Chapter 38
"Tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku, bukankah masih ada Pangeran Citraganda di istana Kawali?" berkata Gajahmada kepada semua orang di atas pendapa itu.
Semua orang di atas pendapa itu mengagumi sikap Gajahmada yang bertutur begitu tenang, juga Prabu Guru Darmasiksa yang merasa yakin bahwa anak muda itu pasti bukan orang sembarangan yang tidak merasa takut dan gentar sedikit pun. "Beberapa tahun yang lalu aku pernah melihat anak ini sebagai anak yang cerdas, pasti kemampuan olah kanuragannya telah berlipat ganda," berkata dalam hati Prabu Guru Darmasiksa.
"Kamu benar, anak muda. Kita tidak terpikir sedikit pun tentang istana Kawali," kata Prabu Guru Darmasiksa, sepertinya menerima usulan Gajahmada.
"Aku orang tua akan menemanimu, hanya sekadar sebagai bayang-bayang," kata pendeta Gunakara sambil tersenyum.
Demikianlah, tanpa kesulitan apa pun, Gajahmada telah diserahkan kepada sepasukan prajurit Kawali untuk dibawa ke Istana Kawali.
Tidak lama berselang ketika pasukan itu tidak begitu jauh berjalan, terlihat Pendeta Gunakara telah berpamitan untuk segera mengikuti Gajahmada bersama pasukan prajurit yang membawanya.
"Kamu pasti mengetahui sejauh mana kemampuan muridmu sendiri," kata Prabu Guru Darmasiksa, ingin mendapatkan keyakinan tentang Gajahmada kepada Putu Risang.
"Sepasukan segelar sepapan mungkin akan mengalami banyak kesulitan menghadapi Mahesa Muksa, apalagi bersama pengasuhnya sendiri, Pendeta Gunakara," kata Putu Risang sambil tersenyum, merasa yakin bahwa Gajahmada dengan kemampuan ilmunya saat itu tidak akan mengalami banyak kesulitan.
Mendengar jawaban Putu Risang, terlihat Prabu Guru Darmasiksa menarik napas panjang sebagai tanda dirinya tidak perlu lagi mengkhawatirkan keadaan anak muda itu.
"Aku orang tua kalah satu langkah dengan anak muda itu. Tidak terpikirkan sedikit pun olehku mengenai keselamatan keluarga istana," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada Jayakatwang, Putu Risang, dan Pangeran Jayanagara yang masih berada di atas pendapa padepokan itu.
"Aku mengenalnya sejak kecil. Aku begitu yakin bahwa anak muda itu akan menjadi orang besar dengan pemikiran besar di kemudian hari," kata Jayakatwang.
"Pangeran Jayanagara, bersyukurlah dirimu dikaruniai seorang sahabat sebagaimana Mahesa Muksa. Kejayaan Majapahit suatu waktu berada di tanganmu. Jagalah hati dan kesetiaan Mahesa Muksa," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada Pangeran Jayanagara.
"Ucapan dan perkataan kakek buyut Prabu adalah pusaka yang akan cucunda jaga," kata Pangeran Jayanagara dengan penuh hikmat.
"Masih ada satu urusan yang harus kuselesaikan di padepokan ini, meringkus siapa sebenarnya telik sandi dari Patih Anggajaya yang nampaknya sudah lama dipasang memata-matai padepokan ini," kata Prabu Guru Darmasiksa sambil berdiri perlahan.
Terlihat Prabu Guru Darmasiksa memanggil seorang cantrik.
"Panggilkan untukku Putut Sumitra," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada seorang cantrik yang datang menghampirinya.
Terlihat cantrik itu tergopoh-gopoh menuruni anak tangga pendapa, pergi mencari Putut Sumitra.
Tidak lama berselang, terlihat seorang lelaki setengah baya muncul dan langsung menaiki tangga pendapa.
"Katakan kepadaku, siapa saja cantrik yang saat ini tidak berada di padepokan ini," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada Putut Sumitra.
Terlihat Putut Sumitra tidak langsung menjawab. Sekilas terlihat kerut di keningnya sebagai tanda tengah berpikir ke mana arah pertanyaan Prabu Guru Darmasiksa.
Putut Sumitra memang tidak terlalu lama berpikir.
"Dua orang cantrik sudah sejak dua hari ini belum kembali. Telah kutugaskan untuk mencari beberapa jamur hutan. Sementara itu, ada seorang cantrik lagi yang baru berangkat pagi-pagi sekali untuk sebuah urusan di Kotaraja Kawali," kata Putut Sumitra setelah mencoba mengingat siapa saja cantrik di padepokan itu yang saat itu tidak ada di tempat.
"Siapa cantrik yang ada urusan di Kotaraja Kawali itu?" tanya Prabu Guru Darmasiksa.
"Batuganal," kata Putut Sumitra, langsung menjawab pertanyaan Prabu Guru Darmasiksa.
"Coba kamu ingat-ingat kembali, ketika terjadi perampokan atas beberapa cantrik yang tengah membawa pusaka Kujang Pangeran Muncang ke Kotaraja Kawali, apakah Batuganal juga tidak ada di padepokan ini?" tanya Prabu Guru Darmasiksa kembali.
Terlihat Putut Sumitra kembali mengerutkan keningnya, mencoba mengingat sebuah kejadian yang sudah berlangsung cukup lama itu.
"Aku ingat, di saat itu, dua hari sebelumnya Batuganal meminta izin kepadaku untuk sebuah urusan di Kotaraja Kawali. Dia kembali sehari setelah peristiwa perampokan itu. Aku ingat sekali karena Batuganal telah membawakan untukku sebuah ikat pinggang kulit berkepala ukiran perak naga. Katanya ini hadiah untukku," kata Putut Sumitra dengan lancar sekali menyampaikan semua yang diingatnya itu.
"Kebetulan yang sama," kata Prabu Guru Darmasiksa sambil mengusap-usap janggutnya yang panjang dan sudah memutih itu, seperti tengah berpikir keras.
"Batuganal pasti orangnya yang telah datang ke Kotaraja Kawali melaporkan bahwa Mahesa Muksa berada di padepokan ini," kata Prabu Guru Darmasiksa kembali.
"Aku tidak menyangka bahwa Batuganal telah memata-matai kita selama ini," kata Putut Sumitra sambil menarik napas panjang, seperti tengah menyesali bahwa kawan dan saudara seperguruan itu ternyata adalah seorang pengkhianat.
"Semoga saja dia tidak banyak tahu tentang sebuah rencana di hutan perburuan," kata Prabu Guru Darmasiksa.
"Rencana di hutan perburuan?" tanya Putut Sumitra penuh ketidakmengertian.
"Aku memang belum bercerita apa pun kepadamu, juga kepada semua cantrik di padepokan ini," kata Prabu Guru Darmasiksa penuh senyum, memaklumi ketidakmengertian Putut Sumitra tentang sebuah rencana di hutan perburuan.
Terlihat Prabu Guru Darmasiksa mencoba memberikan gambaran mengenai sebuah rencana licik dari Patih Anggajaya kepada Putut Sumitra.
Dengan penuh seksama dan perhatian, Putut Sumitra menyimak apa yang disampaikan oleh gurunya itu.
"Celakalah diri kita seandainya rahasia ini diketahui oleh Batuganal," kata Putut Sumitra setelah mendapatkan penjelasan dari Prabu Guru Darmasiksa.
"Malam ini kita harus menunggu hingga Batuganal kembali. Orang itu harus dikurung, tidak boleh lagi keluar dari padepokan ini," kata Prabu Guru Darmasiksa, memberikan sebuah tindakan yang harus dilakukan terhadap Batuganal.
"Apakah malam ini Batuganal akan kembali ke padepokan ini?" tanya Putu Risang kepada Putut Sumitra.
"Janjinya, malam ini dia sudah akan kembali," kata Putut Sumitra penuh keyakinan.
Demikianlah, Prabu Guru Darmasiksa ditemani Putut Sumitra, Putu Risang, dan Pangeran Jayanagara hingga jauh malam masih tetap di pendapa, menunggu kedatangan Batuganal.
Hanya Jayakatwang yang sudah tidak terlihat lagi di pendapa padepokan itu, karena telah berpamitan lebih dulu untuk beristirahat di biliknya.
"Siapa?" tanya seorang cantrik di panggungan ketika melihat seseorang berdiri di regol pintu gerbang padepokan yang tertutup di malam hari itu.
"Aku, Batuganal," kata orang itu sambil mendongak ke arah seorang cantrik yang berada di panggungan.
Terlihat cantrik yang bertugas ronda malam itu langsung turun dari panggungan dan segera membuka pintu gerbang padepokan.
"Tidak seperti biasanya pintu gerbang ini ditutup," kata orang itu sambil masuk dengan suara menggerutu, seperti kurang senang dengan ditutupnya gerbang itu.
"Putut Sumitra yang memerintahkan kepadaku untuk menutup pintu gerbang ini," kata cantrik itu sambil segera menutup kembali pintu gerbang.
"Kamu meronda sendiri?" tanya orang itu yang melihat cantrik itu hanya seorang diri.
"Baru saja kawanku dipanggil menghadap tuan Prabu di pendapa," kata cantrik itu sambil menunjuk ke arah pendapa padepokan.
Terlihat orang itu memicingkan matanya ke arah pendapa, di mana cahaya lampu pelita di atas pendapa itu masih cukup terang untuk dapat melihat masih ada beberapa orang di atas pendapa itu.
Dan orang itu masih dapat melihat di keremangan malam di atas halaman, seseorang telah berjalan ke arahnya.
"Batuganal, kamu diminta untuk naik ke atas pendapa," kata seseorang ketika telah dekat dengan orang itu yang dipanggilnya bernama Batuganal.
"Aku akan segera naik ke atas pendapa," kata Batuganal tanpa prasangka apa pun sambil langsung melangkahkan kakinya ke arah pendapa padepokan.
Terlihat Batuganal tengah menaiki anak tangga pendapa padepokan.
"Mendekat dan duduklah di sini, Batuganal," kata Prabu Guru Darmasiksa menunjuk sebuah tempat di samping Putut Sumitra kepada Batuganal yang baru datang itu.
"Cantrik baru datang dari Kotaraja Kawali," kata Batuganal ketika sudah duduk di samping Putut Sumitra.
"Mungkin kamu sangat lelah setelah perjalanan ini. Kami tidak bermaksud lama memaksamu di atas pendapa ini," kata Prabu Guru Darmasiksa, penuh senyum ramah memandang ke arah Batuganal.
Melihat pandangan mata Prabu Guru Darmasiksa telah membuat Batuganal seperti menjadi salah tingkah. Sinar dan cahaya mata Prabu Guru Darmasiksa, dalam pikiran Batuganal, seperti telah menelanjanginya.
"Adakah cantrik telah berbuat sebuah kesalahan?" tanya Batuganal dalam kegelisahannya kepada Prabu Guru Darmasiksa.
"Aku belum bertanya dan berkata apa pun, namun kamu sudah bertanya tentang sebuah kesalahan yang kamu perbuat," kata Prabu Guru Darmasiksa, masih memandang ke arah Batuganal.
Sekilas Batuganal membentur pandangan mata itu, telah membuat dirinya semakin gelisah, semakin seperti bertelanjang di hadapan Prabu Guru Darmasiksa.
Dan Batuganal tidak berani lagi mengangkat kepalanya, seperti takut akan beradu pandang kembali dengan Prabu Guru Darmasiksa.
Terlihat Batuganal duduk dengan kepala menunduk.