Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 40

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 40

"Kakang tidak usah menghindar dariku, aku sudah dapat menebak sikap dan perasaan Kakang terhadap Andini," kata Dyah Rara Wulan yang seakan berada di atas angin dan berbalik menggoda kakaknya itu.

"Jujur kukatakan bahwa gadis itu memang begitu cantik jelita," sahut Pangeran Citraganda sambil mencabut sebatang rumput dan melemparnya jauh ke tengah kolam.

"Nampaknya pangeranku yang tampan ini memang telah jatuh cinta," goda Dyah Rara Wulan dengan senyum penuh arti.

"Bila seseorang mengagumi, apakah sudah dapat dikatakan jatuh hati?" tanya Pangeran Citraganda seraya menghadapkan wajahnya dekat dengan wajah Dyah Rara Wulan.

"Cinta datang berawal dari rasa kagum, dan pangeranku sudah terjerat masuk lebih dalam lagi," ujar Dyah Rara Wulan.

"Tapi kulihat Andini lebih memilih Mahesa Muksa," kata Pangeran Citraganda sambil memalingkan wajahnya. Pandangannya jatuh menatap seekor ikan kecil yang berlari bersembunyi di balik tanaman air.

"Kakang belum berjalan menuju peperangan cinta, Kakang belum menghunus pedang untuk merebut hatinya. Kejarlah Andini sampai dapat, sementara aku akan menjerat pujaan hatiku sendiri, Kakang Mahesa Muksa," bisik Dyah Rara Wulan seolah takut terdengar oleh siapa pun.

"Aku tidak akan berjalan ke peperangan apa pun demi sebuah cinta. Bagiku cinta bukan sebuah takhta yang harus diperebutkan," balas Pangeran Citraganda sambil kembali mencabut sebatang rumput dan melemparnya jauh ke tengah kolam.

Sementara itu, di bangsal tahanan yang gelap, Gajah Mada tengah berlatih olah laku rahasianya. Kegelapan di sana justru menjadi tempat berlatih yang baik, memungkinkannya untuk lebih menekuni olah laku dan mengenali setiap gerak napas serta aliran saraf di tubuhnya. Dengan penuh ketelitian, ia mampu mengalirkan pusaran kekuatan jati dirinya ke mana pun yang ia kehendaki.

Demikianlah, Gajah Mada terus menekuni latihannya di dalam bangsal yang gelap pekat itu. Semakin berlatih, semakin bertambah kesegaran di tubuhnya yang telah dipupuk hawa murni, yang kian hari kian menguat menjadi sumber kekuatan diri sejati. Ia tidak menyadari bahwa di luar tahanan istana, hari telah berganti malam dan rembulan hampir mencapai bulat sempurna.

"Besok Baginda Raja Ragasuci akan pergi berburu. Kita hanya perlu duduk menunggu Adipati Suradilaga sebagai kuda hitam kita untuk membunuh Sang Raja di Hutan Sindur," kata Patih Anggajaya kepada tiga orang kepercayaannya di kediaman pribadinya.

"Saat ini Adipati Suradilaga dan pasukannya mungkin sudah tidak sabar lagi menunggu kedatangan Raja Ragasuci di Hutan Sindur," sahut salah seorang kepercayaannya.

"Sama seperti Adipati Suradilaga, aku juga sudah tidak sabar untuk segera duduk di atas kursi singgasana istana," ujar Patih Anggajaya sambil tertawa terkekeh. Aroma menyengat tercium dari mulutnya. Rupanya patih yang licik itu sudah terlalu banyak meminum arak.

Sementara itu, di Hutan Sindur, pasukan Adipati Suradilaga memang sudah bersiaga selama dua hari dua malam. Namun, di luar pengetahuan pihak Patih Anggajaya, para cantrik dari Padepokan Prabu Guru Darmasiksa juga telah berada di sana, bersembunyi di tempat-tempat strategis guna menyergap kedatangan pasukan tersebut.

"Apakah Adipati Suradilaga dapat dipercaya?" tanya Jayakatwang kepada Prabu Guru Darmasiksa di tempat persembunyian mereka.

"Aku mengenalnya sebagai seorang prajurit yang sangat setia," jawab Prabu Guru Darmasiksa penuh keyakinan.

"Semoga semua sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan," harap Pangeran Jayanagara.

"Kita serahkan semua kepada ketetapan Gusti Yang Maha Agung. Banyak hal yang bisa terjadi di luar kehendak kita," pungkas Prabu Guru Darmasiksa.

Di saat yang sama, suasana penuh kegembiraan menyelimuti rumah Patih Anggajaya. "Raja tua Prabu Guru Darmasiksa kalah satu langkah dari kita. Mereka tidak pernah memperhitungkan kekuatan pasukan dari Kotaraja Rakata," seru Patih Anggajaya dengan jemawa.

Namun, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa seluruh pembicaraan itu didengar oleh seseorang di balik pintu pringgitan. Sosok itu adalah Nyi Dewi Kaswari.

"Celakalah keluarga istana bila rencana suamiku benar-benar menjadi kenyataan," gumam Nyi Dewi Kaswari terkejut. "Sayangnya aku tidak tahu kepada siapa berita ini harus kusampaikan."

Ia merasa ragu dan bimbang. "Apakah perbuatanku ini merupakan pengkhianatan kepada suami?" tanyanya dalam hati dengan penuh kebimbangan.

Ketika malam semakin larut, Nyi Dewi Kaswari akhirnya tidak kuat menahan rasa kantuk. Namun, kebimbangan itu terbawa hingga ke peraduannya; sebuah pergolakan antara rasa kasihan terhadap keluarga istana dan bakti seorang istri. Akhirnya, wanita cantik itu terlelap di tengah udara malam yang mendingin karena hujan lebat yang mengguyur Kotaraja Kawali.

Keesokan paginya, saat terbangun, Nyi Dewi Kaswari tidak mendapati suaminya di tempat tidur. "Apakah Bibi melihat suamiku pergi keluar rumah pagi ini?" tanyanya kepada pelayan tua di rumahnya.

"Tuan Patih memang tidak tidur di rumah ini. Tadi malam Bibi lihat beliau keluar bersama ketiga tamunya," jawab pelayan tua itu.

"Di saat masih turun hujan?" tanya Nyi Dewi Kaswari lagi.

Pelayan tua itu hanya mengangguk perlahan. Dalam hatinya, ia merasa pilu melihat kehidupan rumah tangga anak asuhnya yang sudah dianggap seperti putri sendiri. Nyi Dewi Kaswari terduduk lesu. Dalam pikirannya, ia yakin suaminya pasti sedang menghabiskan waktu bersama wanita lain. Seketika, gurat kebencian muncul di wajahnya.

"Bibi, kemarilah," panggil Dewi Kaswari kepada pelayan tua itu.

Pagi itu, jalanan Kotaraja Kawali sudah ramai. Beberapa wanita berjalan membawa bakul di atas kepala menuju pasar. Suasana mendadak tegang ketika dua penunggang kuda melintas cepat membawa bendera kebesaran, salah satunya berwarna hijau dengan gambar kepala harimau putih. Melihat bendera itu, semua orang segera menepi dan bersujud di pinggir jalan sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Ragasuci yang hendak pergi berburu menuju gerbang selatan.

Seorang wanita tua ikut bersujud dengan khidmat. Setelah derap langkah kuda menghilang, barulah ia berdiri dan melangkah menuju istana Kawali. Wanita tua itu tampak tidak asing dengan lingkungan istana saat ia mendekati prajurit penjaga.

"Bibi Ijah, biasanya kamu datang bersama junjunganmu," sapa prajurit itu.

"Hari ini aku ditugaskan mengantar bingkisan untuk Putri Dyah Rara Wulan," jawab pelayan tua dari rumah Patih Anggajaya tersebut.

"Aku akan masuk menemui Tuan Putri. Semoga beliau berkenan menemuimu," kata prajurit itu sembari bergegas masuk.

Tak lama kemudian, prajurit itu kembali. "Tuan Putri berkenan menerimamu di Pesanggrahan Keputrian."

"Terima kasih, aku sudah tahu jalannya," sahut Bibi Ijah dengan wajah lega.

"Celaka!" seru Dyah Rara Wulan dengan wajah pucat setelah mendengar berita yang disampaikan Bibi Ijah. "Ayahanda baru saja berangkat ke Hutan Sindur pagi tadi!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment