Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 36

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 36

"Apakah Andini masih dapat disembuhkan?", tanya Gajahmada perlahan kepada Prabu Guru Darmasiksa.

Perasaan Gajahmada menjadi tentram di hadapan Prabu Guru Darmasiksa. Ia yakin orang tua di hadapannya itu pasti dapat menyembuhkan Andini.

Prabu Guru Darmasiksa menatap wajah anak muda itu dengan senyum penuh kesabaran.

"Kita pasrahkan semua ini kepada ketentuan Gusti Yang Maha Agung, Dialah penentu segalanya karena semua bersumber dari-Nya," kata Prabu Guru Darmasiksa sambil menarik napas perlahan.

"Hanya ada dua benda di dunia ini yang dapat menawarkan racun Kujang Pangeran Muncang," lanjut Prabu Guru Darmasiksa sambil menarik napas panjang.

"Benda pertama adalah 251 bunga Wijaya Kusuma," kata Prabu Guru Darmasiksa sembari memandang orang-orang yang memperhatikannya.

"Bunga Wijaya Kusuma berada di istana Majapahit," ucap Putu Risang tanpa sadar.

Sebagai murid terkasih Mahesa Amping, Putu Risang pernah mendengar cerita tentang bunga Wijaya Kusuma dari gurunya.

Bagian 3. "Kamu benar, bunga Wijaya Kusuma telah dimiliki oleh putra anakku, Raja Majapahit," kata Prabu Guru Darmasiksa membenarkan ucapan Putu Risang.

"Aku dapat meminta bunga Wijaya Kusuma kepada Ayahanda di Majapahit," ujar Pangeran Jayanagara.

"Penutupan sementara jalan darah di tubuh Andini hanya bertahan satu hari ini," kata Prabu Guru Darmasiksa sambil menggelengkan kepala perlahan. Usulan Pangeran Jayanagara tidak dapat dilaksanakan.

Semua orang terdiam. Mata mereka menggantungkan harapan kepada Prabu Guru Darmasiksa.

Namun, Prabu Guru Darmasiksa yang diharapkan memberikan jalan lain atau obat kedua selain bunga Wijaya Kusuma, terlihat tercenung menatap kosong ke arah halaman pendapa.

Suasana di atas pendapa sejenak sunyi.

Hujan di luar halaman mulai mereda dan malam semakin gelap.

"Tunjukkan kepada hamba obat kedua selain bunga Wijaya Kusuma. Hamba bersedia melakukan apa pun demi kesembuhan Andini," kata Gajahmada, memecah keheningan.

"Anakku tidak perlu berbuat apa pun. Obat atau cara kedua selain bunga Wijaya Kusuma itu masih berada di Padepokan ini," ujar Prabu Guru Darmasiksa kepada Gajahmada.

Kembali suasana di atas pendapa padepokan menjadi hening. Semua mata tertuju pada Prabu Guru Darmasiksa.

Namun, Prabu Guru Darmasiksa kembali tercenung menatap kosong ke depan, ke arah halaman pendapa yang semakin gelap.

Suara hujan di luar sudah tidak terdengar lagi. Semua mata masih menunggu Prabu Guru Darmasiksa menyampaikan obat apa yang dapat menyembuhkan Andini yang masih tergeletak tidak sadarkan diri di lantai pendapa Padepokan Prabu Guru Darmasiksa.

Semua mata di pendapa padepokan melihat Prabu Guru Darmasiksa yang masih tercenung, menarik napas panjang seolah akan memutuskan sesuatu yang sangat berat. Ia terlihat memikul beban yang amat berat.

"Dengan sangat terpaksa aku harus membuka sebuah rahasia besar leluhur kami, rahasia leluhur para raja di Pasundan ini," kata Prabu Guru Darmasiksa, lalu terdiam.

Suasana di atas pendapa kembali hening. Semua mata menunggu kelanjutan ucapan orang tua itu.

"Masih ada satu cara untuk menawarkan racun di tubuh Andini akibat goresan Kujang Pangeran Muncang. Yaitu dengan kembaran Kujang Pangeran Muncang," kata Prabu Guru Darmasiksa.

"Kembaran kujang Pangeran Muncang?" terdengar suara bersamaan dari semua orang yang hadir.

"Bersyukurlah bahwa kujang kembaran itu masih tersimpan di Padepokan ini," kata Prabu Guru Darmasiksa sambil menarik napas panjang dan perlahan berdiri.

Semua mata seakan menempel di punggung Prabu Guru Darmasiksa, mengikuti langkah kakinya yang memasuki pringgitan lalu menghilang ke sentong tengah.

Semua mata di pendapa memandang Prabu Guru Darmasiksa yang kembali berjalan dari pringgitan menuju pendapa.

Semua mata melihat sebuah senjata pusaka di tangan Prabu Guru Darmasiksa.

"Kujang Pangeran Muncang," gumam Gajahmada dalam hati ketika melihat senjata pusaka itu.

Senjata itu sangat mirip dengan yang dilihatnya dipegang oleh seseorang berpakaian serba hitam kemarin malam di kediaman Patih Anggajaya.

Tanpa berkata apa pun, Prabu Guru Darmasiksa duduk kembali di sisi tubuh Andini yang masih tidak sadarkan diri.

Perlahan, Prabu Guru Darmasiksa mengangkat senjata pusaka itu dengan hormat, lalu mengeluarkannya dari sarung.

"Kujang yang kemarin malam kulihat berwarna kuning keemasan, sementara kujang ini berwarna putih besi waja," pikir Gajahmada dalam hati, memperhatikan kujang yang sudah terlepas dari sarung di tangan kanan Prabu Guru Darmasiksa.

"Racun kujang kembaran ini saling berlawanan satu dengan yang lainnya," kata Prabu Guru Darmasiksa sambil perlahan menggoreskan senjata itu ke bahu kanan Andini, tidak jauh dari bekas lukanya.

Semua mata menahan napas, menunggu perubahan pada diri Andini. Gajahmada dan Bango Samparan paling cemas, menunggu keajaiban.

"Wahai Gusti yang Maha Pemurah, sembuhkanlah buah hatiku ini," doa Bango Samparan dalam hati, matanya tidak lepas dari Andini.

"Bersabar dan berdoalah," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada Gajahmada penuh iba, melihat pemuda itu begitu mencemaskan keadaan Andini.

Sementara itu, langit malam yang gelap menyelimuti halaman pendapa. Pelita malam semakin redup.

Namun, semua mata masih menunggu dan berharap akan ada perubahan pada diri Andini. Mereka seperti arca bisu yang berdoa memohon mukjizat.

"Tubuhnya basah berpeluh keringat," kata Gajahmada perlahan, melihat tubuh Andini yang tiba-tiba mengeluarkan keringat di seluruh tubuhnya.

"Pertanda dua racun yang berbeda sudah saling bertemu, menawarkan satu dengan yang lainnya," kata Prabu Guru Darmasiksa, menjelaskan apa yang terjadi pada Andini.

Semua mata semakin tidak lepas dari Andini yang terbaring. Hampir semua orang mendengar suara rintihan halus dari bibir mungil Andini.

"Kakang Mahesa Muksa, aku akan tetap menunggu kehadiranmu di Rawa Rontek," ucap Andini dengan mata terpejam.

"Gadis ini mengigau, sebagai tanda syaraf jalan darahnya telah tawar dari racun yang sangat kuat," kata Prabu Guru Darmasiksa sambil menyentuh kening Andini yang terasa sangat panas.

Hampir semua orang di pendapa menarik napas lega mendengar penjelasan Prabu Guru Darmasiksa. Namun, diam-diam Putu Risang memperhatikan warna wajah Pangeran Jayanagara.

"Diam-diam anak muda ini berharap cinta dari Andini. Namun, gadis ini tampaknya telah memilih Mahesa Muksa," pikir Putu Risang, melihat sekilas warna duka di wajah Pangeran Putra Mahkota Majapahit itu.

"Sebentar lagi gadis ini akan siuman," kata Prabu Guru Darmasiksa, yakin Andini telah terlepas dari racun Kujang Pangeran Muncang.

Seperti yang dikatakan Prabu Guru Darmasiksa, beberapa saat kemudian Andini perlahan membuka kelopak matanya.

"Dimana aku?" tanya Andini perlahan sambil menyapukan pandangannya.

"Kamu berada di tempat yang aman bersama orang-orang yang sangat mengasihimu," kata Prabu Guru Darmasiksa.

"Jangan banyak bergerak dulu, tubuhmu masih sangat lemah," tambah Prabu Guru Darmasiksa.

Andini mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangkit, namun ia merasakan tubuhnya sangat lemah dan tidak berdaya.

"Anak muda, tubuh dan pakaianmu sangat lusuh sekali. Bersih-bersih dan beristirahatlah, jangan cemaskan lagi gadis ini. Racun di tubuhnya sudah kalis, hanya menunggu kekuatannya pulih seperti sedia kala," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada Gajahmada.

Mendengar perkataan orang tua itu, Gajahmada perlahan berdiri.

"Tubuh dan pakaianku memang sangat lusuh sekali," kata Gajahmada ketika sudah berdiri dan melihat keadaannya.

Sementara itu, garis tipis merah mulai mengisi biru kelam langit di atas Padepokan Prabu Guru Darmasiksa, pertanda pagi akan segera datang.

"Masih ada waktu untuk beristirahat sejenak," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada semua yang hadir di pendapanya. Tubuh Andini yang masih lemah telah dipindahkan ke bilik yang disediakan, dijaga oleh ayah kandungnya sendiri, Bango Samparan.

Pelita malam di tiang pendapa hampir kehabisan minyak. Suasana di atas pendapa menjadi lengang dan sunyi. Semua orang merasa lelah dan mengantuk setelah semalaman menjaga Andini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment