Chapter 31
"Putraku, Pangeran Citraganda, akan menjelaskan tugasmu lebih rinci. Hari ini aku hanya ingin meyakinkan apakah Ki Rangga masih prajuritku yang setia sebagaimana yang kukenal sebelumnya," kata Baginda Raja Ragasuci sambil memandang Ki Rangga Ageng Pasek.
"Kesetiaan hamba untuk Paduka Baginda Raja tidak akan surut setapak pun, meskipun seandainya batok kepala ini Tuanku minta, pasti dengan rela hamba serahkan," kata Ki Rangga Ageng Pasek masih dengan wajah menunduk penuh rasa hormat di hadapan Baginda Raja Ragasuci.
"Aku tidak menyangsikan kesetiaanmu, wahai Ki Rangga," kata Baginda Raja Ragasuci.
"Terima kasih," kata Ki Rangga Ageng Pasek penuh rasa hormat.
"Cuaca dan suasana di istana ini memang sedang tidak baik. Putraku, Pangeran Citraganda, telah membukakan mataku. Kamu adalah salah satu korbannya. Tersingkir jauh dari pasukan tempurmu, hanya mengurusi sebuah kesatuan prajurit pengawal," kata Raja Ragasuci sambil menatap wajah Ki Rangga Ageng Pasek.
"Aku begitu merasa yakin bahwa kamulah orangnya yang dapat memengaruhi kawan-kawanmu, para prajurit Putra Kawali. Bangkitkan kesetiaan para prajurit Putra Kawali, prajurit Putra Galuh, dan seluruh prajurit Putra Pasundan," kata Raja Ragasuci kepada Ki Rangga Ageng Pasek.
Mendengar penuturan Raja Ragasuci, Ki Rangga Ageng Pasek dapat mengerti keinginan dan maksudnya yang tidak menyebut satu nama daerah pun. Ki Rangga Ageng Pasek dapat membaca siapa kawan dan siapa yang akan menjadi lawan. Pikirannya telah tertuju kepada Patih Anggajaya dan orang-orang kepercayaannya yang berasal dari satu tempat, sebuah tempat yang jauh di ujung tanah Pasundan, di ujung Jawadwipa, Kotaraja Rakata.
Pikiran Ki Rangga Ageng Pasek seperti terbang melihat suasana istana yang saat ini telah dipenuhi dan dipengaruhi orang-orang Rakata. Telah lama dirinya menaruh kebencian yang dalam kepada kesombongan orang-orang Rakata itu. Tapi semua hanya disimpan dalam hati. Dirinya tidak dapat berbuat apa pun karena istana sepertinya telah berada dalam cengkeraman kuat seorang Patih Anggajaya yang berasal dari Kotaraja Rakata.
"Sebagaimana yang kukatakan, Putraku Pangeran Citraganda akan menjelaskan apa dan bagaimana peranmu dalam permainan ini," kata Baginda Raja Ragasuci sambil bangkit berdiri.
"Senang melihatmu, sudah lama kita tidak berjumpa," kata Baginda Ragasuci sambil melempar senyumnya kepada Ki Rangga Ageng Pasek dan Mahesa Muksa. Ia terlihat sudah melangkah meninggalkan mereka di Bale Puntadewa.
"Aku akan mengutus Mahesa Muksa ke rumahmu, memberikan penjelasan tentang apa peran dan tugasmu," kata Pangeran Citraganda sambil berdiri dan melangkah keluar dari ruangan Bale Puntadewa.
"Baginda Raja dan Tuan Pangeran tampaknya sangat mengenal dirimu dengan baik," kata Ki Rangga Ageng Pasek sambil menepuk pundak Gajahmada.
"Aku hanya seorang prajurit pengawal biasa," kata Gajahmada sambil tersenyum.
"Pasti bukan prajurit biasa," kata Ki Rangga Ageng Pasek sambil memandang Gajahmada dari kaki hingga kepala. Baru kali ini dirinya memandang dengan jelas dan saksama anak muda itu.
"Jangan merendahkan diri, kulihat Pangeran Citraganda telah mengenalmu begitu dekat," Ki Rangga Ageng Pasek berkata kembali kepada Gajahmada.
"Mari kita keluar, para prajurit penjaga mungkin sedang menunggu kita, ingin tahu hukuman apa yang akan kita terima hari ini," kata Gajahmada mencoba mengalihkan pembicaraannya.
"Tampaknya aku berhadapan dengan seorang yang rendah hati," kata Ki Rangga Ageng Pasek sambil mengajak Gajahmada keluar dari ruangan Bale Puntadewa.
Demikianlah, mereka berdua terlihat telah berjalan menuju regol gerbang pintu istana. Namun manakala mereka berdua tengah mendekati gardu jaga, terlihat tangan Ki Rangga Ageng Pasek menarik tangan Gajahmada untuk berhenti.
"Mahesa Muksa, lekas katakan siapa prajurit penjaga ini yang telah berlaku kurang sopan kepadamu kemarin," kata Ki Rangga Ageng Pasek dengan suara penuh wibawa.
Empat orang prajurit penjaga yang saat itu berada di gardu jaga seperti mendengar suara petir di siang hari ketika mendengar suara Ki Rangga Ageng Pasek. Mereka berempat seperti kaku, seperti seorang pesakitan yang menunggu putusan hukuman.
"Aku tidak melihat orangnya di antara mereka," kata Gajahmada sambil tertawa dalam hati melihat ketegangan sikap para prajurit itu.
"Baiklah, besok aku akan membawamu mencari siapa prajurit itu," Ki Rangga Ageng Pasek berkata kembali dengan suara keras penuh kemarahan.
Terlihat para prajurit itu menjadi semakin pucat, Gajahmada menjadi kasihan melihatnya.
"Tidak perlu diperpanjang lagi, Ki Rangga. Aku sudah memaafkan orang itu," kata Gajahmada sambil tertawa dalam hati.
"Kamu bisa saja memaafkannya, tapi aku akan memberikan pelajaran buat semua prajurit penjaga agar bersikap ramah kepada siapa pun," Ki Rangga Ageng Pasek berkata kembali, masih dengan wajah orang yang sedang tidak senang hati.
"Kami akan mengingat semua pesan Ki Rangga, akan selalu bersikap ramah kepada siapa pun," kata seorang prajurit mencoba memberanikan diri.
"Aku tidak ingin mendengar masalah ini terulang kembali," kata Ki Rangga Ageng Pasek sambil menarik tangan Gajahmada melangkah pergi.
Ketika Ki Rangga Ageng Pasek dan Gajahmada sudah tidak terlihat lagi telah keluar dari regol pintu gerbang istana, keempat orang prajurit penjaga itu saling bertatapan.
"Siapa prajurit penjaga yang berlaku kurang sopan kepada anak muda itu?" bertanya salah seorang di antara mereka.
"Mereka adalah salah seorang yang bertugas kemarin. Salah sendiri telah berbuat kurang sopan kepada kawan dekat sang putri," kata seorang lagi.
"Untungnya anak muda itu sangat lunak, telah memaafkan perlakuan kurang sopan itu," kata orang yang pertama bicara.
"Semula kukira mereka berdua akan mendapat hukuman dipanggil ke Bale Puntadewa," kata seorang prajurit penjaga yang sedari tadi tidak bicara.
"Aku pun berpikir seperti itu ketika mereka datang," kata prajurit penjaga yang pertama bicara.
Sementara itu, Ki Rangga Ageng Pasek sudah jauh meninggalkan istana.
"Keempat prajurit itu gemetar ketakutan," bisik Ki Rangga sambil tersenyum kepada Gajahmada.
Terlihat Gajahmada dan Ki Rangga Ageng Pasek berjalan bersama.
"Senang mengenalmu, anak muda," kata Ki Rangga Ageng Pasek yang merasa semakin menyenangi sikap Gajahmada, baik dalam tutur kata maupun pembawaannya yang sangat sederhana. Dalam hati Ki Rangga Ageng Pasek telah menduga bahwa anak muda ini tampaknya bukan orang biasa dan telah biasa bergaul di kalangan para bangsawan.
"Nanti malam aku akan singgah ke rumah Ki Rangga," kata Gajahmada ketika mereka tiba di sebuah persimpangan jalan tempat Gajahmada bermaksud menuju sebuah pondokan Putu Risang dan Pangeran Jayanagara di Kotaraja Kawali.
"Baiklah, aku menunggumu di rumahku," kata Ki Rangga Ageng Pasek.
Mereka pun telah berpisah di persimpangan jalan itu. Sementara itu, matahari belum sampai naik ke puncaknya. Bumi di Kotaraja Kawali terlihat begitu cerah meskipun masih berada di musim penghujan.
"Hari ini kamu bebas tugas?" bertanya Putu Risang ketika melihat Gajahmada datang ke pondokannya.
"Hari ini aku diizinkan libur karena dipanggil menghadap Baginda Raja," kata Gajahmada sambil bercerita tentang kedatangannya ke Bale Puntadewa menghadap Baginda Raja Ragasuci.
"Kukira kamu menghadap Raja untuk membicarakan urusan pungut menantu," kata Pangeran Jayanagara sambil tersenyum.
Terlihat Putu Risang dan Gajahmada sedikit tersenyum mendengar canda Pangeran Jayanagara itu.
"Bagaimana kabar Andini?" bertanya Putu Risang kepada Gajahmada dengan bibir masih tersenyum.
Mata dan bibir Putu Risang, juga pertanyaan Putu Risang, ditangkap Gajahmada bukan sebagai sebuah pertanyaan, melainkan lebih mendekati kata-kata penuh selidik, seakan bertanya, "Siapa yang kamu pilih dari kedua gadis itu?"
Sebagai seorang pemuda yang sudah dewasa dan berdaya nalar kuat, sudah pasti Gajahmada dapat menangkap sikap kedua gadis itu, bahwa keduanya telah menaruh hati kepadanya. Tapi hati dan perasaan Gajahmada masih saja belum dapat menentukan siapa di antara kedua gadis itu yang akan dipilihnya.
Terlihat Gajahmada menarik napas dalam-dalam, dan hal itu juga ditangkap oleh Putu Risang bahwa pemuda itu sedang berada dalam kebimbangan hati.
"Andini masih di kediaman Patih Anggajaya bersama ibu kandungnya," kata Gajahmada seperti tengah mengelak apa yang dirasakannya saat itu, kebimbangan hati dalam memilih.
Sementara itu, Putu Risang sempat menangkap sekejap warna wajah Pangeran Jayanagara ketika dirinya bertanya mengenai Andini kepada Gajahmada. Putu Risang melihat warna suram sekejap menghiasi muridnya. Namun Putu Risang seperti berusaha untuk tidak mengetahui, atau berpura-pura tidak mengetahui perasaan yang ada dalam diri Putra Mahkota Majapahit.
"Aku tidak melihat Paman Bango Samparan," kata Gajahmada yang tidak melihat kehadiran Bango Samparan di pondokan itu.
"Paman Bango Samparan sedang ke Hutan Sindur untuk mempelajari suasana di sana," kata Putu Risang menjelaskan di mana Bango Samparan saat itu.
Sementara itu, Pangeran Citraganda juga muncul di pondokan itu.
"Maaf, aku mungkin terlambat datang untuk memastikan tidak ada yang melihat kehadiranku masuk ke pondokan ini," kata Pangeran Citraganda.
"Kami memang sedang menunggumu," kata Gajahmada kepada Pangeran Citraganda.
Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Raja Ragasuci, terlihat Pangeran Citraganda mencoba memberikan sebuah penjelasan dengan begitu terinci mengenai tugas apa yang akan dilakukan oleh Ki Rangga Ageng Pasek, yaitu memecah kekuatan pasukan Patih Anggajaya.
"Malam ini juga aku akan segera ke rumah Ki Rangga," kata Gajahmada.