Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 67

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 67

Angin pukulan Guntur Geni hampir saja menyambar wajah Ki Jabarantas. Sebagai seorang yang berpengalaman panjang dan telah malang melintang di dunia kanuragan, Ki Jabarantas menyadari bahwa lawannya telah mengeluarkan tenaga sakti sejati berupa pukulan hawa panas yang kuat.

Maka, Ki Jabarantas melambari dirinya dengan tenaga sakti sejati hawa dingin yang tidak kalah kuatnya untuk meredam kekuatan hawa panas dari serangan lawannya itu.

"Wusss!"

Serangan balik Ki Jabarantas tidak kalah dahsyatnya lewat sebuah tendangan sambil melompat melewati kepala Guntur Geni.

"Gila!" teriak Guntur Geni merasakan angin dingin yang tajam lewat begitu dekat dengan wajahnya.

Sementara itu, pertempuran antara Nyi Jabarantas dan Guntur Bumi juga tidak kalah serunya. Mereka dengan senjata masing-masing sepertinya ingin segera menyelesaikan pertempuran. Serangan demi serangan saling berbalas, terlihat seperti gulungan cahaya api yang sangat cepat mengejar tubuh mereka berdua.

"Guntur Bumi, ingatlah tujuan kita datang kemari," ujar Guntur Geni mencoba mengingatkan kawannya itu, karena ia khawatir Guntur Bumi akan menewaskan wanita tua tersebut sebelum menyerap hawa murninya dengan ajian rahasia yang mereka dapatkan dari kulit sarung kujang Pangeran Muncang.

"Jangan khawatir, sahabat," jawab Guntur Bumi sambil melenting menghindari serangan tajam ujung pedang Nyi Jabarantas.

Rupanya, sambil mengingatkan sahabatnya, diam-diam Guntur Geni sudah mulai menerapkan ajian ilmu rahasianya. Sebuah ilmu yang terbalik dari semestinya dan berdampak sangat keji, yaitu dapat menyerap hawa murni lawan tandingnya. Sekali dua kali Ki Jabarantas tidak menyadari bahwa setiap sentuhan kulit akan berakibat fatal. Namun, lama-kelamaan ia merasakan bahwa kekuatannya semakin terkuras habis.

"Ilmu iblis!" teriak Ki Jabarantas setelah mengetahui bahwa lawan tandingnya telah menerapkan ilmu yang dapat menyedot dan menguras habis hawa murninya.

"Kamu akan mati kehabisan tenaga," ucap Guntur Geni dengan gembira karena ajian ilmu rahasia yang baru pertama kali dicoba itu berjalan sebagaimana mestinya.

Maka, Guntur Geni semakin gencar menyerang Ki Jabarantas sambil menerapkan ajian ilmu rahasianya. Sebagai seorang yang berilmu tinggi dan kaya pengalaman bertanding, Ki Jabarantas berusaha sangat berhati-hati agar tidak tersentuh dan beradu tangan dengan lawannya yang memiliki ajian keji tersebut.

"Keluarkan senjatamu bila kamu memang memilikinya," tantang Ki Jabarantas sambil menghunus pedang dari sarungnya.

"Aku tidak memiliki senjata apa pun," jawab Guntur Geni sambil tertawa, lalu menerjang lawannya yang kini bersenjata.

Guntur Geni tidak gentar sedikit pun. Ia yakin ajian ilmu rahasianya dapat menguras habis tenaga lawan melalui sentuhan kaki dan tangan yang tidak dapat dihindari oleh Ki Jabarantas.

"Sudah lama aku mendengar tentang ilmu hitam ini. Ternyata hari ini aku berhadapan dengan pemiliknya. Sebuah kebanggaan bila saja aku dapat membunuhmu," ujar Ki Jabarantas penuh semangat sambil memutar pedang andalannya.

Namun, Guntur Geni sangat cerdik. Ia melompat menghindar dan menerjang dengan tendangan ke arah bahu lawannya yang tidak memegang senjata. Terpaksa Ki Jabarantas menangkisnya, dan sebuah sentuhan pun terjadi. Ki Jabarantas merasakan hawa murninya terserap keluar dan berpindah ke tubuh lawannya.

"Gila!" teriak Ki Jabarantas sambil bergeser menarik tangannya dengan cepat.

"Terima kasih telah menyumbangkan hawa murnimu," kata Guntur Geni sambil tertawa panjang merasakan tenaga sakti sejatinya bertambah.

Sambil bertempur, Ki Jabarantas sempat melirik pertempuran istrinya. Ia bernapas lega melihat lawan istrinya tidak menggunakan ilmu hitam serupa. Ki Jabarantas terus memutar otak mencari jalan keluar, namun ia belum menemukan cara untuk menghindari ajian lawannya.

Dalam sebuah serangan, Guntur Geni melakukan gerakan di luar perhitungan dengan merebahkan tubuhnya, membiarkan serangan Ki Jabarantas lewat di atas kepala, lalu merangsek ke depan dan mencengkeram pergelangan tangan lawannya. Melihat itu, tangan lain Ki Jabarantas bergerak menyampok wajah lawannya, namun Guntur Geni tidak menangkisnya, melainkan menangkap tangan tersebut dengan tangannya yang lain.

"Bless!"

Wajah Ki Jabarantas pucat pasi. Guntur Geni tidak menyia-nyiakan kesempatan dan menghentakkan ajian mautnya, menguras habis hawa murni lawannya lewat kedua tangan yang mencengkeram kuat. Hawa murni Ki Jabarantas tersedot oleh tenaga tak terlihat, berpindah ke tubuh Guntur Geni. Mata Ki Jabarantas masih terbuka, namun napas dan tenaganya telah hilang bersama hawa murni yang ia himpun selama puluhan tahun.

Suara tawa Guntur Geni membahana di ladang kebun jagung dan bergema hingga ke belantara kaki Gunung Guntur. Dihadapannya, tubuh Ki Jabarantas terbaring kaku, nyawanya melayang bersama hilangnya hawa murni yang terserap habis.

"Kubunuh kalian!" teriak Nyi Jabarantas saat melihat suaminya tergeletak tak bergerak.

Guntur Bumi, yang berpengalaman, tahu bahwa lawannya telah dibutakan oleh kemarahan. Kemarahan akan mengurangi kesiagaan. Ia menunggu kesempatan, dan akhirnya, kesempatan itu terbuka.

"Trang!"

Guntur Bumi sengaja menangkis pedang Nyi Jabarantas. Saat pedang itu tertepis, dengan berani Guntur Bumi mencengkeram tangan Nyi Jabarantas yang memegang pedang.

"Bless!"

Nyi Jabarantas merasakan tenaganya terkuras habis. Tangan satunya yang hendak menghajar Guntur Bumi hanya terangkat kaku. Ternyata Guntur Bumi juga menerapkan ajian rahasianya, yaitu ajian Kujang Muncang Kuning secara terbalik.

Suara tawa Guntur Bumi pun membahana, mengikuti kesuksesan rekannya. Nyi Jabarantas terbujur kaku di tanah pekarangannya.

"Dua atau tiga orang seperti pasangan suami istri ini akan membuat tenaga sakti kita tak terkalahkan," ujar Guntur Geni penuh kegembiraan.

"Kita akan mencari lagi orang-orang berilmu tinggi lainnya. Kita akan menguasai dunia," sahut Guntur Bumi. "Sebagaimana nama kita berdua, kehadiran kita seperti guntur yang memekakkan telinga penghuni bumi. Tidak ada lawan yang berani menghalangi keinginan kita."

Dua orang yang mabuk kemenangan itu pun pergi meninggalkan pekarangan sepasang suami istri di kaki Gunung Guntur. Berbekal tenaga sakti yang berlipat ganda, mereka mencari korban lain untuk menyerap hawa murni. Langkah mereka membawa bencana; di mana pun mereka melangkah, selalu diikuti suara ratap tangis orang-orang teraniaya.

Guntur Geni dan Guntur Bumi ibarat singa bersayap yang sukar dicari tandingannya. Mereka layaknya dua dewa penyebar bencana bagi kaum wanita cantik, orang kaya, dan penguasa. Karena harta, takhta, dan wanita telah merasuki jalan hidup mereka, kini kekuatan mereka mulai merembes memasuki wilayah Kotaraja Rakata, kerajaan tua yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Kawali yang berdaulat di tanah Pasundan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment