Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 59

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 59

"Mereka telah melaksanakan tugasnya dengan baik, biarlah mereka beristirahat merasakan kemenangan peperangan pertama mereka," kata Prabu Guru Darmasiksa.

"Ucapan Ayahanda akan Ananda pusakai," ujar Raja Ragasuci kepada ayahandanya yang sangat dihormatinya itu.

Demikianlah, hari itu juga Raja Ragasuci memanggil Adipati Suradilaga dan memerintahkan pasukannya dari Singaparna yang masih berada di Kotaraja Kawali untuk menghancurkan prajurit Rakata.

"Perintah Paduka Raja Ragasuci adalah sebuah kehormatan bagi hamba," kata Adipati Suradilaga ketika hendak berpamit diri dari hadapan Raja Ragasuci.

Sementara itu, di padukuhan dekat hutan timur Kotaraja Kawali, terlihat Putu Risang dan beberapa orang lainnya baru saja kembali dari sebuah upacara pemakaman. Upacara pemakaman yang sederhana untuk mengantar para sahabat sejati pergi untuk selama-lamanya.

"Pasukan mereka telah semakin menyusut. Bila kita hantam mereka hari ini, pasti kemenangan besar berada di pihak kita," kata Pangeran Citraganda kepada Putu Risang ketika mereka dalam perjalanan kembali ke rumah Ki Bekel.

Terlihat Putu Risang tidak langsung menjawab. Orang muda yang sangat pendiam, yang telah dipercayai menjadi seorang senapati sebuah pasukan besar itu, tampaknya tengah berpikir keras untuk mengambil langkah yang bijaksana dalam menghadapi musuh dari Rakata yang saat itu masih berada di hutan persembunyiannya.

"Banyak korban berjatuhan di pihak mereka. Biarlah hari ini kita berikan kesempatan bagi mereka untuk berpikir jernih, apakah peperangan ini masih harus dilanjutkan," kata Putu Risang setelah menarik napas panjang, seolah mendapatkan keputusan yang tepat sebagai seorang senapati.

"Aku juga berharap yang sama. Korban sudah banyak berjatuhan. Semoga mereka dapat berpikir jernih mengukur kemampuan mereka menghadapi kekuatan Pasukan Pasundan," kata Pangeran Jayanagara ikut bicara.

"Apakah dengan memberikan kesempatan hari ini sama halnya memberi kesempatan seekor buaya yang terjepit?" tanya Pangeran Citraganda yang kurang setuju dengan sikap Putu Risang.

"Hari ini atau besok kita bisa saja membantai mereka dan memenangkan peperangan ini. Tapi, aku masih berharap menyelesaikan peperangan ini tanpa ada lagi banyak korban, baik dari pihak manapun," kata Putu Risang sambil memandang penuh senyum ke arah Pangeran Citraganda. Sekilas, Putu Risang dapat membaca sikap kurang setuju dari Pangeran Citraganda.

"Laporan terakhir dari para prajurit pemantau, hari ini pihak musuh belum menunjukkan tanda-tanda untuk melanjutkan peperangan," kata Gajahmada mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Kita memang tidak harus lengah. Para prajurit pemantau harus tetap berada di tempatnya untuk menilai setiap perkembangan," perintah Putu Risang.

"Mohon izin dari Kakang Putu Risang, nanti malam aku akan ikut sebagai prajurit pemantau untuk mendekati hutan persembunyian mereka lebih dekat lagi," kata Gajahmada kepada Putu Risang.

"Aku ikut bersamamu, Jayanagara," kata Pangeran Citraganda.

"Aku mengizinkan kalian, berhati-hatilah," pesan Putu Risang kepada kedua muridnya itu.

Tidak terasa langkah mereka sudah mendekati pekarangan rumah Ki Bekel. Hari itu tidak ada kesibukan apa pun di padukuhan dekat hutan timur Kotaraja Kawali, hanya beberapa prajurit Kawali terlihat tengah merawat kawan-kawan mereka yang terluka parah. Sementara itu, para warga tampaknya tidak merasa terganggu dengan kehadiran pasukan Kawali di tempatnya. Beberapa orang warga tetap melakukan kegiatan rutin seperti pergi ke sawah untuk menyiangi rumput liar di antara tanaman padi yang baru tumbuh.

"Penerimaan warga di sini atas kehadiran para prajurit adalah sebuah dukungan. Sampai saat ini, kami masih belum memerlukan para warga untuk angkat senjata membantu kami di medan peperangan," kata Putu Risang kepada Ki Bekel ketika menyampaikan pesan dari Ki Buyut yang menawarkan tenaga para lelaki warga di kabuyutan itu.

"Meski keseharian kami hanya sebagai petani, namun ada seorang warga di sini yang dengan tulus telah melatih para pemuda olah kanuragan," kata Ki Bekel menceritakan kesiapan warga seandainya diperlukan untuk ikut turun mengangkat senjata.

"Pasti mereka dapat diandalkan untuk menjaga tanah mereka sendiri dari orang-orang yang bermaksud kurang baik di kabuyutan ini," ucap Putu Risang sekadar tidak mengecilkan perkataan Ki Bekel.

Sementara itu, di depan pekarangan rumah Ki Bekel, terlihat beberapa orang tengah membawa padi kering menuju ke arah dapur umum prajurit yang tidak jauh dari sana.

"Ki Buyut telah memerintahkan warga untuk menyumbangkan padi kering mereka," kata Ki Bekel memberikan penjelasan.

"Sampaikan rasa terima kasih kami kepada Ki Buyut, juga kepada seluruh warga di kabuyutan ini," kata Putu Risang kepada Ki Bekel.

Demikianlah, hari itu para prajurit Kawali di padukuhan itu memang tidak melakukan apa pun selain beristirahat. Namun, Putu Risang tetap memerintahkan beberapa orang untuk berjaga-jaga di luar padukuhan, di samping juga telah menempatkan beberapa prajurit pemantau di dekat hutan persembunyian pasukan Rakata.

Waktu pun terus berlalu, cahaya matahari semakin redup di ujung barat bumi. Wajah padukuhan yang dikelilingi hamparan sawah hijau menjelang senja terlihat begitu bening dan damai. Beberapa lelaki baru pulang dari sawah dengan mencangkul di pundak, sementara di tangannya berayun arit mengikuti arah langkah.

"Istri-istri mereka pasti tengah menyiapkan sayur bening untuk makan malam," kata Putu Risang dalam hati manakala melihat beberapa petani lewat di depan pekarangan rumah Ki Bekel.

"Saat ini masih di musim penghujan, namun sudah dua hari ini tidak juga datang hujan," kata Ki Bekel yang selalu menemani tamu-tamunya di pendapa rumahnya.

Ketika hari berganti malam, tidak terlihat tanda-tanda hujan akan turun karena langit malam di atas padukuhan dipenuhi bintang. Malam itu, padukuhan terlihat begitu lengang, sunyi, dan sepi. Gajahmada dan Pangeran Jayanagara telah keluar dari padukuhan, berjalan di sebuah bulakan panjang ke arah padang ilalang di ujung padukuhan.

Sebagai seorang guru, Putu Risang tahu bahwa Gajahmada bukan hanya sekadar berkeinginan mengamati pasukan Rakata dari dekat. Keinginan Gajahmada itu pasti diawali dengan getar naluri panggraitanya yang sudah mulai tajam terasah. Gajahmada dan Pangeran Jayanagara telah memasuki padang ilalang yang cukup luas, membatasi jarak antara padukuhan dan hutan di seberang sana. Di bawah langit malam, mereka berdua seperti hilang tertelan kerimbunan padang ilalang dan kegelapan malam.

"Kita masuk lebih dalam lagi mendekati mereka," kata Gajahmada kepada Pangeran Jayanagara ketika langkah mereka sampai di tepi hutan.

Kegelapan malam seperti menelan mereka yang terus melangkah memasuki hutan tempat pasukan Rakata bertahan dan bersembunyi.

"Mari kita bersembunyi," kata Gajahmada kepada Pangeran Jayanagara. Mereka yang memiliki ketajaman pendengaran tinggi, sama-sama mendengar suara langkah kaki orang-orang yang tengah berjalan tidak jauh dari tempat mereka.

Tidak sukar bagi mereka untuk bersembunyi. Di kegelapan hutan, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara seperti bayangan yang melesat cepat, meloncat, dan hinggap di dahan pohon yang cukup tinggi.

"Siapakah gerangan mereka?" tanya Pangeran Jayanagara ketika di bawah pohon terlihat beberapa orang tengah berjalan berendap-endap dengan sangat mencurigakan.

"Nampaknya mereka seperti kita, tengah melakukan pengintaian terhadap pasukan dari Rakata," kata Gajahmada, memastikan bahwa orang-orang di bawah pohon pastinya bukan prajurit Rakata.

"Apa yang ingin mereka lakukan terhadap pasukan Rakata itu?" tanya Pangeran Jayanagara.

"Kita akan segera tahu," jawab Gajahmada sambil terus mengamati orang-orang yang semakin banyak berdatangan.

"Nampaknya mereka tengah melakukan sebuah pengepungan," kata Pangeran Jayanagara dengan perasaan tegang.

"Sebuah panah sanderan," bisik Gajahmada.

Ternyata panah sanderan berupa cahaya api berekor itu adalah sebuah panggilan kepada kelompok orang yang belum diketahui di pihak mana untuk menyerang pasukan Rakata. Dengan mata kepala sendiri, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara melihat hujan panah berapi meluncur dari berbagai penjuru ke arah barak-barak sederhana milik prajurit Rakata.

Cahaya dan kilatan api seolah terbang, membakar apa pun di sekitar barak. Beberapa panah api bahkan telah melukai prajurit Rakata yang lengah. Lidah api membakar barak yang terbuat dari kayu beratap daun kering itu, juga menjalar membakar semak dan batang pohon di hutan tersebut.

Gajahmada dan Pangeran Jayanagara tetap di tempatnya, menyaksikan beberapa prajurit Rakata berlari tidak beraturan ke berbagai penjuru. Malang nasib prajurit yang bermaksud melarikan diri dari kepungan api yang membakar sekeliling mereka; ternyata beberapa orang dengan senjata terhunus sudah menantikan mereka yang sedang berlari tak terkendali itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment