu."

"Aku sudah mendahuluimu," ujar kawannya datar.

"Maksudmu?" tanya pemuda bertubuh tambun itu tidak mengerti.

"Maksudku, aku hanya perlu satu hari lagi untuk menuntaskan puasa mutihku demi putri Ki Buyut," sahut kawannya sambil langsung berlari kencang.

"Pengkhianat!" teriak pemuda tambun itu sambil mengepalkan tangannya ke arah kawannya yang sudah jauh berlari.

Sementara itu, Gajah Mada dan Dyah Rara Wulan sudah berada di dalam kedai yang dituju. Sebuah kedai di tengah pasar yang masih tetap ramai meski hari sudah siang.

"Junjunganmu itu bersama siapa?" tanya seorang wanita usil di luar kedai kepada inang pengasuh yang tidak ikut masuk makan.

"Kamu melihatnya dengan siapa?" balik tanya inang pengasuh dengan nada kurang senang. Mendapat sikap tidak bersahabat itu, si wanita usil pun langsung pergi sambil mencibir.

Sosok Dyah Rara Wulan sebagai putri raja memang sangat dikenal di Kotaraja Kawali. Apalagi Gajah Mada memiliki perawakan dan warna kulit yang berbeda dari penduduk setempat. Kehadiran mereka pun menjadi bahan bisik-bisik orang di dalam kedai maupun di sekitar pasar.

Kabar itu menyebar cepat bagaikan minyak zaitun yang tumpah di atas kain sutra, hingga akhirnya sampai ke istana.

"Putri kita berjalan dengan seorang prajurit biasa?" tanya Baginda Raja Ragasuci saat mendengar kabar itu dari permaisurinya.

"Kakanda harus segera mencari tahu siapa gerangan prajurit itu," desak sang permaisuri, Ratu Dara Puspa.

"Aku gembira mendengarnya. Artinya, putri kita memang sudah tumbuh dewasa," sahut Raja Ragasuci dengan senyum tertahan, mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Yang Adinda maksudkan bukan masalah kedewasaan, melainkan pemuda yang bersamanya itu hanyalah seorang prajurit biasa!" tegas sang permaisuri kembali ke pokok persoalan.

"Ternyata kita sudah cukup tua, sebentar lagi kita akan menimang cucu," ujar Raja Ragasuci kembali berkelit.

"Kakanda tidak berkeberatan berbesan dengan keluarga biasa, orang dusun?" tanya permaisuri mulai merajuk melihat sikap raja yang seolah tidak acuh.

Sebenarnya, mustahil bagi seorang raja seperti Ragasuci untuk tidak mengetahui siapa pemuda yang dekat dengan putrinya itu. Namun, di hadapan permaisuri, ia sengaja berpura-pura belum mengetahuinya. Akhirnya, melihat wajah istrinya yang masam, Raja Ragasuci pun berkata datar, "Aku akan mencari tahu siapa gerangan prajurit itu."

Mendengar hal itu, hati Ratu Dara Puspa sedikit terhibur. Namun, sebagai seorang ibu, ia tetap berpesan, "Kakanda harus bertindak cepat untuk menjauhkan putri kita dari pemuda itu."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment