Chapter 50
"Dari pakaiannya terlihat seorang pendeta, namun wajahnya begitu mengerikan, penuh dengan kebencian," ujar Bango Samparan dalam hati setelah sekilas mengamati orang di hadapannya itu.
"Siapakah Tuan, dan adakah sebuah keperluan Tuan yang dapat aku bantu?" tanya Bango Samparan kepada orang itu setelah merasa hilang rasa terkejutnya dan dapat menenangkan perasaan hatinya.
"Sudah kukatakan bahwa aku adalah dewa pencabut nyawa yang datang pagi ini untuk menjemputmu," jawab orang itu dengan wajah dingin dan sorot mata yang tajam penuh kebencian.
"Kalau begitu, Tuan salah alamat. Di depan kepalaku ini ada dua buah user-user; orang tua bilang aku akan mati di air dan bukan di hutan ini," sahut Bango Samparan sambil tersenyum, ia sudah dapat menguasai perasaan hatinya.
"Kamu benar, di dekat hutan ini ada kedung yang cukup dalam untuk menenggelamkanmu sampai napasmu habis dan perutmu buncit dipenuhi air kedung itu," ujar orang itu masih dengan wajah dan tatapan mata yang sama, bahkan terlihat semakin menyeramkan dengan hawa pembunuhan.
"Tuan sekali lagi salah, aku bukan orang lemah yang membiarkan diriku diseret dengan mudah ke dalam kedung itu," balas Bango Samparan dengan wajah yang mulai kurang senang, namun ia masih dapat mengekang perasaannya.
"Kamu tidak bertanya mengapa aku ingin membunuhmu?" tanya orang itu kepada Bango Samparan dengan sikap yang masih dingin.
"Entah mataku yang salah atau perasaanku yang keliru. Kulihat Tuan sebagai seorang pendeta, namun ucapan Tuan seperti orang kasar yang biasa kutemui di pasar bersama para begundal," kata Bango Samparan yang mulai tidak sabaran dan merasa muak menghadapi orang itu.
"Nampaknya aku berhadapan dengan seorang lelaki pemberani, namun sebelum kucabut nyawamu, aku ingin bertanya apa hubunganmu dengan Dewi Kaswari dan Andini," ujar orang itu dengan wajah yang semakin dingin.
Tersentak kaget Bango Samparan mendengar pertanyaan orang di hadapannya itu. Terlihat ia mengerutkan kening, mencoba mengamati orang berjubah pendeta itu dengan saksama lagi, siapa tahu dirinya pernah mengenali orang itu. Namun, Bango Samparan merasa tidak pernah berjumpa dan mengenalinya.
"Siapa dirimu dan apa kepentinganmu bertanya kepadaku tentang hal itu?" tanya Bango Samparan kepada orang itu.
"Aku pernah tinggal di istana Rakata, orang menyebutku sebagai Pendeta Rakanata. Dan akulah ayah kandung dari Dewi Kaswari," ujar orang berjubah pendeta itu menyebut jati dirinya.
"Tuan berbohong besar, ayah Dewi Kaswari adalah seorang raja dan bukan seorang pendeta," sanggah Bango Samparan, menganggap orang di hadapannya itu telah berbohong.
"Terserah kamu percaya atau tidak, sekarang jawab pertanyaanku, apa hubunganmu dengan Dewi Kaswari dan Andini?" kata Pendeta Rakanata dengan sikap mengancam.
"Suaramu penuh dengan ancaman, tapi aku berkata yang sebenarnya bukan karena takut. Ketahuilah bahwa Andini adalah anak kandungku dan Dewi Kaswari adalah ibu kandung yang melahirkannya," jawab Bango Samparan dengan wajah menengadah tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Bersiaplah untuk mati hari ini. Kesempatanku untuk mempunyai keturunan seorang raja telah punah bersama pasukan Patih Anggajaya yang pasti tidak akan berdaya menghadapi kekuatan Raja Ragasuci. Aku akan membawa pergi Dewi Kaswari dan Andini bersama. Untuk itu, aku harus membunuhmu agar kamu tidak menjadi duri dalam kehidupan kami nanti," ucap Pendeta Rakanata dengan wajah dingin memandang ke arah Bango Samparan.
"Seandainya Tuan benar adalah ayah kandung Dewi Kaswari, aku tidak akan membiarkan anak dan istriku itu ikut bersama orang berwajah iblis seperti Tuan," tantang Bango Samparan.
"Anakku, Dewi Kaswari, harus bersuami seorang raja, bukan dengan seorang gembel sepertimu. Itulah alasan aku membunuhmu," ujar Pendeta Rakanata yang langsung menerjang dengan cengkeraman kedua tangannya, seperti terbang mengarah ke leher Bango Samparan.
Ternyata Bango Samparan bukan anak kecil yang mudah digertak. Tingkat ilmu Bango Samparan bukan main-main dan ia sudah cukup terlatih. Dengan gesit dan lincah, ia berpindah tempat dan langsung melakukan serangan balasan.
Melihat Bango Samparan dengan mudah berkelit dan melakukan serangan balik, Pendeta Rakanata menghentakkan serangannya lebih dahsyat dan cepat lagi. Kali ini serangannya mengarah ke batok kepala Bango Samparan dengan sebuah tamparan yang keras.
Berdebar dada Bango Samparan, meskipun telah berhasil menghindari tamparan maut itu, ia tetap merasakan angin hawa panas menyapu wajahnya. Terlihat Bango Samparan terhuyung beberapa langkah dari tempatnya berdiri.
"Aku tidak boleh bertangan kosong," batin Bango Samparan, ia pun melepas pedang panjang dari sarungnya.
Melihat Bango Samparan telah menggenggam pedang panjang, Pendeta Rakanata hanya mendengus meremehkan.
"Rentangkan pedangmu dan pilih tubuhku yang paling lunak," tantang Pendeta Rakanata. Tanpa menunggu serangan Bango Samparan, ia bergerak seperti seekor rajawali yang menerkam mangsa.
Terlihat Bango Samparan berkelit menghindari sambaran kaki Pendeta Rakanata, lalu membalas dengan kibasan pedang panjangnya. Dengan pedang itu, Bango Samparan mampu mengimbangi jurus-jurus maut pendeta berhati kelam tersebut sekaligus menjaga jarak dari hawa panas yang menyengat kulitnya.
Hingga ratusan jurus, Pendeta Rakanata tidak juga dapat menguasai pertempuran karena Bango Samparan selalu menjaga jarak serangnya. Wajah Pendeta Rakanata memerah menahan amarah yang meledak-ledak.
"Sampai di mana kemampuan tertinggi orang ini?" batin Pendeta Rakanata sambil menghentakkan ilmunya setingkat lebih tinggi lagi. Bango Samparan merasakan daya gempur pendeta itu terasa lebih dahsyat, lebih cepat, dan hawa panas dari serangannya pun semakin menyengat. Peluh membasahi tubuh Bango Samparan.
"Manusia tidak tahu diri ini harus kujebak dengan permainan dekat," pikir Pendeta Rakanata. Saat Bango Samparan membalas serangannya dengan membacokkan pedang seperti membelah bumi, pendeta itu melihat kesempatan. Pendeta bermata elang itu tidak bergeming membiarkan pedang lawannya terayun turun di atas kepalanya.
Begitu pedang Bango Samparan hanya berjarak dua jari di atas kepalanya, Pendeta Rakanata bergeser dengan sangat cepat. Entah dari mana, tangan kanannya telah menggenggam sebuah senjata.
Trang!
Pedang panjang Bango Samparan beradu dengan senjata pendek di tangan Pendeta Rakanata. Daya serang itu luar biasa hingga membuat Bango Samparan terlempar tiga langkah ke belakang. Matanya terbelalak melihat pedang panjangnya sudah buntung terbagi dua.
Berdebar dada Bango Samparan melihat Pendeta Rakanata tidak berusaha mengejarnya, hanya berdiri dengan senyum dingin sambil menggenggam senjata pendek itu.
"Kujang Pangeran Muncang!" seru Bango Samparan mengenali senjata tersebut.
"Matamu sangat jeli mengenali sebuah senjata pusaka," sahut Pendeta Rakanata, merasa di atas angin.
"Jadi, Tuan sendiri yang telah melukai Andini di rumah kediaman Patih Anggajaya?" tanya Bango Samparan dengan mata terbelalak.
"Berbangga hatilah, senjata ini telah banyak menewaskan para ksatria. Sebentar lagi kamulah yang akan tewas olehnya," ucap Pendeta Rakanata dengan sinar mata yang mengerikan.
"Jangan salah artikan sikapku. Aku tidak pernah gentar sedikit pun dengan senjata pusaka hasil rampasanmu itu. Aku hanya takut melihat dosa-dosa Tuan di balik jubah pendeta itu," ujar Bango Samparan dengan dada membusung.
Pantang bagi Pendeta Rakanata mendengar cemoohan yang langsung membuka aib kependetaannya—rahasia pribadi yang selama ini ia tutup rapat-rapat. Sebenarnya Bango Samparan hanya asal ucap, namun kata-kata itu berhasil memicu kemarahan besar pada diri sang pendeta.
"Hanya dengan sedikit goresan dapat melepas nyawa orang, tapi aku akan mencincang dirimu dengan senjata ini," ancam Pendeta Rakanata dengan mata elang yang tajam menusuk.
"Dengan pedang buntung ini pun aku masih dapat mengimbangimu," tegas Bango Samparan, ia berhasil menguasai kembali perasaannya.
Wusss!