Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 65

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 65

"Sepertinya aku pernah mendengar nama ayahmu itu, wahai anak muda," kata Ki Jabarantas dengan suara penuh kesabaran kepada anak muda yang telah memperkenalkan dirinya bernama Bendawa.

"Bagus jika kalian tidak melupakan nama ayahku, jadi tidak perlu panjang lebar lagi untuk menjelaskan kedatanganku ini," sahut anak muda yang bernama Bendawa itu sambil bertolak pinggang dengan mata merah, seolah ingin melumat kedua suami istri itu.

"Kami merasa tidak berutang apa pun kepada ayahmu," ujar Ki Jabarantas masih dengan suara penuh kesabaran.

"Jangan pura-pura pikun, aku datang untuk menagih utang nyawa kepada kalian," balas Bendawa dengan wajah penuh dendam kesumat.

"Kami memang pernah beradu senjata dengan ayahmu, namun hal itu terpaksa kami lakukan karena ayahmu telah banyak membuat keresahan di kalangan penduduk," tutur Ki Jabarantas.

"Kalian berkata seperti seorang pahlawan, seperti pendekar budiman. Namun, kalian tidak pernah mendengar kesengsaraan kami sekeluarga yang ditinggal mati oleh seorang kepala keluarga. Kalian adalah pembunuh. Aku yakin ayahku dikalahkan oleh kalian dengan cara mengeroyoknya," seru Bendawa.

Mendengar tuduhan itu, kesabaran Nyi Jabarantas seolah hilang. "Tutup mulutmu! Suamiku bertarung dengan ayahmu secara adil, satu lawan satu," sergah Nyi Jabarantas dengan suara lantang.

"Kami memang bertarung dengan cara yang adil. Jika saat ini anak muda hendak datang menuntut balas, aku, Jabarantas, tidak akan lari selangkah pun," ucap Ki Jabarantas tenang.

"Kalian berdua boleh mengeroyokku," tantang Bendawa.

"Aku yang akan menghadapimu sendiri," sahut Ki Jabarantas sambil memberi tanda kepada istrinya untuk mundur. Nyi Jabarantas pun menuruti permintaan suaminya dan membiarkan Ki Jabarantas melayani anak muda sombong itu.

"Senjataku masih ada di dalam, biarlah aku menghadapimu tanpa senjata," ujar Ki Jabarantas sambil memasang kuda-kuda yang kokoh.

"Jangan menyesal menghadapiku tanpa senjata," kata Bendawa sambil menarik keris panjang dari pinggangnya.

"Aku tidak akan pernah menyesal, wahai anak muda," jawab Ki Jabarantas sambil tersenyum ramah seolah menghadapi muridnya sendiri. Sikap Ki Jabarantas membuat Bendawa semakin terbakar amarah karena merasa diremehkan.

"Rasakan seranganku ini!" Bendawa menyerang dada Ki Jabarantas dengan keris terhunus. Meskipun keriput menghiasi wajahnya, otot-otot Ki Jabarantas masih terlihat kuat. Dengan tenang, ia bergeser menghindari ujung keris yang meluncur lurus ke arah dadanya.

Ki Jabarantas tidak berniat membalas, ia hanya menunggu serangan selanjutnya. Sikap ini membuat Bendawa merasa diperolok. "Kurobek perutmu!" seru Bendawa sambil menyerang lebih cepat ke arah perut Ki Jabarantas.

"Kerahkan tenagamu lebih kuat lagi," ujar Ki Jabarantas sambil mundur selangkah.

Melihat serangan keduanya gagal, anak muda itu menerjang dengan tendangan. Kembali dengan gesit, Ki Jabarantas menghindar tanpa membalas sedikit pun.

"Ternyata kamu cuma bisa menghindar," ejek Bendawa yang penasaran karena tiga jurus serangannya dapat disingkirkan dengan mudah.

Nyi Jabarantas yang menyaksikan pertempuran itu sudah dapat mengukur kemampuan anak muda tersebut. Sebagai ahli kanuragan, ia tahu suaminya hanya sedang melatih seorang pemula. Dua puluh jurus berlalu, serangan Bendawa selalu luput. Keringat deras mengalir membasahi tubuh pemuda itu.

"Kerisku akan membunuhmu," ancam Bendawa dengan napas terengah-engah.

"Pilihlah olehmu tubuh tuaku ini," jawab Ki Jabarantas sambil tersenyum.

Bendawa yakin orang tua itu akan kehabisan napas, namun hingga puluhan jurus berlalu, Ki Jabarantas justru tampak tidak kelelahan, sementara Bendawa mulai kehilangan tenaganya. Akhirnya, Ki Jabarantas jenuh. Saat ujung keris Bendawa meluncur ke arah lehernya, dengan cepat ia menjepit ujung keris itu dengan dua jarinya.

Belum hilang rasa terperanjatnya, sebuah dorongan kuat membuat Bendawa terbanting ke tanah. "Pandanglah kerismu ini," ujar Ki Jabarantas sambil masih menjepit ujung keris tersebut.

Bendawa merasa ajalnya akan tiba, namun ia hanya bisa pasrah. Tiba-tiba, keris itu meluncur dari tangan Ki Jabarantas dan menancap di tanah tepat di samping leher Bendawa.

"Nasibmu masih baik, anak muda. Biasanya lemparanku tidak pernah meleset," kata Ki Jabarantas lembut.

Bendawa menyadari ia berhadapan dengan lawan yang jauh lebih hebat. "Hari ini aku bukan apa-apa bagimu, tapi di lain hari aku akan kembali menagih utang nyawamu," ucap Bendawa sambil bangkit dan menyarungkan kerisnya.

"Doakan umurku masih panjang untuk melayanimu," sahut Ki Jabarantas saat anak muda itu pergi.

"Gusti yang Maha Agung masih memberi kita umur hingga hari ini," gumam Nyi Jabarantas.

Tanpa mereka sadari, dua pasang mata mengintai dari kebun jagung. "Kita biarkan mereka menikmati sisa hidup hingga malam ini," bisik salah satu pengintai.

"Sayang sekali kebun jagung yang hampir panen ini harus terlantar ditinggal mati tuannya," sahut kawannya.

Dua orang asing itu adalah Patih Anggajaya dan Pendeta Rakanata yang berganti nama menjadi Ki Guntur Bumi dan Ki Guntur Geni, otak pemberontakan di Kotaraja Kawali. Sore itu, mereka baru saja tiba di kaki Gunung Guntur dan menyaksikan pertempuran tersebut.

Senja pun menyergap. Alam menjadi sunyi. Burung-burung pranjak bersembunyi di balik semak. Malam datang membawa kegelapan.

"Semoga malam ini tidak hujan," ujar Ki Guntur Bumi menatap bintang-bintang.

Hawa di kaki Gunung Guntur begitu dingin. Cahaya pelita di depan rumah panggung tampak redup, penghuninya mungkin sudah terlelap, sementara Ki Guntur Bumi dan Ki Guntur Geni merebahkan diri di balik tingginya tangkai-tangkai jagung.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment