Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 61

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 61

"Mengapa Tuan-tuan tidak menunggu pagi dan bermalam di Bandar Muara Jati ini?" tanya Syahbandar Muara Jati yang datang bersama tiga orang anak buahnya membawa lima ekor kuda.

"Perjalanan malam mungkin dapat menghibur hati kami," jawab Prabu Guru Darmasiksa sambil tersenyum kepada Syahbandar Muara Jati yang sangat menghormatinya itu.

Sementara itu, langit senja terlihat sudah semakin pudar memayungi bibir pantai. Di ufuk malam, bintang bertaburan memenuhi langit purba. Terlihat lima orang berkuda telah menapaki jalan menjauhi pantai Muara Jati.

"Ketika pagi menjelang, kita mungkin sudah sampai di kaki Gunung Galunggung," ujar Prabu Guru Darmasiksa kepada Jayakatwang yang berkuda di sampingnya.

Sementara itu, tiga orang ksatria Majapahit—Putu Risang, Gajahmada, dan Pangeran Jayanagara—berkuda di belakang tanpa berkata apa pun; tampak masing-masing tengah larut dalam pikirannya sendiri. Kadang mereka memacu kuda di atas tanah lapang dalam kegelapan malam, namun terkadang mereka harus bersabar menuntun kuda berjalan perlahan saat menapaki jalan berbatu dan berliku di perbukitan.

Perjalanan dari Bandar Muara Jati menuju Gunung Galunggung memang cukup jauh. Ketika malam telah bergulir mendekati pagi, mereka sampai di sebuah simpang jalan menuju arah Kotaraja Kawali. Namun, sesuai keinginan Prabu Guru Darmasiksa, mereka tidak berbelok ke arah Kotaraja Kawali, melainkan langsung menuju Gunung Galunggung.

Demikianlah, ketika warna pagi mulai menerangi wajah bumi, kelima orang berkuda itu telah berada di bawah kaki Gunung Galunggung. Cerah matahari pagi menyinari wajah mereka ketika langkah kaki kuda mulai menapaki jalan menanjak menuju lereng gunung.

"Tuan Prabu Guru Darmasiksa telah datang kembali," seru seorang cantrik kepada dua orang kawannya yang tengah berada di muka regol padepokan, tampaknya hendak berangkat ke sawah.

"Apakah kalian akan berangkat ke sawah?" sapa Prabu Guru Darmasiksa kepada ketiga cantrik itu dari atas punggung kudanya.

"Kami bermaksud memperbaiki jalan air di sawah," jawab salah seorang cantrik sambil membungkuk penuh hormat.

Seorang cantrik kemudian menyambut tali kuda mereka berlima setelah memasuki halaman pekarangan padepokan.

"Aku sudah bosan sendirian tiap malam di atas pendapa ini," ujar Bango Samparan sambil menuruni anak tangga pendapa menyambut kedatangan mereka.

"Bagaimana keadaan Andini saat ini?" tanya Prabu Guru Darmasiksa.

"Hari ini sudah mulai belajar berjalan di biliknya," jawab Bango Samparan dengan wajah penuh ceria.

Setelah membersihkan diri di pakiwan, mereka berkumpul kembali di pendapa padepokan bersama Bango Samparan.

"Semoga aku tidak mengurangi kenikmatan Tuan-tuan," ujar Bango Samparan yang tampak ingin membuka pembicaraan saat mereka sedang menikmati makanan dan minuman hangat.

Bango Samparan kemudian mengeluarkan sebuah benda dari balik pakaiannya.

"Kujang Pangeran Muncang?" tanya Prabu Guru Darmasiksa saat melihat benda di tangan Bango Samparan.

"Aku menunggu Tuan Prabu untuk menyerahkan pusaka ini," kata Bango Samparan sambil menyerahkan senjata kujang tersebut.

"Berceritalah, bagaimana senjata yang hilang ini bisa berada di tanganmu?" pinta Prabu Guru Darmasiksa.

Semua mata yang ada di atas pendapa tertuju ke arah Bango Samparan. Sempat muncul keraguan di hati pria itu; pikirannya bercabang antara ingin menceritakan kejadian sebenarnya dan keinginan merahasiakan asal-usul jati diri Dewi Kaswari.

"Bila ada sesuatu yang sangat memberatkan hatimu, kami tidak akan memaksamu," ucap Prabu Guru Darmasiksa seolah mampu membaca isi pikiran Bango Samparan.

"Aku akan bercerita seutuhnya," sahut Bango Samparan yang akhirnya memantapkan hati untuk jujur tanpa rasa takut.

Perlahan, Bango Samparan bercerita tentang pertemuannya dengan Pendeta Rakanata, serta seseorang yang menolong nyawanya saat nyaris terbunuh oleh pendeta tersebut.

"Pendeta Rakanata telah membuka rahasia kepadaku bahwa dirinya adalah ayah kandung dari Dewi Kaswari," ungkap Bango Samparan tanpa ragu, termasuk mengenai rahasia penukaran bayi keturunan Raja Rakata.

"Hati Pendeta Rakanata sudah begitu kelam," komentar Prabu Guru Darmasiksa saat mendengar kejahatan tersebut.

"Kasihan nasib bayi Raja Rakata itu," sahut Pangeran Jayanagara.

"Sungguh sebuah kebetulan bahwa yang menyelamatkan nyawaku adalah bayi Raja Rakata yang tertukar itu. Dialah putra Raja Rakata yang sebenarnya. Begitu luas jiwanya, meski telah mengetahui kejahatan Pendeta Rakanata, ia tetap mengampuni pendeta berhati kelam itu," lanjut Bango Samparan.

"Siapakah orang itu? Apakah ia menyebutkan namanya kepadamu?" tanya Prabu Guru Darmasiksa penasaran.

"Ketika berpisah, orang itu hanya memperkenalkan diri sebagai seorang pertapa dari Gunung Wilis bernama Dharmaraya," jawab Bango Samparan.

Mendengar hal itu, Putu Risang dan Gajahmada saling berpandangan. Mereka tahu betul siapa sosok yang dimaksud.

"Bila Pendeta Dharmaraya adalah putra Raja Rakata, berarti Mahesa Muksa adalah keturunan dari Kerajaan Rakata," batin Putu Risang.

Sementara itu, Gajahmada termenung. "Apakah aku harus mengungkapkan kegembiraan ini, bahwa akulah putra Pendeta Dharmaraya sang pertapa dari Gunung Wilis itu?" pikirnya. Namun, ia memilih untuk diam. "Biarlah setiap orang mengenal diriku apa adanya, bukan dari mana dan siapa yang melahirkan diriku," batinnya lagi.

Melihat Gajahmada tetap bungkam, Putu Risang pun ikut merahasiakan apa yang ia ketahui. "Nampaknya Mahesa Muksa tidak ingin membuka jati dirinya," nilai Putu Risang dalam hati.

Tiba-tiba, suasana kembali tegang ketika Prabu Guru Darmasiksa berbicara mengenai kujang yang ada di tangannya.

"Bukan maksudku tidak percaya, tetapi katakanlah kepadaku, apakah kamu menerima senjata kujang ini memang dalam keadaan telanjang tanpa sarung kayu rumahnya?" tanya Prabu Guru Darmasiksa.

"Ampun, Tuan Prabu, aku menerimanya dalam keadaan telanjang tanpa sarungnya," jawab Bango Samparan terkejut.

"Sebenarnya kehilangan senjata pusaka tidak terlalu kukhawatirkan. Namun, yang kutakutkan adalah bahwa pada sarung kayu senjata ini telah terukir sebuah rahasia ajian ilmu pamungkas, yaitu Ajian Muncang Kuning. Jika rahasia ilmu ini jatuh ke tangan yang salah, pasti akan membawa malapetaka dan prahara besar di bumi ini," jelas Prabu Guru Darmasiksa.

Suasana pendapa menjadi sepi. Semua orang tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Menurut cerita Bango Samparan, senjata ini terakhir berada di tangan Pendeta Rakanata. Maka, orang itulah yang dapat kita jadikan pijakan pertama untuk mengetahui keberadaan sarung senjata tersebut," ujar Jayakatwang.

"Cara yang baik, namun kita belum tahu ke mana perginya Pendeta Rakanata setelah tersingkir dari lingkungan istana Kawali," kata Prabu Guru Darmasiksa.

"Kemanapun seekor bangau pergi, pasti akan kembali ke sarangnya. Kita bisa mencarinya di tempat asalnya di Kotaraja Rakata," saran Jayakatwang.

"Bila diizinkan, biarlah cucunda yang akan mencarinya ke Kotaraja Rakata," tawar Pangeran Jayanagara.

Prabu Guru Darmasiksa tampak ragu karena khawatir Pangeran Jayanagara menghadapi Pendeta Rakanata yang berilmu tinggi seorang diri. Putu Risang yang menangkap keraguan itu pun segera menyela.

"Mahesa Muksa dapat menemani Jayanagara," usul Putu Risang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment