Chapter 49
Demikianlah, Raja Ragasuci bersama rombongannya telah meninggalkan Paseban Raya.
"Aku akan mengutus seorang prajurit untuk membawakan pakaian untukmu," bisik Pangeran Citraganda kepada Gajah Mada ketika hendak pergi mengikuti rombongan Raja Ragasuci.
"Terima kasih," jawab Gajah Mada dengan wajah penuh senyum. Ia baru menyadari bahwa dirinya masih mengenakan pakaian tahanan, pakaian yang sama dengan yang dikenakan oleh para biksu dari Tibet itu.
Sementara itu, dua pohon beringin putih yang mengapit bangunan Paseban Raya di sisi kiri dan kanan pada malam itu terlihat seperti raksasa kembar yang suram. Kegelapan yang pekat sedikit mengurangi hempasan angin dingin malam yang dirasakan para biksu yang beristirahat di panggung Paseban Raya tersebut.
Beberapa orang biksu mungkin karena lelahnya sudah terlihat tertidur pulas, sementara yang lainnya masih berbincang-bincang mengisi malam yang dingin dan sepi.
"Aku akan menyertakan sepuluh biksu terbaik untukmu besok pagi," ujar Pendeta Gunakara kepada Gajah Mada yang masih terjaga.
"Terima kasih," jawab Gajah Mada kepada Pendeta Gunakara.
"Hari-hariku terasa begitu cepat. Kita akan berpisah jauh, dibatasi lautan," ucap Pendeta Gunakara kepada Gajah Mada.
"Di ujung umurku, mungkin aku akan datang menemuimu untuk mengisi hari-hari tuaku di sana," kata Gajah Mada penuh haru sambil memandang wajah orang tua di hadapannya itu, yang selama ini selalu hadir di sisinya sebagai pengasuh yang tulus dan penuh kasih sayang.
Sementara itu, langit malam di atas Paseban Raya terlihat buram dipenuhi awan gelap. Tampaknya sebentar lagi hujan akan turun. Perlahan, terdengar suara rintik hujan di atas istana Kawali yang kemudian melebar membasahi jalan-jalan kotaraja. Hujan malam membuat suasana menjadi begitu lengang dan kelam.
Tidak ada seorang pun yang melihat sesosok bayangan mendekati dinding pagar bagian belakang kediaman Patih Anggajaya. Begitu mudahnya sosok bayangan itu memanjat dinding pagar batu tersebut. Ketika memastikan tidak ada yang melihat, ia melompat dan merapat di dinding pagar batu bagian dalam.
Sosok bayangan itu tidak menyadari ada sepasang mata yang mengintainya dari sebuah tempat tersembunyi.
"Aku tidak sendiri," gumam pemilik sepasang mata itu dalam hati setelah melihat sosok bayangan tersebut melesat mendekati sebuah bangunan bilik di bagian belakang kediaman Patih Anggajaya.
"Apa yang dicari orang itu?" tanyanya kembali saat melihat sosok tersebut tengah mengintip lewat bilik bambu untuk memastikan apakah penghuninya sudah tertidur. Perlahan, orang itu pun bergeser membayangi langkah si pendatang yang kini mendekati pintu bilik.
"Bibi Ijah, cepat buka pintunya. Aku Bango Samparan," bisik sosok bayangan itu sambil mengetuk pintu kayu bilik tersebut.
Rupanya, setelah mengintip dari celah bambu dan memastikan penghuninya memang belum tertidur, Bango Samparan memberanikan diri untuk memanggilnya.
"Tuan Bango Samparan?" tanya Bibi Ijah terkejut mendengar nama itu.
"Benar, aku Bango Samparan. Bukalah pintunya," jawab sosok itu.
Pintu kayu tersebut perlahan bergerak terbuka. Cahaya pelita di dalam bilik menerangi wajah sosok bayangan itu. Ternyata benar, dia adalah Bango Samparan, sang majikan Rawa Rontek.
"Apakah Bibi Ijah masih mengenaliku?" tanya Bango Samparan kepada wanita tua yang menjengukkan wajahnya.
"Lama sekali hamba tidak melihat Tuan, tapi hamba tidak akan melupakan wajah Tuan," jawab Bibi Ijah, pengasuh Nyi Dewi Kaswari yang sangat setia.
"Aku hanya sebentar, ingin memberi kabar tentang Andini," ujar Bango Samparan.
"Setiap hari, Nyi Mas Dewi Kaswari selalu memikirkan keadaan Andini," sahut Bibi Ijah sambil membuka pintu lebih lebar.
"Seseorang telah melukainya. Untunglah Mahesa Muksa dapat membawanya ke padepokan Prabu Guru Darmasiksa dan berhasil menawarkan racun di lukanya," tutur Bango Samparan menceritakan kepergian Andini bersama Mahesa Muksa.
"Bagaimana keadaan gadis itu sekarang?" tanya Bibi Ijah dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Sudah berangsur sembuh," jawab Bango Samparan. Bibi Ijah menarik napas lega.
"Siapakah orang keji yang melukai gadis tidak berdosa itu?" tanya Bibi Ijah sambil memicingkan matanya.
"Sayang, sampai saat ini kami belum dapat mengetahui siapa orang itu," ucap Bango Samparan dengan wajah penuh dendam. Seandainya saja ia ikut ke Hutan Sindur bersama Prabu Guru Darmasiksa, ia pasti sudah mengetahui bahwa pelakunya tidak lain adalah Pendeta Rakanata.
"Kabarkan kepada Dewi Kaswari bahwa Andini berada di tempat yang aman bersamaku. Maaf, aku harus segera pergi sebelum diketahui siapa pun," pamit Bango Samparan.
"Hamba akan menyampaikan pesan Tuan bahwa putrinya dalam keadaan baik-baik saja. Berhati-hatilah," ucap Bibi Ijah sambil memandang kepergian Bango Samparan dengan perasaan haru.
Pintu bilik kembali rapat. Bango Samparan berbalik dan melangkah mengendap-endap menuju dinding pagar. Setelah memastikan keadaan aman, dengan satu ayunan kaki, tubuhnya melesat melompati dinding pagar kediaman Patih Anggajaya.
"Dosa apa yang telah mengkarma diriku ini? Gadis yang kulukai itu ternyata keturunanku sendiri, putri Dewi Kaswari," bisik seseorang di tempat persembunyiannya yang sedari tadi mencuri dengar pembicaraan mereka.
Siapakah orang yang bersembunyi dalam kegelapan itu? "Lelaki itu pasti punya hubungan khusus dengan Dewi Kaswari dan gadis itu," batinnya sambil melesat mengikuti arah kepergian Bango Samparan.
Di bawah guyuran hujan, orang itu terus membayangi langkah Bango Samparan. Malam itu hujan turun sangat lama, namun Bango Samparan membiarkan tubuhnya basah kuyup. Baru setelah melewati gerbang batas kotaraja sebelah selatan, ia memperlambat langkahnya.
"Orang ini tampaknya memang sedang menuju lereng Gunung Galunggung," gumam sang pembayang dari jarak tersembunyi.
Bango Samparan terus berjalan memasuki jalan mendaki di sebuah hutan lebat. Meski hujan mulai reda, orang yang membuntutinya tetap waspada dengan penglihatan yang tajam. Bango Samparan masih belum menyadari bahwa dirinya sedang diikuti, bahkan saat hari mulai menjelang pagi.
"Aku seperti pernah mengenali orang ini," batin si pengejar saat hari sudah terang. "Sekarang aku ingat! Dia salah satu dari dua pengembara muda yang mencoba mendekati Dewi Kaswari di Kotaraja Rakata beberapa tahun silam. Dialah yang membawa Dewi Kaswari keluar dari sana."
Saat itu, Bango Samparan berhenti dan bersandar di sebuah pohon rindang untuk berjemur di bawah matahari pagi.
"Hari ini pasti Bibi Ijah sudah mengabarkan keadaan Andini kepada Dewi Kaswari. Semoga ia tidak merisaukannya lagi," harap Bango Samparan dalam hati. "Di Rawa Rontek, kita akan menjalin kembali masa-masa indah itu bersama Andini. Kita akan menjadi keluarga kecil yang bahagia di tempat yang jauh dari keramaian."
Namun, lamunannya buyar saat ia melihat sesosok tubuh sudah berdiri di hadapannya dengan senyum penuh kebencian.
"Siapa kamu?" tanya Bango Samparan terkejut dan langsung berdiri.
"Aku dewa pencabut nyawa," jawab orang itu dengan senyum dingin.
Bango Samparan mengamati sosok di hadapannya; seorang pria tua berjubah pendeta.