Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 46

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 46

Sebagaimana yang dikatakan Patih Anggajaya, di belakang dua orang penunggang kuda itu memang telah datang sebuah pasukan khusus pengawal Raja.

Hati Patih Anggajaya pun menjadi bertambah gusar tatkala melihat di belakang pasukan khusus pengawal Raja terlihat sebuah iring-iringan pasukan yang lebih besar lagi.

Terkejut dan penuh rasa gusar, Patih Anggajaya bergumam dalam hati, "Adipati Suradilaga datang bersama Raja Ragasuci?" Ia merasa yakin bahwa pasukan besar yang datang bersama Raja Ragasuci adalah pasukan dari Singaparna yang dibawa langsung oleh Adipati Suradilaga.

"Adipati Suradilaga telah mengkhianatiku?" Patih Anggajaya bertanya dalam hati, dengan penuh tanda tanya besar di benaknya.

"Baginda Raja Ragasuci datang!" teriak salah seorang penunggang kuda pembawa bendera kebesaran Kerajaan dengan lantang.

"Sembah sujud dan kesetiaan kami untuk Baginda Raja Ragasuci. Semoga kemuliaan dan panjang umur untuk Baginda Raja Ragasuci," seru para prajurit di alun-alun Kotaraja itu bersamaan sambil bersujud.

"Berdiri dan bangkitlah, wahai para prajuritku yang gagah dan setia," titah Raja Ragasuci di hadapan para prajurit, masih di atas punggung kudanya.

Hati Patih Anggajaya menggeram melihat Raja Ragasuci masih hidup, sementara matanya terlihat begitu tajam mencari seseorang di antara pasukan berkuda yang datang bersama Raja Ragasuci.

Ternyata orang yang dicarinya ada tepat di belakang Baginda Raja Ragasuci.

Siapa lagi yang dicari Patih Anggajaya selain Adipati Suradilaga, yang telah berjanji kepadanya untuk membunuh Raja Ragasuci.

"Pengkhianat itu ada di belakang Baginda Raja," Patih Anggajaya berkata dalam hati penuh kebencian.

Namun, wajah dan hati Patih Anggajaya menjadi begitu kecut dan gusar ketika kembali mendengar suara yang cukup lantang dari Raja Ragasuci.

"Dengarlah, wahai para prajuritku, musuh kita bukan orang-orang asing yang berada di dalam istana. Namun, musuh kita adalah pasukan dari Rakata yang saat ini telah mempersiapkan diri di hutan sebelah timur Kotaraja Kawali," titah Raja Ragasuci dengan suara begitu lantang.

"Kurang ajar, siapa yang telah membocorkan semua rahasia ini?" Patih Anggajaya berkata dalam hati dengan wajah pucat dan kaget, tidak menyangka Raja Ragasuci telah mengetahui keberadaan pasukan Rakata.

Namun, Patih Anggajaya berusaha keras menutupi perasaannya, terus berpikir keras menghadapi kemelut suasana yang melenceng dari harapan dan rencananya.

Apalagi melihat sebagian prajurit yang tampak bingung dan terkejut mendengar perkataan Raja Ragasuci tentang pasukan Rakata yang tengah bersiap menyerang Kotaraja Kawali.

Patih Anggajaya memang tahu cara memanfaatkan suasana kebimbangan sebagian prajurit itu.

"Ampun, Tuanku Baginda Raja, istana saat ini telah dikuasai oleh orang-orang asing. Kami siap menghalau mereka dan mengembalikan keamanan di istana," Patih Anggajaya berkata dengan suara cukup lantang, bermaksud agar para prajurit juga dapat mendengar perkataannya.

Terlihat Raja Ragasuci tersenyum menanggapi perkataan Patih Anggajaya, yang diketahui maksud dan tujuan pikirannya agar dirinya dengan segala keterpaksaan akan memerintahkan semua prajurit untuk menyerang istana.

Raja Ragasuci tidak berkata apa pun, sepertinya tengah menunggu sesuatu.

Ternyata Raja Ragasuci tengah menunggu seseorang.

Dengan senyum, ia melihat seorang prajurit telah bergerak dari tempatnya, maju ke depan menghadap para prajurit.

"Dengarlah, wahai para saudaraku, para putra Ciremai, para putra Galunggung, para putra Pangrango, dan para putra Pasundan, sabda Baginda Raja adalah sabda para dewata, perkataan Baginda Raja adalah perkataan Dewata. Tunjukkan kesetiaanmu bagi Baginda Raja!" seru prajurit itu dengan suara begitu lantang, yang ternyata adalah Ki Rangga Ageng Pasek.

Ternyata, Ki Rangga Ageng Pasek sengaja tidak menyebut nama putra Rakata dalam perkataannya sebagai sindiran dan ingin membakar perasaan hati para prajurit putra daerah selain Rakata, yang selama ini telah tertindas dan tersingkirkan oleh orang-orang Rakata yang merasa besar kepala menjadi anak emas Patih Anggajaya.

Raja Ragasuci kembali tersenyum melihat kegelisahan di wajah Patih Anggajaya. Dirinya memang sudah tidak sabar lagi menyingkirkan orang yang telah sengaja dengan licik menjebak dan menusuknya dari belakang melalui tangan Adipati Suradilaga.

Baginda Raja Ragasuci dengan penuh senyum telah tahu apa yang harus diperbuat.

Terlihat Baginda Raja Ragasuci mengangkat kedua tangannya, seperti meminta semua orang untuk mendengarnya.

"Aku tidak akan memaksa apa yang menjadi pilihan kalian. Segeralah menyingkir ke sebelah kanan siapa pun yang telah mendengar perkataan Ki Rangga Ageng Pasek dan berpihak kepadanya," titah Raja Ragasuci dengan suara lantang, terdengar oleh siapa pun yang berada di atas alun-alun itu.

Tanpa perlu perintah dua kali, separuh prajurit itu telah menyingkir, memisahkan diri.

Sementara itu, separuh prajurit Kawali masih tetap diam di tempatnya; sebagian besar dari mereka adalah putra Rakata yang selama ini telah menjadi anak emas Patih Anggajaya.

Namun, di antara mereka masih ada beberapa prajurit yang sudah berkeluarga dan beristri wanita dari luar orang Rakata.

Raja Ragasuci seperti tahu perasaan sebagian orang Rakata itu.

Terlihat Raja Ragasuci kembali mengangkat kedua tangannya, meminta perhatian semua orang yang berada di alun-alun Kotaraja itu.

Begitu besar wibawa Raja Ragasuci, seketika itu juga semua orang terdiam, tidak ada suara satu pun. Suasana saat itu begitu mencekam, dan semua mata terlihat tertuju kepada penguasa Pasundan itu, Raja Ragasuci.

Terlihat wajah dan mata Raja Ragasuci begitu memerah, seakan tengah memendam kemarahan besar.

Hampir semua orang di wilayah Pasundan telah mengetahui kesaktian Raja mereka yang dapat membakar apa pun dengan sorot matanya.

Semua orang saat itu seperti berdebar, merasa takut bila saja Raja Ragasuci menumpahkan kemurkaannya.

"Dengarlah perkataanku! Aku, Raja Ragasuci, akan bermurah hati kepada siapa pun prajurit yang mengabdi setia kepadaku, mengampuni siapa pun yang menyadari kesalahannya. Namun, aku tidak akan pernah bermurah hati kepada musuh-musuhku dan seluruh keluarganya," titah Raja Ragasuci dengan suara lantang seperti bergemuruh dan bergema, terdengar oleh hampir semua orang yang berada di alun-alun itu.

Ternyata, perkataan Raja Ragasuci seperti anak panah kembar bermata dua.

Satu mata panah ditujukan kepada para prajurit yang sudah berkeluarga dan berbaur dengan penduduk Kawali.

Satu anak panah lagi memang ditujukan kepada Patih Anggajaya beserta para pengikut setianya yang selama ini bermaksud menggulingkan kekuasaannya.

Terlihat Raja Ragasuci tersenyum melihat beberapa prajurit bergerak memisahkan diri.

Bukan main gusar hati Patih Anggajaya melihat sebagian pengikutnya telah bergerak memisahkan diri.

"Aku harus bertindak cepat sebelum semua pengikutku berpindah tempat, memilih setia kepada Raja Ragasuci," Patih Anggajaya berkata dalam hati dengan wajah penuh kegelisahan.

Ternyata dendam Patih Anggajaya telah melebihi kegentaran hatinya.

Dendam yang sudah lama terpendam itu akhirnya mengoyak dadanya dan meledak seperti gunung berapi.

Terlihat Patih Anggajaya melompat di atas punggung kudanya.

"Dengarlah, wahai para putra Rakata!" seru Patih Anggajaya dengan suara menggelegar, karena disertai hentakan tenaga sakti sejati yang kuat, membuat semua orang berpaling ke arahnya.

"Kita, orang Rakata yang terlahir di bawah Gunung Rakata, pusat bumi ini, telah lama terjajah. Lihatlah diri kalian, hari ini kita telah dipisahkan. Mari kita bergabung bersama saudara kita di timur hutan Kotaraja ini!" seru Patih Anggajaya sambil menghentakkan perut kudanya agar bergerak melangkah.

Sekonyong-konyong, beberapa prajurit putra Rakata seperti mendapat angin, setelah bingung beberapa saat mengkhawatirkan nasib mereka yang pasti akan mendapat balasan atas semua penindasan mereka selama ini di masa kekuasaan Patih Anggajaya yang melebihi kekuasaan seorang Raja.

Terlihat semua orang Rakata itu bergerak mengikuti arah langkah kaki kuda Patih Anggajaya.

Mata dan pandangan Ki Rangga Ageng Pasek sekilas berpaling ke arah Raja Ragasuci.

Mata dan pandangan Ki Rangga Ageng Pasek seolah mewakili hampir semua prajurit yang berada di belakangnya.

Mereka tengah berharap satu kata perintah dari Raja mereka.

Hanya satu kata saja, maka mereka sudah pasti akan bergerak menyergap orang Rakata yang mereka anggap sebagai para pendurhaka.

Tampaknya Raja Ragasuci dapat membaca perasaan para prajuritnya yang setia kepadanya.

Terlihat, dengan wajah penuh ketenangan, ia mengangkat kedua tangannya.

"Biarkan orang-orang itu memilih jalan mereka. Besok menjelang fajar, kesombongan Gunung Rakata akan kita bungkam dan hancurkan selama-lamanya!" titah Raja Ragasuci dengan suara bergema lebih dahsyat lagi, melebihi suara Patih Anggajaya sebelumnya.

Suara itu masih terdengar oleh orang-orang Rakata yang sudah mulai menjauhi alun-alun Kotaraja, menuju ke arah timur.

Ciut hati dan perasaan mereka mendengar getaran suara itu, suara kemurkaan seorang Raja.

"Orang bumi Pasundan tidak pernah merasa memiliki musuh, karena orang bumi Pasundan mencintai perdamaian di atas muka bumi ini. Masih ada kesempatan hingga fajar agar mereka berpikir ulang untuk menghadapi kekuatan orang Pasundan," kata seorang tua yang datang menghampiri Raja Ragasuci.

"Terima kasih, Ayahanda, telah membukakan mata hatiku selama ini, bahwa ada ular besar hidup di istanaku ini," kata Raja Ragasuci kepada orang tua yang datang menghampirinya itu, yang ternyata adalah Sang Prabu Guru Darmasiksa, ayahandanya sendiri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment