Chapter 69
"Apakah gerombolan perampok itu sudah sering melakukan hal yang sama di Kademangan ini?" tanya Gajah Mada.
"Selama hidupku di Kademangan ini, baru kali ini terjadi peristiwa perampokan," jawab lelaki itu.
"Berapa kira-kira jumlah gerombolan perampok itu?" tanya Pangeran Jayanagara.
"Kami sempat diikat dan dikumpulkan di halaman muka rumah Ki Demang. Jumlah mereka cukup banyak, terdiri dari orang-orang kasar yang sangat kejam. Mungkin ada sekitar seratus orang," ujar lelaki itu sembari mencoba mengingat kembali kejadian perampokan di kademangan mereka.
"Sebuah jumlah yang cukup besar untuk berbuat keonaran di mana pun mereka pergi," kata Gajah Mada, mengukur kekuatan jumlah mereka.
"Mereka mempunyai dua orang pemimpin yang tampaknya sangat ditakuti," kata lelaki itu sambil memberikan beberapa ciri dari kedua orang yang disebut sebagai pemimpin gerombolan tersebut.
Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara terlihat penuh perhatian mendengar penuturan lelaki itu dan telah memastikan bahwa kedua pemimpin gerombolan tersebut adalah orang-orang yang mereka cari selama ini.
"Ke mana arah yang ditempuh para gerombolan itu?" tanya Pangeran Jayanagara.
"Mereka pergi ke arah barat," jawab lelaki itu.
Akhirnya, Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka keluar dari Kademangan itu pada siang harinya. Demikianlah, mereka berjalan menuju ke arah barat, menyusuri lembah dan pegunungan hijau. Hingga di sebuah perjalanan, mereka melihat ke bawah jurang tempat dua buah sungai besar bersatu. Begitu besar dan panjang sungai itu, mirip seekor naga yang tengah berjalan berliku jika dilihat dari atas puncak bukit.
"Sungai yang Kisanak berdua lihat itu adalah Sungai Cisadane, ujungnya bermuara di Kotaraja Rakata," kata seorang pedagang bersama rombongannya yang kebetulan berjalan beriringan dengan mereka menuju arah yang sama.
"Tampaknya Tuan sering sekali ke Kotaraja Rakata," tanya Gajah Mada kepada pedagang itu.
"Dulu aku sering ke Kotaraja Rakata membawa beberapa barang dagangan, pulangnya aku membeli beberapa kerajinan perak untuk kujual kembali di beberapa tempat. Namun, akhir-akhir ini jalan menuju Kotaraja Rakata sudah tidak seaman dulu," kata pedagang itu.
Akhirnya, Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara bersama rombongan para pedagang telah berada di muka Hutan Rumpin, sebuah tempat yang akhir-akhir ini sangat ditakuti oleh para pedagang yang melewatinya.
"Kita akan memasuki kawasan Hutan Rumpin, mudah-mudahan tidak ada gangguan apa pun," kata pedagang itu kepada kedua anak muda yang dianggapnya hanya sebagai pengembara biasa.
Ketika mereka mulai memasuki kawasan Hutan Rumpin, para pedagang merasa lega karena tidak ada tanda-tanda munculnya para perampok. Tidak ada hal yang menarik ketika memasuki hutan lebat itu, sebagaimana hutan lainnya yang dipenuhi batang pohon besar berlumut dan tanaman merambat di sekitarnya. Terdapat jalan setapak yang terlihat sering dilalui oleh para pedagang, pemburu, serta orang-orang sekitar yang kadang memerlukan kayu dan tanaman obat yang hanya ada di Hutan Rumpin ini.
Namun, ketika mereka telah mulai memasuki kawasan Hutan Rumpin lebih dalam, panggraita Gajah Mada yang tajam mulai dapat merasakan sebuah kejanggalan.
"Berhati-hatilah," bisik Pangeran Jayanagara.
Ternyata panggraita Gajah Mada sangat dapat diandalkan; pendengarannya yang tajam sudah dapat menangkap sesuatu yang mencurigakan di depan mereka. Benar saja, di depan mereka ternyata sebuah gerombolan tengah menanti iring-iringan pedagang itu.
"Berhenti!" bentak salah seorang dari mereka yang tampaknya merupakan salah satu pemimpin.
Mendengar suara bentakan kasar itu, para pedagang terlihat kecut hatinya meskipun di antara mereka telah membawa pengawal pribadi yang biasa menghadapi para begundal di pasar-pasar yang disinggahi. Sementara para pedagang sendiri telah membekali diri dengan ilmu kanuragan untuk menjaga keselamatan dari setiap ancaman. Namun, jumlah gerombolan yang menghadang membuat hati para pedagang sedikit menciut.
"Apa yang kalian inginkan dari kami?" tanya Gajah Mada sambil menghampiri orang yang membentak itu.
Beberapa pedagang merasa terwakili dengan Gajah Mada yang mereka anggap tidak memiliki rasa takut sedikit pun, namun kekhawatiran mereka belum juga menghilang. Sementara itu, orang yang ditanya oleh Gajah Mada terlihat heran karena yang datang mewakili rombongan hanyalah seorang anak muda.
"Kami hanya perlu setengah dari apa yang kalian bawa. Kami tidak merampok kalian, tapi semuanya untuk sebuah perjuangan utusan langit, calon penguasa baru bumi Pasundan," kata orang itu dengan suara keras, seolah ingin menunjukkan kekuasaannya.
Mendengar ucapan itu, hati Gajah Mada menjadi sangat tertarik, terutama mengenai perjuangan sang utusan langit tersebut.
"Kami belum mengenal siapa utusan langit yang kalian maksudkan," kata Gajah Mada.
"Kamu terlalu banyak bertanya. Serahkan setengah dari apa yang kalian bawa, dan kami akan membiarkan kepala kalian masih melekat dengan selamat," ujar orang itu yang mulai merasa kesal.
"Sayangnya orang tuaku hanya memberiku bekal cambuk ini. Mungkin kalian ingin memilikinya dan mempergunakannya sebagaimana aku," kata Gajah Mada sambil melepas cambuk yang melilit di pinggangnya. Tanpa berkata apa-apa, ia menghentakkan cambuk pendek di tangannya dengan gerakan sendal pancing.
Terlihat seleret warna kuning seperti lidah api keluar dari ujung cambuk Gajah Mada. "Geledarrr!!!" Terdengar suara ledakan keras memekakkan telinga di hutan itu.
Ternyata Gajah Mada telah mengerahkan ajian Muncang Kuning melalui ujung cambuknya yang diarahkan ke sebuah batang pohon di pinggir jurang. Seketika batang pohon besar itu terbakar hangus dan roboh jatuh ke bawah jurang Sungai Cisadane yang curam. Orang itu dan semua pengikutnya terdiam bagaikan orang bodoh karena tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan. Sementara itu, rombongan pedagang merasa terkesima dengan pertunjukan maut Gajah Mada, seorang anak muda yang mereka kira hanya pengembara biasa. Kini rasa takut mereka berkurang karena merasa Gajah Mada yang berilmu tinggi dapat melindungi mereka.
"Dengarlah, seorang kawanku dapat melakukan hal yang sama dengan diriku," kata Gajah Mada sambil menunjuk ke arah Pangeran Jayanagara yang juga melilitkan cambuk di pinggangnya.
Semua orang memandang ke arah anak muda yang berdiri di belakang Gajah Mada itu. Pangeran Jayanagara, yang memahami maksud Gajah Mada, terlihat bertolak pinggang layaknya seorang jagoan kelas satu.
"Terpaksa kulakukan untuk melengkapi bualanmu, Mahesa Muksa," batin Pangeran Jayanagara sambil menahan senyum.
"Jumlah kalian sekitar dua puluh orang, lebih sedikit dari jumlah kami. Sementara itu, bersama kami ada empat orang yang dapat melakukan lebih hebat dari apa yang telah kuperlihatkan kepada kalian," kata Gajah Mada tanpa menunjukkan siapa empat orang pedagang yang dimaksudkannya itu.
Ternyata Gajah Mada hanya membual untuk membuat gerombolan itu keder dan jerih. Namun, ulah Gajah Mada memang berdampak. Gerombolan itu merasa kecut setelah melihat kedahsyatan ilmu Gajah Mada, ditambah lagi mereka telah berhitung bahwa di sisi Gajah Mada ada anak muda lain dengan kemampuan serupa, serta empat orang lain yang konon lebih hebat.
"Bayangkan bahwa cambukku ini ditujukan ke arah tubuh kalian," kata Gajah Mada sambil menggerakkan ujung cambuknya.
"Silakan kalian lewat, kami tidak akan mengganggu," ujar pemimpin gerombolan itu langsung, karena telah membayangkan ujung cambuk anak muda itu menghantam dirinya sendiri.
Mendengar ucapan itu, Gajah Mada tidak menyia-nyiakan kesempatan dan segera memberi tanda kepada para pedagang untuk melanjutkan perjalanan. Para pedagang segera berkemas dan meninggalkan daerah itu.
"Beruntung bahwa kalian berjalan bersama kami," kata seorang pedagang kepada Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara setelah mereka cukup jauh dari tempat pencegatan.
"Aku hanya bisa membual, bersyukurlah bahwa mereka termakan bualanku ini," kata Gajah Mada sambil tersenyum.
"Aku melihat anak muda tidak sedang membual, aku melihat sendiri bagaimana sebuah pohon besar menjadi hangus terbakar dan tumbang," sahut pedagang itu sambil terus berjalan.
"Lupakanlah apa yang kamu lihat, kami hanya pengembara biasa," kata Gajah Mada berharap pedagang itu tidak melanjutkan pujiannya.
Tampaknya pedagang itu tahu diri bahwa ia berhadapan dengan orang sakti yang rendah hati. Akhirnya, pedagang itu mengalihkan arah pembicaraan.
"Tampaknya mereka memang tengah menggalang biaya besar bagi sebuah perjuangan," kata pedagang itu.
"Untuk kedua kalinya aku mendengar tentang utusan langit calon penguasa bumi Pasundan itu," tanggap Gajah Mada.