Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 68

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 68

Sementara itu di suatu pagi, terlihat Gajahmada dan Pangeran Jayanagara telah berada di sekitar kaki Gunung Guntur.

"Ladang kebun jagung itu tampak begitu subur," ujar Gajahmada kepada Pangeran Jayanagara ketika mereka berada di sebuah ladang jagung.

"Pasti pemiliknya adalah penghuni rumah mungil itu," kata Pangeran Jayanagara sambil menunjuk ke arah sebuah rumah panggung mungil di tengah ladang tersebut.

"Mari kita temui pemilik ladang ini, siapa tahu mereka bermurah hati memberi kita beberapa buah jagung rebus," ujar Gajahmada.

Mereka berdua pun mendekati rumah panggung mungil itu. Namun, ketika melangkah memasuki halaman rumah, mereka terkejut melihat dua mayat tergeletak di tanah.

"Nampaknya mereka mati dalam sebuah pertempuran," ujar Pangeran Jayanagara saat melihat pedang di tangan masing-masing mayat itu.

"Tidak ada tanda bekas luka sedikit pun di tubuh mereka," kata Gajahmada sambil menilik keadaan kedua mayat tersebut.

Setelah mengamati lebih dalam, hati mereka terperangah. "Mereka telah diserang dengan ajian ilmu Muncang Kuning secara terbalik," kata Gajahmada dengan yakin berdasarkan tanda-tanda yang ada.

"Sama seperti yang pernah dikatakan oleh Eyang Prabu Guru Darmasiksa," sahut Pangeran Jayanagara.

"Yang pasti, pelakunya adalah orang yang kita cari selama ini," tegas Gajahmada.

"Mari kita sempurnakan kedua mayat ini," ajak Pangeran Jayanagara.

Gajahmada dan Pangeran Jayanagara membuat dua lubang galian untuk mengubur kedua jenazah yang mereka yakini sebagai pemilik rumah tersebut.

"Orang yang kita cari telah menuntaskan laku ajian Muncang Kuning," ujar Gajahmada setelah prosesi penguburan selesai.

"Kita harus mempelajari ajian Muncang Kuning dengan cara terbalik; hanya itu yang dapat kita lakukan untuk menghadapinya jika kita bertemu muka," lanjut Gajahmada.

"Eyang Prabu Guru Darmasiksa mengatakan bahwa ajian ilmu itu akan menjadi ilmu hitam yang sangat keji," kata Pangeran Jayanagara.

"Hitam dan putih tergantung bagaimana kita mempergunakannya. Hitam dan putih tergantung siapa dan untuk apa ilmu itu digunakan, apakah untuk jalan kebaikan atau keburukan," jawab Gajahmada.

"Aku sependapat denganmu," balas Pangeran Jayanagara.

Akhirnya, mereka sepakat untuk tinggal beberapa hari di rumah kosong itu guna mempelajari ajian Muncang Kuning dengan cara terbalik. Tidak ada kesulitan bagi mereka untuk mempelajarinya, berbeda dengan apa yang pernah mereka pelajari dari Prabu Guru Darmasiksa.

"Arah jalan kita tidak berselisih jauh dengan orang yang kita cari," ujar Gajahmada kepada Pangeran Jayanagara suatu hari, setelah mereka yakin menguasai ajian tersebut.

Demikianlah, matahari pagi bersinar terang di kaki Gunung Guntur saat Gajahmada dan Pangeran Jayanagara melangkahkan kaki meninggalkan pekarangan itu. Mereka meninggalkan dua makam yang terbujur sepi, sesunyi rumah dan ladang jagung yang telah ditinggalkan pemiliknya untuk selamanya.

Hari demi hari berlalu dalam langkah kaki kedua pengembara muda tersebut. Bukit, gunung, lembah, dan hutan belantara telah mereka lewati. Hingga di sebuah senja, mereka mendekati sebuah padukuhan kecil yang sunyi di ujung lembah hijau. Tanah ladang dan persawahan tampak subur mengelilingi padukuhan tersebut, dengan saluran irigasi yang terawat sebagai tanda kegotongroyongan penduduknya.

"Mungkin pemilik rumah itu sedang mengalami musibah," ujar Gajahmada saat melihat warga berkerumun di muka sebuah rumah. Keduanya pun mendekat.

"Musibah apa gerangan yang menimpa pemilik rumah ini?" tanya Pangeran Jayanagara kepada salah seorang warga.

Orang itu menilik mereka dengan penuh perhatian. "Nampaknya kalian bukan penduduk padukuhan ini," ucapnya.

"Benar, kami pengembara yang kebetulan lewat," jawab Pangeran Jayanagara.

"Dua anak gadis mereka dirampas paksa oleh orang tak dikenal dan baru hari ini dilepaskan kembali," ujar warga itu.

"Apakah tidak ada yang dapat menghalangi perbuatan mereka?" tanya Pangeran Jayanagara.

"Beberapa orang padukuhan telah mereka lumpuhkan. Aku salah satu yang ikut mengeroyok, namun mereka bukan tandingan kami," jawabnya sambil memperlihatkan pinggangnya yang biru akibat pukulan orang berilmu tinggi tersebut.

Warga itu juga menceritakan ciri-ciri kedua orang tidak dikenal itu. Gajahmada membatin, memastikan bahwa ciri-ciri tersebut mengarah pada Pendeta Rakanata dan Patih Anggajaya. Namun, Gajahmada memilih diam.

"Salah seorang dari mereka memperkenalkan diri sebagai utusan dari langit untuk menjaga tanah Pasundan," tambah warga itu.

Setelah merasa cukup mendengar keterangan, Pangeran Jayanagara menanyakan letak banjar desa untuk bermalam. Malam pun berlalu dalam dingin dan sepi, dengan Gajahmada dan Pangeran Jayanagara berjaga bergantian.

Pagi harinya, penjaga banjar datang menemui mereka sambil menawarkan ketela pohon. "Terima kasih," ucap Pangeran Jayanagara. Saat hari mulai terang, keduanya meninggalkan padukuhan menuju ke arah barat, membelakangi matahari pagi.

Hari demi hari kembali berlalu. Kedua anak muda itu terus mengembara, semakin memahami adat istiadat tanah Pasundan.

"Seperti orang pedalaman Majapahit, orang Pasundan di pedalaman juga sangat kuat kepercayaannya pada ajaran nenek moyang," ujar Gajahmada.

"Benar, pemahaman mereka tentang para dewa bercampur baur dengan ajaran leluhur. Agama kerajaan nampaknya belum murni memasuki kehidupan mereka," sahut Pangeran Jayanagara.

Hingga suatu hari, mereka memasuki wilayah kademangan yang ramai di sekitar perbukitan Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Namun, mereka tiba di waktu yang salah. Banyak rumah terbakar dan warga terlihat termenung di depan puing bangunan mereka.

"Gerombolan besar telah merampok habis beberapa rumah di kademangan ini," ujar seorang lelaki kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara.

"Kami hanya pengembara, turut berduka atas musibah yang menimpa kalian," ucap Pangeran Jayanagara.

"Lumbung dan harta benda kami semua mereka rampas," keluh lelaki itu.

"Ambil dan pergunakanlah untuk kalian," ujar Pangeran Jayanagara sambil memberikan beberapa keping uang logam miliknya.

"Kalian pengembara yang budiman, bagaimana kami dapat membalasnya?" tanya lelaki itu penuh haru.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment