Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 51

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 51

Angin serangan Pendeta Rakanata melesat seperti kawah berapi, menyentuh kulit Bango Samparan yang masih dapat berkelit menghindari murka sang pendeta yang ingin menghabisi nyawanya. Berkali-kali Bango Samparan harus melompat jauh demi menghindari hawa panas serangan tersebut.

Peluh telah membasahi wajah dan tubuh Bango Samparan. Meski masih dapat bertempur, tenaga dan daya tahan tubuhnya telah merosot. Dalam sebuah serangan, ia tak sempat menghindari benturan senjata lawannya yang dikenal sebagai pusaka keramat, sangat kuat, dan tajam mengalahkan besi waja apa pun.

Trangg!

Untuk kedua kalinya terdengar suara dua senjata beradu. Bango Samparan terbelalak menyaksikan pedang panjangnya tak lagi bisa disebut pedang, melainkan hanya sisa pisau belati sepanjang sejengkal dari pegangan tangannya. Namun, Bango Samparan bukanlah pengecut; ia adalah lelaki sejati yang malang melintang menghadapi berbagai bahaya.

"Aku masih sanggup menghadapi Tuan," ujar Bango Samparan sambil melempar pedang kutungnya.

"Bagus, baru kali ini aku berhadapan dengan lawan yang tidak takut mati," balas Pendeta Rakanata sambil mengangkat senjata kujang di tangannya, seakan memberi peringatan agar Bango Samparan berhati-hati.

Setelah berbicara, Pendeta Rakanata tampak tidak sabaran untuk mencincang lawannya. Bango Samparan terpaksa berulang kali berkelit menghindari serangan senjata kujang tersebut. Sulit dibayangkan kesulitan yang dihadapi Bango Samparan. Dengan pedang yang sudah buntung, ia harus berjibaku mengimbangi jurus-jurus maut lawannya, sementara ia kini harus bertempur hampir tanpa senjata.

Pertempuran itu sudah dapat dibaca; Pendeta Rakanata berada di atas angin dan mampu menguasai keadaan. Bango Samparan tidak kuasa lagi mengikuti gaya bertempur lawan yang memaksanya ke dalam pertempuran jarak pendek. Napasnya tersengal dan tenaganya melemah, namun ia tetap bertahan.

Hingga akhirnya, dalam sebuah serangan yang kuat dan cepat, Bango Samparan pasrah melihat kujang lawan terayun ke arah batang lehernya. Ia sengaja tidak mengelak, namun lelaki pemberani itu tidak mau mati dengan mata terpejam. Dengan gagah, matanya tetap terbuka menatap senjata pusaka raja-raja Pasundan itu nyaris menyentuh lehernya.

Tiba-tiba, Bango Samparan terperanjat melihat senjata pusaka sakti itu meleset dan terlempar jauh. Pendeta Rakanata sepuluh kali lebih terperanjat. Ternyata, sebuah batu kerikil kecil telah menyentuh senjatanya saat tangan sang pendeta hendak melukai leher Bango Samparan. Seketika itu pula, tangan sang pendeta terasa panas, bergetar, dan kehilangan kendali hingga senjatanya terlepas.

Pendeta Rakanata mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi, menyadari ada seseorang sakti yang mampu menggetarkan tangannya hanya dengan lemparan batu kerikil kecil.

"Pendeta Rakanata, bertobatlah selagi masih ada kesempatan hidup untukmu," ucap seseorang yang tiba-tiba muncul di antara mereka.

Bango Samparan memandang lelaki tua seusianya yang berdiri tak jauh darinya. Lelaki itu berjubah layaknya seorang pendeta, serupa dengan yang dikenakan Pendeta Rakanata, namun kainnya tampak lebih lusuh. Wajah orang itu lembut, cerah, dan bibirnya selalu basah dengan senyuman.

"Siapa kamu?" tanya Pendeta Rakanata.

"Pemahamanmu terhadap kitab Tantra hanya sebatas rangkaian huruf yang indah. Itulah sebabnya kitab yang kauhafal itu tidak dapat melindungi nafsu binatangmu sendiri. Sudah begitu banyak wanita menjadi korbanmu," ujar orang itu dengan suara perlahan namun terdengar tajam.

"Siapa kamu?" tanya Pendeta Rakanata kembali, penasaran akan sosok yang mengetahui pribadi buruknya.

"Akulah bayi lelaki putra Raja Rakata yang kaubuang di sebuah hutan," jawab orang itu.

Pendeta Rakanata terkejut bukan kepalang. "Kamu telah mencoba mengubah ketetapan Yang Maha Berkehendak, mencoba menukar anakmu agar menjadi ningrat terhormat. Bertahun-tahun kucoba menelusuri jati diriku yang berawal sebagai bayi merah di pinggir hutan. Akhirnya, kutemui ujung dari awal itu, menemukan dirimu sebagai hal ihwal dari semuanya. Kutahan kemarahan ini karena berharap waktu dapat mengubahmu. Namun, sampai hari ini, kamu masih tidak dapat mengendalikan sifat kebinatangan dalam dirimu sendiri."

"Ternyata kamu adalah bayi putra Raja Rakata itu," kata Pendeta Rakanata sambil tertawa panjang.

"Lekaslah pergi dari mataku sebelum aku berubah pikiran," bentak orang itu, berusaha meredam amarahnya.

Jiwa Pendeta Rakanata yang culas dan licik segera mengukur kemampuan dirinya. Ia sadar tak mungkin melawan orang tersebut. "Benturan kerikil kecil itu membuktikan kemampuannya yang tak terlawan olehku. Aku akan pergi," batinnya.

"Kukatakan bahwa ini adalah pertemuan pertama kita. Esok hari, aku mungkin sudah berubah pikiran dan akan mengakhiri petualanganmu," ujar orang itu saat melihat Pendeta Rakanata berjalan menunduk dan menghilang di kerimbunan hutan.

"Bawalah kujang itu dan serahkan kepada Prabu Guru Darmasiksa. Bukankah tujuanmu ke lereng gunung padepokannya?" kata orang itu kepada Bango Samparan.

Bango Samparan segera mengambil kujang yang tergeletak di tanah. "Tuan telah menyelamatkan hamba. Siapakah gerangan nama Tuan agar hamba dapat bercerita tentang budi ini kepada keturunan hamba?"

Orang itu memandang Bango Samparan dengan welas asih. "Aku hanya kebetulan lewat. Budi dan karma ini hanyalah sebab-akibat. Mungkin saja leluhurmu pernah berbuat yang sama. Sudah lama aku melupakan namaku sendiri; beberapa orang menyebutku sebagai Pertapa dari Gunung Wilis."

Bulu roma Bango Samparan berdesir. Dalam kedipan mata, orang itu sudah tidak ada di tempatnya. "Hanya manusia setengah dewa yang dapat terbang dan menghilang seperti itu," gumamnya dalam hati.

Bango Samparan bersiap melanjutkan perjalanan menuju lereng Gunung Galunggung yang membiru di bawah sinar matahari siang. "Pendeta Rakanata mengatakan bahwa Dewi Kaswari adalah putri kandungnya sendiri, sementara orang itu meyakinkan bahwa Pendeta Rakanata telah dengan sengaja menukar bayi Raja Rakata," pikirnya.

"Haruskah rahasia besar ini kuceritakan kepada Dewi Kaswari dan Andini?" Pertanyaan itu berputar di kepala Bango Samparan saat ia menimbang baik-buruknya. Tanpa terasa, ia sudah berada di kaki Gunung Galunggung yang hijau menjulang menyentuh awan. Matahari telah bergeser dari puncaknya saat Bango Samparan memasuki hutan pegunungan yang mendaki.

Sementara itu, di sebuah hutan lain, sekelompok orang sedang berjalan. Di antara mereka, terdapat sepuluh orang yang berkulit lebih cerah dari orang pribumi bumi Pasundan. Mereka adalah Gajah Mada dan kelompok pasukan penyergapnya yang bertugas memata-matai pemberontak Pasukan Rakata yang bersembunyi di sekitar hutan timur Kotaraja Kawali.

Kesepuluh orang asing itu adalah biksu terbaik dari Tibet yang sengaja diikutsertakan oleh Gajah Mada. Bersama mereka, ada tiga orang muda: Pangeran Citraganda, Pangeran Jayanagara, dan seorang lagi yang tampak lebih tua, bertubuh kekar, kokoh, dan kuat akibat latihan berat selama hidupnya. Dialah Putu Risang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment