Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 30

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 30

Mendengar perkataan sang permaisuri, Raja Ragasuci sedikit mengerutkan keningnya. Namun, akhirnya dirinya dapat memaklumi mengapa sang permaisuri berkata seperti itu, karena ia belum tahu siapa gerangan pemuda yang dikatakan sebagai prajurit biasa itu.

Sebenarnya Raja Ragasuci sudah banyak mengetahui tentang Gajahmada lewat pembicaraannya dengan putranya, Pangeran Citraganda. Raja Ragasuci sudah mengetahui bahwa Gajahmada adalah salah satu tamunya yang datang bersama seorang mantan raja dari Majapahit. Sebagai seorang raja, dirinya juga sudah mengetahui permainan Gajahmada sebagai seorang prajurit biasa, yakni seorang prajurit pengawal yang bertugas untuk membayangi Patih Anggajaya. Namun, kepada sang permaisuri, tidak satu pun hal yang dikatakannya tentang kehadiran Gajahmada.

"Sifat putri kita sangat keras kepala, kita harus menyikapinya dengan penuh bijaksana," hanya itu yang dikatakan oleh Raja Ragasuci kepada permaisurinya.

Sementara itu, sang Putri Dyah Rara Wulan sudah kembali ke istana. Karena hari sudah hampir sore, Gajahmada tidak mengantarnya kembali ke istana, melainkan langsung ke baraknya untuk bersiap diri melaksanakan tugas sebagai prajurit pengawal di kediaman Patih Anggajaya. Sang inang pengasuh malam itu merasa sedikit gembira melihat putri junjungannya tampak ceria, terlihat dari wajahnya yang manis dan semakin berseri.

Hari memang belum terlalu malam ketika seorang pemuda turun dari kudanya di depan regol pintu gerbang istana.

"Lama tidak melihat Tuan Pangeran di istana ini," kata seorang prajurit penjaga sambil menyambut tali kekang kuda pemuda itu, yang tidak lain adalah Pangeran Citraganda.

Dengan senyum keramahan, Pangeran Citraganda menatap prajurit penjaga itu tanpa sepatah kata pun. Namun bagi seorang prajurit penjaga, senyum keramahan itu sudah melebihi penghargaan dan kehormatan apa pun baginya. Prajurit itu masih memandang sang pangeran yang berjalan semakin jauh masuk melalui jalan setapak menuju pasanggrahan pribadi ayahandanya.

"Nampaknya ada sesuatu yang sangat penting yang akan disampaikan kepada ayahandanya," gumam prajurit penjaga itu dalam hati sambil menuntun kuda tunggangan Pangeran Citraganda. Ia memang melihat Pangeran Citraganda tidak berjalan ke arah Kesatrian, melainkan ke arah pasanggrahan pribadi Baginda Raja.

Sebagaimana dugaan prajurit penjaga itu, memang benar ada beberapa hal penting yang akan disampaikan oleh Pangeran Citraganda kepada ayahandanya.

"Eyangmu memang seorang ahli siasat ulung yang mumpuni, aku akan mengikuti alur permainannya," kata Raja Ragasuci setelah mendengar penuturan langsung dari Pangeran Citraganda.

"Kita harus dapat mencari seseorang yang dapat memecahkan kekuatan Patih Anggajaya yang telah memiliki pengaruh kuat di antara para perwira prajurit dari kelompoknya sendiri, orang-orang Rakata," ujar Pangeran Citraganda kepada ayahandanya, mencoba menyampaikan usulan Prabu Guru Darmasiksa tentang rencana menjebak Patih Anggajaya.

"Aku mengenal seorang perwira prajurit putra Kawali yang sangat setia. Kuharap dirinya dapat memengaruhi jalan pikiran para prajurit kita. Rangga Ageng Pasek, dialah orangnya," kata Raja Ragasuci menyebutkan sebuah nama.

"Ki Rangga Ageng Pasek?" tanya Pangeran Citraganda mengulang nama tersebut.

"Benar, seorang prajuritku yang sangat setia. Panggil dirinya besok agar datang bersama seorang prajurit pengawal bernama Mahesa Muksa," perintah Raja Ragasuci kepada Pangeran Citraganda.

"Mahesa Muksa?" kembali Pangeran Citraganda bertanya.

"Benar, Mahesa Muksa dapat mengelabui orang-orang Patih Anggajaya. Mereka akan menyangka bahwa kehadiran dirinya menghadap di istana berkaitan dengan hubungan Mahesa Muksa dengan Dyah Rara Wulan," jelas Raja Ragasuci mengenai alasan mengikutsertakan Mahesa Muksa bersama Ki Rangga Ageng Pasek.

"Mahesa Muksa datang ke istana atas permintaanku, wahai Ayahanda," kata Pangeran Citraganda.

"Jadi kamu telah menjadi mak comblang bagi adikmu sendiri?" sahut Raja Ragasuci kepada putranya sambil tersenyum.

Demikianlah, setelah menghadap ayahandanya, Pangeran Citraganda kembali ke Pasanggrahan Kesatrian.

"Datanglah ke rumah Ki Rangga Ageng Pasek. Katakan bahwa Baginda Raja memintanya menghadap bersama seorang prajurit muda bernama Mahesa Muksa. Besok pagi mereka harus sudah ada di istana," perintah Pangeran Citraganda kepada seorang prajurit pengawal di pasanggrahannya.

"Prajurit Mahesa Muksa?" tanya prajurit pengawal itu.

"Seorang prajurit muda yang tadi siang datang menemui sang putri," jawab Pangeran Citraganda, seolah memastikan bahwa semua penghuni istana telah mendengar kabar tentang kehadiran Mahesa Muksa siang tadi.

Ki Rangga Ageng Pasek adalah seorang prajurit putra daerah Kawali yang telah banyak berjasa dalam berbagai peperangan dan sangat setia kepada raja. Namun, dalam lingkungan istana yang kurang sehat saat itu—di mana Patih Anggajaya banyak memengaruhi kebijakan raja—prajurit tua itu tersingkir dan hanya membawahi urusan pengawalan istana. Sementara itu, beberapa perwira dari Rakata menempati posisi penting dalam kesatuan prajurit Kawali. Meskipun kecewa melihat ketimpangan tersebut, Ki Rangga Ageng Pasek hanya menyimpannya dalam hati. Demi kesetiaannya kepada raja, ia tetap ikhlas mengurusi kesatuan pengawalan istana.

"Kamu yang bernama Mahesa Muksa?" tanya Ki Rangga Ageng Pasek kepada Gajahmada ketika mereka bertemu di muka gardu tunggu istana Kawali.

"Hamba bernama Mahesa Muksa," jawab Gajahmada membenarkan.

"Apakah kamu sudah mengetahui mengapa kamu diminta menghadap Baginda Raja?" tanya Ki Rangga Ageng Pasek lagi, mencoba mencari tahu alasan dirinya harus datang bersama prajurit muda itu.

"Hamba hanya tahu bahwa kedatangan hamba ke istana ini adalah bersama Ki Rangga," jawab Gajahmada yang mengetahui bahwa Ki Rangga Ageng Pasek adalah pemimpin tertinggi dalam kesatuan prajurit pengawal.

Mendengar perkataan Gajahmada, Ki Rangga Ageng Pasek menarik napas dalam-dalam sambil tersenyum.

"Artinya kita sama-sama tidak tahu mengapa pagi ini harus menghadap Baginda Raja," ujar Ki Rangga Ageng Pasek sambil terus berpikir.

Sebenarnya masih banyak yang ingin ditanyakan oleh Ki Rangga Ageng Pasek kepada Gajahmada, namun tiba-tiba seorang prajurit pengawal datang memberitahu bahwa Baginda Raja telah menunggu mereka berdua di Bale Puntadewa.

"Di Bale Puntadewa?" tanya Ki Rangga Ageng Pasek dengan wajah terkejut. Sejauh pengetahuannya, Bale Puntadewa hanya digunakan saat Baginda Raja memutuskan hukuman bagi seseorang yang terbukti bersalah, baik rakyat biasa maupun prajurit.

Berbeda dengan Gajahmada yang belum mengetahui fungsi Bale Puntadewa, ia tidak menunjukkan sikap apa pun.

"Mari kita menuju Bale Puntadewa," ajak Ki Rangga Ageng Pasek dengan benak penuh tanda tanya.

Di bawah tatapan para prajurit penjaga, Ki Rangga Ageng Pasek dan Gajahmada berjalan menuju Bale Puntadewa dengan diantar oleh seorang prajurit pengawal istana.

"Jadi orang memang harus tahu diri, siapa kita dan dari mana kita. Yang pasti, prajurit muda itu akan menerima teguran keras dari Baginda Raja karena berani mendekati putrinya," kata seorang prajurit penjaga kepada kawannya di gardu jaga.

"Ki Rangga Ageng Pasek yang tidak tahu apa-apa jadi ikut terseret," sahut kawannya.

Sementara itu, Ki Rangga Ageng Pasek dan Gajahmada sudah sampai di Bale Puntadewa.

"Mengapa tidak ada seorang pun pejabat istana yang hadir di tempat ini?" batin Ki Rangga Ageng Pasek saat melihat hanya ada Baginda Raja dan Pangeran Citraganda di sana. Sebagai perwira, ia biasanya menghadiri persidangan di ruang itu yang diramaikan oleh para pejabat.

"Kami datang menghadap, terimalah sembah sujud kami," kata Ki Rangga Ageng Pasek sambil bersujud di hadapan Raja Ragasuci. Gajahmada pun mengikuti tindakan tersebut.

"Jagalah di luar, jangan sampai ada orang yang mendekati tempat ini," perintah Raja Ragasuci kepada prajurit pengawal yang mengantar mereka.

"Kalian kupanggil ke Bale Puntadewa ini bukan sebagai pesakitan," ujar Baginda Raja sambil tersenyum, seakan mampu membaca kegelisahan Ki Rangga Ageng Pasek.

"Sepanjang perjalanan hati hamba selalu bertanya-tanya. Mendengar perkataan Tuanku Baginda Raja, hati ini menjadi tenang kembali. Adakah hal penting sehingga memanggil kami berdua untuk menghadap?" tanya Ki Rangga Ageng Pasek yang ketegangannya mulai mereda.

"Maaf bila aku telah membuatmu tegang. Sengaja kupanggil kalian di ruang ini hanya sebagai awal dari sebuah permainan yang sangat menyenangkan," tutur Baginda Raja dengan penuh keramahan.

Sebagai seorang perwira berpengalaman, Ki Rangga Ageng Pasek langsung memahami arah pembicaraan Baginda Raja yang sangat berhati-hati.

"Hamba paham apa yang Tuanku Baginda maksudkan. Dinding kayu ini memang bisa saja memiliki telinga," sahut Ki Rangga Ageng Pasek, menyatakan kesiapannya menerima tugas khusus dari Raja Ragasuci.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment