Chapter 35
"Apakah kamu masih memikirkan prajurit pengawal yang melarikan seorang anak gadis itu?" tanya Permaisuri Ratu Dara Puspa kepada putrinya, Dyah Rara Wulan, setelah mendengar kabar tentang seorang prajurit muda yang membawa pergi seorang gadis dari kediaman Patih Anggajaya.
"Aku mengenal Kakang Mahesa Muksa, tidak mungkin dia melakukan perbuatan serendah itu," jawab Dyah Rara Wulan, berusaha menyangkal kabar yang didengarnya.
Mendengar Dyah Rara Wulan masih membela Mahesa Muksa, hati Ratu Dara Puspa semakin panas. "Apa kelebihan prajurit rendahan itu? Bukankah begitu banyak perwira tinggi muda yang berusaha memikat hatimu, wahai putriku?" ujar sang permaisuri sambil menahan amarah di hadapan putrinya.
"Ibunda tidak tahu apa yang ananda rasakan. Jika hati ini dapat memilih, pasti ananda mencari seorang pangeran tampan, berkuasa, dan kaya raya. Namun, hati ini memang tidak dapat memilih, apalagi meminta," desah Dyah Rara Wulan pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri.
Mendengar pernyataan itu, Ratu Dara Puspa tidak dapat lagi menahan kekesalannya. "Kamu pasti telah diguna-gunai oleh prajurit rendahan itu!" ketusnya sambil berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Dyah Rara Wulan di tepi kolam taman pesanggrahan Keputrian Istana.
Sementara itu, hari mulai menjelang sore. Seorang pemimpin prajurit melaporkan hasil pencarian seharian itu kepada Patih Anggajaya dengan tangan hampa. "Kami sudah menyisir seluruh tempat di Kotaraja Kawali, namun tidak menemukan gadis dan pemuda itu," lapornya.
"Kumpulkan prajurit untuk melakukan pengejaran ke beberapa tempat!" perintah Patih Anggajaya dengan wajah murka.
"Kami laksanakan perintah, Tuan Patih," jawab pemimpin prajurit itu sambil menunduk hormat.
Setelah prajurit itu pergi, Patih Anggajaya segera melangkahkan kaki menuju kuil istana. "Aku telah tertinggal satu langkah dari anak muda itu," keluh Patih Anggajaya kepada Pendeta Rakanata saat mereka bertemu.
Pendeta Rakanata tersenyum menatap wajah Patih Anggajaya yang terlihat kesal dan gusar. Namun, sang Patih tidak menyadari bahwa senyum itu adalah ungkapan kegembiraan di hati Pendeta Rakanata.
"Gadis itu tidak bisa tertolong lagi, dan kamu tidak akan memilikinya," batin Pendeta Rakanata.
Namun, yang terucap dari bibirnya berbeda dengan pikirannya. "Kamu harus memikirkan rencana kita yang lebih penting daripada gadis itu. Lupakan dia untuk sementara; bukankah rencana kita di hutan perburuan sudah sangat dekat?"
Perkataan Pendeta Rakanata meredakan kegusaran Patih Anggajaya. Dalam hati, dia membenarkan ucapan tersebut. "Benar, aku bisa mendapatkan banyak wanita cantik setelah aku menjadi raja nanti," pikirnya.
Beberapa prajurit, atas perintah Patih Anggajaya, mulai melakukan pencarian di luar Kotaraja Kawali. Dengan bantuan seorang prajurit yang mahir membaca jejak, mereka berhasil menemukan arah pelarian Gajahmada yang membawa Andini. Mereka terus mengikuti jejak tersebut, namun saat senja tiba, hujan turun sangat deras dan menghapus bekas langkah kuda Gajahmada.
"Hujan deras ini telah menghapus jejak-jejaknya," ujar sang pencari jejak yang mulai kesulitan karena hari pun semakin gelap.
"Jika kita terus melakukan pencarian, kita bisa tersesat dan tidak bisa kembali," kata pemimpin prajurit saat mereka memasuki hutan lebat di sebelah selatan Kotaraja Kawali.
Akhirnya, dengan penuh kecemasan, mereka memutuskan untuk kembali ke Kotaraja Kawali. Terbayang dalam pikiran mereka kemarahan besar Patih Anggajaya karena mereka harus pulang dengan tangan kosong.
Seandainya para prajurit itu terus mengejar, mereka memang sudah jauh tertinggal. Saat itu, Gajahmada sudah berada di kaki Gunung Galunggung. Seharian penuh dia memacu kudanya tanpa henti. Dengan satu tangan memegang tali kekang dan tangan lainnya mendekap erat tubuh Andini yang tak sadarkan diri, Gajahmada mendaki lereng gunung.
Hujan di musim penghujan itu mengguyur bumi Pasundan hingga ke kaki Gunung Galunggung. Air hujan yang membasahi tubuh Gajahmada membuat perih beberapa bagian tubuhnya yang terluka akibat goresan dahan dan ranting di sepanjang perjalanan. Namun, pemuda itu tidak menghiraukan rasa sakitnya. Rasa cemas terhadap kondisi Andini yang semakin lemah membuatnya terus memacu kuda mendaki lereng yang terjal dan berbatu. Karena sudah beberapa kali melewati jalur itu, Gajahmada akhirnya berhasil mengatasi rintangan yang sulit tersebut.
Hujan belum reda ketika kuda Gajahmada menerobos masuk melalui gerbang Padepokan Prabu Guru Darmasiksa. "Apa yang terjadi?" tanya Putu Risang yang mengenali sang penunggang kuda.
Orang-orang di padepokan cemas melihat Gajahmada melompat dari punggung kuda sambil menggendong Andini yang masih pingsan. "Apa yang terjadi pada putriku?" tanya Bango Samparan dengan penuh kekhawatiran.
"Andini terluka," jawab Gajahmada singkat setelah meletakkan tubuh Andini dengan perlahan di lantai pendapa Padepokan Prabu Guru Darmasiksa.
Orang-orang segera mengerumuni mereka. "Sepertinya Andini terkena racun yang sangat kuat," ujar seorang pria tua yang langsung memeriksa keadaan Andini.
"Andini terluka oleh Kujang Pangeran Muncang," jelas Gajahmada kepada pria tua itu, yang tidak lain adalah Prabu Guru Darmasiksa.
Semua orang di pendapa terkejut dan berbisik mengulang ucapan Gajahmada. "Kujang Pangeran Muncang?" tanya Prabu Guru Darmasiksa dengan kening berkerut, antara terkejut dan menanti penjelasan lebih lanjut.
Gajahmada tidak bersuara, dia hanya menunjukkan luka goresan tipis di bahu Andini. "Andini tergores Kujang Pangeran Muncang," ulangnya.
"Tunda dulu penjelasanmu," potong Prabu Guru Darmasiksa. Dia segera menyentuh beberapa titik saraf di tubuh Andini untuk menutup aliran darah. Sebagai ahli pengobatan, dia tahu betapa bahayanya racun tersebut meskipun hanya melalui goresan tipis. Sebagai keturunan raja Pasundan, dia paham seberapa hebat pengaruh pamor Kujang Pangeran Muncang bagi tubuh seseorang.
"Untuk sementara aku hanya mampu menahan penyebaran racunnya. Sekarang ceritakan apa yang terjadi," perintah Prabu Guru Darmasiksa kepada Gajahmada yang masih duduk di sebelah Andini.
Gajahmada menarik napas panjang. Di bawah tatapan penuh perhatian, dia menyadari kehadiran orang-orang yang dikenalnya di pendapa itu. Selain Bango Samparan, hadir pula Pangeran Jayanagara, Putu Risang, Jayakatwang, dan pengasuhnya sendiri, Pendeta Gunakara. Tanpa ragu, Gajahmada menceritakan kejadian malam itu, tentang sosok misterius berpakaian hitam yang melukai Andini dengan senjata tersebut.
Siapakah sebenarnya orang di balik cadar hitam itu? Pertanyaan itu menggantung di benak semua orang yang hadir di sana.