Chapter 60
Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara telah melihat sendiri pembantaian itu. Ratusan prajurit Rakata tidak mati terpanggang api, tetapi mati terhunus pedang yang bermandikan darah segar, bersama cahaya api kebakaran yang menerangi hutan pada malam itu.
"Ternyata mereka para prajurit dari Singaparna," ujar Gajah Mada manakala cahaya kebakaran hutan menyinari tanda-tanda keprajuritan dari orang-orang yang telah mengepung dan membakar barak prajurit Rakata tersebut.
Terlihat sebuah bayangan melesat keluar dari kepungan api; ternyata seseorang yang berusaha menyelamatkan diri dari kobaran api yang kian membesar. Namun, tiga sampai empat orang telah mengepungnya. Orang itu bukan sembarang orang; terbukti tiga sampai empat lawannya tidak dapat melumpuhkannya. Bahkan sebaliknya, dengan gerakan cepat serta tangkas, ia melukai beberapa pengepungnya.
"Pangeran Rha Widhu," seru Gajah Mada yang mengenali wajah orang itu saat diterpa cahaya api kebakaran di dekatnya.
"Tidak ada seorang pun yang mampu menahannya," ucap Pangeran Jayanagara ketika melihat empat orang prajurit Singaparna jatuh rebah termakan mata pedang Pangeran Kerajaan Rakata itu.
Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara masih bergeming di tempatnya saat melihat Pangeran Rha Widhu meninggalkan lawan-lawannya yang tergeletak di tanah. Mereka melihat Pangeran Rha Widhu melangkah pergi dan menghilang ke dalam kegelapan hutan malam.
Api masih menyala membakar hutan dan memaksa Gajah Mada serta Pangeran Jayanagara bergeser mencari tempat persembunyian baru yang lebih jauh. Sementara itu, malam terus berlalu di hutan yang terbakar; terdengar beberapa pohon tumbang menimpa pohon di sekitarnya dengan kobaran api.
"Sebuah perbuatan keji," gumam Pangeran Jayanagara yang melihat sendiri seorang prajurit Singaparna memenggal kepala musuh yang sudah mati dengan pedang telanjang. Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara melihat beberapa prajurit yang didatangkan dari Singaparna oleh Adipati Suradilaga menebas leher mayat-mayat musuh yang tergeletak.
Gajah Mada termenung sejenak, mengingat cerita Pendeta Gunakara bahwa di tanah asalnya, ada sekumpulan orang yang percaya bahwa roh musuh akan tetap mengganggu. Itulah sebabnya mereka harus memenggal kepala musuh dan melakukan upacara khusus.
Sementara itu, kebakaran hutan masih berkobar, merobohkan beberapa batang pohon besar. Cahaya benderang menyelimuti sekitar hutan yang terbakar. Syukurlah, kebakaran itu tidak menjalar luas, mungkin terhalang parit-parit yang sengaja dibuat oleh para prajurit Rakata untuk daerah pertahanan mereka.
"Mereka telah pergi ke arah selatan," kata Pangeran Jayanagara kepada Gajah Mada saat melihat pasukan Singaparna berduyun-duyun meninggalkan hutan. Kobaran api di atas hutan tampak kian berkurang seiring berjalannya waktu. Malam pun perlahan beranjak pergi, dan pagi yang dingin datang menyapu cakrawala yang buram menjadi bening.
"Hujan datang," ujar Pangeran Jayanagara kepada Gajah Mada ketika merasakan titik-titik air menyentuh tubuhnya lewat celah-celah dahan di atas pohon persembunyian mereka.
"Mari kita turun," ajak Gajah Mada saat melihat keadaan di bawah sudah sepi. Hujan deras mengguyur hutan, memadamkan sisa-sisa batang pohon yang terbakar. Ketika hujan reda, Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara hanya mendapati puing-puing batang dan dahan pohon yang tersisa. Hamparan tanah yang sebelumnya rimbun kini hanya menyisakan tanah gosong bersama tumpukan abu.
"Kita harus memanggil beberapa prajurit untuk menguburkan mayat-mayat itu, meski tanpa kepala," kata Gajah Mada sambil menahan napas, menyesalkan kekejian orang-orang yang memperlakukan saudara sendiri dengan cara tersebut.
"Mari kita kembali ke padukuhan," ajak Pangeran Jayanagara. Hari pun mulai terang menyambut pagi. Saat matahari beranjak siang, suasana penuh kegembiraan terlihat di paseban raya dalam sebuah perjamuan besar.
"Kegembiraan hari ini memang layak untuk dirayakan," ujar Raja Ragasuci kepada para tamu, yaitu para biksu dan ksatria dari Majapahit.
"Bumi Pasundan telah kembali dalam kedamaian, prahara dari Rakata telah sirna. Puji syukur kepada Gusti Yang Maha Agung yang telah membawa kalian melangkah ke istana Kawali ini," tutur Prabu Guru Darmasiksa.
Di sudut ruangan, sepasang mata tak henti memandang ke arah Mahesa Muksa. Pemilik mata rupawan itu tak lain adalah Dyah Rara Wulan.
"Aku akan meminta ayahandamu untuk menjadikan Mahesa Muksa sebagai seorang perwira di Bumi Pasundan ini," bisik Permaisuri Ratu Dara Puspa kepada sang putri.
"Terima kasih, Ibunda," jawab Dyah Rara Wulan dengan wajah gembira melihat sikap ibunya yang telah berubah terhadap Mahesa Muksa.
Perjamuan di Paseban Raya itu berlangsung meriah dengan wajah-wajah sukacita. Namun, di ujung perjamuan, suasana menjadi haru ketika Pendeta Gunakara menyampaikan keinginannya untuk kembali ke tanah leluhur.
"Kami datang dari daratan yang sangat jauh di seberang lautan, hanya berharap untuk membawa Mahesa Muksa menjadi pemimpin dan guru suci kami. Namun, hasrat kami belum segaris dengan ketetapan Gusti Yang Maha Agung. Atas nama para biksu, kami menghaturkan ribuan terima kasih atas segala penerimaan di Bumi Pasundan ini. Angin laut telah berganti membawa kami meninggalkan tempat ini. Pintu vihara kami di daratan Tibet akan selalu terbuka menunggu kedatangan tuan-tuan," ujar Pendeta Gunakara mewakili para biksu.
Suasana Paseban Raya seketika sepi, dicekam keharuan, terutama bagi para ksatria Majapahit yang telah lama mengenal Pendeta Gunakara.
"Kami akan menemani kalian hingga ke Bandar Muara Jati," ucap Prabu Guru Darmasiksa, memecah suasana haru.
Ketika matahari mulai condong ke barat, rombongan biksu keluar dari Istana Kawali. Prabu Guru Darmasiksa bersama para ksatria Majapahit ikut mengantar hingga ke Bandar Muara Jati. Perjalanan yang jauh itu tidak terasa berat bagi para biksu yang terlatih, meski mereka berjalan kaki sepanjang hari.
Semilir angin laut berhembus basah di ujung malam saat rombongan tiba di Bandar Muara Jati.
"Nampaknya angin laut masih belum berkenan memisahkan kita, wahai putraku," kata Pendeta Gunakara kepada Gajah Mada. Sesuai perkataannya, mereka harus menunggu esok hari.
"Sangat kebetulan, esok hari ada perahu dagang yang akan berangkat hingga ke ujung Tanah Malaka," kata Syahbandar Muara Jati, pejabat perwakilan Kerajaan Kawali yang menghormati Prabu Guru Darmasiksa.
Bandar Muara Jati adalah pelabuhan yang ramai. Setelah seharian menunggu angin berubah haluan menuju laut raya, rombongan biksu akhirnya menaiki perahu dagang.
"Angin yang baik telah membawaku pergi kembali ke tanah leluhur setelah lama hidup bersamamu, wahai putraku," ucap Pendeta Gunakara kepada Gajah Mada.
"Angin yang baik pula yang akan membawaku dalam perjumpaan bersamamu, mungkin di ujung sisa usiaku nanti," jawab Gajah Mada, berusaha membendung keharuan melepas kepergian sang pendeta.
Suara ombak di pantai Muara Jati terdengar seperti irama senja yang mengiringi perahu dagang membawa Pendeta Gunakara dan para biksu dari Tibet menjauh ke lautan luas. Prabu Guru Darmasiksa, Sang Begawan Jayakatwang, dan para ksatria Majapahit mematung di pantai, mengikuti gerak perahu bertiang layar lima yang perlahan menjauhi dermaga.
"Angin baik dan perahu layar adalah dua sahabat sejati. Semoga kita selalu dipertemukan kembali dengan sahabat sejati dalam perjalanan waktu mengarungi lautan garis hidup ini," ujar Prabu Guru Darmasiksa.
Seiring waktu, perahu layar itu pun menjauh mendekati lengkung laut biru di ujung senja.