Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 47

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 47

Raja Ragasuci turun dari kudanya, memberi isyarat agar Ki Rangga Ageng Pasek segera mendekat.

“Ampun, Tuanku Baginda Raja,” ujar Ki Rangga Ageng Pasek penuh hormat saat tiba di hadapan Raja Ragasuci.

“Mulai hari ini, kamu kuangkat sebagai seorang Senapati Agung. Persiapkan seluruh pasukanmu besok menjelang fajar untuk menghalau ular besar di hutan timur Kotaraja,” titah Raja Ragasuci kepada Ki Rangga Ageng Pasek.

“Sabda Paduka akan hamba junjung tinggi di atas kepala. Kebanggaan hamba adalah kesetiaan hamba. Perkenankan hamba menghaturkan segala kesetiaan dan pengabdian hidup hamba,” ucap Ki Rangga Ageng Pasek penuh hormat di hadapan Raja Ragasuci.

“Perkenanmu kuterima. Istirahatkan seluruh pasukanmu di barak masing-masing,” kata Raja Ragasuci kepada Ki Rangga Ageng Pasek.

Ki Rangga Ageng Pasek kemudian undur diri dari hadapan Raja Ragasuci.

Sementara itu, di dalam istana, dua pasang mata tidak pernah lepas mengamati alun-alun.

“Tidak ada tanda-tanda mereka akan menyerang istana,” ujar seorang tua berjubah pendeta.

Ternyata orang berjubah pendeta itu adalah Pendeta Gunakara, yang bersama Gajahmada mengamati suasana di atas alun-alun Kotaraja dari jarak jauh.

“Mereka yang bergerak memisahkan diri ke arah timur pastilah orang-orang yang setia kepada Patih Anggajaya, bermaksud akan bergabung dengan pasukan orang-orang Rakata di hutan timur Kotaraja,” kata Gajahmada melihat beberapa prajurit memisahkan diri dari alun-alun kota.

“Nampaknya iring-iringan yang tengah berjalan ke arah istana adalah Raja Ragasuci bersama rombongannya,” ujar Pendeta Gunakara ketika melihat sebuah rombongan berkuda berjalan menuju pintu gerbang istana Kawali.

“Mari kita songsong mereka di muka pintu gerbang,” ajak Gajahmada kepada Pendeta Gunakara untuk mendekati pintu gerbang istana Kawali.

Pendeta Gunakara lalu memberi perintah kepada seorang biksu untuk membuka lebar-lebar pintu gerbang istana Kawali yang terbuat dari kayu pilihan yang kokoh.

“Selamat datang, Paduka Baginda Raja Ragasuci,” kata Pendeta Gunakara mewakili Gajahmada menyambut kedatangan rombongan.

“Kalian telah melaksanakan tugas dengan baik. Terima kasih telah mengamankan keluarga istana,” ucap Raja Ragasuci yang telah turun dari kudanya kepada Gajahmada dan Pendeta Gunakara di depan pintu gerbang istana.

“Tanpa kalian, mungkin kami sudah berdarah-darah di hutan Sindur,” kata seorang tua yang tak lain adalah Prabu Guru Darmasiksa, yang juga telah turun dari kudanya.

Ternyata rombongan di belakang Raja Ragasuci adalah orang-orang yang dikenal oleh Gajahmada dan Pendeta Gunakara: Putu Risang, Pangeran Jayanagara, serta Jayakatwang. Ada seorang lagi yang belum dikenal oleh mereka.

“Perkenalkan, inilah Adipati Suradilaga,” ujar Prabu Guru Darmasiksa, seolah mengetahui pikiran Gajahmada dan Pendeta Gunakara.

“Ternyata Adipati Suradilaga dari Singaparna,” kata Gajahmada sambil memperkenalkan dirinya kepada Adipati Suradilaga yang ramah.

“Pasukan para biksumu begitu besar. Kuperkenankan kalian menggunakan Paseban kami,” ujar Raja Ragasuci kepada Gajahmada dan Pendeta Gunakara.

Pendeta Gunakara kemudian mendekati beberapa orang biksu agar mereka menarik diri dan mengembalikan keamanan istana kepada para prajurit Kawali.

Sementara itu, sang surya perlahan bergeser ke barat, bersandar pada awan putih tebal yang memenuhi cakrawala. Cahaya matahari terhalang oleh pohon beringin putih rindang di sisi barat bangunan Paseban Raya istana Kawali.

Di atas panggung Paseban Raya, para biksu duduk memenuhi hampir setiap sisi, bahkan sebagian duduk di bawah anak tangga. Namun, suasana di Paseban Raya itu lengang. Semua pandangan tertuju ke tengah panggung.

Gajahmada duduk di tengah panggung Paseban Raya, diapit oleh Pendeta Gunakara dan Pendeta Nathabala, yang disebut sebagai paman guru oleh Pendeta Gunakara.

“Putraku Mahesa Muksa, hari ini kami dari tempat yang amat jauh mengarungi lautan luas hanya ingin bertemu wajah denganmu, meredam kerinduan kami, hanya untuk membuktikan bahwa Guru Besar kami, Danyang Dalai Lama, masih hidup, masih ada jiwanya di alam dunia ini,” ujar Pendeta Gunakara perlahan. Suaranya terdengar oleh semua biksu.

Pendeta Gunakara kembali berkata, “Putraku Mahesa Muksa, bertahun-tahun lamanya dan secara turun-temurun, kepemimpinan kami hanya oleh satu Maha Guru yang selalu hidup kembali dalam wadag jiwa baru, seorang titisan sucinya. Dan hanya ada satu cara bagi kami secara turun-temurun untuk menguji kebenaran seorang titisan sejati,” kata Pendeta Gunakara sambil memberi isyarat tangan kepada seorang biksu.

Biksu itu membawa dua buah kotak kayu hitam ke hadapan Pendeta Gunakara.

“Putraku Mahesa Muksa, dua kotak kayu hitam ini berisi dua buah kitab ajaran suci kami. Namun, salah satunya adalah sebuah salinan biasa. Dalam kepercayaan kami, hanya guru kamilah yang dapat membedakan mana kotak kayu hitam yang berisi kitab pusaka asli,” ujar Pendeta Gunakara, memandang raut wajah Gajahmada yang tegang.

“Aku yakin kamulah titisan Guru Besar kami itu yang selama ini kubimbing sejak bayi hingga saat ini. Dan kuyakini kamulah yang dapat membedakan di mana kitab suci kami yang asli. Bukalah dan perlihatkanlah pada kami bahwa kamu sang titisan suci itu,” kata Pendeta Gunakara masih memandang Gajahmada.

Hati Gajahmada berdebar mendengar perkataan Pendeta Gunakara. Ia tidak merasa sebagai titisan guru sakti dan tidak tahu cara membedakan kedua kotak kayu hitam itu. Pikirannya berkecamuk, ragu apakah ia bisa membedakannya.

“Bila aku dapat membuka dan memilih dengan benar, maka segera mereka akan mengangkatku sebagai pemimpin mereka, tinggal dan hidup di vihara sebagai seorang biksu,” batin Gajahmada sambil memandang ragu kedua kotak kayu hitam di hadapannya.

Pandangan Gajahmada menyapu wajah para biksu yang penuh pengharapan memintanya memilih kotak kayu hitam sebagai ujian kebenaran seorang titisan guru suci. Secara turun-temurun, hanya guru suci yang dapat membedakan di mana kitab pusaka asli.

Gajahmada menarik napas panjang, mengendurkan ketegangan perasaannya. Ia mengendapkan segala akal, nalar, budi, dan hasrat kehendaknya, memusatkan diri kepada Yang Maha Hidup.

Tiba-tiba Gajahmada melihat jalan terang, cermin dirinya di ujung jalan itu. Tanpa sadar, Gajahmada melangkah memasuki jalan terang itu dan masuk ke cermin diri, manunggal dengan keakuannya. Ia seperti masuk dalam ketiadaan.

Tersadar, Gajahmada seperti berlari menyusuri lorong waktu ke belakang, melihat dan membaca seluruh buku dirinya. Ia seperti mengenali siapa dirinya, seorang Guru Suci yang telah hidup sepanjang masa mengabdikan diri di vihara suci.

Perlahan Gajahmada membuka kelopak matanya. Dengan penuh kesadaran, ia mengambil sebuah kotak kayu hitam.

“Bukalah Gunakara, kamu akan mengenali,” kata Gajahmada sambil menyerahkan kotak kayu hitam kepada Pendeta Gunakara.

Pendeta Gunakara terkesiap, merasakan tekanan suara Gajahmada berbeda dari biasanya. Tanpa sadar, ia menerima kotak kayu hitam itu. Ia menarik napas panjang mengamati kotak itu, lalu membuka kait pengancingnya.

Pandangan semua biksu tertuju pada Pendeta Gunakara yang membuka kotak kayu hitam. Ia melihat sebuah kitab suci di dalamnya. Pendeta Gunakara perlahan mencoba mengambil kitab suci itu.

Seluruh tubuh Pendeta Gunakara bergetar saat melihat sebuah benang emas menghiasi sampul kitab suci itu dengan tata lukis jalinan huruf yang indah.

“Kitab suci yang asli,” ujar Pendeta Gunakara seperti tanpa sadar.

“Benar, kitab suci yang asli,” kata Pendeta Nathabala melihat kitab suci di tangan Pendeta Gunakara.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment