Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 42

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 42

"Aku hanya menidurkan mereka," kata Pendeta Gunakara sambil tersenyum.

"Tampaknya Tuan Pendeta datang membawa sebuah permainan lain," sahut Mahesa Muksa.

"Aku datang bersama seribu biksu dari Tibet. Mereka tunduk patuh hanya kepada seorang Mahesa Muksa," ujar Pendeta Gunakara, masih dengan senyumnya.

"Seribu biksu dari Tibet?" tanya Pangeran Citraganda dan Gajahmada bersamaan.

"Ceritanya sangat panjang. Mungkin inilah saatnya aku membuka sebuah rahasia besar tentang keberadaanku selama ini," kata Pendeta Gunakara sambil memicingkan matanya, seolah tengah mengumpulkan ingatannya.

Mendengar Pendeta Gunakara akan membuka rahasia besar, Gajahmada dan Pangeran Citraganda terdiam menunggu apa yang akan diungkapkan oleh orang tua berwajah asing itu.

"Aku berasal dari tempat yang amat jauh, sebuah vihara ternama dan terbesar di Tibet. Hingga pada suatu hari, guru besar kami yang bernama Damyang Dalai Lama mengembuskan napas terakhirnya. Namun sebelum meninggal dunia, guru besar kami yang sangat sakti dan kami hormati itu berpesan bahwa dirinya kelak akan menitis kembali. Beliau telah memberi beberapa petunjuk bagaimana cara mengenali titisan dirinya itu." Sampai di situ, Pendeta Gunakara terdiam dan menarik napas dalam-dalam sambil memandang kedua anak muda di hadapannya yang tampak sangat tertarik dengan ceritanya.

"Aku adalah murid Damyang Dalai Lama yang paling dekat dan terkasih di antara semua muridnya. Itulah sebabnya para paman guruku bersepakat mengutusku mencari titisan guru besar kami itu." Kembali Pendeta Gunakara terdiam sejenak sambil menarik napas panjang, sepertinya tengah mengumpulkan kembali ingatannya. Sementara itu, Gajahmada dan Pangeran Citraganda masih tetap setia menunggu kelanjutan cerita tanpa menyela sedikit pun.

"Berkat petunjuk dari Mahaguru sebelum meninggal dunia, dikatakan bahwa titisannya akan terlahir dalam diri seorang bayi yang lahir bersamaan dengan saat kematiannya di sebuah nusa yang sangat indah, di sebuah daratan yang sangat elok bernama Nusa Dewata. Itulah salah satu petunjuk dari Mahaguru yang membawaku berlayar jauh hingga sampai ke Bali Dwipa." Pendeta Gunakara kembali diam sejenak sambil memandang kedua anak muda di hadapannya yang menyimak ceritanya dengan penuh perhatian.

"Bagaimana Tuan Pendeta dapat menemui bayi titisan Sang Mahaguru di Bali Dwipa? Bukankah pada saat yang sama banyak bayi yang lahir?" tanya Pangeran Citraganda.

"Ada sebuah keajaiban pada diri Mahaguru kami, Damyang Dalai Lama. Ke mana pun dirinya berada, ia selalu diikuti oleh awan di langit yang melindunginya dari sengatan terik matahari. Di Bali Dwipa, berkat lindungan dan petunjuk arwah Mahaguru yang agung, aku menemui seorang bayi dengan ciri dan tanda yang sesuai. Bayi itu memiliki keajaiban yang sama; selalu diikuti oleh awan ke mana pun dirinya berada. Awan itulah yang mengantarku menemui bayi itu," kata Pendeta Gunakara sambil tersenyum. Ia diam sejenak, memperhatikan kedua pemuda yang tampak ingin segera mendengar akhir ceritanya.

"Aku berjalan mengikuti tuntunan arwah Mahaguru, dan aku begitu yakin telah menemui bayi titisannya, meski seseorang telah berusaha menghapus salah satu tanda di tubuh bayi itu," sambung Pendeta Gunakara.

"Tanda apa yang telah dihapus dari bayi itu?" tanya Pangeran Citraganda.

"Ada enam titik hitam di atas pundak bayi itu. Hanya kekuatan ilmu kesaktian yang tinggi yang dapat menghapus tanda enam titik di bahu bayi itu," jawab Pendeta Gunakara.

"Mengapa tanda di atas bahu itu sengaja dihilangkan oleh orang sakti tersebut?" kali ini Gajahmada yang bertanya.

"Mungkin orang itu bermaksud baik, berharap tidak ada orang jahat yang memanfaatkan bayi itu untuk tujuan yang tidak baik pula. Ada sebuah keyakinan bahwa darah seorang bayi yang terlahir dengan tanda seperti itu akan memberikan kekuatan yang hebat bagi siapa saja yang meminumnya," jelas Pendeta Gunakara.

"Setelah Tuan Pendeta menemui bayi itu, apakah Tuan Pendeta membawanya?" tanya Pangeran Citraganda.

"Aku tidak tega menjauhkan bayi itu dari pangkuan ibundanya. Akhirnya aku memutuskan untuk ikut membimbingnya hingga dewasa," kata Pendeta Gunakara.

"Selama ini, sejak kecil aku ada bersamamu, wahai Tuan Pendeta. Siapa gerangan bayi itu?" tanya Gajahmada dengan dada berdebar, mulai menebak-nebak siapa bayi yang diceritakan itu.

"Kamu benar, selama ini aku hanya bersamamu. Kamulah Mahesa Muksa, titisan Mahaguru kami yang terlahir di hari yang sama dengan beliau, dengan tanda-tanda yang sesuai dengan petunjuk beliau," kata Pendeta Gunakara sambil memandang Gajahmada dengan senyum kebahagiaan.

"Aku?" tanya Gajahmada, seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Paman guruku dan para murid Mahaguru tampaknya sudah tidak sabar ingin menjemputmu. Mereka telah berlayar dari tempat yang jauh dan hari ini berada di hutan sebelah timur Kotaraja Kawali," kata Pendeta Gunakara.

"Apa yang mereka inginkan dariku?" tanya Gajahmada dengan wajah penuh ketidakmengertian.

"Mereka, sebagaimana diriku, berharap kamu dapat menggantikan kedudukan Mahaguru kami, Damyang Dalai Lama. Kami akan membawamu menjadi pemimpin besar kami," jawab Pendeta Gunakara dengan penuh kesungguhan.

"Aku menjadi pemimpin para biksu?" tanya Gajahmada lagi.

"Kami tidak akan memaksamu, wahai titisan Mahaguruku. Semua keputusan ada di dalam dirimu sendiri," kata Pendeta Gunakara dengan sikap penuh hormat, seolah berhadapan dengan gurunya sendiri.

Melihat sikap Pendeta Gunakara yang sangat berbeda dari sebelumnya, hati Gajahmada merasa iba, namun ia belum dapat memutuskan apa pun.

"Aku belum dapat berpikir dan memutuskan apa pun. Saat ini yang kupikirkan adalah bagaimana menghadapi kekuatan pasukan Rakata yang akan menguasai Istana Kawali," ujar Gajahmada.

"Kami akan selalu berada di belakangmu, Mahesa Muksa," tegas Pendeta Gunakara.

"Terima kasih telah mengutamakan masalah yang tengah kami hadapi di Istana Kawali ini," sahut Pangeran Citraganda. Ia merasa kedua orang itu telah memilih untuk mendahulukan kepentingan kerajaan daripada urusan pribadi mereka.

"Keberadaan para biksu di Pasundan ini adalah anugerah dari Gusti Yang Maha Agung," kata Gajahmada, mengingatkan Pangeran Citraganda tentang kekuatan baru yang dapat mereka manfaatkan.

"Kehadiran para biksu akan lebih menyemarakkan suasana di Istana Kawali ini," tambah Pangeran Citraganda.

"Kami akan memainkan peran sebagai penguasa semu di Istana Kawali, tentunya atas izin dan sepengetahuan Baginda Raja Ragasuci," kata Pendeta Gunakara sambil merinci rencana yang akan mereka lakukan.

"Malam ini aku akan menyusup keluar istana menemui Ayahanda di Hutan Sindur," kata Pangeran Citraganda.

"Saat ayam berkokok di waktu fajar, aku akan keluar dari bangsal tahanan ini untuk memulai permainan ini," timpal Gajahmada.

"Aku akan kembali menemui para biksu di hutan sebelah barat Kotaraja Kawali," pamit Pendeta Gunakara. Ia melangkah keluar dan menghilang di balik pintu bangsal tahanan.

Tidak lama berselang, Pangeran Citraganda pun berpamitan meninggalkan Gajahmada. Namun, ketika berada di luar pintu bangsal, ia melihat kedua prajurit penjaga masih tergeletak. Dengan memijat beberapa urat saraf keduanya, kedua prajurit itu tampak terkejut saat mendapati diri mereka tergeletak di lantai.

"Kenapa kalian tertidur saat berjaga?" tanya Pangeran Citraganda dengan wajah tidak senang.

"Ampun, Tuan Pangeran. Hamba tidak mengerti dan tidak ingat apa pun mengapa kami tertidur di lantai ini," kata salah seorang prajurit dengan penuh ketakutan.

"Lain kali aku tidak ingin melihat kejadian ini terulang lagi," tegas Pangeran Citraganda sambil berbalik badan dan melangkah pergi. Kedua prajurit itu saling pandang dengan wajah pucat.

"Semoga Tuan Pangeran memaafkan kelalaian kita ini," gumam salah satu penjaga.

Waktu terus berlalu. Sang kala telah menarik tirai langit biru dan menyambut rembulan pucat di ujung senja untuk menyapa hari yang mulai redup di atas bumi Istana Kawali. Perlahan, wajah bumi mulai terselimuti kegelapan malam. Di tengah keremangan malam itu, terlihat sesosok bayangan melesat melompati dinding pagar istana yang cukup tinggi. Setelah berada di luar dinding, sosok itu berlari dan menghilang ditelan kegelapan.

Di ujung batas Kotaraja Kawali sebelah selatan, sosok bayangan itu muncul kembali di bawah cahaya rembulan yang bulat sempurna. Dari kerimbunan semak pohon, seorang lelaki berjalan menuntun seekor kuda mendekati pemuda tersebut, yang ternyata adalah Pangeran Citraganda.

"Terima kasih telah menungguku," kata Pangeran Citraganda sambil mengambil tali kekang kuda.

"Hamba dengan senang hati menjalankan apa pun perintah Tuan Pangeran Citraganda," jawab lelaki penuntun kuda tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment