Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 39

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 39

Hampir setiap hari aku menemui kalian, para penghuni padepokan ini, memberikan penyadaran peri kehidupan, membuka mata hati kalian bahwa hidup setelah kehidupan ini jauh lebih berharga dari sepiring dunia yang fana ini.

Namun, tampaknya mata hatimu telah berpaling jauh dari apa yang telah kuajarkan selama ini, dan kamu telah dibeli oleh dunia menjadi kaki tangan seorang Patih Anggajaya," berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Batuganal yang masih saja menundukkan kepalanya, tidak berani sama sekali mengangkat kepalanya.

"Ampuni aku, Tuan Prabu, aku telah berbuat dosa," berkata Batuganal sambil tersimpuh sujud di hadapan Prabu Guru Darmasiksa.

"Gusti Yang Maha Agung, Maha Pemberi Tobat kepada setiap hamba-Nya yang mau mengakui dosanya.

Namun untuk sementara ini aku tidak akan mengizinkan dirimu keluar dari padepokan ini," berkata Prabu Guru Darmasiksa.

"Sekarang beristirahatlah," berkata kembali Prabu Guru Darmasiksa.

"Aku pamit diri, hukuman apa pun atas diriku pasti akan kujalani," berkata Batuganal sambil perlahan berdiri dan mundur beberapa langkah mendekati anak tangga pendapa.

"Perintahkan beberapa cantrik untuk mengawasinya, jangan sampai keluar dari padepokan ini," berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Putut Sumitra ketika Batuganal sudah tidak terlihat lagi.

"Aku akan memerintahkan beberapa cantrik untuk mengawasinya," berkata Putut Sumitra sambil pamit diri.

"Hari sudah jauh malam," berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Putu Risang dan Pangeran Jayanagara sambil mempersilakan mereka untuk beristirahat.

Demikianlah, pendapa padepokan itu akhirnya menjadi sepi dan lengang, hanya ada satu pelita malam yang terlihat hampir redup cahayanya tertiup angin dingin pada malam itu.

Sementara itu di Kotaraja Kawali, terlihat sebuah pasukan sedang memasuki batas gerbang kota dari arah selatan.

Mereka adalah sepasukan prajurit berkuda yang datang membawa Gajahmada sebagai tawanan mereka. "Besok aku akan melapor kepada Patih Anggajaya, sekarang bawalah tawanan kita ke bangsal tahanan," berkata Lurah Janget kepada salah seorang anak buahnya ketika mereka telah memasuki pintu gerbang istana.

"Ikutilah kami," berkata seorang prajurit kepada Gajahmada yang tampak terikat kedua tangannya itu.

Maka terlihat Gajahmada mengikuti langkah kaki seorang prajurit di depannya, sementara tiga orang prajurit telah berjalan di belakangnya.

Tidak lama berselang mereka telah berada di sebuah bangsal tahanan, sebuah bangunan yang sama sekali tidak berjendela.

Hanya ada satu pintu masuk terbuat dari kayu yang sangat tebal dan kokoh.

"Baru kali ini aku melihat seorang tawanan begitu tenang seperti tidak takut akan menerima sebuah hukuman atasnya yang akan diputuskan besok," berkata seorang prajurit berbisik kepada kawannya ketika Gajahmada telah masuk ke dalam bangsal tahanan itu.

"Aku jadi kurang yakin apa benar anak muda itu telah membawa kabur seorang gadis," berkata kawan prajurit itu masih di pintu bangsal tahanan.

"Bersalah atau tidaknya bukan tugas kita, yang pasti kita sudah menjalankan tugas membawanya kemari," berkata salah seorang dari keempat prajurit itu.

"Tapi gara-gara anak muda ini, kita berempat harus menunggu sampai pagi di tempat ini," berkata seorang lagi sambil bergumam menggerutu.

Sementara itu di dalam bangsal tahanan, Gajahmada terlihat tersenyum sendiri.

Keempat prajurit itu tidak tahu bahwa Gajahmada di dalam dapat mendengar semua pembicaraan mereka.

Ruang di bangsal itu memang sangat gelap, namun akhirnya Gajahmada dapat membiasakan diri melihat di dalam kegelapan.

Tidak ada barang apa pun di dalam bangsal tahanan itu, hanya ada satu balai kayu sangat kecil, hanya cukup untuk berbaring selebar badan.

Di situlah Gajahmada duduk di dalam bangsal yang gelap itu.

Di dalam bangsal itu Gajahmada tidak dapat mengetahui waktu, siang dan malam tidak banyak perbedaan karena tertutup rapat.

Dan ketika sebuah cahaya terlihat dari dalam, tahulah Gajahmada bahwa cahaya itu berasal dari lubang berbentuk kotak persegi yang menyatu dengan bagian pintu bangsal itu.

"Makan dan kenakanlah pakaian ini," berkata seorang prajurit penjaga dari luar lubang itu sambil menyodorkan ke dalam sebuah baki kayu berisi semangkuk makanan dan setumpuk pakaian.

Terlihat Gajahmada melangkah mengambil tumpukan pakaian di atas baki kayu.

Ternyata dua potong kain putih, sebuah pakaian khusus yang harus dikenakan oleh seorang tahanan.

Sambil tersenyum Gajahmada mengenakan pakaian tahanan itu, melilitkan sepotong kain untuk menutupi bagian dari pusar ke bawah.

Sementara potongan kain yang lain dililitkan di antara leher dan bagian dadanya.

Sebuah pakaian tahanan yang sangat mirip seperti yang biasa dipakai oleh seorang pendeta di biara.

Ketika Gajahmada telah selesai mengenakan pakaian tahanan itu, pendengarannya yang sangat tajam telah menangkap sebuah pembicaraan di luar bangsal.

"Apakah Tuan Pangeran ada kepentingan dengan tahanan ini?" bertanya seorang prajurit penjaga kepada seorang pemuda yang datang mendekati bangsal tahanan.

"Buka pintunya, aku ingin masuk menjumpainya," berkata anak muda di luar bangsal tahanan.

"Hati-hati dengan tahanan ini," berkata suara prajurit mengingatkan kepada anak muda yang baru datang itu.

Dan Gajahmada telah mendengar suara derit pintu bangsal yang bergeser terbuka.

Sebuah cahaya terlihat masuk lewat pintu bangsal tahanan yang terbuka.

Dan Gajahmada melihat seseorang berdiri di kusen pintu yang telah terbuka.

"Apakah kamu baik-baik saja, Mahesa Muksa?" bertanya orang itu sambil telah melangkah masuk yang ternyata adalah Pangeran Citraganda.

"Seperti yang kamu saksikan, aku tidak kekurangan apa pun, sudah punya baju baru, pakaian khusus seorang tahanan," berkata Gajahmada sambil bertolak pinggang memperlihatkan pakaian baru yang dikenakannya itu.

"Seperti seorang pendeta di sebuah biara," Pangeran Citraganda menilai pakaian yang dikenakan Gajahmada.

Setelah mempersilakan Pangeran Citraganda duduk di balai itu bersama, Gajahmada menceritakan sebuah kejadian yang dialaminya bersama Andini di tempat kediaman Patih Anggajaya.

"Aku datang di istana ini sebagai seorang tawanan atas keinginanku sendiri.

Dan Prabu Guru Darmasiksa telah menyetujui bahwa aku dapat menjaga keluarga istana bila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan," berkata pula Gajahmada mengenai latar belakang mengapa dirinya dengan begitu mudahnya menyerahkan diri.

"Sebuah cara yang bagus untuk masuk ke dalam istana," berkata Pangeran Citraganda sambil tersenyum.

"Dan aku tidak sendiri di istana ini dengan kehadiranmu, Mahesa Muksa," berkata kembali Pangeran Citraganda.

"Semoga tidak ada perintah dari seorang Pangeran untuk mencambuk seorang tahanan," berkata Gajahmada yang ditanggapi dengan gelak tawa oleh Pangeran Citraganda.

Mendengar suara tawa dari dalam bangsal telah membuat kedua orang prajurit penjaga mengerutkan keningnya.

Mereka tidak habis pikir mengapa seorang tahanan dan Pangeran Citraganda begitu asyik berbincang di dalam seakan tidak di dalam sebuah bangsal tahanan.

"Setiap saat aku akan datang mengunjungimu," berkata Pangeran Citraganda sambil berdiri dan berjalan keluar.

Dan ketika Pangeran Citraganda telah melewati pintu bangsal tahanan, kembali suasana bangsal tahanan itu menjadi gelap gulita karena pintu bangsal telah ditutup kembali.

Sementara itu, matahari di istana Kawali sudah semakin tinggi, hari sudah tidak bisa disebut pagi lagi karena sudah begitu terang mendekati saat siang.

Berita tentang adanya penghuni baru di dalam bangsal tahanan istana sudah tersebar cukup luas, jauh hingga keluar dinding istana.

Berita itu juga telah didengar oleh Dyah Rara Wulan di pasanggrahan Keputriannya.

Terlihat sang putri itu begitu gelisah, hati dan pikirannya telah begitu mencemaskan keadaan Gajahmada di bangsal tahanan.

Ia ingin datang mengunjungi pemuda idaman hatinya itu, namun masih jelas teringat perkataan Permaisuri Ratu Dara Puspa yang telah melarangnya mengunjungi Gajahmada.

"Jangan kamu rendahkan martabat keluarga istana ini, apa kata orang jika mengetahui seorang putri istana Kawali telah jatuh hati dengan seorang penjahat," berkata Permaisuri Ratu Dara Puspa kepada Dyah Rara Wulan yang telah mencegahnya untuk bertemu dengan Gajahmada.

"Aku ingin bertanya langsung dengan Kakang Mahesa Muksa, apakah benar perkataan orang tentang dirinya?" berkata Dyah Rara Wulan dalam hati, penuh kegelisahan.

"Kasihan anak gadis itu," berkata Bibi pengasuhnya dalam hati merasa iba melihat putri junjungannya yang terlihat sangat gelisah, gusar, dan gundah gulana duduk melamun di pinggir kolam taman pasanggrahan Keputrian.

Namun, wanita tua pengasuh sang putri itu tidak berkata apa pun, dapat mengerti hati gadis asuhannya dan sangat paham bahwa di saat seperti itu jangan sekali-kali mendekatinya, bisa-bisa ia akan terkena imbas kegusarannya.

Namun hati dan perasaan wanita tua itu tiba-tiba menjadi begitu cerah ketika dilihatnya seorang anak muda datang mendekati sang putri.

"Aku baru saja datang dari bangsal tahanan," berkata pemuda itu yang tidak lain adalah Pangeran Citraganda.

Pangeran Citraganda langsung bercerita tentang keadaan Gajahmada, asal mula kejadian sebenarnya mengapa ia harus membawa pergi Andini.

"Jadi Kakang Mahesa Muksa tidak seperti apa yang dipersangkakan orang-orang kepadanya?" bertanya Dyah Rara Wulan setelah mendengar semua penjelasan Pangeran Citraganda.

"Mahesa Muksa sengaja menyerahkan diri agar dapat melindungimu?" berkata Pangeran Citraganda dengan raut wajah menggoda.

"Mengapa Kakang Citraganda tidak segera pergi ke Padepokan Kakek Prabu untuk melihat keadaan Andini?" bertanya Dyah Rara Wulan berbalik menggoda Pangeran Citraganda.

"Apa maksud perkataanmu?" berkata Pangeran Citraganda mencoba mengelak godaan adiknya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment