Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 43

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 43

"Nampaknya kamu telah merawat kudaku dengan baik," kata Pangeran Citraganda sambil menepuk-nepuk perlahan punggung kuda. Lelaki muda itu memang Pangeran Citraganda yang sudah langsung melompat di atas punggung kudanya.

"Hati-hati, Tuan Pangeran, jalan di hutan pada malam hari sangat berliku dan gelap," kata lelaki itu ketika kuda yang ditunggangi Pangeran Citraganda terlihat mulai melangkah.

Pangeran Citraganda hanya menoleh sebentar, melemparkan senyum kepada lelaki tua yang sudah lama bekerja di istana sebagai seorang pekatik.

"Kuda itu telah menemukan majikan mudanya," kata lelaki tua itu dalam hati ketika melihat kuda Pangeran Citraganda telah berlari menjauh, masuk tertelan kegelapan malam.

Berjalan di atas hutan di malam hari, sebagaimana yang dikatakan oleh pekatik itu, memang cukup sulit, apalagi jalan yang harus ditelusuri sangat berliku.

Namun bagi Pangeran Citraganda, tidak ada kesulitan apa pun. Cahaya sinar rembulan di malam itu yang menembus celah-celah batang dan daun di hutan itu sudah cukup bagi Pangeran Citraganda agar tidak tergelincir di jalan setapak yang terkadang cukup terjal.

Tidak ada kesulitan apa pun ketika akhirnya, setelah menempuh perjalanan sepertiga malam, ia telah sampai di sebuah rumah singgah di hutan Sindur.

"Siapa?" kata seorang prajurit pengawal sambil meraba gagang pedangnya ketika melihat seorang berkuda telah mendekati rumah singgah.

"Aku, Pangeran Citraganda," kata penunggang kuda itu langsung melompat turun dari punggung kudanya.

"Ternyata Gusti Tuan Pangeran muda," kata prajurit itu sambil membungkuk penuh hormat.

"Nampaknya masih banyak tamu," kata Pangeran Citraganda kepada prajurit itu ketika melihat dari luar rumah singgah itu ada beberapa ekor kuda.

"Ada beberapa tamu, Adipati Suradilaga dari Singaparna serta Tuan Prabu Guru Darmasiksa," kata prajurit itu menyampaikan siapa saja tamu yang masih ada di dalam rumah singgah itu.

Pangeran Citraganda telah langsung melangkah masuk ke dalam rumah singgah di hutan Sindur itu.

"Cucundaku ternyata tidak bisa tidur nyenyak sendiri di istana, malam-malam telah datang ke hutan Sindur ini," kata Prabu Guru Darmasiksa menyambut kedatangan Pangeran Citraganda.

Setelah duduk di bale tengah ruangan rumah singgah itu, langsung saja Pangeran Citraganda bercerita tentang pasukan Rakata yang selama ini tidak ada dalam perhitungan mereka.

"Otak Patih Anggajaya cukup cemerlang, membawa seluruh prajurit keluar dari Kotaraja Kawali, memberikan kesempatan Pasukan Rakata menguasai Istana," kata Baginda Raja Ragasuci setelah mendengar berita yang dibawa oleh Pangeran Citraganda tentang rencana licik Patih Anggajaya.

"Rencana Patih Anggajaya tidak akan terwujud, seribu biksu dari Tibet akan memaksa pasukan Kawali menghadapi mereka," kata Pangeran Citraganda.

"Seribu biksu dari Tibet," kata semua yang hadir di atas bale tengah itu bersamaan.

Pangeran Citraganda tersenyum melihat wajah-wajah penuh ketidakmengertian tentang para biksu dari Tibet itu.

Maka, perlahan Pangeran Citraganda memberikan sebuah penjelasan siapa gerangan para biksu dari Tibet itu.

"Gusti Yang Maha Agung telah menyelamatkan Istana Kawali dengan mendatangkan para biksu itu," kata Prabu Guru Darmasiksa setelah mendengar penjelasan dari Pangeran Citraganda.

"Aku percaya dengan anak muda itu, kuizinkan Mahesa Muksa bersama pasukan biksunya menguasai istana sampai kita datang kembali," kata Baginda Raja Ragasuci dengan wajah penuh senyum.

"Apakah ibundamu telah mengetahui apa yang akan diperbuat oleh Mahesa Muksa?" tanya kembali Baginda Raja Ragasuci kepada Pangeran Citraganda.

"Sebelum berangkat, Ananda telah bercerita kepadanya. Ananda berharap ibunda tidak salah arti, apalagi menjadi semakin membenci kehadiran Mahesa Muksa," kata Pangeran Citraganda kepada ayahandanya.

"Masih ada waktu mempersiapkan pasukan Adipati Suradilaga untuk bergabung ke Kotaraja Kawali menghadapi pasukan Rakata," kata Prabu Guru Darmasiksa.

"Kembalilah ke Istana, menjelang fajar kami akan segera menyusulmu," kata Baginda Raja Ragasuci kepada Pangeran Citraganda.

Pangeran Citraganda telah berpamit diri untuk kembali ke Kotaraja Kawali.

Sementara itu, di bangsal tahanan dalam Istana Kawali, Gajahmada sepertinya baru saja menyelesaikan olah laku rahasianya, merasakan kesegaran tubuhnya seperti bertambah-tambah berlipat ganda.

Hati dan pikiran Gajahmada saat itu terasa begitu jernih dan lapang, sehingga ia semakin peka mendalami rahasia-rahasia dan mengungkapkan kekuatan jati dirinya sendiri.

"Gusti Yang Maha Agung telah menganugerahi setiap anak manusia dengan beragam perlindungan.

Cerna dan seraplah hawa dingin di sekitarmu, maka dari dalam tubuhmu akan melindungimu dengan kekuatan sumber daya panas.

Semakin besar kamu menyerap hawa dingin di sekitarmu, semakin besar pula kekuatan daya panas melindungimu.

Dan kamu dapat melakukannya dengan cara yang lain.

Kenalilah dirimu sebagai sang pengendali," kata Gajahmada dalam hati sambil tersenyum sendiri mengingat kembali ungkapan rahasia yang pernah disampaikan oleh guru penuntunnya, Putu Risang.

Kedua prajurit penjaga yang berada di muka pintu bangsal tahanan itu terperanjat bukan main ketika merasakan malam yang dingin itu tiba-tiba menjadi begitu panas menyekat, membuat peluh di tubuh mereka tidak terasa mengalir deras membasahi wajah dan pakaian mereka.

Selang beberapa lama kemudian, kedua prajurit itu seperti menjadi begitu panik terheran-heran ketika sebuah kabut turun menyelimuti mereka, bermula sangat tipis.

Namun lambat laun kabut itu semakin menjadi begitu tebal membuat penglihatan mereka menjadi seperti terhalang hanya sebatas ujung hidung mereka sendiri.

Dan terlihat gigi-gigi mereka bergemerutuk menahan rasa dingin yang sangat.

Apa sebenarnya yang tengah terjadi atas kedua prajurit penjaga di muka bangsal tahanan itu? Ternyata di dalam bangsal tahanan, Gajahmada tengah mateg aji, kemampuan daya sakti kekuatan jati dirinya.

Kabut tebal perlahan hilang menipis di luar bangsal tahanan itu ketika Gajahmada telah mengakhiri daya sakti kekuatan jati dirinya.

"Manusia yang sakti bukanlah seorang yang dapat melontarkan kekuatan hawa panas dan hawa dingin dari tubuhnya, bukan pula seorang yang kebal tidak termakan ketajaman senjata apa pun.

Tetapi manusia sakti adalah yang dapat mengendalikan nafsunya sendiri.

Kenalilah nafsumu, maka kamu dapat mengendalikannya," kata sebuah suara seperti bisikan, masuk dan keluar lewat pendengaran batin Gajahmada.

Dan Gajahmada yang sudah mulai peka membedakan antara buah pikiran hati sendiri dan suara bisikan dari luar dirinya, segera mengetahui bahwa ada seseorang telah berbicara dengannya lewat sebuah ilmu setara dengan ajian ilmu Pameling.

"Sudah lama kamu mengikuti di mana pun aku berada, siapakah dirimu wahai pembisik hati?" kata Gajahmada seperti mencoba bertanya kepada dirinya sendiri.

"Bagus, aku memang selalu datang membayangimu.

Dan sekarang kulihat dirimu telah dapat membedakan sebuah pikiran yang datang dari luar dirimu.

Wahai putraku, aku ayah kandungmu sendiri," kata sebuah bisikan lewat pikiran Gajahmada sendiri.

"Sebuah kegembiraan hati tak terkira ketika Kakang Putu Risang mengabarkan tentang keberadaanmu, wahai ayahandaku.

Telah terpikir dalam harapanku bahwa suatu saat dapat memandang wajahmu, wajah ayahku sendiri," kata Gajahmada seperti kepada dirinya sendiri, merasa yakin didengar oleh ayahnya sendiri yang entah berada di mana.

"Maafkan aku wahai putraku, kita tidak mungkin dapat bertemu muka.

Telah kupalingkan hati ini untuk bertemu langsung dengan ibumu, juga dirimu sebagaimana aku telah memalingkan wajah ini untuk melihat dunia.

Begitulah caraku di dalam awal pengembaraan batin, menjaga kesucian diri mengarungi samudra semesta alam rahasia diri.

Dan aku sudah jauh berjalan, tidak mungkin datang kembali ke pintu duniamu, wahai putraku," kata sebuah bisikan di dalam hati dan pikiran Gajahmada.

"Putramu tidak akan menghalangi jalanmu wahai ayahanda.

Putramu hanya mohon bimbinganmu," kata Gajahmada.

"Kamu telah memiliki ilmu kesaktian tinggi, memahami kitab tantra sebagaimana seorang pendeta, memahami ilmu tata negara layaknya seorang raja. Itulah anugerah dari Yang Maha Pemberi Hidup sebagai jalan kamu berbakti menerangi dunia ini, sebagaimana matahari memberikan cahaya kehidupan di bumi," kata kembali bisikan itu lewat di dalam hati dan pikiran Gajahmada.

"Terima kasih, putramu akan selalu mengingatnya," kata Gajahmada dalam hati ketika merasakan tidak ada lagi suara bisikan di dalam hati dan pikirannya sendiri.

Lama Gajahmada terdiam, mencoba mengingat dan merenungi semua perkataan dari ayahandanya itu.

"Sebagai sang surya menerangi bumi," kata kembali Gajahmada dalam hati.

Sementara itu, suasana di luar bangsal tahanan di malam hari terasa begitu dingin.

Dua orang prajurit penjaga masih tetap bersiaga, kadang berjalan melangkah untuk memerangi rasa kantuknya.

"Malam ini terasa begitu dingin," kata seorang prajurit penjaga di muka pintu bangsal tahanan itu sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.

"Itu tandanya malam akan segera berakhir, di ujung malam suasana memang menjadi lebih dingin," kata kawannya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh kawan prajurit itu, malam memang telah berada di ujung pergantian pagi.

Sebaris cahaya merah telah mulai mewarnai langit malam.

"Sang fajar sebentar lagi akan muncul menerangi bumi," kata Gajahmada dalam hati ketika mendengar sayup dari tempat yang begitu jauh suara ayam jantan.

Gajahmada telah turun dari bale bangsal tahanan itu, berdiri, dan melangkah mendekati pintu kayu bangsal tahanan.

Dan Gajahmada berhenti melangkah, terlihat berdiri di depan pintu bangsal tahanan itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment