Chapter 45
Para prajurit di jajaran paling depan telah merasakan angin sambaran serangan Pendeta Rakanata yang menimbulkan hawa panas. Mereka tidak dapat membayangkan bagaimana Gajah Mada menghadapi serangan berhawa panas itu, sementara mereka yang berjarak sekitar dua puluh langkah dari pusat pertempuran saja masih dapat merasakan hawa panasnya.
Ternyata Gajah Mada tidak mengalami kesulitan apa pun menghadapi serangan Pendeta Rakanata yang telah meningkatkan tataran kesaktiannya dengan mengembuskan angin pukulan hawa panas yang kuat bersama setiap serangannya itu. Sekuat apa pun tataran kesaktian yang dilontarkan oleh Pendeta Rakanata, tetap saja masih dapat diimbangi oleh Gajah Mada yang telah melindungi dirinya dengan daya sakti kekuatan sejati yang berbeda dan berlawanan untuk menyesuaikan diri.
Pendeta Rakanata mulai merasa putus asa melihat anak muda yang menjadi lawan tandingnya itu tidak bergeming sedikit pun meski ia telah meningkatkan tataran kemampuan puncaknya, baik kecepatan gerak maupun daya tempur hawa panas yang sanggup membuat siapa pun di dekatnya hangus terbakar. Namun, Gajah Mada tetap tidak merasakan apa pun karena telah melambari dirinya dengan kekuatan berlawanan yang meredam hawa panas lawan.
Sebenarnya Gajah Mada masih dapat meningkatkan tataran kemampuan ilmunya lebih tinggi lagi, melontarkan tenaga sakti sejati dalam bentuk hawa panas maupun hawa dingin sesuai keinginannya. Namun, Gajah Mada tidak ingin melakukannya. Ia hanya berusaha mengimbangi serangan lawan dan tidak ingin cepat-cepat menyelesaikan pertempurannya.
"Tugasku hanya membuat kekacauan guna menarik perhatian seluruh prajurit," kata Gajah Mada dalam hati sambil berkelit dan membalas serangan lawannya.
Sementara itu, Pangeran Citraganda yang menyaksikan pertempuran mereka dari kejauhan melihat kabut tipis perlahan menyelimuti hampir seluruh permukaan istana. Kabut tipis itu kian lama kian menebal hingga menutup pandangan mata hampir semua orang.
"Hanya orang berilmu tinggi saja yang dapat melakukannya," kata Pangeran Citraganda kepada Dyah Rara Wulan dan ibundanya, Ratu Dara Puspa, yang masih terus mengamati jalannya pertempuran antara Gajah Mada dan Pendeta Rakanata.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa di dalam istana telah lama menyelinap dua orang berjubah pendeta. Mereka sudah lama mengamati pertempuran itu. Salah seorang berjubah pendeta itu adalah Pendeta Gunakara, sementara yang seorang lagi terlihat lebih tua dari Pendeta Gunakara. Ternyata orang itulah yang telah menurunkan kabut pekat yang menyelimuti seluruh istana.
Kabut terlihat sudah begitu pekat menutupi pandangan semua orang. Para prajurit istana tidak dapat lagi menyaksikan jalannya pertempuran antara Gajah Mada dan Pendeta Rakanata. Terlihat Gajah Mada tersenyum menyaksikan Pendeta Rakanata yang tampak terganggu penglihatannya dan telah melompat mengambil jarak aman. Dengan daya penglihatan yang kuat, Gajah Mada masih dapat melihat dengan jelas di dalam kabut pekat itu. Gajah Mada tidak berlaku curang dengan mengejar Pendeta Rakanata yang sudah kehilangan penglihatan karena tertutup kabut tebal.
Gajah Mada masih tersenyum manakala dilihatnya muncul begitu banyak orang asing berpakaian biksu, seperti yang dikenakannya saat itu, telah melumpuhkan semua prajurit di istana dengan sangat mudah.
"Para biksu dari Tibet?" gumam Gajah Mada dalam hati melihat orang-orang asing yang baru muncul itu tengah melumpuhkan para prajurit istana.
Pertanyaan Gajah Mada akhirnya terjawab manakala muncul dua orang berjubah pendeta mendekatinya. Salah seorang telah dikenalnya sebagai Pendeta Gunakara.
"Orang berjubah pendeta itu kulihat berhati kelam, jauh berbeda dengan pakaian putih yang dikenakannya," kata orang tua yang datang bersama Pendeta Gunakara.
Bersama kedatangan dua orang pendeta itu, kabut di atas Istana Kawali terlihat semakin lama kian menipis terbawa angin. Kecut hati Pendeta Rakanata melihat dua orang pendeta di dekat anak muda lawan tandingnya itu. Ia berpikir bahwa kedua pendeta itu pasti akan membela si anak muda. Maka tanpa berpikir lebih lama lagi, Pendeta Rakanata langsung berkelebat ke arah dinding istana, melompati dinding tinggi, dan menghilang entah ke mana.
"Jangan kamu kejar orang itu, ada banyak hal penting selain Kujang Pangeran Muncang," kata Pendeta Gunakara sambil menggamit lengan Gajah Mada, seolah tahu jalan pikirannya.
"Benar Mahesa Muksa, tugas kita saat ini adalah mengamankan istana," kata Pangeran Citraganda yang telah datang bersama Dyah Rara Wulan dan Ratu Dara Puspa.
"Ampun Gusti Ratu, hari ini kendali di istana telah menjadi tanggung jawab kami," kata Pendeta Gunakara penuh hormat, tahu benar bagaimana bersikap di hadapan sang permaisuri.
"Atas nama keluarga istana, kami mengucapkan terima kasih atas bantuan kalian," kata Ratu Dara Puspa penuh kebanggaan melihat sikap dan perkataan Pendeta Gunakara yang sangat menghormatinya.
Namun, kening Ratu Dara Puspa tampak berkerut manakala orang tua itu tidak bersikap hormat kepadanya, melainkan kepada anak muda yang dikenalnya sebagai Mahesa Muksa.
"Terimalah sembah sujud dari Nathabala, wahai titisan sang terkasih Damyang Dalai Lama," kata orang tua berjubah pendeta yang datang bersama Pendeta Gunakara itu sambil merangkapkan kedua tangan di depan dada dengan wajah menunduk sebagai tanda hormat.
"Putraku Mahesa Muksa, aku belum memperkenalkan paman guruku," kata Pendeta Gunakara sambil tersenyum mengerti kebingungan Gajah Mada. "Kami biasa memanggilnya Paman Guru Nathabala," lanjutnya memperkenalkan orang itu.
Mendengar perkataan Pendeta Gunakara, Gajah Mada segera membalas penghormatan orang yang dipanggil Paman Guru Nathabala itu dengan penuh senyum.
"Sebentar, aku akan kembali," kata Pendeta Gunakara sambil melangkah mendekati beberapa biksu yang tengah mengumpulkan para prajurit istana yang masih tergeletak pingsan.
Terlihat Pendeta Gunakara segera memberikan beberapa perintah kepada para biksu itu. Sekali lagi Ratu Dara Puspa mengerutkan keningnya manakala melihat satu per satu dari para biksu berdatangan menghadap Gajah Mada secara bergiliran dengan sikap penuh penghormatan, lalu langsung pergi ke sisi dinding istana seolah tahu cara mengamankan tempat itu.
"Mahesa Muksa seperti seorang raja bagi mereka," batin Ratu Dara Puspa saat melihat para biksu itu satu per satu menghadap Mahesa Muksa dengan penuh hormat.
Diam-diam Dyah Rara Wulan melirik ke arah Ibunda Ratu, seakan ingin berkata bahwa Mahesa Muksa bukanlah orang biasa sebagaimana prasangka ibundanya selama ini. Namun, Dyah Rara Wulan tidak berkata apa pun; ia hanya merasa gembira dan bangga melihat para biksu asing itu begitu menghormati Mahesa Muksa.
Tampaknya para biksu asing itu telah mengetahui apa yang harus mereka lakukan. Terlihat mereka langsung menuju dinding pagar istana. Tidak ada satu pun sisi dinding yang kosong tanpa penjagaan mereka. Dinding pagar istana itu memang cukup tebal dengan undakan yang memungkinkan seseorang berdiri melihat ke arah luar. Para biksu asing itu nampaknya telah bersiaga penuh menjaga istana, membentuk pagar betis mengelilingi hampir setiap sisi dinding pagar.
Maka gemparlah suasana Kotaraja Kawali ketika mengetahui bahwa istana telah dikuasai oleh para biksu asing. Beberapa perwira tinggi telah mengumpulkan satuan pasukan masing-masing dari barak prajurit di luar istana. Terlihat para prajurit Kawali telah berkumpul di alun-alun Kotaraja Kawali untuk menunggu perintah.
"Kami menunggu perintah dari Tuan Patih," kata salah seorang perwira tinggi kepada Patih Anggajaya yang juga telah hadir di alun-alun.
Wajah Patih Anggajaya tampak begitu gusar karena merasa rencananya tidak berjalan sesuai keinginan. Adipati Suradilaga yang diharapkan memberi kabar tentang tugasnya di Hutan Sindur tak kunjung datang. Tiba-tiba saja ia mendapati Istana Kawali telah dikuasai oleh para biksu asing. Rusaklah rencana dan harapannya untuk membawa pasukan Rakata ke Kotaraja Kawali.
"Seluruh kesatuan prajurit telah berkumpul, siap menunggu perintah Tuan Patih," kata perwira tinggi itu lagi, merasa kecewa melihat kelambanan sikap sang Patih.
Terlihat Patih Anggajaya tidak langsung memberikan perintah apa pun. Ia tampak berpikir keras mencari jalan keluar dari kemelut yang sangat berbeda dari rencana semula. Namun, di hadapan para perwira tinggi itu, Patih Anggajaya tidak ingin dinilai tidak tegas sebagai seorang patih yang diandalkan.
"Persiapkan seluruh pasukan, kita gempur dan kuasai kembali istana!" seru Patih Anggajaya, seolah terpaksa membuat keputusan cepat meski hatinya belum menemukan jalan terbaik.
Setelah mendengar perintah dari Sang Patih, para perwira tinggi itu melangkah menuju kesatuan masing-masing. Namun, belum sempat mereka menemui pasukan, terlihat dari arah selatan Kotaraja Kawali dua orang penunggang kuda berlari kencang sambil membawa dua bendera kebesaran Kawali, yang salah satunya adalah bendera hijau bergambar harimau putih.
"Raja Ragasuci telah kembali dari Hutan Sindur," gumam Patih Anggajaya dalam hati dengan perasaan penuh kegusaran.