Chapter 62
Mendengar perkataan Putu Risang, terlihat Prabu Guru Darmasiksa mulai dapat menarik napas lega; ia tidak lagi mengkhawatirkan keputusan untuk melepas Pangeran Jayanagara seorang diri ke Kotaraja Rakata.
Meski begitu, Prabu Guru masih bertanya kepada Gajah Mada.
"Bagaimana Mahesa Muksa, apakah kamu bersedia menemani Pangeran Jayanagara?" tanya Prabu Guru Darmasiksa ingin memastikan langsung dari Gajah Mada.
"Aku bersedia menemani Pangeran Jayanagara," jawab Gajah Mada.
"Sebenarnya aku ingin juga mengunjungi kotaraja purba itu, namun istriku, Turuk Bali, pasti sudah rindu untuk kembali ke Majapahit," ujar Jayakatwang sambil tersenyum ke arah Putu Risang.
Nampaknya, Putu Risang tanggap sekali dengan pandangan mata Jayakatwang.
"Sebagaimana Paman Jayakatwang, aku juga ingin rasanya melihat-lihat suasana Kotaraja Rakata, namun keluarga di Majapahit mungkin sudah begitu lama menunggu," kata Putu Risang memberikan alasan karena tidak dapat menemani kedua muridnya itu.
"Seandainya Andini tidak dalam penyembuhan, mungkin aku dapat menjadi kawan penunjuk arah yang baik, karena beberapa tahun yang silam aku pernah datang mengunjungi kota tua itu," kata Bango Samparan sambil bercerita banyak tentang keadaan Kotaraja Rakata di masa lalu. "Penduduk asli Rakata meyakini bahwa gunung berapi Rakata adalah pusar bumi dan awal peradaban dunia," lanjut Bango Samparan.
"Sebagai kerajaan tertua di Jawadwipa, mereka masih merasa terhina menjadi daerah bawahan dari Kerajaan Kawali. Aku berharap kekalahan mereka kemarin akan melunakkan kekerasan dan kebanggaan atas kebesaran masa-masa jaya leluhur mereka," kata Prabu Guru Darmasiksa.
Mendengar perkataan Prabu Guru Darmasiksa, terlihat Jayakatwang seperti termenung, terbayang kekerasan hatinya di masa lalu sebagai keturunan Raja Kediri yang merasa lebih mulia dari orang Singasari yang biasa disebut sebagai orang-orang Tumapel.
"Kemuliaan para leluhur memang kadang membutakan para pewarisnya. Mereka akan berusaha dengan segala upaya untuk merebutnya kembali. Selama itulah peperangan tidak akan pernah berakhir," kata Jayakatwang seperti berkata kepada dirinya sendiri.
"Sayangnya, hanya sedikit manusia yang memahami bahwa kemuliaan diri itu adalah menjadi raja atas dirinya sendiri di dalam istana hati," tanggap Prabu Guru Darmasiksa atas perkataan Jayakatwang.
"Aku jadi iri kepada Tuan Prabu Guru Darmasiksa yang telah merelakan kemewahan dan kemegahan singgasana, lalu hidup sebagai orang biasa di lereng gunung ini dengan segala kesederhanaan," kata Jayakatwang.
"Di padepokan ini aku merasa berbahagia karena dapat berbagi, saling mengingatkan tentang makna hidup yang sebenarnya, dan bersama-sama melakoninya hingga di ujung usia. Meski begitu, kita tidak harus melupakan dunia nyata; sebagai petani, pedagang, ksatria yang memerangi kemungkaran, atau sebagai pendeta yang membawa arah jalan lurus bagi sesama. Kita hanyalah sebuah wayang, apa pun lakonnya harus kita terima sebagai garis nasib dari Sang Dalang yang memiliki kekuasaan terbesar dalam sebuah pagelaran besar," tutur Prabu Guru Darmasiksa.
"Dan hari ini kita telah menyaksikan sebuah lakon hidup sang pendeta durjana, Pendeta Rakanata," kata Bango Samparan.
"Ini pun sudah menjadi tuntutan lakon yang harus kita perangi bersama. Aku akan membekali dua anak muda ini dengan ajian ilmu Muncang Kuning, agar mereka dapat lebih menguasai keadaan bila bertemu dan terbentur dengan ajian yang sama," kata Prabu Guru Darmasiksa.
"Berbahagialah kalian berdua, tidak semua orang mendapatkan kesempatan ini," ujar Jayakatwang kepada Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara.
Demikianlah, ketika malam mulai menjalar menggelapi wajah bumi, Prabu Guru Darmasiksa mengajak Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara untuk memasuki sanggar tertutup.
Ketika Pangeran Jayanagara dan Gajah Mada masuk ke sanggar itu, mereka melihat tempat berlatih yang sangat lengkap untuk olah keseimbangan, kecepatan, dan ketahanan tubuh, meski terbuat dari bahan-bahan yang sangat sederhana, tidak seperti sanggar di istana Majapahit. Dua buah pelita menerangi ruang sanggar itu, di samping sebuah bale bambu sederhana.
"Simak dan pahatlah di dinding-dinding ingatan kalian," kata Prabu Guru Darmasiksa.
Terdengar beberapa kali Prabu Guru Darmasiksa menuturkan kalimat-kalimat yang disimak dengan penuh perhatian oleh Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara.
"Enam kalimat yang kalian hapalkan ini adalah kalimat yang terukir di sarung kayu Kujang Pangeran Muncang itu," kata Prabu Guru Darmasiksa ketika merasa yakin bahwa Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara telah menghapalnya di luar kepala.
Prabu Guru Darmasiksa kemudian merinci arti dan makna dari keenam kalimat tersebut kepada kedua anak muda itu. Ternyata, enam kalimat itu merupakan rahasia ilmu tenaga sakti sejati, Ajian Muncang Kuning, yang sangat terkenal di zaman silam—sebuah ajian yang hanya ada dalam dongeng-dongeng orang tua di bumi Pasundan.
"Kalian telah mengenal bagaimana mengendapkan hawa murni dalam aliran perguruan kalian serta bagaimana cara mengungkapkan tenaga sakti sejati dari dalam diri. Namun, setiap perguruan memiliki cara yang sedikit berbeda, kuharap ini dapat memperkaya pengenalan kalian," kata Prabu Guru Darmasiksa setelah menguraikan rahasia ajian tersebut.
"Apa yang kupahami ini benar-benar telah menyempurnakan pemahaman sebelumnya tentang cara mengendapkan hawa murni dan membangkitkannya menjadi tenaga diri sejati," kata Gajah Mada dengan wajah berbinar-binar.
"Seperti menemukan sebuah jalan lain yang lebih singkat," sahut Pangeran Jayanagara.
"Itu tandanya kalian berdua memang berjodoh dengan ajian Muncang Kuning ini," kata Prabu Guru Darmasiksa dengan wajah penuh kegembiraan melihat kedua anak muda itu begitu cepat memahami rahasia ilmu tersebut.
Sementara itu, udara malam di luar sanggar sudah menjadi begitu dingin membeku, mungkin karena letak padepokan yang berada di lereng Gunung Galunggung, di sebuah dataran tinggi yang cukup dingin.
"Mari kita keluar dari sanggar ini," ajak Prabu Guru Darmasiksa.
Tiga orang lelaki itu berjalan ke arah regol pintu gerbang padepokan. "Kami mau cari angin," ujar Prabu Guru Darmasiksa kepada dua orang cantrik yang mendapat tugas ronda. Ternyata, Prabu Guru Darmasiksa telah mengajak Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara ke sebuah danau besar tidak jauh dari padepokannya.
"Turunlah kalian dan berendamlah di danau ini," perintah Prabu Guru Darmasiksa.
Kedua anak muda itu langsung turun ke tepian danau yang kedalamannya sebatas leher mereka. Dapat dibayangkan betapa dinginnya air danau di waktu malam.
"Kutinggalkan kalian hingga besok pagi," kata Prabu Guru Darmasiksa sambil tersenyum, lalu berbalik badan meninggalkan tepian danau.
Bintang-bintang bertaburan memenuhi langit gelap di atas danau yang sepi. Sebenarnya, sebagai dua orang yang telah mahir menguasai tenaga sejati, mereka dapat saja mengurangi rasa dingin yang membeku itu dengan mengalirkan hawa panas. Tapi, semua itu tidak mereka lakukan karena harus murni merasakan dan mengenal rasa dingin yang kuat dari air danau tersebut.
"Seperti inilah para leluhur kami melatih ajian Muncang Kuning. Pahatlah rasa dingin itu di dalam sanubari kalian paling dalam," suara Prabu Guru Darmasiksa bergema dari berbagai arah, entah dari mana asalnya karena ia memang sudah tidak terlihat lagi.
Semilir angin dingin berhembus menggoyangkan bunga teratai putih yang sedang mekar. Sesekali terdengar suara anak katak yang meronta dari cengkeraman mulut seekor ular air, atau suara burung hantu yang sayup menghilang mencari mangsa.
Malam pun terus berlalu di atas danau itu. Pangeran Jayanagara dan Gajah Mada telah menggigil kedinginan, namun ketahanan hati mereka mampu melawan rasa dingin yang mencekam seluruh tubuh.
Menjelang pagi, rasa dingin semakin menjadi-jadi menjalari kulit dan tulang, namun mereka tidak bergerak sejengkal pun. Perlahan, langit berubah warna; ada segaris warna merah memanjang di tepi cakrawala. Matahari muncul menyinari alam, menerangi air danau yang kini terlihat semakin hijau bening.
Entah dari mana, tiba-tiba Prabu Guru Darmasiksa muncul di tepian danau.
"Naiklah ke darat, kalian telah menuntaskan sebuah laku," katanya.
Mendengar perintah itu, kedua anak muda tersebut langsung naik ke darat.