Chapter 64
"Di dalam perjalanan, kalian berdua dapat meningkatkan dan menyempurnakan pengenalan kalian atas ajian Muncang Kuning itu," ujar Prabu Guru Darmasiksa.
"Aku akan mengatakan kepada Ayahandamu bahwa kamu tidak bersama kami pulang ke Majapahit karena masih dalam tugas suci membawa kembali sarung kayu pusaka Pangeran Muncang," kata Jayakatwang yang juga berada di atas pendapa itu bersama mereka.
"Sayang, aku tidak dapat mengiringi kalian. Aku hanya berdoa untuk keselamatan kalian berdua," ujar Putu Risang sedikit terharu karena harus melepas kedua muridnya yang selama ini selalu bersamanya.
"Kalian pernah mendatangi Rawa Rontek. Singgahlah jika kebetulan lewat dalam pengembaraan kalian," kata Bango Samparan.
Demikianlah, tidak terasa hari perlahan mulai temaram diselimuti langit malam yang mulai berwarna kelam. Tidak terlihat bintang di langit malam itu sebagai tanda sebentar lagi mungkin akan turun hujan.
"Beristirahatlah, besok kalian akan melakukan perjalanan panjang," ucap Prabu Guru Darmasiksa kepada Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara.
Akhirnya, langit memang telah menurunkan hujan di atas tanah padepokan Prabu Guru Darmasiksa. Udara malam menjadi semakin dingin, membuat setiap orang telah berbaring di peraduannya masing-masing meski malam belum lagi berlalu dalam waktu sepi uwong.
Ketika hari telah berganti pagi, warna bunga-bunga di halaman pekarangan padepokan itu menjadi lebih cerah, bukan karena semalam diguyur hujan, tapi karena ada sepasang kaki mungil yang tengah menapaki rumput hijau di pagi yang cerah itu.
"Jangan terlalu memaksakan diri, wahai putriku Andini. Berhentilah jika kamu merasa sudah lelah," kata Bango Samparan kepada pemilik sepasang kaki mungil itu. Andini yang sedang dalam masa penyembuhan mencoba belajar berjalan setelah lama berbaring di biliknya.
"Ayahmu benar. Lagipula, ada dua anak muda yang tertahan dan tidak akan beranjak dari duduknya selama kamu masih berada di halaman," ujar Putu Risang sambil tersenyum menggoda ke arah Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara yang sudah bangun sejak pagi.
"Duduklah bersama kami," ajak Prabu Guru Darmasiksa kepada Andini. Dengan perlahan, Andini menaiki tangga pendapa dibantu oleh Bango Samparan.
"Bagaimana keadaanmu, wahai Andini?" tanya Prabu Guru Darmasiksa.
"Berkat obat Tuan Prabu, badanku terasa sudah jauh lebih segar dari sebelumnya," jawab Andini dengan senyum di bibirnya.
"Mudah-mudahan Andini dapat sembuh seperti sedia kala," batin Gajah Mada sambil melihat wajah gadis itu yang masih sedikit pucat, meski tampak lebih baik dari sebelumnya.
Setelah memberikan beberapa pesan dan nasihat kepada Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara, Prabu Guru Darmasiksa akhirnya dengan berat hati melepas dan merestui kepergian kedua anak muda itu. Di bawah pandangan mata semua yang hadir, Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara menuruni anak tangga pendapa dan melangkah membelah halaman pekarangan padepokan.
"Apakah Kakang Mahesa Muksa merasakan apa yang kurasakan ini?" tanya Andini dalam hati, merasa dirinya seperti terbang kosong tak bergairah melihat langkah kaki Gajah Mada yang semakin mendekati pintu gerbang padepokan.
Untunglah, Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara sempat menengok ke belakang sebentar ketika berada di bawah pintu gerbang, sehingga Andini memiliki kesempatan untuk menangkap mata Gajah Mada yang diyakininya tengah menatap ke arahnya. Tangan Andini yang masih lemah terangkat, melambaikan tanda perpisahan kepada pemuda yang mencuri hatinya itu, pahlawan dalam setiap mimpi-mimpinya.
Semua mata di atas pendapa padepokan menarik napas dalam-dalam ketika kedua punggung anak muda itu menghilang di balik dinding pagar. Matahari mulai beranjak naik, dan dua ekor elang muda terlihat terbang rendah ke arah barat menuju padang perburuan di ujung hutan perbukitan hijau.
Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara telah menuruni lereng Gunung Galunggung. Langkah mereka terasa ringan menapaki tanah dan batu pegunungan menuju ke arah barat hutan hijau. Mereka sengaja tidak berkuda agar perjalanan lebih bebas layaknya pengembara. Berbekal pengalaman Prabu Guru Darmasiksa dan Bango Samparan, kedua anak muda itu yakin arah perjalanan mereka tidak akan meleset dari Kotaraja Rakata yang berada di ujung paling barat Jawadwipa, sebuah kota purba yang pernah mencapai puncak kejayaannya.
Sementara itu, di tanah Pasundan, di sebuah gunung berapi yang tinggi, orang-orang enggan mendekat karena percaya kawah gunung itu adalah tempat berkumpulnya para raja dedemit di Jawadwipa. Masyarakat sekitar menyebutnya Gunung Guntur karena sering terdengar suara guntur di sana.
Hari itu, dua orang lelaki berdiri di atas dua buah batu di dekat kawah berapi tersebut. Keduanya telah lama berdiri melakukan olah laku.
"Kita sudah cukup lama berdiri di atas batu panas ini," ujar salah seorang di antara mereka, lalu melompat melenting tinggi ke tepian kubangan kawah. Kawannya pun segera mengikuti.
"Mari kita cari tempat yang menjauhi kawah ini," ajak salah seorang dari mereka saat mendaki puncak Gunung Guntur.
"Kita sudah menuntaskan rahasia Kujang Pangeran Muncang di atas kawah ini. Sejak hari ini, jangan panggil aku lagi Pendeta Rakanata, sebut namaku Ki Guntur Geni," kata salah seorang dengan penuh kebanggaan.
"Bila demikian, namaku pun harus berganti," sahut kawannya. "Sejak saat ini, aku akan memanggilmu Ki Guntur Bumi," ujar Ki Guntur Geni.
"Dua nama yang akan mengguntur menguasai dunia," balas kawannya yang setuju dengan nama baru tersebut.
"Kita harus mencari dua tumbal untuk penggantian nama kita ini," kata Ki Guntur Geni.
"Benar, sekalian untuk menguji seberapa dahsyat ajian ilmu yang baru kita miliki," ujar Ki Guntur Bumi menyetujui.
"Di kaki Gunung Guntur ini, aku pernah mendengar ada sepasang suami istri sakti mandraguna. Dengan ilmu yang kita miliki, kita dapat menghisap hawa murni mereka sehingga tenaga sakti sejati kita akan berlipat ganda," ujar Ki Guntur Geni.
"Dengan kekuatan itu, kita tidak akan mudah terkalahkan. Kotaraja Rakata adalah kerajaan pertama yang akan kita kuasai," seru Ki Guntur Geni penuh semangat.
Sore itu, angin berembus sejuk di sebuah rumah mungil di kaki Gunung Guntur yang dikelilingi ladang jagung. Sepasang suami istri tengah menikmati suasana sore sambil memandang ladang yang sebentar lagi panen. Jarang ada yang mengetahui bahwa mereka adalah sepasang ksatria yang sangat ditakuti semasa mudanya, yang dikenal dengan julukan Sepasang Pendekar Pedang Kembar. Kini, penduduk mengenalnya sebagai Ki Jabarantas dan Nyi Jabarantas yang dikenal baik hati.
Namun, sore itu seorang pemuda mendatangi rumah mereka. Ia berdiri di pekarangan sambil berteriak, "Kemarilah kalian! Aku, Bendawa putra Cakra Pinungat, hendak mengadu ilmu dengan kalian!"
Suaranya merusak suasana sore yang tenang. Namun, sepasang suami istri itu tidak marah. Dengan wajah penuh senyum, mereka turun dari pendapa menghampiri anak muda itu, seolah sudah terbiasa menerima tuntutan hidup yang harus mereka jalani sebagai mantan pendekar.