Chapter 58
"Saatnya membuat sebuah kejutan baru, geser barisan tengah ke arah sayap kiri," kata Putu Risang kepada seorang prajurit penghubungnya.
Dalam waktu singkat, pasukan yang tergabung dalam barisan tengah telah melihat umbul-umbul ciri khusus pasukan mereka berkibar dan bergerak ke arah samping sayap kiri gelar perang Garuda Nglayang. Serentak, pasukan barisan tengah itu bergerak mengikuti arah umbul-umbul berwarna merah tersebut.
Ternyata, gerakan pasukan barisan tengah adalah sebuah keistimewaan gelar perang Garuda Nglayang, di mana seekor raja burung Garuda tanpa terduga menyerang musuhnya dengan kedua cakar yang tajam. Gerakan ke samping itu telah memberikan kesempatan kepada pasukan Pangeran Citraganda dan pasukan cadangan di bawah kendali Rangga Kidang Telangkas untuk bertindak sebagai dua cakar burung yang siap mencengkeram musuh di muka.
Bukan main terkejutnya para prajurit Rakata yang berada di barisan terdepan. Pasukan Pangeran Citraganda dan pasukan cadangan pimpinan Rangga Kidang Telangkas menerjang seperti air bah yang menjebol tanggul bendungan. Suasana porak-poranda tidak terelakkan saat pasukan Rakata tergilas oleh dua cengkeraman kuat, terutama oleh para prajurit cadangan yang masih memiliki tenaga utuh. Sepertiga lebih pasukan baru itu berhasil memporak-porandakan pasukan Rakata yang sudah kelelahan.
"Sebuah gelar perang yang cantik," ucap Patih Anggajaya dalam hati, mengakui keunggulan pihak lawan. Sebagai putra senapati terbaik pasukan Kerajaan Rakata pada zamannya, Patih Anggajaya mewarisi berbagai siasat peperangan dari ayahnya. Ia tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan pasukannya dari kekalahan besar.
"Perintahkan pasukan untuk mundur kembali masuk ke hutan!" teriak Patih Anggajaya kepada seorang prajurit penghubungnya.
Mendengar teriakan itu, prajurit penghubung segera mendatangi para prajurit lainnya di setiap kesatuan. Tidak lama berselang, Putu Risang melihat barisan pertahanan musuh telah membentuk gelar perang ular serong, sebuah taktik pertahanan untuk membawa para prajurit Rakata mundur teratur masuk kembali ke hutan persembunyian mereka.
"Jangan kejar mereka!" perintah Putu Risang kepada beberapa prajurit yang hendak mengejar musuh ke dalam hutan.
Sementara itu, Pangeran Rha Widhu yang belum juga dapat mengalahkan Gajahmada merasa sangat geram melihat pasukannya diperintahkan mundur. "Besok kita tuntaskan pertempuran ini," ucap Pangeran Rha Widhu kepada Gajahmada sambil berkelebat pergi ke arah hutan persembunyian. Gajahmada tidak menjawab; ia hanya berdiri sambil memegang ujung jurai cambuk pendeknya, memperhatikan Pangeran Rha Widhu yang perlahan menghilang di kegelapan dan kerapatan hutan.
Matahari di atas padang ilalang mulai terbenam di ufuk barat. Cahayanya memudar, mewarnai awan kelabu yang menggantung di cakrawala senja. Beberapa prajurit Kawali tampak membawa kawan-kawan mereka yang terluka maupun yang telah gugur. Mereka juga merawat beberapa prajurit musuh yang terluka parah, namun sengaja meninggalkan yang lainnya karena yakin kawan-kawan mereka akan segera datang ke medan pertempuran untuk mencari dan membawa mereka pulang. Selalu seperti itu di setiap ujung peperangan antara anak manusia di mana pun.
Tangis sedih mewarnai hati para prajurit yang harus merelakan sahabat sejati pergi untuk selama-lamanya.
"Perang nampaknya belum berakhir, siapkan diri kita untuk peperangan hari esok," ajak Putu Risang kepada Pangeran Jayanagara, Gajahmada, dan Pangeran Citraganda untuk kembali ke padukuhan.
"Ini adalah peperangan pertama mereka. Sebuah pemandangan yang tidak akan terlupakan sepanjang hidup saat malam tiba, ketika mereka mendengar kembali suara pilu orang yang terluka dan pekik perih mereka yang tengah sekarat menjemput maut. Sementara perang tidak akan pernah berakhir, menunggu kehadiran mereka di ujung hari-hari sebagai para ksatria," batin Putu Risang sambil memandang ke arah dua putra mahkota dan seorang ksatria muda pemilik ilmu kesaktian tinggi, Mahesa Muksa.
Awan hitam mulai bergelayut, pertanda hujan akan segera turun. Ki Bekel menyambut kedatangan Putu Risang dan kawan-kawannya di pendapa rumahnya.
Sementara itu di hutan persembunyiannya, Pangeran Rha Widhu mengunci diri di barak sederhana dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Patih Anggajaya memaklumi sifat adik iparnya itu yang dikenal mudah menyerah dan berputus asa. Benar saja, di dalam barak, Pangeran Rha Widhu merenungi langkah-langkahnya, terutama keputusan besar untuk bergabung dengan Patih Anggajaya melakukan pemberontakan kepada penguasa Pasundan.
"Pasukanku telah menyusut setengahnya dalam perang pertama ini. Ternyata Raja Ragasuci terlalu kuat untuk ditumbangkan," keluh Pangeran Rha Widhu dalam hati. "Siapa pula anak muda bercambuk itu yang berilmu sangat tinggi hingga dapat mengimbangi permainan pedangku?"
Keputusasaan bukan hanya milik Pangeran Rha Widhu. Beberapa perwira prajurit Rakata juga mulai merasakan hal yang sama; kepercayaan diri mereka terkikis oleh kekalahan perang hari itu.
"Tahukah kamu apa hukuman bagi pemberontak seperti kita? Raja Ragasuci akan menghukum seluruh keluarga kita di Kotaraja Rakata," ujar seorang perwira kepada kawannya. Wajah kawan perwira itu seketika pucat pasi membayangkan anak dan istrinya menanggung hukuman penguasa Pasundan.
"Bila kita lari dan menyerahkan diri, apakah Raja Ragasuci akan meringankan hukuman?" tanya kawan perwira itu.
"Kudengar Raja Ragasuci sangat bijaksana. Hukumanmu pasti lebih ringan daripada mereka yang dianggap mengganggu kedamaian di Pasundan," jawab sang perwira.
Percakapan itu membekas hingga akhirnya rencana melarikan diri dan menyerahkan diri ke Kotaraja Kawali tersebar di kesatuan mereka. Namun, masih ada satu dua orang yang menunjukkan kesetiaan kepada Pangeran Rha Widhu. Ketegangan pun terjadi saat perwira itu mengancam bawahannya yang tetap setia.
Saat malam menjadi sepi, sekitar seratus prajurit Rakata mengendap-endap meninggalkan barak dan kawan-kawan mereka yang terlelap. Pagi hari di hutan persembunyian menjadi gempar.
"Dengar dan camkan perkataanku, aku bisa jauh lebih kejam daripada Raja Ragasuci. Aku akan mencari sampai ke lubang semut pun bagi siapa saja yang lari dari peperangan ini!" teriak Patih Anggajaya dengan wajah murka di hadapan para perwiranya.
Di waktu yang sama di istana Kawali, Raja Ragasuci telah menerima laporan tentang beberapa prajurit Rakata yang menyerahkan diri serta berita kekalahan pasukan musuh di padang ilalang.
"Keputusasaan telah menggayuti para prajurit Rakata di hutan persembunyiannya itu. Apa yang harus kita lakukan, Ayahanda?" tanya Raja Ragasuci kepada Prabu Guru Darmasiksa.
"Jangan biarkan duri terlalu lama berada di dalam daging. Perintahkan pasukan Adipati Suradilaga dari Singaparna untuk membersihkan duri-duri itu di hutan timur kotaraja ini," titah Prabu Guru Darmasiksa.
"Bagaimana dengan pasukan kita di padukuhan dekat hutan sebelah timur itu?" tanya Raja Ragasuci.