Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 56

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 56

"Mungkin Ki Buyut dapat menggerakkan seluruh warga Kabuyutan ini untuk membantu apa yang dapat kami bantu," ujar Ki Bekel mewakili Ki Jagaraga saat berpamitan untuk mengunjungi Ki Buyut di padukuhan sebelah.

Terlihat Ki Bekel dan Ki Jagaraga telah berjalan keluar dari pekarangan rumah Ki Bekel. Mereka melihat beberapa prajurit tengah menyiapkan dapur umum yang cukup besar. Mereka juga melihat sebagian prajurit tengah beristirahat di berbagai tempat di sepanjang jalan padukuhan itu. Tidak lama berselang, terlihat pula beberapa perwira tinggi naik ke atas pendapa rumah Ki Bekel. Tampaknya, mereka meminta penjelasan mengenai apa yang harus dilakukan dalam menghadapi musuh yang dipastikan akan keluar dari hutan persembunyian mereka.

Kepada para perwira itu, Putu Risang kembali memberikan penjelasan sekaligus menyatukan bahasa isyarat yang akan mereka pakai di medan perang nanti.

"Masih ada waktu. Setelah matahari naik sepenggalah, kita berangkat menyongsong musuh," ujar Putu Risang memberikan kesempatan bagi para perwira dan prajurit Kawali untuk beristirahat sejenak.

Sementara itu, pagi di padukuhan itu memang masih tampak remang-remang, meski di ujung timur bumi telah terlihat sedikit tebaran cahaya kuning di langit. Setelah para perwira pergi menemui bawahan masing-masing, terlihat Putu Risang, Gajahmada, Pangeran Jayanagara, dan Pangeran Citraganda hanya bersandar di dinding kayu sekadar melepaskan kepenatan setelah semalaman tidak tidur.

"Sudah ada prajurit yang menangani para tawanan, biarlah kesepuluh biksu itu ikut bersamaku," ujar Gajahmada kepada Putu Risang. Sebagaimana yang dikatakan Gajahmada, di pekarangan rumah Ki Bekel terlihat beberapa prajurit menggantikan para biksu menjaga para tawanan. Sementara suasana di dapur umum yang baru saja didirikan oleh para prajurit sudah terlihat penuh dengan kesibukan, dan asap tebal tampak membubung tinggi mengisi langit pagi.

Akhirnya, saat yang dinantikan tiba; matahari telah naik sepenggalah. Terdengar suara bende mendengung mengisi suasana pagi di padukuhan itu. Itulah suara bende pertama sebagai pertanda bagi para prajurit untuk mempersiapkan diri masing-masing. Tidak lama berselang, suara bende kembali berdengung, dan terlihat para prajurit berlari berkumpul di kesatuan mereka. Jalan padukuhan itu pun sudah dipenuhi para prajurit lengkap dengan senjata dan perlengkapan perang.

"Siapa pimpinan prajurit di sini?" tanya Putu Risang ketika memeriksa kesiapan seluruh prajuritnya, lalu berhenti di sekumpulan kesatuan prajurit cadangan yang terpisah di barisan paling belakang.

"Aku Rangga Kidang Telangkas, pimpinan pasukan cadangan ini," ujar seorang lelaki berwajah dengan kumis tebal dan berjambang lebat yang mirip tokoh pewayangan putra Bima, seraya menghampiri Putu Risang.

"Kamu tahu apa yang menjadi tugas prajurit cadangan ini?" tanya Putu Risang kepada lelaki bertubuh tinggi kekar itu.

"Menunggu panah sanderan melesat tiga kali di udara. Itulah pertanda bagi kami untuk segera turun mengisi medan pertempuran," jawab lelaki yang menyebut dirinya Rangga Kidang Telangkas tersebut.

"Bagus, selamat bertemu di medan pertempuran," kata Putu Risang kepada Rangga Kidang Telangkas sambil menepuk-nepuk bahunya yang keras dan gempal, pertanda ia sangat terlatih dalam olah kanuragan.

Akhirnya, suara bende ketiga kalinya terdengar berdengung mengisi udara pagi di atas padukuhan. Terlihat beberapa warga padukuhan, baik lelaki maupun perempuan, telah keluar dari rumah dan berdiri di pinggir pagar pekarangan. Beberapa bocah terlihat ikut bersama mereka dengan tangan rapat bergayut di tubuh orang tua masing-masing. Tampaknya, baru pertama kalinya warga padukuhan itu melihat pasukan segelar sepapan memenuhi jalan mereka.

"Bila aku besar, aku ingin seperti mereka, membawa pedang dan bertempur di medan perang," ucap seorang bocah lelaki saat melihat pasukan prajurit Kawali mulai bergerak.

"Kakek buyutmu dan aku adalah para petani yang hanya tahu bagaimana mengangkat cangkul dan membaca bintang di langit untuk menghitung hari tanam. Aku tidak bisa mengajarimu cara mengangkat pedang," ujar ayah bocah itu sambil mengelus-elus rambut anaknya.

"Aku pernah melihat Ki Jagaraga bermain pedang bersama putranya di pekarangan rumah mereka," sahut bocah itu lagi.

"Tapi pedang Ki Jagaraga tidak sebagus pedang para prajurit itu," jawab ayahnya ketika melihat barisan prajurit terakhir sudah mendekati regol gerbang padukuhan.

Demikianlah, pasukan segelar sepapan itu telah berjalan keluar padukuhan menuju padang ilalang luas yang menjadi pembatas antara padukuhan dan hutan di seberang sana. Matahari di atas padang ilalang itu semakin naik, menghangatkan wajah para prajurit Rakata yang telah berhenti berjalan. Tampaknya, mereka telah menemukan tempat yang tepat untuk menyongsong kedatangan musuh yang akan muncul dari hutan.

Sementara itu, pasukan Rakata memang sudah bergerak meninggalkan barak-barak darurat mereka setelah beberapa hari bersembunyi. Persediaan pangan yang kurang mencukupi membuat mereka harus mencari tempat baru, sebuah padukuhan yang penuh dengan lumbung.

"Aku akan mengejar ternak-ternak mereka," kata seorang prajurit Kawali dengan penuh semangat membayangkan suasana di padukuhan.

"Aku akan mengejar anak gadis mereka," sahut prajurit lainnya.

"Mereka datang kembali," ujar Pangeran Rha Widhu kepada Patih Anggajaya di dekatnya ketika melihat sepuluh orang prajurit pemantau berkuda datang kembali.

"Mereka membawa kuda seolah dikejar setan gundul, pasti ada berita penting," kata Patih Anggajaya sambil terus memandang prajurit berkuda itu mendekat.

"Ampun, Tuanku. Kami telah melihat pasukan segelar sepapan memenuhi padang ilalang," lapor salah seorang prajurit di hadapan Pangeran Rha Widhu dan Patih Anggajaya.

"Gila! Apakah mereka dapat terbang secepat itu hingga sudah ada di hadapan kita?" seru Pangeran Rha Widhu seperti tidak percaya.

"Nampaknya langkah pikiran kita sudah terbaca oleh mereka," ujar Patih Anggajaya sambil berpikir keras.

"Aku, Pangeran Rha Widhu, tidak akan lari!" seru sang Pangeran lantang sambil menarik pedang dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Mendengar itu, serentak para prajurit Rakata ikut menarik pedang dan mengangkatnya ke udara.

"Kami prajurit Rakata pantang menyerah!" seru mereka serempak.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Pangeran Rha Widhu menghentakkan perut kudanya. Seketika itu, kuda sang pangeran mengangkat kaki depan dan berlari kencang. Patih Anggajaya serta pasukan berkuda lainnya pun segera mengikuti. Pasukan prajurit Rakata berjalan cepat menyusul di belakang mereka.

"Tidak seperti yang kubayangkan, mereka tidak sebesar pasukan kita," ujar Pangeran Rha Widhu ketika tiba di bibir hutan dan melihat pasukan Kawali berjajar di seberang sana.

"Kita pukul mereka dengan kekuatan penuh," kata Patih Anggajaya.

"Raja Ragasuci akan menyesal tidak membawa pasukan dalam jumlah banyak," ujar Pangeran Rha Widhu merasa yakin dapat dengan mudah mengalahkan musuh yang berjumlah lebih sedikit daripada gabungan pasukan Kotaraja Rakata dan lima ratus prajurit Patih Anggajaya.

"Kita hancurkan mereka dengan gelar perang Diradameta!" seru Patih Anggajaya penuh semangat.

"Siapkan pasukan dengan gelar Diradameta," perintah Pangeran Rha Widhu kepada penghubungnya.

Sementara itu, di padang ilalang yang luas, Putu Risang dengan sikap gagah layaknya senapati besar di punggung kudanya melihat barisan musuh yang membentuk gelar perang Diradameta.

"Nampaknya kita akan menghadapi kekuatan penuh. Ikan telah termakan kail pancing," ujar Putu Risang kepada perwira di dekatnya. "Jangan bergerak sebelum mendengar perintah dariku," pesannya kepada prajurit penghubung yang bertugas membawa isyarat lewat bendera dan bende.

Di barisan lain, Gajahmada dengan dada berdebar diam-diam meraba pangkal cambuknya. "Aku tidak akan melukai lawan dengan cakraku," batinnya sambil menggenggam erat pangkal cambuk yang melingkar di pinggang.

"Mereka sudah bergerak," batin Pangeran Jayanagara. Sebagaimana yang dilihatnya, pihak musuh memang telah bergerak ke arah pasukan Kawali. Batang-batang ilalang rebah terinjak kaki kuda pasukan Rakata yang berjumlah besar, dan bumi di sekitar mereka bergetar hebat akibat langkah serentak sekitar seribu lima ratus prajurit yang berlari.

"Mereka telah membuang napas dan kekuatannya," batin Putu Risang yang masih belum memberikan perintah apa pun kepada prajuritnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment