Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 34

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 34

Orang berpakaian serba hitam itu memang tidak punya kesempatan apa pun selain menangkis serangan cakra Gajah Mada dengan senjatanya sendiri, sebuah Kujang Pangeran Muncang. Orang itu terbelalak sambil melihat senjatanya yang masih tergenggam setelah merasakan perih dan panas di sekitar telapak tangannya akibat benturan yang sangat keras dengan senjata cakra milik Gajah Mada.

Ia mundur sekitar dua langkah dengan wajah terperanjat, seolah tidak menyangka sama sekali bahwa seorang prajurit biasa mempunyai kemampuan tenaga yang begitu hebat. Tenaga benturan itu baru saja dirasakannya seperti menghantam sebuah gunung cadas hitam yang sangat keras.

Melihat lawannya mundur, Gajah Mada bermaksud untuk kembali menerjang. Namun tiba-tiba, ia mendengar suara rintihan yang sangat lemah. Ternyata suara itu berasal dari Andini yang terlihat sudah begitu tidak berdaya. Melihat keadaan Andini, Gajah Mada mengurungkan niatnya untuk menyerang. Ia langsung melompat dengan cepat menyongsong tubuh Andini yang mulai limbung. Tepat pada waktunya, tangan Gajah Mada menangkap tubuh Andini yang terkulai.

"Anak muda, sayang waktu kita kurang tepat untuk adu tanding di rumah ini. Jangan merasa besar kepala dengan benturan pertama itu," kata orang itu sambil melangkah cepat. Ia melompat seperti terbang ke atas dinding pagar dan menghilang di balik kegelapan malam.

Segala pikiran dan perasaan Gajah Mada saat itu tertuju kepada gadis yang berada dalam pangkuannya. Wajah Andini terlihat begitu pucat, namun napasnya masih terdengar meski sangat lemah. Tiba-tiba, Gajah Mada teringat kembali perkataan orang berpakaian serba hitam itu bahwa racun Kujang Pangeran Muncang sangat kuat; tidak ada yang mampu bertahan lebih dari tiga hari.

"Prabu Guru Darmasiksa pasti dapat mengobatinya," gumam Gajah Mada dalam hati, mencari jalan untuk menyelamatkan gadis itu.

Gajah Mada segera merebahkan tubuh Andini di tanah. Seketika itu juga, ia berlari ke kandang kuda yang terletak di belakang bangunan utama kediaman Patih Anggajaya. Dengan tergesa-gesa, ia keluar sambil menuntun seekor kuda hitam.

Malam masih berselimut gelap manakala seekor kuda hitam melesat keluar dari regol pintu gerbang kediaman Patih Anggajaya. Hempasan angin mengibarkan ikat kepala sang penunggang yang tidak lain adalah Gajah Mada. Ia melarikan kudanya sambil membawa Andini menuju Padepokan Prabu Guru Darmasiksa di lereng Galunggung.

Satu-satunya tujuan Gajah Mada adalah membawa Andini secepat mungkin ke hadapan Prabu Guru Darmasiksa. Hanya orang tua itulah yang diyakininya dapat menyembuhkan sang gadis yang sudah sangat pucat dengan napas tersengal. Gajah Mada terus memacu kudanya tanpa memikirkan keadaan sekitar. Sebelah tangannya menahan tubuh Andini di depan, sementara tangan lainnya mengendalikan kekang. Ia merasakan tubuh Andini semakin berat, pertanda gadis itu telah kehilangan kesadaran.

Kenyataan itu membuat Gajah Mada semakin gusar. Ia menghentakkan kudanya agar berlari lebih cepat. Kuda hitam itu melaju seolah terbang membelah udara malam. Gajah Mada tidak memedulikan apa pun selain peringatan tentang racun Kujang Pangeran Muncang yang terus terngiang di telinganya.

Tanpa terasa, pagi datang menerangi bumi. Gajah Mada masih memacu kudanya dengan kencang. Pakaiannya tampak tercompang-camping dan tubuhnya tergores luka akibat ranting-ranting pohon di jalan hutan yang sempit dan berliku. Namun, ia tidak merasakan letih maupun perih. Ia justru semakin erat memeluk tubuh Andini, seakan takut gadis itu terlempar akibat kecepatan kuda yang luar biasa. Debu dan daun kering beterbangan di belakang derap kaki kuda pilihan yang perkasa itu.

Sementara itu, di kediaman Patih Anggajaya, hilangnya Andini memicu kegemparan. Gajah Mada menjadi pihak yang disalahkan atas kejadian tersebut karena ketidakhadirannya bertepatan dengan hilangnya Andini. Patih Anggajaya sangat marah. Diam-diam ia menaruh hati pada Andini dengan niat yang tidak tulus, selayaknya lelaki yang hanya mengikuti nafsu.

Pagi itu juga, Patih Anggajaya memerintahkan prajurit untuk menyisir Kotaraja Kawali dan daerah sekitarnya. Namun, setelah menggeledah berbagai tempat yang dicurigai, mereka tidak menemukan apa pun.

"Bila Andini pergi bersama Mahesa Muksa, pasti ia meminta izin kepadaku," kata Nyi Dewi Kaswari kepada pelayan tua kepercayaannya.

"Hamba percaya anak muda itu tidak mungkin melarikan seorang gadis," balas si pelayan tua.

"Kita sependapat. Menurutku, ada seseorang yang berusaha menculik Andini dan Mahesa Muksa berusaha mengejarnya," duga Nyi Dewi Kaswari.

"Bisa jadi, karena atap kamar Andini tampak dibongkar paksa," pelayan tua itu membenarkan.

"Semoga Gusti Yang Maha Agung selalu melindunginya," ucap Nyi Dewi Kaswari dengan wajah penuh kekhawatiran memikirkan nasib putri tercintanya.

"Nyi Mas Putri tidak boleh terlihat bersedih di hadapan Tuan Patih Anggajaya. Bukankah Tuan Patih belum mengetahui rahasia yang sebenarnya antara Andini dan Nyi Mas?" pelayan tua itu mengingatkan.

"Kamu benar, aku tidak boleh menunjukkan kesedihan ini," ujar Nyi Dewi Kaswari sambil mengusap air matanya.

Hingga matahari meninggi, tidak ada kabar dari para prajurit yang telah menggeledah rumah-rumah penduduk. Berita tentang hilangnya gadis di kediaman Patih Anggajaya itu akhirnya terdengar hingga ke Pasanggrahan Keputrian.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment