Chapter 48
Begitu mendengar ucapan dua orang pendeta utama yang selama hidupnya begitu dekat dengan guru suci mereka, Damyang Dalai Lama, semua biksu di Paseban Raya itu langsung bersikap sujud penuh kehormatan di hadapan Gajah Mada.
"Perkenankan diriku, Gunakara, untuk sujud di hadapanmu, wahai titisan suci guru suci," kata Pendeta Gunakara sambil bersujud penuh penghormatan di hadapan Gajah Mada. "Perkenankan diriku, Nathabala, untuk berbakti bersamamu, wahai titisan guru suci," kata pula Pendeta Nathabala sambil bersikap sama sebagaimana Pendeta Gunakara dan semua biksu di Paseban Raya itu bersujud di hadapan Gajah Mada.
Suasana di Paseban Raya menjadi begitu lengang dan sepi. Semua orang di Paseban Raya itu tidak bergerak, bersujud di hadapan Gajah Mada yang masih terpaku seperti arca Buddha di tengah para muridnya yang terkasih.
"Bangunlah kalian, wahai para pemilik tuntunan suci, pemegang jalan kedamaian. Salam sentosa dalam damai," ucap Gajah Mada. Suaranya terdengar bukan lagi seperti Gajah Mada seorang anak muda biasa, melainkan seperti seorang pendeta tua penuh kharisma dengan sorot mata penuh kasih sayang dan raut wajah penuh kedamaian.
Mendengar suara Gajah Mada, terlihat semua biksu perlahan bergerak dari sujudnya dan kembali duduk bersimpuh.
"Salam sentosa dalam damai," jawab para biksu menyambut ucapan salam Gajah Mada, memenuhi Paseban Raya dan pekarangan sekitarnya.
"Salam sentosa dalam damai. Keagungan Gusti Yang Maha Tunggal telah dipersembahkan di hadapan kalian; telah menganugerahkan jiwaku untuk hidup dan terlahir kembali dari masa ke masa. Namun, dalam kelahirannya yang terakhir ini, ia dihidupkan di dalam sebuah wadag yang lain, jauh dibatasi laut biru dan perjalanan panjang dari Vihara pegunungan Tibet. Itu sebagai pertanda bahwa pengabdianku di bumi ini tidak lagi sebagai seorang penggembala rohani bagi jiwa-jiwa yang mencari jalan damai kesucian hati. Pengabdianku di bumi ini adalah sebagai seorang ksatria yang memerangi musuh-musuh manusia agar keadilan tetap terjaga dan kemakmuran merata dinikmati seluruh manusia di muka bumi ini," kata Gajah Mada. Ia diam sejenak sambil pandangannya menyapu wajah para biksu yang memenuhi bangunan Paseban Raya itu.
Sejenak suasana di atas bangunan Paseban Raya menjadi hening tanpa suara, seperti pemandangan di altar candi para biara yang luas dan sepi.
"Relakanlah pengabdian jiwa baruku ini. Bila saatnya tiba di penghujung umur, mungkin aku akan datang kembali menemui kalian sebagaimana jiwaku di masa silam. Selama pengabdianku di bumi tempat tapak kelahiranku ini, kutitipkan dan kupercayakan kepada seseorang di antara kalian yang kuyakini telah mewarisi seluruh ilmu pengetahuan serta nalar dan budi seorang guru suci. Dialah sang Buddha Sidharta Gunakara yang telah membimbing dan menuntunku selama ini," lanjut Gajah Mada.
Kembali keheningan memenuhi suasana di atas bangunan Paseban Raya. Terlihat semua biksu seperti bisu merenungi perkataan Gajah Mada, titisan guru suci mereka. Sementara itu, sang surya di sebelah barat Paseban Raya tampak termangu, semakin redup menuruni cakrawala langit biru di ujung senja itu. Sepasang elang terbang rendah menuju ke arah utara perbukitan, mungkin akan kembali ke sarang mereka di puncak-puncak tinggi setelah seharian mencari mangsa di padang perburuannya.
"Rombongan para pengawal Raja," ujar Pendeta Gunakara sambil memandang ke arah pekarangan Paseban Raya.
Ternyata, sebuah rombongan pasukan pengawal Raja terlihat telah mendekati Paseban Raya. Di barisan depan, Raja Ragasuci berjalan diiringi beberapa orang lainnya. Ketika mereka sudah semakin dekat, semua orang di Paseban Raya berdiri memberi penghormatan kepada Raja Ragasuci bersama rombongannya, serta memberi jalan kepada Raja dan rombongannya untuk masuk ke tengah Paseban Raya.
"Aku datang bersama sebuah perjamuan besar untuk para tamuku yang hari ini telah menyelamatkan istana dan keluargaku," kata Raja Ragasuci setelah duduk bersama di Paseban Raya dengan beberapa orang yang menyertainya, di antaranya adalah Prabu Guru Darmasiksa, Jayakatwang, Pangeran Citraganda, Putu Risang, dan Pangeran Jayanagara.
Di belakang rombongan mereka, datang pula serombongan pelayan istana membawa berbagai macam hidangan.
"Kami akan selalu mengingat keramahan orang-orang Pasundan. Pintu Vihara kami akan selalu terbuka untuk membalas keramahan yang kami terima ini," ujar Pendeta Gunakara mewakili para biksu.
Demikianlah, suasana perjamuan di atas Paseban Raya itu terlihat begitu meriah dan penuh kegembiraan. Pendeta Gunakara nampaknya seorang juru bahasa yang baik sehingga dapat melebur dua bangsa yang berbeda bahasa itu dalam sebuah keramahan. Perlahan, malam mulai menyelimuti Paseban Raya.
Di ujung perjamuan itu, Raja Ragasuci membuka pembicaraan tentang rencana mereka menghadapi para pemberontak yang masih berada di timur hutan Kotaraja Kawali.
"Ayahanda Prabu Guru Darmasiksa nampaknya punya sebuah cara untuk menghancurkan para pemberontak dari Rakata itu," kata Raja Ragasuci sambil tersenyum memandang ke arah ayahnya. Semua perhatian di atas Paseban Raya beralih ke arah Prabu Guru Darmasiksa.
"Kita akan menggempur mereka saat perut mereka kosong," ujar Prabu Guru Darmasiksa sambil tersenyum.
Mendengar perkataan itu, beberapa orang terlihat mengerutkan kening sebagai tanda belum mengerti maksudnya. "Menggempur di saat perut kosong?" tanya sebagian orang dalam hati. Melihat semua pandangan tertuju padanya, Prabu Guru Darmasiksa tetap tenang sambil mengelus janggutnya yang memutih. Ia hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke arah Gajah Mada.
"Sabarlah, akan dijelaskan. Namun bukan aku yang menjelaskannya, melainkan Mahesa Muksa yang sudah dapat membaca isi kepalaku," kata Prabu Guru Darmasiksa.
Perhatian di Paseban Raya beralih ke arah Gajah Mada. "Baiklah, aku tidak akan melempar ke orang lain lagi," ujar Gajah Mada ikut tersenyum.
Maka, perlahan Gajah Mada merinci rencana Prabu Guru Darmasiksa untuk melakukan penyerangan di saat perut kosong. Dikatakan bahwa pasukan Rakata pastinya hanya membawa perbekalan sepanjang perjalanan dari Kotaraja Rakata sampai ke Kotaraja Kawali, ditambah sekitar tiga malam beristirahat.
"Saat ini mereka sudah hampir tiga malam menghabiskan perbekalan mereka, ditambah sekitar lima ratus orang pasukan yang dibawa oleh Patih Anggajaya di hutan timur Kotaraja Kawali, pastinya akan membuat persediaan mereka semakin menipis," kata Gajah Mada berhenti sebentar sambil menyapu pandangan ke semua orang. "Kita hanya menunggu mereka keluar hutan seperti serigala lapar yang akan merampok di sekitar padukuhan terdekat. Saat itulah kita gunting jalan mereka dan menyergap pasukan yang kelaparan itu di hutan persembunyiannya."
"Sebuah rencana perang yang hebat," puji Jayakatwang.
"Terima kasih telah menguraikan isi kepalaku, tapi jujur kukatakan bahwa Mahesa Muksa nampaknya lebih sempurna lagi mengurai rencanaku dengan menambahkan pengguntingan hasil perampokan mereka di padukuhan terdekat. Dan aku menyukai penyempurnaan itu," kata Prabu Guru Darmasiksa sambil mengacungkan jempol ke arah Gajah Mada.
"Hari ini aku telah mendapat laporan dari petugas telik sandi bahwa kekuatan mereka ada sekitar seribu lima ratus orang. Untuk mengimbangi mereka, aku akan menurunkan dua ribu pasukanku," kata Raja Ragasuci.
"Bila dibutuhkan, seribu biksu akan siap membantu para prajurit Kawali," tawar Pendeta Gunakara.
"Terima kasih, entah dengan apa kami dapat membalas budi kebaikan kalian," ujar Raja Ragasuci.
"Anggap saja kami sebagai orang yang kebetulan lewat dan melihat sebuah keluarga yang memerlukan bantuan," jawab Pendeta Gunakara.
"Sebagai langkah awal, besok pagi kita sudah dapat menurunkan beberapa orang di sekitar padukuhan terdekat untuk menunggu sekumpulan serigala kelaparan keluar dari hutan persembunyiannya," ujar Prabu Guru Darmasiksa.
"Izinkan cucunda ikut dalam pasukan penyergap itu," kata Pangeran Citraganda.
"Kita memang perlu anak muda untuk penyergapan itu. Mahesa Muksa, Pangeran Jayanagara, dan Putu Risang akan menemani Pangeran Citraganda," tutur Prabu Guru Darmasiksa.
"Kita memang tidak perlu pasukan besar untuk penyergapan awal. Izinkan hamba membawa sepuluh biksu terbaik," usul Gajah Mada kepada Raja Ragasuci.
"Kepemimpinan sekelompok pasukan penyergap itu kuserahkan kepadamu, Mahesa Muksa," kata Raja Ragasuci yang sudah mulai menyukai sikap Gajah Mada yang dilihatnya berbakat besar menjadi pemimpin.
Sementara itu, malam merayap menyelimuti Paseban Raya. Namun, suasana percakapan masih terus berlanjut. Banyak hal yang mereka putuskan bersama tentang rencana penyerangan para pemberontak dari Rakata, di antaranya tentang tanda-tanda khusus prajurit yang harus dibedakan, serta bendera dan umbul-umbul di medan perang sebagai bahasa isyarat mereka.
"Nampaknya suasana di Paseban Raya ini sudah menjadi begitu dingin, atau karena usiaku?" kata Prabu Guru Darmasiksa ketika mereka merasa sudah mendapatkan beberapa kesepakatan.
"Ayahandaku memang sangat pandai berbahasa halus. Maksudnya, hari sudah cukup malam dan kita memang perlu beristirahat," kata Raja Ragasuci sambil tersenyum mencoba menerjemahkan ucapan ayahnya.