Chapter 63
"Mari kita kembali ke Padepokan, kalian harus beristirahat dan berganti pakaian," ujar Prabu Guru Darmasiksa sambil tersenyum melihat pakaian kedua anak muda itu basah kuyup.
Mereka bertiga berjalan menuju Padepokan. Setibanya di sana, Prabu Guru Darmasiksa berpesan agar mereka membersihkan diri dan berganti pakaian di pendapa Padepokan. Tidak lama berselang, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara kembali ke pendapa.
"Beristirahatlah kalian, makanan dan minuman hangat sudah kami sediakan," kata Prabu Guru Darmasiksa mempersilakan keduanya untuk makan dan minum. Sementara itu, di pendapa sudah ada Putu Risang, Jayakatwang, dan Bango Samparan. Mereka bertiga telah mengetahui bahwa Gajahmada dan Pangeran Jayanagara baru saja menjalani sebuah laku.
"Setelah ini, aku akan membawa kalian ke sebuah tempat," ujar Prabu Guru Darmasiksa kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara.
Setelah merasa cukup beristirahat, sesuai perintah Prabu Guru Darmasiksa, mereka berdua diajak kembali keluar dari Padepokan. Ternyata, mereka berjalan lebih jauh lagi mendaki Gunung Galunggung. Akhirnya, ketika sampai di sebuah tanah lapang berbatu, Prabu Guru Darmasiksa mengajak mereka berhenti.
"Kalian telah menyimpan rasa dingin yang sangat di dalam sanubari. Aku ingin melihat sejauh mana kalian dapat menerapkan Ajian Muncang Kuning yang telah aku ajarkan," kata Prabu Guru Darmasiksa.
"Aku akan mencoba lebih dulu," ujar Pangeran Jayanagara maju untuk menunjukkan rahasia Ajian Muncang Kuning. Ia berdiri dengan kaki sedikit merenggang dan kedua tangan beradu di depan dada. Setelah beberapa saat memusatkan konsentrasi untuk menembus rasa dingin yang menyelimuti tubuhnya, sebuah lidah api keluar dari telapak tangannya.
"Wusss!"
Lidah api itu melesat seperti seekor naga, menghantam batu cadas hingga membara.
"Bagus, sudah sangat sempurna," puji Prabu Guru Darmasiksa dengan gembira.
"Terima kasih," jawab Pangeran Jayanagara sambil mundur.
Tanpa diminta, Gajahmada maju menghadapi batu besar lainnya. Sebagaimana Pangeran Jayanagara, ia berdiri dengan posisi serupa.
"Wusss!"
Luar biasa, lidah api yang keluar dari telapak tangan Gajahmada menyambar batu besar di depannya. Batu sebesar kepala kerbau itu pecah berhamburan menjadi kepingan bara yang masih berasap.
"Luar biasa, kamu seperti telah berlatih lebih lama daripada Pangeran Jayanagara. Tenaga di dalam dirimu seperti sepuluh orang raksasa yang bergabung menjadi satu," puji Prabu Guru Darmasiksa. Beliau tidak mengetahui bahwa Gajahmada telah diwarisi hawa murni dari ayahandanya sendiri, sang pertapa dari Gunung Wilis. Sementara itu, Pangeran Jayanagara menganggap Gajahmada telah berlatih jauh lebih keras darinya.
"Aku gembira kalian telah dapat menerapkan Ajian Muncang Kuning dengan benar. Berhati-hatilah, bila kalian melakukannya dengan cara terbalik, ajian ini akan menjadi sangat menyesatkan. Rahasia inilah yang kutakuti jika diketahui oleh pemilik sarung kayu pusaka Kujang Pangeran Muncang itu," pesan Prabu Guru Darmasiksa.
"Melakukannya dengan cara terbalik?" tanya Gajahmada penasaran.
Prabu Guru Darmasiksa pun menjelaskan maksudnya. Wajah Gajahmada berbinar karena memahami penuturan gurunya.
"Ajian itu berubah menjadi ilmu keji karena dapat menghisap hawa murni lawan melalui sentuhan," urai Gajahmada.
"Benar, sebuah ajian keji untuk menyerap hawa murni lawan," tegas Prabu Guru Darmasiksa.
Pada waktu yang sama, di tempat lain, seorang lelaki tengah mendaki perbukitan hijau. Pakaiannya lusuh, compang-camping, dan rambutnya terurai berantakan. Jika diperhatikan, matanya tampak menakutkan, penuh amarah dan kebencian. Pakaiannya yang robek di sana-sini sebenarnya terbuat dari bahan yang mahal. Tidak ada yang menyangka bahwa ia adalah Patih Anggajaya.
Setelah pasukannya dikepung di hutan sebelah timur Kotaraja Kawali, Patih Anggajaya berhasil meloloskan diri dari pasukan Adipati Suradilaga. Ia pergi membawa dendam yang membara hingga sampai ke perbukitan hijau tersebut. Tiba-tiba, penciumannya menangkap aroma daging burung panggang. Tanpa sadar, ia mendekati sumber aroma itu dan menemukan seseorang sedang duduk di depan perapian.
"Kebetulan sekali, aku membakar dua ekor ayam hutan," kata orang itu seolah sudah mengetahui kedatangan Patih Anggajaya.
Patih Anggajaya terkejut mendapati orang itu adalah Pendeta Rakanata.
"Ambillah untukmu," kata Pendeta Rakanata sambil menyerahkan sepotong daging panggang. Patih Anggajaya tidak menolak dan segera menyantapnya.
"Dua pengemis hina bertemu di perbukitan hijau," ejek Pendeta Rakanata sambil tertawa melihat penampilan Patih Anggajaya.
"Dua orang pecundang bertemu," sahut Patih Anggajaya ikut tertawa.
Dua orang yang sama-sama terbuang dari Kotaraja Kawali itu merasa senasib dan sepenanggungan.
"Kita bukan pecundang, sahabat. Kita akan merebut kembali kejayaan kita dengan ini," ujar Pendeta Rakanata sambil menunjukkan sarung kayu pusaka Kujang Pangeran Muncang.
"Aku tidak mengerti maksud Tuan Pendeta, dan aku tidak melihat senjata kujang di dalamnya," kata Patih Anggajaya.
Pendeta Rakanata mengarang cerita bahwa pusaka kujang itu telah direbut oleh seorang pertapa, namun sarung kayunya tertinggal. Ia mencoba meyakinkan Patih Anggajaya bahwa sarung kayu itu memiliki nilai tinggi.
"Apa arti sarung kayu kosong ini tanpa pusaka kujangnya?" tanya Patih Anggajaya.
"Perhatikan dengan seksama, di atas kayu ini terukir beberapa kalimat," jawab Pendeta Rakanata.
"Sebuah tuntunan rahasia!" seru Patih Anggajaya saat membaca ukiran tersebut.
"Kita berjodoh untuk mempelajarinya bersama," kata Pendeta Rakanata gembira.
"Pasti ini ajian yang hebat, kita akan merebut kembali kejayaan kita yang tertunda," ujar Patih Anggajaya.
Sejak saat itu, mereka memutuskan untuk tinggal di perbukitan tersebut dan mempelajari guratan rahasia pada sarung kayu itu. Mereka merasa berhasil memecahkan tabir rahasia enam kalimat tersebut, meski sebenarnya pemahaman mereka terbalik dari makna yang sesungguhnya.
"Ini adalah tuntunan ajian penghisap sukma. Aku pernah mendengar cerita tentang seorang pendeta pengembara dari India yang memiliki ilmu tinggi untuk menghisap hawa murni lawan hingga mati lemas," kata Pendeta Rakanata merasa telah memahami ilmu tersebut.
Kembali ke lereng Gunung Galunggung, senja yang bening menghiasi Padepokan yang tenang.
"Besok kalian berdua akan berangkat mengembara dalam tugas membawa kembali sarung kayu pusaka Kujang Pangeran Muncang yang hilang itu," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara.