Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 57

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 57

Akhirnya, manakala jarak di antara mereka hanya tersisa sekitar dua puluh langkah lagi, barulah Putu Risang memberikan perintah untuk menghadang pasukan Rakata itu. Bukan main terkejutnya pasukan berkuda Rakata di barisan terdepan. Itulah pukulan pertama dari pasukan Kawali. Ternyata, Putu Risang telah menghalangi pandangan mata pasukan musuh dengan menempatkan sebaris pasukan bertombak di belakang mereka. Maka, ketika barisan terdepan menyibak, tombak-tombak kayu panjang seperti ranjau hidup langsung menembus dada kuda prajurit Rakata yang mati langkah dan tidak mampu menghindar sama sekali.

Sepuluh sampai lima belas orang prajurit Rakata terlempar dari kuda mereka. Gelegar! Terdengar suara seperti petir membelah langit di siang itu. Itulah suara cambuk Putu Risang yang dihentakkan. Meski hanya dengan kekuatan sepertiganya, ia telah mampu membuat suara yang begitu memekakkan telinga dan menggetarkan hati para musuh. Barisan pasukan musuh yang terkoyak itu kembali terkejut manakala cambuk Putu Risang berputar begitu cepat dan seketika melesat lurus seperti kepala ular bermata yang siap mematuk siapa pun di dekatnya.

Sepak terjang Putu Risang di barisan tengah dalam gelar perang Garuda Nglayang itu membuat api semangat para prajurit Kawali terbakar dalam gelora semangat tempur yang membara. Terlihat Putu Risang tersenyum manakala ia mendengar suara dari dua buah cambuk yang menggetarkan dada di barisan sayap kanan dan sayap kiri.

"Mereka berdua telah menggunakan cambuknya," kata Putu Risang dalam hati. Ia yakin bahwa suara dua buah cambuk itu berasal dari dua orang muridnya, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara, yang ditugaskan sebagai senapati pengapit untuk memimpin pasukan sayap kanan dan kiri dalam gelar perang Garuda Nglayang.

Sebagaimana barisan tengah pasukan Kawali yang berada di bawah pimpinan Putu Risang telah dapat mengoyak pertahanan lawan, di barisan sayap kanan dan kiri, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara juga berhasil menggempur lambung pertahanan musuh. Kecerdikan Putu Risang sebagai senapati utama memang telah membuat Patih Anggajaya dan Pangeran Rha Widhu sangat penasaran. Mereka ingin mengetahui siapa senapati utama musuh yang telah begitu sempurna membawa dan mengatur barisan tempur seperti burung Garuda yang melesat ke sana kemari, namun tiba-tiba turun mematuk dan mencengkeram dengan cakarnya.

Mengubah arah serang merupakan keutamaan dari gelar perang Garuda Nglayang yang diperlihatkan oleh Putu Risang. Pasukan Rakata seperti seekor gajah limbung; kekuatannya sudah mulai terpecah namun masih tetap bertahan.

"Aku akan membantu di barisan lambung kiri yang terkoyak," kata Pangeran Rha Widhu kepada Patih Anggajaya di antara suara denting senjata dan teriakan peperangan yang dahsyat itu. Ternyata, Pangeran Rha Widhu telah melihat barisan pertahanan prajuritnya di lambung kiri seperti terus terdesak hingga hampir pecah. Ketika Pangeran Rha Widhu tiba di lambung kiri gelar Diradameta-nya, ia terkejut melihat gerak jurus maut seorang anak muda dengan sebuah cambuk pendek di tangannya. Tidak satu pun dari serangan anak muda itu yang luput menyentuh maut; satu atau dua orang prajurit Rakata selalu terlempar terkena ujung cambuknya.

"Dengan sangat terpaksa aku harus melumpuhkanmu, wahai anak muda," kata Pangeran Rha Widhu kepada anak muda yang telah merobohkan lawannya berkali-kali itu. Mendengar perkataan Pangeran Rha Widhu yang berada tepat di hadapannya, anak muda itu hanya tersenyum sambil mengelus tali cambuknya dari pangkal hingga ke ujung.

"Dengan sangat terpaksa pula aku akan mempertahankan diriku, wahai orang tua," jawab anak muda itu yang ternyata adalah Gajahmada, sambil melepas jurai cambuknya dan bersiap berhadapan dengan Pangeran Rha Widhu.

"Seandainya kamu telah mengenalku, pasti kamu akan lari mencari lawan lain," kata Pangeran Rha Widhu sambil diam-diam memuji keberanian anak muda di depannya itu.

"Aku tidak akan lari meski telah mengenalmu," sahut Gajahmada.

"Bagus, aku akan memperkenalkan diriku lewat pedang ini," ucap Pangeran Rha Widhu yang langsung menerjang Gajahmada dengan pedang lurus yang meluncur cepat.

Ternyata Pangeran Rha Widhu terlalu percaya diri dan salah menilai seseorang dari usianya. Ia terkejut melihat serangannya yang sangat cepat dengan mudah dielakkan oleh Gajahmada. Bahkan, anak muda itu membalas dengan serangan cambuk yang tidak kalah cepat dan berbahaya.

"Ternyata kamu memang punya taring," ujar Pangeran Rha Widhu sambil mengelak dari ujung cambuk Gajahmada yang mengancam bahu kanannya.

"Aku tidak punya taring, hanya sebuah cambuk pendek," balas Gajahmada sambil melompat menghindari sabetan pedang Pangeran Rha Widhu ke arah kakinya.

Demikianlah, pertempuran antara Pangeran Rha Widhu dan Gajahmada dalam waktu singkat menjadi semakin sengit karena keduanya telah meningkatkan tataran ilmu masing-masing. Untungnya, seorang perwira yang bertugas di sayap kiri memaklumi bahwa Gajahmada telah mendapatkan lawan yang setara. Tanpa ragu, ia mewakili Gajahmada mengatur gerak prajurit di sayap kiri sesuai dengan arah dan irama gelar perang Garuda Nglayang.

"Nampaknya Gajahmada telah menemukan lawan tanding yang tangguh," ujar Putu Risang dalam hati sambil terus memimpin pertempuran.

Ternyata, kekuatan daya gempur pasukan Kawali di sayap kiri bukan hanya pada diri Gajahmada. Meskipun saat itu Gajahmada tertahan oleh Pangeran Rha Widhu, kekuatan pasukan Kawali di sayap kiri tetap merangsek maju menggempur lambung pasukan lawan dalam gelar perang Diradameta. Kehadiran sepuluh orang biksu terbaik yang ikut memperkuat barisan di sayap kiri membuat barisan itu begitu kokoh. Kesepuluh biksu itu dengan tangguh meruntuhkan musuh yang mendekat; tongkat kayu di tangan mereka menjadi senjata yang sangat berbahaya.

Sementara itu, matahari di atas padang ilalang telah bergeser jauh ke barat. Suara gemerincing senjata dan teriakan amarah bercampur dengan bau amis darah yang membasahi tanah merah. Peperangan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

"Anak muda ini begitu tangguh," batin Pangeran Rha Widhu yang merasa penasaran karena belum mampu menundukkan Gajahmada. Ternyata, Gajahmada selalu dapat mengimbangi permainan pedang lawannya tanpa perlu mengeluarkan ilmu puncaknya. Sementara itu, Pangeran Rha Widhu sudah mulai memasuki puncak tataran ilmunya. Namun, Gajahmada tetap mampu mengimbanginya, membuat Pangeran Rha Widhu mengeluarkan seluruh kemampuan yang ia miliki. Angin serangan pedangnya menjadi lebih cepat, bahkan sambarannya terasa tajam seperti mata pisau.

Gajahmada merasakan bahaya dari sambaran pedang itu dan diam-diam melambari tubuhnya dengan ajian ilmu setara lembu sekilan yang lebih kuat dari ajian sejenis di jamannya. Ia terlihat seperti terbang melayang dan melesat menghindari terjangan pedang Pangeran Rha Widhu yang datang bergulung-gulung seperti ombak samudera.

"Pedangku belum juga dapat menyentuhnya," keluh Pangeran Rha Widhu yang merasa semakin penasaran.

Beberapa prajurit dari kedua kubu yang melihat pertempuran itu terperangah. Tanah ilalang di sekitar mereka telah rata tergilas langkah kaki dan terjangan senjata. Gerakan mereka semakin cepat hingga hanya terlihat seperti dua buah bayangan yang saling menyerang.

Putu Risang, sambil terus bertempur, melihat semangat prajurit Kawali yang jumlahnya lebih sedikit mampu mengimbangi kekuatan pasukan Rakata hingga pertahanan musuh terkoyak-koyak.

"Saatnya memberi kejutan lain, lepaskan tiga buah panah sanderan," perintah Putu Risang kepada prajurit penghubungnya. Prajurit itu tidak menunggu lama untuk menyiapkan tiga anak panah sanderan. Tidak lama berselang, terdengar suara panah sanderan mengaung membelah udara di atas padang ilalang itu sebanyak tiga kali berturut-turut.

Suara itu terdengar di sebuah tempat persembunyian para prajurit Kawali yang sudah lama menunggu. "Wahai para prajurit Kawali, suara panah sanderan telah memanggil kita!" seru Rangga Kidang Telangkas kepada pasukan cadangan yang segera berlari mendekati medan pertempuran untuk melakukan serangan kejutan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment