Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 44

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 44

Terlihat Gajah Mada telah berdiri tegap dengan kuda-kuda yang kokoh, seolah sedang menghimpun segenap tenaga sakti dan kekuatan sejati di dalam tubuhnya.

Brak!

Bukan main kaget dan terkejutnya kedua prajurit di depan bangsal tahanan itu melihat pintu tahanan yang tebal telah hancur berkeping-keping.

Mereka berdua tampak terpaku di tempat manakala dari dalam bangsal tahanan keluar seseorang dengan rambut terurai, hanya mengenakan dua helai kain putih yang dililitkan menutupi pusar ke bawah dan dada. Pakaian itu biasa dipakai oleh penghuni tahanan, dan kebetulan juga dikenakan oleh para biksu muda. Seseorang yang baru keluar dari pintu bangsal tahanan yang hancur itu adalah Gajah Mada.

"Mengapa kalian diam terpaku? Cepat bunyikan kentongan dan larilah!" kata Gajah Mada sambil tersenyum.

Kedua prajurit itu sudah terlanjur ketakutan, terutama setelah melihat mata dan penampilan Gajah Mada yang baru saja melepaskan kekuatan sakti sejatinya. Penampilan itu sungguh berwibawa dan sangat menyeramkan, sehingga tanpa pikir panjang lagi, mereka langsung berlari.

Seorang kawan yang masih memiliki sedikit keberanian berhenti sebentar dan sempat membunyikan kentongan dengan nada panjang sebagai tanda bahaya. Setelah membunyikan kentongan, prajurit itu langsung mengikuti arah lari kawannya.

Sengaja Gajah Mada tidak mengejar kedua prajurit itu. Ia hanya berjalan perlahan, seolah menunggu kedatangan para prajurit lain yang pasti telah mendengar suara kentongan bahaya.

Tidak lama berselang, beberapa prajurit telah berdatangan mendekati sumber suara kentongan.

"Menyerahlah!" kata seorang prajurit di antara sekitar lima atau enam prajurit pertama yang telah mendatangi sumber suara bahaya.

"Peganglah gagang pedang kalian kuat-kuat!" balas Gajah Mada dengan sikap menantang, tanpa sedikit pun rasa takut terlihat di mata dan wajahnya.

Melihat Gajah Mada tidak bersenjata, timbul keberanian pada beberapa prajurit itu, yang langsung mendekati Gajah Mada dengan pedang terhunus. Enam orang prajurit mengepung Gajah Mada dengan pedang terhunus.

Namun, baru saja mereka hendak menggerakkan tangan untuk menyerang Gajah Mada, tiba-tiba keenam prajurit itu merasakan tangan mereka panas dan perih. Dengan wajah penuh tanda tanya, mereka melihat pedang mereka telah berpindah tangan.

"Aku tidak butuh pedang ini," kata Gajah Mada sambil dengan mudahnya mematahkan semua pedang di tangannya itu. Wajah keenam prajurit itu terperangah melihat Gajah Mada mematahkan pedang mereka dengan begitu mudah.

"Kutunggu kalian di tempat yang lebih lapang," kata Gajah Mada sambil berlari ke arah tanah lapang di istana yang terlihat lebih luas. Ternyata Gajah Mada memang bermaksud memancing semua prajurit untuk mendatanginya.

Gajah Mada tidak perlu menunggu terlalu lama, karena ia melihat puluhan prajurit telah mendatanginya.

"Menyerahlah, atau pedang kami akan mengoyak tubuhmu!" kata salah seorang prajurit yang mencoba menggertak Gajah Mada.

"Pilihlah oleh kalian bagian yang paling lunak," balas Gajah Mada dengan senyum dan sikap menantang.

"Koyak orang gila ini!" kata kembali prajurit yang sebelumnya menggertak Gajah Mada. Mendengar seruan prajurit itu cukup lantang, puluhan prajurit mendekati Gajah Mada.

Puluhan prajurit itu terkejut karena hanya dengan tangan kosong, Gajah Mada menangkis setiap serangan pedang mereka. Meskipun hanya dengan tangan kosong, pedang mereka terlempar dan terlepas dari tangan mereka sendiri, seolah mengenai batu cadas. Ternyata diam-diam Gajah Mada telah melapisi tubuhnya dengan kekuatan sakti sejatinya yang setara dengan Ajian Lembu Sekilan, ilmu kekebalan tubuh yang jarang dimiliki orang. Gajah Mada yang berotak cemerlang itu rupanya telah menguasai ajian kekebalan itu dengan cara menyerap kelembutan di sekitarnya, sehingga menimbulkan perlindungan kuat bersumber dari kekuatan sakti sejatinya yang berlipat ganda.

"Nampaknya seluruh kekuatan prajurit di istana ini telah berada di sini," kata Gajah Mada dalam hati sambil tersenyum gembira karena berhasil menarik perhatian dan membawa hampir seluruh kekuatan prajurit Istana Kawali mengerubutinya seorang diri.

Terlihat Gajah Mada tidak lagi hanya menangkis atau mengibaskan tangannya menghadapi setiap serangan pedang ke arahnya, tetapi ia kadang juga menggerakkan tangan untuk melumpuhkan beberapa prajurit. Gajah Mada tampak lincah dan cekatan berkelit menghindari setiap serangan para prajurit yang seolah berlomba melumpuhkannya seorang diri. Bayangkan, sekitar seratus prajurit istana tengah mengeroyok Gajah Mada.

Namun, Gajah Mada seolah tidak pernah surut tenaganya, bahkan tampak gembira layaknya seorang bocah nakal yang sedang bermain. Pemandangan di tanah lapang Istana Kawali itu lebih mirip sekumpulan semut hitam menghadapi seekor belalang jantan. Kaki Gajah Mada, seperti kaki belalang, telah beberapa kali melemparkan beberapa orang prajurit yang mendekat. Terkadang, Gajah Mada melompat berlari di atas kepala mereka.

Wajah para prajurit itu menjadi sangat penasaran karena menghadapi Gajah Mada bertangan kosong saja terasa sia-sia. Rasa penasaran itu akhirnya berubah menjadi putus asa dan jerih manakala melihat beberapa kawan mereka terkapar pingsan terkena tendangan dan pukulan Gajah Mada.

Serangan para prajurit semakin mengendur. Dengan perasaan jerih, mereka tidak berani lagi mendekati Gajah Mada, hanya mengepung agar Gajah Mada tetap berada di tempatnya.

"Apakah kalian sudah jemu bermain?" kata Gajah Mada sambil tersenyum, bertolak pinggang melihat tidak ada lagi prajurit yang berani mendekatinya.

"Jangan besar kepala dulu, anak muda. Akulah yang akan meringkusmu kembali ke dalam bangsal tahanan!" kata seseorang berjubah pendeta yang tiba-tiba berada di dalam arena lingkaran kepungan para prajurit istana.

"Aku seperti pernah mengenalmu," kata Gajah Mada kepada orang berjubah pendeta itu. Gajah Mada memang seolah pernah bertemu dengan orang itu, terutama ketika mata mereka bertemu pandang. Benar, Gajah Mada seolah mengenali mata elang milik orang berjubah pendeta itu.

"Kita memang pernah bertemu," kata orang itu sambil mengeluarkan sebuah senjata dari balik jubahnya.

"Kujang Pangeran Muncang!" seru Gajah Mada ketika mengenali senjata di tangan orang itu.

"Jarang sekali orang yang mengenal senjata ini," kata orang itu sambil tersenyum, mengira Gajah Mada menjadi gentar melihat senjatanya.

"Ternyata kamulah orang berbaju serba hitam itu yang telah melukai Andini!" kata Gajah Mada menatap tajam ke arah orang itu.

"Daya ingatmu sangat tajam. Sayang, aku harus membungkam mulutmu selamanya," kata orang berjubah pendeta itu sambil langsung menerjang dengan senjatanya ke arah tubuh Gajah Mada.

Gajah Mada tidak berani bermain-main lagi menghadapi pendeta itu, apalagi dengan senjata Kujang Pangeran Muncang di tangan orang itu. Gajah Mada yang bertangan kosong itu bergerak begitu cepat menghindari serangan orang itu yang tampak ganas dan cepat.

Ternyata Gajah Mada tidak hanya berkelit dan menghindar, tetapi langsung melakukan serangan balasan yang tidak kalah cepat dan kuatnya, menggempur orang itu dengan sebuah tendangan mengarah ke pinggang lawan. Orang itu terkejut menerima serangan balasan tak terduga dari Gajah Mada, sehingga ia langsung melompat ke samping dan kembali melakukan serangan lain yang sangat cepat.

Demikianlah, serang dan balas menyerang berlangsung dengan begitu cepatnya antara Gajah Mada dan orang berjubah pendeta itu. Pertempuran itu menjadi semakin seru dan mendebarkan, membuat lingkaran prajurit semakin melebar karena takut terkena sasaran terjangan mereka berdua.

"Ternyata Kujang Pangeran Muncang berada di tangan Pendeta Rakanata. Dialah kunci rahasia di balik hilangnya pusaka itu," kata Pangeran Citraganda kepada Dyah Rara Wulan dan ibundanya, Ratu Dara Puspa, yang menyaksikan pertempuran itu dari luar lingkaran prajurit.

"Ilmu Pendeta Rakanata sangat tinggi," kata Dyah Rara Wulan penuh kekhawatiran. Ternyata orang berjubah pendeta itu adalah Pendeta Rakanata, guru suci di Istana Kawali.

"Semoga Mahesa Muksa mampu menghadapinya," kata Pangeran Citraganda menenangkan hati adiknya. Perkataan Pangeran Citraganda bukan sekadar menenangkan perasaan hati adiknya. Sebagai seseorang yang sudah mapan dalam olah kanuragan, ia mampu menilai sebuah pertempuran. Pangeran Citraganda dapat melihat bagaimana Gajah Mada bukan hanya mampu menghindari setiap serangan, tetapi juga mampu menekan lawannya, seorang pendeta yang berilmu cukup tinggi.

Hati Pendeta Rakanata tampak sangat geram mendapatkan lawan seperti Gajah Mada. Ternyata Gajah Mada masih dapat melayaninya, mengimbangi serangan demi serangan. Bertahap Pendeta Rakanata berusaha meningkatkan tataran ilmunya, namun selalu saja masih dapat diimbangi oleh Gajah Mada yang juga meningkatkan tataran ilmunya.

Lingkaran prajurit kembali melebar karena merasakan pertempuran dua naga kanuragan itu sudah menjadi kian dahsyatnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment