Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 33

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 33

Banyak anak gadis yang menjadi korban kejahatan syahwat Pendeta Rakanata. Dalam sebuah pengembaraannya, ia terpikat dengan seorang gadis kembang desa. Dengan daya pikat ajian ilmu saktinya, Pendeta Rakanata dapat membawa pergi gadis itu dan menjadikannya seorang istri di sebuah padukuhan tidak jauh dari Kotaraja Rakata.

Ketika diangkat sebagai pendeta suci di Istana, kekelaman hatinya tergoda menginginkan keturunannya sendiri menjadi seorang bangsawan. Maka, dengan ajian ilmu saktinya, Pendeta Rakata dapat menukar bayi sang permaisuri yang baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki dengan bayi seorang wanita, anaknya sendiri. Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa sang putri Raja Rakata adalah putri sang pendeta yang bernama Dewi Kaswari.

Bayi putra sang Raja Rakata dilarung di sebuah sungai, tetapi beruntung ditemukan oleh seorang petani desa dan diserahkan kepada seorang pendeta sakti mandraguna. Bayi itu dipelihara dengan baik oleh sang pendeta sakti hingga dewasa. Begitu sayang pendeta itu hingga telah mewarisi seluruh ilmunya kepada sang putra Raja Rakata.

Ketika dewasa, bayi yang hanyut di sebuah sungai itu telah menjadi seorang pendeta mewarisi ilmu ayah angkatnya itu. Tidak ada yang mengetahui bahwa putra sang raja Rakata yang telah menjadi pendeta itu bernama Darmaraya yang juga bergelar sang pertapa sakti dari Gunung Wilis.

Malam itu sudah mulai larut dan hujan baru saja reda mengguyur bumi Kotaraja Kawali. Namun, meski hujan cukup lebat, tidak ada banyak genangan air karena bumi Kotaraja Kawali masih begitu banyak dipenuhi pepohonan juga beberapa hutan lindung di beberapa tempat sebagai bumi hijau yang diawasi dan selalu dijaga oleh istana.

Gajahmada masih tetap waspada manakala melihat kawannya di gardu jaga kediaman Patih Anggajaya tidak kuasa menahan rasa kantuk yang sangat akibat sebuah gendam yang sangat kuat telah merasuk pikiran dan perasaan prajurit pengawal itu. Terlihat Gajahmada telah memejamkan matanya, namun telah meningkatkan daya ketajaman indra pendengarannya, tidak satupun yang terlepas dari pendengarannya itu meski seekor ular yang tengah merayap di tempat jauh di luar pagar kediaman Patih Anggajaya dapat didengar oleh Gajahmada yang sudah terus mengasah tenaga sakti ilmu sejatinya.

Terutama berkat tambahan tenaga sakti milik ayah kandungnya sendiri, sang pertapa sakti dari Gunung Wilis. Namun, jejak dan suara langkah kaki kali ini begitu halus, terlihat di kekelaman malam sebuah bayangan tersamar dengan begitu lincah dan cepat telah melompat ke atas pagar bagian belakang bangunan utama kediaman Patih Anggajaya.

Bayangan hitam tersamar itu hanya sebentar berjongkok di atas dinding pagar. Tiba-tiba saja dengan begitu cepat dan lincahnya seperti terbang melompat di sebuah cabang batang sebuah pohon Keluwih yang tumbuh tinggi di pinggir dinding pagar belakang itu. Terlihat bayangan hitam tersamar itu telah merapatkan dirinya di sebuah batang pohon keluwih itu hingga seperti telah menyatu di kegelapan malam yang sudah begitu larut itu.

Lama bayangan hitam tersamar itu tidak bergerak, mungkin hendak memastikan tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya itu. "Gendamku telah membuat mereka tertidur pulas hingga datangnya pagi," berkata bayangan hitam tersamar itu dengan seluruh wajah tertutup kain hitam, hanya sorot matanya yang menyala tajam di kegelapan malam itu yang dapat memastikan bahwa dirinya adalah seorang manusia.

Setelah memastikan bahwa suasana sangat aman, tiba-tiba saja sosok bayangan hitam tersamar itu telah melenting begitu cepat hinggap di atap sebuah pondokan di belakang bangunan utama. "Aku harus memastikan bahwa gadis itu ada di biliknya," berkata sosok bayangan hitam itu dalam hati sambil dengan begitu mudahnya membongkar rangkaian atap pondokan itu yang terbuat dari bahan bambu tali.

"Pantas saja bila Patih Anggajaya tergila-gila dengan gadis ini," berkata sosok bayangan tersamar itu ketika dari atas atap telah dapat mengintip seorang wanita yang nampaknya begitu pulas tertidur hanya diterangi pelita malam yang ada di pojok biliknya. "Sayang bahwa kali ini aku harus membunuhnya," berkata kembali sosok bayangan tersamar itu.

Terlihat orang berpakaian serba hitam yang menutup sebagian wajahnya itu telah melompat turun setelah membuka beberapa bagian atap. Pastilah orang itu sangat berilmu tinggi, karena dengan begitu ringannya meluncur begitu saja ke bawah. Namun, diluar dugaan, Andini yang tengah tertidur itu ternyata seperti tengah menunggunya.

Terlihat begitu orang berpakaian serba hitam itu menjejakkan kakinya di lantai bilik itu, seketika itu pula gadis itu telah langsung melompat dari pembaringannya, telah berdiri bertolak pinggang menantang tanpa rasa takut sedikitpun. Rupanya Andini yang telah diwariskan ilmu tambahan oleh Ayah kandungnya sendiri, Bango Samparan telah memiliki ilmu tingkat tinggi yang tidak mudah termakan gendam apapun.

Diam-diam telah mengetahui kehadiran orang berpakaian serba hitam itu yang nampaknya tengah bermaksud tidak baik terhadapnya. "Pasti kamu orang jahat, masuk bilik seorang gadis dimalam hari," berkata Andini dengan suara membentak. Terlihat orang berpakaian serba hitam itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Benar, aku adalah orang jahat yang datang hendak membunuhmu," berkata orang itu sambil menunjukkan sebuah senjata di tangannya. "Kujang Pangeran Muncang!!" berkata Andini sambil membelalakkan matanya menatap sebuah senjata di tangan orang itu. Andini memang pernah mendapat gambaran mengenai sebuah senjata yang hilang milik Prabu Guru Darmasiksa, sebuah senjata Kujang Pangeran Muncang.

Dan Andini melihat senjata di tangan orang itu sangat mirip sekali dengan gambaran yang pernah disampaikan oleh Prabu Guru Darmasiksa. Maka langsung Andini merasa harus berhati-hati dan berwaspada berhadapan dengan seorang yang memegang senjata bertuah itu. "Bilik ini sangat sempit," berkata Andini sambil menjejakkan kakinya langsung melompat tinggi ke atas wuwungan atap yang sudah terbongkar.

"Jangan lari!!" berkata orang itu yang tidak menyangka bahwa Andini ternyata bukan seorang gadis biasa. Terlihat orang itu juga telah ikut keluar dari bilik itu sebagaimana Andini melompat lewat wuwungan atap yang sudah terbongkar. Ketika telah berada di atas atap pondokannya, Andini segera berlari dengan begitu ringan dan cepatnya dan langsung melompat terjun ke bawah.

"Mau lari kemana anak manis?" berkata orang itu yang telah berhasil mengikuti di belakang Andini. Mendengar suara orang itu, Andini dengan sigap penuh kesiagaan langsung berbalik badan menghadap ke arah orang itu. "Hanya orang bermaksud buruk datang memasuki rumah orang malam-malam seperti ini," berkata seseorang dari kegelapan.

Mendengar suara dari seseorang dari arah belakangnya membuat orang berpakaian serba hitam itu langsung mundur beberapa langkah agar dapat melihat langsung Andini dan orang yang baru saja muncul itu yang ternyata adalah Gajahmada. Andini yang melihat kemunculan Gajahmada merasa bernafas lega, setidaknya ada seorang yang akan membantunya meringkus orang berpakaian serba hitam itu yang di yakini pastilah bukan orang sembarangan.

"Berhati-hatilah dengan senjata di tangannya," berkata Andini mengingatkan Gajahmada. Namun belum habis bicara Andini, tiba-tiba saja orang itu dengan sebuah kecepatan yang begitu sangat luar biasa telah melesat meluncur menyerang ke arah Andini. Terkejut bukan kepalang Gajahmada melihat gerakan orang itu yang bergerak ke arah Andini.

Sementara itu Andini juga menjadi begitu kaget terkesima tidak menyangka bahwa orang itu akan melakukan penyerangan ke arahnya dengan secara cepat dan tiba-tiba itu. Persiapan Andini kurang cukup, atau kecepatan bergerak orang itu begitu luar biasa pesatnya membuat Andini seperti tergagap telah berusaha menyingkir menghindari sergapan dan serangan orang berpakaian serba hitam itu.

Sebuah ujung senjata kujang di tangan orang itu telah berhasil melukai bahu kanan Andini yang telah mencoba menghindar berkelit melompat ke samping. Terlihat Andini meraba bahu kanannya, hanya sebuah goresan tipis dan tidak terlalu panjang melukai bahu kanannya. Orang itu memang tidak segera mengejar Andini, tapi terlihat berdiri sambil tertawa panjang.

"Pamor racun Kujang Pangeran Muncang sangat kuat, sedikit goresan saja akan dapat membawa maut," berkata orang itu sambil tertawa panjang. Terperanjat Gajahmada mendengar perkataan orang itu, tidak pernah dirinya merasa gusar begitu hebat seperti itu. Dan tanpa disadari telah meraba sebuah senjata pusakanya yang sangat jarang sekali di keluarkan dalam keadaan bahaya sekalipun.

Gajahmada telah menggenggam sebuah senjata cakra di tangannya. "Hadapi aku!!" berteriak menerjang ke arah orang itu. Gajahmada langsung terperanjat orang itu tidak menyangka sama sekali bahwa seorang prajurit pengawal biasa dapat bergerak begitu cepat seperti angin puyuh bertiup di samudera raya, begitu dahsyatnya.

Trangg!!! Terdengar suara benturan dua senjata pusaka saling beradu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment