Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 52

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 52

Seorang pemuda yang memiliki kesaktian sangat tinggi sangat jarang ada yang dapat menyamainya pada zaman itu, selain Patih Mahesa Amping yang tidak lain adalah gurunya sendiri, yang saat itu telah ditugaskan menjadi seorang patih di tanah Kediri.

"Kita berjalan melambung menghindari hutan timur Kotaraja agar tidak terlihat oleh Pasukan Rakata yang saat ini masih berada di sana," ujar Pangeran Citraganda yang ikut dalam pasukan penyergap itu, seolah mengenal betul tiap jengkal tanah di Bumi Pasundan tersebut.

Semua orang dalam pasukan itu tampaknya sangat memercayai Pangeran Citraganda atas penguasaan dan pengenalannya pada medan hutan di sekitar Kotaraja Kawali itu. Terlihat mereka mengikuti ke mana pun langkah kaki Pangeran Citraganda melangkah.

"Di ujung jalan ini kita akan menemukan sebuah padukuhan yang terdekat dengan hutan timur Kotaraja," kata Pangeran Citraganda memberikan keterangan tentang arah perjalanan mereka.

"Bukankah kita tidak perlu berada di padukuhan itu?" sahut Putu Risang, mencoba mengingatkan tentang tugas mereka sebagai pasukan khusus.

"Benar, tugas kita adalah menyergap mereka yang keluar mencari tambahan perbekalan. Dan kita harus berada di antara padukuhan dan hutan timur itu," tegas Gajahmada.

Demikianlah, akhirnya mereka dapat menemukan tempat yang baik untuk mengintai di antara kedua tempat tersebut. Namun, hingga malam menjelang, mereka tidak juga mendapati orang-orang Rakata keluar dari hutan persembunyian mereka.

"Tampaknya persediaan mereka masih cukup banyak," duga Pangeran Citraganda setelah sekian lama mengintai di tempat persembunyian.

"Malam masih sangat panjang," sahut Putu Risang sambil tersenyum melihat kegelisahan hati Pangeran Citraganda.

"Atau mungkin mereka keluar mencari padukuhan yang lain," timpal Pangeran Citraganda lagi.

Mendengar ucapan Pangeran Citraganda, terlihat Pangeran Jayanagara dan Gajahmada saling beradu pandang. Mungkin telinga mereka mulai risih mendengar sikap Pangeran Citraganda yang penuh keraguan seolah mereka berada di tempat yang kurang tepat. Meski begitu, mereka berdua tidak berkata apa pun; mereka masih menghargai Pangeran Citraganda sebagai tuan rumah di Bumi Pasundan itu.

Namun, Putu Risang masih menanggapi keraguan Pangeran Citraganda dengan cara lain, mencoba mengalihkan arah pembicaraan. "Pangeran Citraganda pernah berburu babi hutan?" tanya Putu Risang.

"Aku sangat senang berburu babi hutan," jawab Pangeran Citraganda.

"Pangeran Citraganda pernah berburu badak bercula satu?" tanya Putu Risang kembali. Pangeran menggelengkan kepalanya.

"Berburu babi hutan harus memiliki kesabaran yang kuat, sementara berburu badak bercula satu harus memiliki kesabaran yang jauh lebih kuat lagi," ujar Putu Risang kepada Pangeran Citraganda.

Mendengar perkataan Putu Risang itu, terlihat Gajahmada dan Pangeran Jayanagara kembali saling beradu pandang. Sepertinya mereka berdua sudah dapat mengerti ke mana arah pembicaraan Putu Risang.

"Mengapa harus memiliki kesabaran yang berbeda untuk dua perburuan tersebut?" tanya Pangeran Citraganda.

"Perbedaannya adalah babi hutan selalu berjalan setiap malam di tempat yang sama, kita hanya perlu sabar menunggu waktu yang tepat. Sementara badak bercula satu tidak akan berjalan ke tempat yang sama setiap harinya, dan kita harus lebih bersabar lagi menunggu keberuntungan itu datang," jelas Putu Risang.

Gajahmada dan Pangeran Jayanagara kembali saling beradu pandang, memahami bahwa Putu Risang sedang membuat perumpamaan bahwa saat ini mereka tengah memburu sekelompok manusia yang jauh lebih cerdik daripada seekor babi hutan atau badak bercula satu.

"Bila ada kesempatan, aku akan mencoba berburu badak bercula satu," kata Pangeran Citraganda yang merasa tertarik dengan cerita perburuan itu.

Gajahmada dan Pangeran Jayanagara kembali beradu pandang. Air muka keduanya menunjukkan kekesalan karena Pangeran Citraganda masih juga tidak memahami perumpamaan dan sindiran halus dari Putu Risang. Meski begitu, mereka enggan menanggapi sikap tersebut karena takut menyinggung perasaan sang tuan rumah.

"Aku mendengar sebuah suara mencurigakan," ujar Gajahmada tiba-tiba.

"Aku tidak mendengar suara apa pun," kata Pangeran Citraganda.

Sementara itu, Putu Risang dan Pangeran Jayanagara sudah mulai menduga Gajahmada pasti hanya sedang berkelakar.

"Aku mendengar suara kera muda yang gelisah," kata Gajahmada sambil mencoba mengarahkan daun telinganya agar mendengar lebih jelas.

"Benar, aku juga mendengarnya. Kasihan sekali kera muda itu," sahut Pangeran Jayanagara.

Melihat kedua muridnya berbicara iseng hanya untuk mengerjai Pangeran Citraganda, Putu Risang tidak berkata apa-apa, ia hanya tersenyum dalam hati melihat kenakalan kedua muridnya itu.

"Aku tidak mendengar apa pun," kata Pangeran Citraganda dengan penasaran.

"Sekarang memang sudah semakin menjauh, mungkin tertinggal oleh kelompoknya yang pergi mencari buah matang di tempat baru," ujar Gajahmada kepada Pangeran Citraganda.

"Menurutku belum pergi jauh, aku mendengar suara dengkurnya," sahut Pangeran Jayanagara ikut menanggapi permainan Gajahmada.

"Kalau suara itu aku juga mendengarnya, menurutku itu hanya suara dengkur salah seorang biksu," kata Pangeran Citraganda.

"Kamu benar, itu bukan suara kera muda, tapi suara dengkur salah seorang biksu yang lelah hingga tertidur di atas pohon," sahut Gajahmada, ditanggapi tawa oleh Pangeran Jayanagara. Sementara itu, Putu Risang diam-diam tersenyum dalam hati, terhibur dengan gaya canda kedua muridnya.

Malam pun perlahan semakin larut bersama suara binatang hutan yang sesekali memecah kesenyapan.

"Para kera dari Rakata tampaknya sudah mulai kelaparan malam ini," ujar Putu Risang.

Mendengar itu, Gajahmada, Pangeran Jayanagara, dan Pangeran Citraganda dari tempat persembunyian memasang telinga lebih peka lagi. Sementara itu, sepuluh orang biksu terlihat semakin siaga di atas pohon persembunyian mereka. Tampaknya mereka juga mendengar suara langkah banyak orang yang sedang mendekat.

Pangeran Citraganda berusaha menahan napas ketika melihat banyak orang berjalan di kegelapan malam. "Tampaknya arah mereka adalah padukuhan terdekat di pinggir hutan ini," bisik Pangeran Citraganda kepada Putu Risang.

"Kita sergap mereka sebelum mencapai padukuhan itu, kasihan para warga yang harus menyerahkan lumbung hasil taninya kepada orang-orang Rakata," usul Pangeran Jayanagara.

"Bagaimana menurutmu Mahesa Muksa, kamulah pemimpin pasukan ini," kata Putu Risang meminta keputusan Gajahmada.

"Sebuah usul yang baik. Kita sergap mereka sebelum membuat susah warga padukuhan," tegas Gajahmada sambil keluar dari persembunyian.

Terdengar suara burung hantu tiga kali; suara itu berasal dari salah seorang biksu yang meminta kawan-kawannya keluar dari persembunyian. Setelah pasukan kecil berkumpul, Gajahmada memberi isyarat agar mereka mengikuti arah perginya orang-orang Rakata. Dengan langkah cepat dan tanpa suara, pasukan kecil itu membayangi musuh.

"Jumlah mereka berkisar sekitar lima puluh orang lebih," bisik Gajahmada.

"Kita sergap mereka di tempat agak terbuka di hutan ini," kata Putu Risang.

Pasukan kecil pimpinan Gajahmada terus membayangi orang-orang Rakata di kegelapan malam. Ketika mereka sampai di sebuah tempat agak terbuka, Gajahmada memberi tanda agar pasukannya bersiap.

"Aku akan memberi kejutan untuk menghentikan langkah mereka," kata Gajahmada sambil mengambil sebuah kerikil kecil. Ia menjentikkan kerikil itu dengan jari tengahnya. Ternyata, jentikan Gajahmada diarahkan ke dahan pohon di muka orang-orang Rakata.

Gajahmada melambari jentikannya dengan tenaga sakti.

*Duarrrr!*

Terdengar suara benturan yang amat keras. Sebuah dahan besar sepelukan orang dewasa yang tumbuh melintang retak seperti dihantam benda besar dan kuat.

*Brakk! Bummm!*

Batang pohon yang retak itu terbelah dan jatuh bergedebum di tanah, tidak jauh dari orang-orang Rakata. Mereka tampak terkejut dan langsung menghentikan langkahnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment