Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 37

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 37

Sementara itu, Gajahmada setelah membersihkan diri dan mengenakan sepotong pakaian pinjaman yang layak baginya, terlihat tidak langsung tertidur. Ternyata, anak muda itu sudah terbiasa melakukan olah pernapasan sebelum beristirahat.

Anak muda itu terlihat telah hanyut dalam olah pernapasan tersebut, merasakan kenikmatan dari laku spiritualnya dengan menghadirkan Gusti Yang Maha Agung sebagai pengendali dalam segala geraknya: ketika berdiri, rukuk, sujud, dan duduk bersimpuh di antara dua sujudnya.

"Jangan paksakan dirimu dapat berlenggang dengan kedua tanganmu ketika berjalan. Pasrahkan dirimu dalam kendali dan pengaturan Gusti Yang Maha Agung hingga terlihat elok lenggangmu." "Siapa yang mengedipkan matamu?" "Berkediplah dalam kendali-Nya," Gajahmada berkata dalam hati, mencoba mengulang-ulang ujar-ujar dari Putu Risang kepadanya.

Tampaknya, Gajahmada sudah mulai memahami makna dari ujar-ujar itu. Ia terlihat tersenyum sambil merebahkan tubuhnya, memandang langit-langit biliknya seorang diri.

Tak terasa, waktu terus berjalan. Fajar terlihat telah bersembul di atas perbukitan sebelah timur lereng Gunung Galunggung, menghangatkan rumput-rumput basah di halaman depan Padepokan Prabu Guru Darmasiksa yang cukup luas itu.

"Akar dan daun dari beberapa tanaman ini dapat membantu Andini memulihkan kekuatannya kembali," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada Bango Samparan di bilik Andini.

Prabu Guru Darmasiksa, setelah memberikan beberapa pesan yang berguna untuk kesembuhan Andini, terlihat telah keluar dari bilik itu dan melangkahkan kakinya menuju pendapa.

"Aku jadi sangsi, apakah kalian sempat memejamkan mata di peraduan?" kata Prabu Guru Darmasiksa menyapa semua orang yang tengah duduk di atas lantai pendapanya.

"Kami memang para tamu yang tidak tahu diri. Semoga sang tuan rumah tidak jemu menemani kami," kata Pendeta Gunakara dengan penuh senyum.

"Bagaimana keadaan Andini saat ini?" tanya Jayakatwang kepada Prabu Guru Darmasiksa.

"Gadis itu masih tertidur ketika kutemui. Dua atau tiga hari ini mungkin baru dapat pulih kembali," kata Prabu Guru Darmasiksa ketika sudah duduk berkumpul bersama.

Pagi itu menjadi begitu hangat ketika Nyi Turuk Bali datang bersama seorang pelayan wanita, membawa beberapa potong jagung rebus yang masih hangat.

"Jagung rebus ini memang biasa. Yang menjadikannya luar biasa adalah disajikan langsung oleh seorang permaisuri Ratu Kediri," kata Prabu Guru Darmasiksa ketika Nyi Turuk Bali menurunkan bakul jagung rebus yang dibawanya.

"Silakan dinikmati. Aku akan kembali ke belakang untuk belajar meramu beberapa masakan Pasundan," kata Nyi Turuk Bali sambil tersenyum dan kembali melangkah ke dalam bersama pelayan wanita yang datang bersamanya.

"Tahukah kalian tentang masakan nirwana?" adalah senyum tulus sang istri tercinta. "Tahukah kalian taman Nirwana?" adalah melihat dan duduk bersama putra dan putri kita tumbuh berkembang. "Tahukah kalian apa yang tidak disukai oleh seorang tamu?" adalah tuan rumah yang tidak mempersilakan tamunya untuk menikmati hidangan yang telah tersedia," kata Prabu Guru Darmasiksa sambil menggeser sebakul jagung rebus lebih dekat lagi ke arah Jayakatwang.

Semua yang berada di atas pendapa itu terlihat tersenyum menanggapi kata-kata Prabu Guru Darmasiksa.

Ketika para tamu dari Majapahit itu telah menikmati makanan dan minuman pagi yang tersedia di atas pendapa, wajah Prabu Guru terlihat seperti berubah penuh keangkeran dan kewibawaan layaknya seorang raja besar.

Semua orang di atas pendapa itu seolah memaklumi bahwa ada sesuatu yang terlintas dalam pikiran mantan Raja penguasa Pasundan itu.

"Aku banyak mengenal beberapa orang berilmu tinggi di Pasundan ini. Apakah kamu dapat mengenali beberapa gerak khusus dari orang berpakaian serba hitam itu?" tanya Prabu Guru Darmasiksa kepada Gajahmada.

"Hanya satu gerakan dari orang itu ketika melesat melukai Andini," kata Gajahmada, mencoba mengingat kembali bagaimana orang berpakaian serba hitam itu bergerak.

"Satu gerakan memang belum cukup untuk menilai jenis sebuah kanuragan. Apakah kamu dapat mengenali logat bahasa Sunda yang digunakan oleh orang itu?" tanya kembali Prabu Guru Darmasiksa.

Gajahmada terlihat tengah mencoba mengingat-ingat kembali perkataan orang berpakaian serba hitam itu.

"Logat yang digunakannya tidak sebagaimana orang Sunda pada umumnya. Hamba seperti pernah mendengarnya; sangat mirip sekali dengan logat bicara Patih Anggajaya," kata Gajahmada, merasa yakin sekali dengan apa yang masih diingatnya itu.

"Siapa pun orang itu, yang pasti keberadaan kembaran Kujang Pangeran Muncang masih berada di Tanah Pasundan ini," kata Prabu Guru Darmasiksa tanpa menyebut sebuah nama yang tampaknya sudah ada dalam benak dugaannya.

Prabu Guru Darmasiksa kembali bertanya kepada Gajahmada tentang beberapa hal seputar ciri-ciri khusus orang berbaju serba hitam itu, seperti tinggi badan dan bentuk alisnya. Hampir semua mata di atas pendapa itu tengah memandang ke arah Gajahmada yang membenarkan semua ciri-ciri yang digambarkan oleh Prabu Guru Darmasiksa mengenai orang berbaju serba hitam itu.

Pandangan mata pun akhirnya berpindah ke arah Prabu Guru Darmasiksa.

Semua orang di atas pendapa itu memang tengah menunggu apa yang akan dikatakan oleh Prabu Guru Darmasiksa, yang tampaknya sudah memegang dugaan sebuah nama.

"Mungkin kita akan bertemu dengan orang itu di hutan perburuan," kata Prabu Guru Darmasiksa tanpa menyebut satu nama pun.

Semua orang di atas pendapa itu mungkin memaklumi bahwa ada sebuah keengganan untuk menyebut nama yang belum pasti ialah orangnya.

"Ada banyak hal yang harus kita siapkan di hutan perburuan," kata Prabu Guru Darmasiksa, seperti mencoba mengalihkan arah pembicaraan.

Mendengar perkataan Prabu Guru Darmasiksa, semua orang di atas pendapa itu akhirnya mengikuti arah pembicaraan yang berkisar tentang rencana dan persiapan mereka menghadapi Patih Anggajaya di hutan perburuan, Hutan Sindur.

Putu Risang terlihat memberikan beberapa gambaran tentang suasana Hutan Sindur, sebagaimana yang telah didengar dari Bango Samparan yang telah mengamati hutan itu beberapa hari sebelumnya.

Sementara itu, Pangeran Jayanagara dan Gajahmada memberikan tambahan informasi tentang kesediaan Ki Rangga Ageng Pasek yang akan membelot untuk memecah pasukan Patih Anggajaya.

"Gabungan pasukan Adipati Suradilaga dan pasukan Ki Rangga Ageng Pasek sudah sangat mencukupi," kata Prabu Guru Darmasiksa, merasa gembira mendengar semua penjelasan itu.

Demikianlah, mereka di atas pendapa Prabu Guru Darmasiksa terlihat sangat perhatian membahas rencana mereka di Hutan Sindur yang sudah tinggal beberapa hari lagi.

Tak terasa waktu terus berlalu. Matahari di atas lereng Gunung Galunggung itu terlihat semakin bergeser ke barat.

Hari itu sudah hampir menjelang sore di atas Padepokan Prabu Guru Darmasiksa ketika semua orang di atas pendapa melihat sekelompok pasukan prajurit berkuda memasuki gerbang Padepokan.

Rombongan pasukan itu, berkisar antara dua puluh sampai dua puluh lima orang, terlihat telah berada di atas halaman depan pendapa Padepokan.

Terlihat salah seorang di antara mereka segera meloncat turun dari kudanya dan langsung berjalan ke arah tangga pendapa Padepokan; tampaknya ia adalah salah seorang pimpinan pasukan itu.

"Mohon ampun sekiranya kedatangan kami telah mengganggu ketenangan Paduka Tuan Prabu," kata seorang prajurit itu di hadapan Prabu Guru Darmasiksa.

"Katakan apa keperluanmu membawa pasukanmu di padepokanku ini," kata Prabu Guru Darmasiksa dengan pandangan mata yang begitu tajam, kuat, dan penuh wibawa kepada prajurit itu.

Prajurit itu menjadi semakin menunduk, tidak berani memandang langsung ke arah Prabu Guru Darmasiksa. "Ampuni hamba, pasukan kami datang ke Padepokan Tuanku karena ada berita bahwa buronan kami bersembunyi di sini," kata prajurit itu, masih dengan menundukkan kepalanya penuh keengganan.

"Lurah Janget, katakan siapa yang mengatakan hal demikian kepadamu?" kata Prabu Guru Darmasiksa dengan senyum penuh keramahan; tampaknya ia merasa kasihan dengan sikap prajurit tua yang sudah dikenalnya itu.

Melihat suara dan pandangan Prabu Guru Darmasiksa yang penuh senyum itu akhirnya memberanikan prajurit tua itu mengangkat wajahnya.

"Ampuni hamba, perintah ini datang dari Patih Anggajaya," kata prajurit tua yang dipanggil dengan nama Lurah Janget oleh Prabu Guru Darmasiksa itu.

"Siapa orang yang kamu maksudkan sebagai buronan itu?" tanya kembali Prabu Guru Darmasiksa. "Ampuni hamba, buronan itu adalah seorang prajurit muda yang telah membawa paksa seorang gadis," kata Lurah Janget, memberikan sebuah penjelasan.

"Apakah kamu mengenal prajurit muda itu?" tanya Prabu Guru Darmasiksa kepada Lurah Janget.

Lurah Janget terlihat mengangkat wajahnya dan dengan penuh keraguan menggelengkan kepalanya, sebagai pertanda belum mengenal siapa prajurit muda yang dikatakannya sebagai buronan itu. "Hamba mohon bantuan Tuanku Prabu untuk menyerahkan buronan itu kepada kami," kata Lurah Janget dengan wajah penuh pengharapan.

"Kembalilah ke pasukanmu. Aku akan bicara dengan orang-orangku sendiri," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada Lurah Janget.

Maka, tanpa menunggu perintah kedua, prajurit tua itu segera berdiri dan melangkah turun ke halaman pendapa, bergabung dengan pasukannya.

"Patih Anggajaya pasti akan membawa sepasukan lebih besar lagi bila hari ini tidak kita berikan apa yang diinginkannya," kata Prabu Guru Darmasiksa.

Semua orang di atas pendapa itu terlihat telah mengalihkan pandangan matanya ke arah Mahesa Muksa.

"Dalam pembahasan mengenai rencana di Hutan Sindur, kita tidak menyinggung sedikit pun tentang istana Kawali. Kita belum tahu apa yang dilakukan oleh Patih Anggajaya saat Raja Ragasuci berburu di Hutan Sindur. Hamba bersedia berada di istana Kawali."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment