Chapter 53
"Untung kita tidak tepat di bawahnya," ujar seseorang yang berjalan di deretan terdepan.
"Permisi, permisi, anak bagong mau lewat," sahut seseorang di dekat orang terdepan yang percaya dengan cerita hantu penunggu hutan.
"Ini bukan hantu, tetapi ada seseorang yang sengaja berbuat ulah mengganggu kita," kata seseorang yang tampaknya adalah pemimpin di antara orang-orang Rakata itu.
Mendengar ucapan pemimpinnya, seketika itu pula hampir semua orang meraba gagang senjata masing-masing, bersiap menghadapi musuh. Ternyata mereka salah arah; musuh yang akan mereka hadapi justru berada di belakang mereka saat terdengar suara dari arah sana.
"Kami bukan dedemit penunggu hutan ini, kami hanya ingin meminta kalian kembali ke pasukan kalian," ucap seseorang dari arah belakang orang-orang Rakata.
Seketika orang-orang Rakata itu berbalik badan. Samar-samar mereka melihat Gajah Mada dan pasukan kecilnya telah berdiri siap menantang. Kegentaran sempat muncul di hati orang-orang Rakata saat melihat musuh mereka hanya berjumlah beberapa orang, jauh lebih sedikit dari kelompok mereka sendiri.
"Berani sekali kalian meminta prajurit Rakata kembali ke pasukannya. Sekarang, kalianlah yang harus kembali untuk membawa lebih banyak orang," ujar pemimpin Rakata itu.
"Kami memang tidak perlu banyak orang untuk meminta kalian kembali. Bekerja samalah di antara kita, kalian tidak akan terluka sedikit pun," balas suara yang ternyata adalah Gajah Mada.
Pemimpin Rakata itu tampak memastikan bahwa tidak ada lagi orang yang bersembunyi. "Habisi mereka, waktu kita sudah banyak terbuang!" teriaknya setelah memastikan musuh mereka hanya pasukan kecil, kurang dari lima belas orang.
Suasana senyap di hutan itu sontak riuh bergemuruh oleh langkah kaki puluhan orang yang menghentak tanah di malam hari. Gajah Mada, Putu Risang, Pangeran Jayanagara, dan Pangeran Citraganda terpencar menyongsong lawan. Tidak ketinggalan, sepuluh biksu terbaik juga bergerak; tongkat kayu mereka berputar kencang seperti baling-baling, membuat lawan tidak mampu menembus pertahanan mereka. Satu per dua orang yang mencoba menerobos lingkaran putaran tongkat itu pun menjadi korban pertama.
Di sisi lain, Pangeran Citraganda dikepung oleh lima orang Rakata. Semangat dan daya tempur anak muda itu mampu mengimbangi lawan, bahkan sesekali serangan balasan pedangnya membuat kelima orang Rakata itu kewalahan. Nasib paling nahas dialami orang-orang Rakata yang memilih melawan Gajah Mada, Putu Risang, dan Pangeran Jayanagara. Meski bertempur dengan tangan kosong, ketiga ksatria Majapahit itu bagaikan bola api menerjang semut merah. Siapa pun yang mendekat langsung tersapu dan terpental; pukulan serta tendangan mereka membuat tulang lawan patah dan remuk.
Tampaknya ketiga ksatria itu belum menggunakan tenaga sejati mereka sepenuhnya, namun serangan mereka tetap menggetarkan. Dalam waktu singkat, kekuatan orang-orang Rakata sudah susut setengahnya.
"Jangan biarkan seorang pun meloloskan diri!" teriak Gajah Mada sambil melesat cepat. Mendengar itu, Pangeran Jayanagara segera mengikuti langkah Gajah Mada, memburu orang-orang Rakata di sekitarnya.
Putu Risang merasa bangga melihat semangat dan kemampuan kedua muridnya. "Untungnya mereka berdua tidak menggunakan kekuatan sepenuhnya," gumamnya dalam hati sambil tersenyum, melihat kedua muridnya mampu mengendalikan diri dengan hanya melumpuhkan lawan tanpa membahayakan nyawa.
Putu Risang juga sempat memperhatikan pertempuran Pangeran Citraganda. "Permainan pedang anak muda itu luar biasa," pujinya dalam hati. Matanya kemudian beralih ke arah para biksu yang memainkan tongkat panjang dengan sangat indah.
"Tampaknya pasukan kecil Gajah Mada sebentar lagi akan menguasai pertempuran ini," pikir Putu Risang saat melihat jumlah lawan yang semakin berkurang.
"Aku menyerah," seru seorang Rakata yang tersisa sendirian menghadapi biksu, sambil melemparkan pedang besarnya.
"Jangan bunuh aku," ujar Rakata lain kepada Pangeran Citraganda.
"Lempar pedangmu, aku akan mengampunimu," gertak Pangeran Citraganda.
Dalam waktu tidak lama, orang-orang Rakata itu berhasil dilumpuhkan. Sepuluh orang yang menyerah diikat dengan kuat, sementara yang terluka dikumpulkan menjadi satu.
"Kita bawa mereka ke padukuhan terdekat, mungkin warga dapat mengurus mereka," ujar Putu Risang kepada Gajah Mada.
Malam telah berlalu sepertiganya ketika iring-iringan panjang pasukan kecil Gajah Mada menggiring tawanan mereka keluar dari hutan menuju sebuah padukuhan.
"Siapa kalian!" seru salah seorang dari lima peronda malam saat melihat iring-iringan itu memasuki padukuhan.
"Aku Pangeran Citraganda," jawab Pangeran Citraganda. Kelima peronda itu segera bersujud memberikan penghormatan. "Aku ingin menemui Ki Jagaraga," lanjutnya.
Salah seorang peronda segera berinisiatif mengantar mereka ke rumah Ki Bekel, sementara rekannya yang lain bergegas menuju rumah Ki Jagaraga. Rombongan itu pun bergerak menuju rumah Ki Bekel yang tampak cukup megah sebagai tanda pemiliknya orang yang berkecukupan.
Karena banyaknya tawanan, mereka tidak dibawa masuk ke pendapa, melainkan dikumpulkan di pekarangan depan dan dijaga ketat oleh para biksu. Langit malam sudah mulai memudar kemerahan, waktu bagi Ki Bekel dan warga untuk bangun dari tidur. Setelah Ki Jagaraga tiba, Pangeran Citraganda menjelaskan kepentingan mereka.
"Kami membawa tawanan dan perlu waktu dua atau tiga hari di sini sebelum prajurit datang menjemput mereka ke Kotaraja Kawali," ujar Pangeran Citraganda.
"Hamba bersama warga padukuhan dengan senang hati siap membantu," jawab Ki Bekel. "Namun, mohon maaf jika untuk menjaga begitu banyak tawanan, kemampuan orang-orang kami di sini sangatlah terbatas."