Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 55

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 55

"Bila mereka telah dikalahkan oleh musuh, apa artinya kita yang hanya berlima ini?" tanya pemimpin mereka seraya memberi peringatan untuk meningkatkan kewaspadaan.

Demikianlah, ketika matahari terlihat condong ke barat, mereka telah keluar dari hutan itu.

"Aku melihat banyak jejak kaki menuju ke arah timur sana," ujar seorang prajurit yang ahli membaca jejak.

"Kita ikuti saja jejak kaki itu," putus pemimpin mereka.

"Nampaknya jejak ini mengarah ke padukuhan di seberang sana," kata seorang prajurit setelah mereka menyusuri padang ilalang yang cukup luas dan melihat hamparan sawah yang baru ditanami padi muda tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

"Kita tunggu saat matahari tenggelam dan hari menjadi gelap, baru kita masuk ke padukuhan itu," perintah pemimpin mereka seraya mencari tempat terlindung untuk bersembunyi.

Akhirnya, mereka berlima menemukan tempat yang baik untuk bersembunyi. Sebuah batu besar di dekat belukar membuat mereka benar-benar tidak terlihat dari arah mana pun. Sebagaimana diperintahkan, mereka menunggu hari menjadi gelap untuk memasuki padukuhan yang terlihat seperti pulau kecil di tengah hamparan sawah yang masih basah itu.

Menunggu adalah hal yang membosankan. Mereka berkali-kali memandang wajah matahari yang mulai redup dan terasa sangat lama tenggelam, seolah menggoda kesabaran mereka.

"Di daerah ini nampaknya matahari lebih lama bersinar," keluh salah seorang prajurit.

"Di mana pun matahari bersinar sesuai waktunya, tidak lebih dan tidak kurang," sahut kawannya yang merasa risih mendengar ocehan itu.

Akhirnya, yang dinantikan tiba; cahaya matahari mulai menipis di ujung barat bumi. Perlahan, langit di atas mereka menjadi gelap, pertanda malam mulai menyelimuti bumi.

"Mari kita berangkat sekarang," kata pemimpin mereka sambil berdiri dari persembunyian.

Ketika mereka memasuki padukuhan di timur hutan itu, suasana memang telah lengang. Mereka berjalan mengendap-endap dari satu rumah ke rumah lainnya lewat kebun belakang.

"Ternyata kawan-kawan kita telah menjadi tawanan," ujar pemimpin mereka saat berada tidak jauh dari pekarangan Ki Bekel.

"Nampaknya mereka diperlakukan dengan baik," kata salah seorang prajurit setelah melihat kawan-kawan mereka di sebuah tarub darurat.

"Aku tidak melihat seorang pun prajurit Kawali, hanya ada sepuluh orang biksu asing," bisik pemimpin mereka.

"Mungkin para prajurit Kawali berada di tempat lain di padukuhan ini," duga prajurit lainnya.

"Kita memang harus memeriksa seluruh keadaan di padukuhan ini," tegas sang pemimpin.

Mereka berlima kembali menyelinap dari satu tempat ke tempat lain sampai merasa cukup mengamati keadaan.

"Kita tidak menemui satu pun prajurit Kawali di sini. Hanya sepuluh biksu asing yang menjaga kawan-kawan kita sebagai tawanan," lapor salah satu prajurit, disusul komentar lainnya, "Juga beberapa rumah dengan lumbung yang cukup besar tentunya."

"Mari kita kembali ke pasukan di hutan. Mereka pasti menunggu hasil pengamatan kita," pungkas pemimpinnya.

Demikianlah, kelima prajurit Rakata itu menyelinap dalam kegelapan malam untuk kembali ke pasukan mereka di hutan sebelah timur Kotaraja Kawali. Namun, hanya berselisih waktu singkat setelah mereka keluar, terlihat sebuah pasukan segelar sepapan datang dari arah utara dengan riuh memasuki padukuhan saat malam telah mencapai *wayah sepi uwong*.

"Atas permintaan Eyang Prabu Guru Darmasiksa, aku membawa pasukan prajurit Kawali segelar sepapan ke padukuhan ini, jauh melampaui jumlah seratus orang prajurit yang kuminta untuk membawa tawanan ke Kotaraja Kawali," ujar Pangeran Citraganda saat berada di pendapa rumah Ki Bekel.

"Pasti Prabu Guru Darmasiksa menitipkan beberapa amanat kepadamu, Pangeran," ujar Putu Risang.

"Benar, salah satunya adalah pasukan ini harus memasuki padukuhan dari arah utara setelah *wayah sepi uwong*, sebuah amanat yang belum sepenuhnya kupahami," jawab Pangeran Citraganda.

Mendengar itu, Putu Risang dan Gajahmada saling beradu pandang. Mereka tampak sedang membaca arah pikiran Prabu Guru Darmasiksa yang dikenal mumpuni dalam siasat peperangan.

"Mahesa Muksa, lekas katakan apa yang kamu pikirkan," pinta Putu Risang kepada Gajahmada sambil tersenyum.

"Ada satu pelajaran hari ini dari Sang Prabu: kita harus mampu membaca pikiran musuh. Sang Prabu telah menangkap bahwa musuh yang kehabisan perbekalan pasti mencari tempat yang dapat mendukung mereka. Nampaknya pihak musuh telah mengincar padukuhan ini dan menyebarkan telik sandi jauh sebelum malam. Itulah sebabnya Sang Prabu meminta pasukan ini masuk dari utara setelah *wayah sepi uwong*," jelas Gajahmada.

"Dapat diterima, aku baru memahaminya," sahut Pangeran Citraganda.

"Pangeran Jayanagara, apa yang kamu dapat dari pesan tersirat itu?" tanya Putu Risang.

"Nampaknya beberapa bagian telah dijelaskan oleh Gajahmada. Aku hanya menambahkan bahwa pihak musuh akan berangkat keluar dari hutan persembunyiannya besok pagi," jawab Pangeran Jayanagara.

"Eyang Prabu Guru juga menitipkan pesan bahwa pasukan segelar sepapan ini diserahkan sepenuhnya kepada Kakang Putu Risang. Besok, saat matahari terbit, pasukan dari Kotaraja Kawali akan keluar dari gerbang timur," tambah Pangeran Citraganda.

Mendengar itu, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara menatap guru mereka. Putu Risang menarik napas panjang lalu tersenyum kepada Pangeran Citraganda.

"Pangeran Citraganda, katakanlah sejujurnya. Apakah ada sedikit rasa cemburu saat Prabu Guru Darmasiksa menyerahkan pasukan di padukuhan ini kepadaku?" tanya Putu Risang tajam.

Pangeran Citraganda tertegun, merasa seperti sedang ditelanjangi oleh pandangan itu. "Aku tidak dapat membantah. Aku merasa cemburu karena semula berharap dapat belajar menjadi senapati pasukan besar," aku Pangeran Citraganda jujur.

"Siapa pun raja pasti akan berlaku sama; tidak akan membiarkan Putra Mahkota berada di garis depan peperangan. Itu adalah wujud cinta kasih seorang raja kepada putranya. Amanat Prabu Guru Darmasiksa aku terima. Sementara itu, aku meminta kalian bertiga menjadi senapati pengapitku. Semoga peperangan ini menjadi pelajaran berharga," ujar Putu Risang.

Putu Risang kemudian memberikan penjelasan mengenai rencana esok hari. Pangeran Citraganda diam-diam memuji pemahaman Putu Risang tentang gelar dan siasat perang.

"Besok kita akan menghadapi musuh dengan gelar *Garuda Nglayang*. Aku akan berada di depan sebagai paruh. Gajahmada dan Pangeran Jayanagara menjadi panglima utama di sayap masing-masing. Pangeran Citraganda menjadi panglima di ekor, siap siaga berubah sebagai cakar Garuda untuk menyapu kekuatan musuh. Kita juga harus menyimpan sepertiga pasukan sebagai cadangan," terang Putu Risang.

"Mengapa harus menyisakan sepertiga pasukan?" tanya Pangeran Citraganda.

"Hanya sebuah muslihat agar musuh menduga kekuatan kita lemah dan berusaha secepatnya menyelesaikan peperangan dengan kekuatan penuh. Saat napas mereka berada di ujung kelelahan, kita kejutkan dengan tenaga cadangan itu," jelas Putu Risang.

Pangeran Citraganda kembali memuji kemampuan siasat lelaki muda di hadapannya itu. Sementara itu, malam mendekati pagi, Ki Bekel dan Ki Jagaraga berpamit diri untuk mendatangi rumah Ki Buyut di padukuhan sebelah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment