Chapter 32
Demikianlah, ketika malam telah datang, terlihat Gajah Mada telah keluar dari pondokan itu. Tampaknya ia memang akan berangkat ke kediaman Ki Rangga Ageng Pasek sebagaimana yang dijanjikannya. Dan ketika malam sudah semakin gelap dan sepi, terlihat Pangeran Citraganda juga telah keluar dari pondokan itu untuk kembali ke istana.
Sementara itu, tidak lama berselang, terlihat seorang lelaki yang sudah cukup berumur datang dan masuk ke pondokan itu. Sebuah pelita malam yang diletakkan di atas balai-balai bambu di pondokan itu memperjelas wajah lelaki yang baru datang itu. Ternyata lelaki itu adalah Bango Samparan.
"Aku sudah mengamati keadaan dan suasana di sekitar Hutan Sindur. Hanya ada satu jalan masuk yang mungkin akan dilewati oleh pasukan Patih Anggajaya dari arah pintu gerbang kota sebelah selatan," kata Bango Samparan menyampaikan hasil pengamatannya.
"Purnama bulan depan ini tinggal tiga belas hari lagi," kata Putu Risang mengingatkan waktu yang semakin singkat.
"Rencana dan pengamatan kita tampaknya sudah menjadi begitu sempurna," ujar Pangeran Jayanagara ketika mereka membicarakan rencana penyergapan pasukan Patih Anggajaya di hutan perburuan.
"Hasil pengamatan terakhir ini harus kita sampaikan kepada Prabu Guru Darmasiksa," usul Putu Risang agar melaporkan semua hasil pengamatan mereka kepada Prabu Guru Darmasiksa.
"Hari ini kita bisa berangkat langsung ke lereng Galunggung," kata Pangeran Jayanagara.
Pagi itu bumi terlihat begitu bening, mungkin karena semalaman terguyur hujan cukup deras. Terlihat beberapa tangkai bunga soka kuning yang berjajar di muka pendapa kediaman Patih Anggajaya begitu bersih bersinar, menantang sang surya untuk bercanda bermandi kehangatan pagi.
Suasana taman di halaman rumah kediaman Patih Anggajaya yang tertata rapi dan asri itu bertambah elok manakala seorang gadis jelita berjalan di antara rerumputan menuju gardu penjaga.
"Aku hendak ke pasar, apakah kamu dapat mengantarku?" tanya gadis jelita itu yang ternyata adalah Andini.
"Aku masih bertugas," kata seorang pemuda dengan penuh keraguan.
"Temanilah Mahesa Muksa, ini adalah salah satu tugas seorang prajurit pengawal," kata seorang prajurit pengawal kepada pemuda itu yang ternyata adalah Gajah Mada.
"Jangan ragu, aku juga sudah meminta izin membawa seorang prajurit pengawal," kata Andini dengan senyum yang menggoda.
"Apalagi sudah mendapat izin," kata kawan Gajah Mada sambil menyenggol pinggang Gajah Mada dan sedikit tersenyum.
"Baiklah, jaga rumah ini seorang diri," pesan Gajah Mada kepada kawannya dan segera turun dari gardu jaga.
"Jangan lupa bawakan untukku jajanan putri mayang!" teriak kawan Gajah Mada itu sambil melambaikan tangannya ketika melihat Gajah Mada dan Andini melewati regol pintu gerbang.
Terlihat Gajah Mada tidak membalas lambaian tangan kawannya itu karena khawatir akan terus digoda.
"Pasangan yang serasi," gumam prajurit pengawal itu manakala melihat Gajah Mada dan Andini berjalan beriringan menjauhi kediaman Patih Anggajaya. Mereka berdua menyusuri jalan Kotaraja Kawali yang sudah terlihat ramai meski hari masih pagi.
"Bunda memintaku berbelanja beberapa potong kain. Katanya pakaianku ini sudah tidak layak lagi," kata Andini memberikan penjelasan tentang apa yang akan dibelinya di pasar.
"Dengan pakaian baru, pasti akan membuat semua orang tidak berkedip memandangmu," goda Gajah Mada.
Ternyata perkataan Gajah Mada yang semula bermaksud menggoda telah membuat wajah Andini seketika berubah menjadi murung, memudarkan cahaya wajahnya yang biasanya selalu berseri-seri.
"Apakah perkataanku telah menyinggungmu?" tanya Gajah Mada merasa tidak enak hati melihat perubahan wajah Andini.
Andini tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian melepaskannya seolah sedang melepas beban sesak di dada.
"Bukan perkataan Kakang Mahesa Muksa yang mengganggu, tapi aku jadi ingat mata lelaki tua itu yang kulihat begitu menjijikkan," kata Andini sambil menoleh sebentar ke arah Gajah Mada, mencoba menenangkannya dari rasa bersalah.
"Siapa lelaki tua itu?" tanya Gajah Mada seketika.
Kembali Andini tidak langsung menjawab. Matanya kosong memandang ke depan, ke arah gumpalan awan putih yang bergeser perlahan ditiup angin. "Lelaki tua itu adalah Patih Anggajaya," ucap Andini setelah sekian lama terdiam.
"Bukankah di rumah ada ibumu, Nyi Dewi Kaswari?" tanya Gajah Mada penuh rasa khawatir.
"Saat bersama ibuku saja matanya begitu liar. Jika tidak sabar, rasanya ingin sekali aku menampar wajah lelaki itu," kata Andini masih sambil berjalan perlahan.
"Bersabarlah, bulan purnama tinggal beberapa hari lagi," kata Gajah Mada mencoba menghibur perasaan Andini.
"Bila urusan ini telah selesai, ayah dan ibuku pasti akan berkumpul bersama. Aku akan gembira bila Kakang Mahesa Muksa ikut bersama kami," kata Andini, keceriaan kembali menghiasi wajah dan senyumnya.
Berganti, saat itu Gajah Mada yang terdiam dan tidak langsung menjawab. Pertanyaan Andini seperti sebuah pedang tajam yang menjulur di ujung lehernya. Gajah Mada masih terdiam, perasaan anak muda itu seperti melayang-layang dalam kebimbangan hati. Ia mencoba menilik perasaannya sendiri, sejauh mana perasaannya kepada gadis itu.
Semakin dirinya mencoba meraba perasaannya sendiri, semakin takut dirinya mendengar suara detak jantungnya sendiri. Tiba-tiba saja pikiran Gajah Mada terbang ke wajah Dyah Rara Wulan. Terbayang olehnya keceriaan sang putri raja itu.
"Mereka berdua mengharapkan hal yang sama. Pilihanku akan menyakitkan salah satu dari mereka. Sementara hati ini susah sekali untuk dikenali, condong ke mana perasaanku di antara mereka berdua?" batin Gajah Mada menimbang-nimbang perasaannya sendiri.
"Ditanya malah terdiam membisu?" goda Andini sambil menatap wajahnya. "Atau sedang teringat kepada seorang gadis lain? Pasti gadis itu seorang yang sangat manis dan cantik," lanjut Andini masih menggoda.
"Tidak ada yang kupikirkan, apalagi seorang gadis," kata Gajah Mada mencoba menghindar.
"Biar kutebak, pasti gadis itu adalah sang putri raja, Dyah Rara Wulan," cetus Andini tiba-tiba.
Perkataan Andini kembali terasa seperti sebuah pedang yang menghunus di depan dadanya. Terlihat Gajah Mada masih terdiam, tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada Andini.
"Maaf bila pertanyaanku mengganggu pikiranmu," kata Andini seolah dapat membaca apa yang dipikirkan oleh pemuda yang bersamanya itu.
Mendengar perkataan Andini, perasaan Gajah Mada seperti terlepas dari tekanan. Ia merasa lega bahwa Andini tidak menuntut jawaban darinya. Perasaan seorang wanita memang begitu peka dan dapat dengan mudah membaca pikiran seorang lelaki. Sementara itu, Gajah Mada tidak dapat mengerti apa yang ada dalam pikiran Andini saat itu.
Sebentar saja Andini mencoba mencairkan suasana dengan cerita lain sambil terus melangkah menuju pasar Kotaraja. Tawa dan canda mengiringi perjalanan mereka, tanpa menyadari bahwa beberapa pasang mata menatap mereka dengan heran.
"Bukankah pemuda itu yang kemarin berjalan bersama Tuan Putri?" bisik seorang wanita kepada kawannya ketika Gajah Mada dan Andini telah sampai di muka pasar Kotaraja yang sudah mulai ramai.
Ternyata pertanyaan itu bukan hanya milik wanita itu saja. Beberapa orang yang sempat mengenali Gajah Mada terlihat heran melihatnya berjalan bersama gadis lain.
"Jangan-jangan pemuda itu punya ajian pemikat sukma, seorang lelaki pemetik bunga," bisik seorang lelaki kepada pedagang perlengkapan sesajen di pasar itu.
Sementara itu, pada saat yang sama di kuil istana, terlihat dua orang tengah berbincang-bincang. Seorang di antara mereka berpakaian sebagaimana seorang pendeta, sementara seorang lagi berpakaian layaknya pejabat istana. Ternyata mereka berdua adalah Pendeta Rakanata dan Patih Anggajaya.
"Gadis itu begitu jelita, aku seperti tersihir dan tidak dapat melupakannya barang sekejap mata," kata Patih Anggajaya kepada Pendeta Rakanata.
"Seperti itulah yang kamu katakan manakala memintaku menggendam hati Dewi Kaswari," sahut Pendeta Rakanata.
"Dewi Kaswari sekarang sudah tua, sementara gadis itu masih begitu belia. Ia sangat cocok menjadi permaisuri pendampingku bila kelak aku menjadi raja," kata Patih Anggajaya.
"Baiklah, nanti malam akan kukirim gendam kepada gadis itu," kata Pendeta Rakanata.
"Aku tidak akan melupakan budi baikmu, Tuan Pendeta," sahut Patih Anggajaya dengan penuh gembira mendengar kesanggupan dari Pendeta Rakanata.
Namun, manakala Patih Anggajaya telah keluar dari kuil istana, terlihat perubahan di wajah Pendeta Rakanata. Wajah yang semula penuh senyum welas asih itu seketika berubah menjadi begitu dingin dan menakutkan.
"Aku akan membunuh gadis itu," batin Pendeta Rakanata ketika Patih Anggajaya telah keluar dari kuil.
Siapakah sebenarnya tokoh Pendeta Rakanata itu? Tidak ada yang tahu bahwa di balik jubah pendetanya tersimpan kekelaman hati yang begitu keruh. Meski sedari kecil telah begitu banyak disirami berbagai ajaran ilmu kesucian batin, hal itu tetap tidak dapat melepaskan nafsu angkara yang semakin mengendalikan akal dan pikirannya. Tidak ada yang tahu bahwa di waktu mudanya, pendeta yang berasal dari Kotaraja Rakata itu sering melepas jubah kependetaannya manakala pergi mengembara ke berbagai pelosok daerah.