Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 66

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 66

Hangat memang berlindung di bawah kebun jagung yang sudah menjelang tua untuk dipanen. Mereka tampak tertidur pulas, mungkin tengah bermimpi dikelilingi para selir di sebuah singgasana istana elok sebagai seorang kaisar besar yang menguasai hampir separuh dunia.

Sang pagi akhirnya datang kembali menjenguk bumi purba, ditebari seberkas cahaya merah sang fajar yang membelah langit kelam. Terdengar suara ayam jantan sayup di kejauhan hutan Gunung Guntur yang masih pekat di awal pagi itu.

"Pagi yang indah," ujar Ki Jabarantas penuh senyum kegembiraan, memandang Nyi Jabarantas yang mendatanginya bersama segelas wedang sareh hangat dan tiga potong ubi merah di atas panggung rumah mungil mereka di tengah ladang jagung.

"Aku tidak pernah jemu dan bosan mendengar ucapan Kakang hampir di setiap awal pagi," kata Nyi Jabarantas sambil duduk menemani suaminya memandang ke arah ladang kebun jagung mereka.

"Semalam tidurmu begitu pulas, Jabarantas," ujar Ki Jabarantas.

"Maafkan aku Kakang, aku tidur mendahuluimu," jawab Nyi Jabarantas.

"Semalam ada burung gaok di wuwungan rumah kita," kata Ki Jabarantas.

"Orang tua zaman dulu selalu mengaitkannya dengan sebuah kematian," sahut Nyi Jabarantas.

"Apakah pernah terlintas di hatimu rasa takut menghadapi kematian?" tanya Ki Jabarantas.

"Semasa muda kita sering bermain-main dengan kematian di ujung pedang kita," kata Nyi Jabarantas.

"Hidup di dunia adalah perjalanan pendek yang singkat; kematian adalah sebuah pintu gerbang menuju alam keabadian. Apa dan di mana kita ditempatkan di alam keabadian itu tergantung bagaimana kita berpihak dalam kehidupan singkat ini, tergantung kepada siapa kita mengabdi. Apakah kita berpihak dan mengabdi kepada nafsu angkara atau kita berseberangan, menjadikan nafsu angkara sebagai musuh besar yang harus selalu diperangi," tutur Ki Jabarantas seolah berbicara kepada dirinya sendiri.

"Ternyata tidak mudah memerangi nafsu yang ada di dalam diri," ujar Nyi Jabarantas.

"Benar istriku. Musuh kita, para penjahat, tidak mengenal banyak tentang kelemahan kita. Sementara nafsu di dalam diri kita begitu sangat memahami di mana letak kelemahan kita sesungguhnya," tanggap Ki Jabarantas.

"Aku merasa beruntung bertemu denganmu, wahai suamiku. Kakanglah yang telah membuka hatiku tentang kebenaran untuk menjalani kehidupan ini dengan cara selalu bersandar kepada Gusti Penguasa Agung, pemilik kehidupan dan kebahagiaan hakiki ini. Bersamamu, aku selalu dapat belajar menjaga kesucian hati ini."

"Kita memang masih terus belajar mengenal dan memahami jalan kesucian ini. Kita telah belajar dan menamatkan jurus-jurus perguruan kita, namun kita tidak akan pernah selesai menamatkan pemahaman kita terhadap laku mengenal kebesaran-Nya. Kemarin, hari ini, dan besok, selalu saja kita menemukan laku baru, pengenalan baru. Sebagaimana meminum air laut, semakin banyak kita meminumnya, semakin dahagalah diri kita. Dan kita merasa menjadi semakin bodoh setelah semakin banyak yang kita dapatkan," ujar Ki Jabarantas di hadapan istrinya.

Perkataan Ki Jabarantas membuat suasana di panggungan rumah mungil itu sejenak menjadi sepi; masing-masing seolah tengah mengembara di alam pikirannya sendiri. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena mereka berdua melihat dua orang lelaki datang memasuki pekarangan.

"Kita kedatangan dua orang tamu," ujar Ki Jabarantas kepada istrinya sambil berdiri menyongsong dua orang lelaki yang tengah melangkahkan kaki mendekati tangga rumah mereka.

"Nampaknya mereka bukan orang padukuhan," bisik Nyi Jabarantas lirih, yang sudah mengenal hampir semua warga di padukuhan terdekat.

"Apakah kami berada di kediaman sepasang pedang kembar?" tanya salah seorang dari kedua tamu itu di bawah tangga rumah panggung.

Sepasang suami istri itu nampaknya sudah sering didatangi tamu asing yang tidak dikenal. "Kalian berdua nampaknya hanya mengenal nama, tidak mengenal orangnya. Kamilah berdua yang kalian sebutkan itu," kata Ki Jabarantas berusaha bersikap ramah.

"Ternyata sepasang pedang kembar hanyalah dua orang tua renta yang sudah bau tanah," sahut orang satunya lagi sambil tertawa tergelak-gelak.

"Siapa kalian dan ada keperluan apakah mendatangi rumah kami?" tanya Ki Jabarantas dari atas panggung, mulai tidak suka dengan kehadiran kedua orang itu.

"Namaku Guntur Geni, dan bersamaku ini adalah Guntur Bumi. Keperluan kami datang ke sini memang tidak begitu penting, hanya sekadar meringankan tugas Dewa Pencabut Nyawa," kata rekan orang yang dipanggil Guntur Geni itu.

"Aku tidak suka berliku-liku, kami datang untuk menantang kalian," sahut Guntur Bumi tidak sabaran.

"Bagus, aku juga tidak suka berliku-liku. Singkat dan jelas bahwa kalian datang untuk menantang kami. Bukankah begitu?" tanya Ki Jabarantas tegas.

Diam-diam Nyi Jabarantas sudah masuk ke dalam dan keluar lagi sambil membawa dua buah pedang panjang mereka. "Kami akan turun," ujar Ki Jabarantas sambil mengambil sebuah pedang dari tangan istrinya.

Sepasang suami istri yang sudah tua itu turun dari panggung rumahnya dan langsung melangkah ke tengah pekarangan. Melihat tuan rumah sudah berada di tengah, Guntur Bumi dan Guntur Geni segera mengikuti dan berdiri saling berhadapan.

"Satu lawan satu atau kita bertempur secara berpasangan?" tanya Ki Jabarantas kepada kedua tamunya.

"Kita bertempur terpisah, satu lawan satu," sahut Guntur Geni yang diam-diam memutar otak karena tahu keunggulan suami istri itu terletak pada jurus pertempuran berpasangan.

Ki Jabarantas tersenyum kecut, telah membaca arah pemikiran Guntur Geni yang licik. Namun sebagai tuan rumah, ia tidak mungkin menarik kembali penawaran yang sudah disampaikan. "Kembali kutawarkan, siapa yang menghadapi aku, dan siapa lawan dari istriku ini?"

"Akulah lawanmu," sahut Guntur Geni sambil maju selangkah.

"Jadi kita sudah punya lawan masing-masing," kata Ki Jabarantas sambil bergeser mencari tempat diikuti Guntur Geni. Nyi Jabarantas pun bergeser beberapa langkah diikuti Guntur Bumi.

"Sayang aku menemuimu di saat umurmu sudah tua, kulihat masih ada bekas kecantikanmu saat masih jadi gadis," ucap Guntur Geni dengan mata menggoda. Nyi Jabarantas tahu itu hanya pancingan untuk membakar amarahnya.

"Aku sudah begitu banyak mengenal laki-laki gombal seperti dirimu. Aku sangat senang jika tanganku ini dapat merobek mulut seorang lelaki seperti itu," balas Nyi Jabarantas sambil mencibir.

"Wanita tua, aku sungkan jika tanganku menyentuh kulitmu yang sudah berkerut itu," kata Guntur Geni masih memancing.

"Aku tidak biasa berkelahi dengan adu mulut," kata Nyi Jabarantas yang sudah bersiap dengan kuda-kuda.

"Benar, aku juga tidak suka berbicara dengan wanita tua," sahut Guntur Geni kesal. "Terimalah seranganku ini!"

Guntur Geni bergerak seperti seekor rajawali menerjang mangsanya. Nyi Jabarantas tidak gentar sedikit pun. Sretttt! Ia melompat sedikit ke samping sambil melepas pedang dari sarungnya.

"Lepaskan senjatamu, aku tidak ingin bertempur terlalu lama," kata Nyi Jabarantas ketus sambil menyabetkan pedang setengah lingkaran.

Guntur Geni terkesiap melihat serangan balik wanita tua itu yang masih sangat cepat. Sambil mundur menghindari sabetan, ia segera melepas keris dari pinggangnya. Trang! Dua buah senjata saling beradu dengan kuat, membuat keduanya terpental sekitar dua langkah.

Di sisi lain pekarangan, Ki Jabarantas rupanya juga sudah beradu tanding dengan Guntur Bumi dengan tangan kosong. Ki Jabarantas menyadari lawannya itu memiliki serangan yang kuat dan dahsyat, berbeda dengan anak muda pada umumnya. Setingkat demi setingkat, mereka meningkatkan ilmu. Arena pertempuran berubah menjadi berdebu karena langkah kaki dan angin terjangan mereka. Wuss!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment