Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 70

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 70

"Di mana kalian mendengar tentang utusan langit itu?" tanya pedagang itu kepada Gajahmada.

"Dari warga sebuah kademangan besar di perbukitan Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Mereka telah merampas habis harta benda di kademangan itu," jawab Gajahmada kepada pedagang itu.

"Kami akan mengurungkan niat untuk melakukan perjalanan jauh. Pasti di semua tempat saat ini sudah mulai tidak aman lagi," kata pedagang itu sambil menarik napas panjang.

Sementara itu, tidak terasa mereka telah keluar dari kawasan hutan Rumpin dan tengah menyusuri jalan setapak yang menurun tajam. Ternyata mereka berjalan menuju ke arah sebuah sungai besar, Sungai Cisadane.

"Kita telah sampai di Pangkalan Jati," ujar pedagang itu ketika mereka sampai di pinggir Sungai Cisadane, tempat terlihat banyak perahu kayu bersandar di dermaga kayu.

Nampaknya, beberapa pemilik perahu sudah sangat mengenal para pedagang yang baru tiba itu. Mereka saling bertanya tentang keadaan dan keselamatan masing-masing.

"Perahu kayu ini akan membawa kita ke Kotaraja Rakata," kata pedagang itu menjelaskan kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara. "Sungai Cisadane ini bermuara di sebuah daratan besar di bawah kaki gunung berapi Rakata; di situlah letak Kerajaan Rakata berdiri," lanjut pedagang itu.

Mendengar penjelasan tersebut, hati Gajahmada dan Pangeran Jayanagara merasa sangat senang karena perjalanan mereka ke Kotaraja Rakata menjadi begitu mudah. Maka, tanpa banyak pertimbangan, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara langsung naik ke salah satu dari tiga perahu yang berangkat bersama-sama membawa para pedagang dan barang dagangan mereka.

Senja terlihat begitu bening menyapu pemandangan alam yang terlewati dari atas perahu kayu yang hanyut menyusuri Sungai Cisadane yang berkelok-kelok. Terkadang mereka melewati hutan lebat, namun mereka juga melewati hamparan persawahan di kiri dan kanan sungai besar itu.

Di dalam perjalanan menyusuri Sungai Cisadane, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara tidak banyak bercakap-cakap, terutama mengenai tujuan perjalanan mereka sendiri. Nampaknya, kedua anak muda itu tidak ingin tujuan perjalanan mereka diketahui oleh siapapun. Mereka berdua memiliki pemikiran yang sama, terutama tentang utusan langit yang disebut-sebut sebagai calon penguasa baru Bumi Pasundan. Mereka merasa yakin bahwa dua orang yang mereka cari itu ada kaitannya dengan peristiwa keresahan penduduk desa, perampokan, dan gerombolan yang mereka temui di hutan Rumpin.

"Nampaknya Patih Anggajaya dan Pendeta Rakanata tengah menggalang kekuatan besar untuk melanjutkan ambisi mereka yang gagal di Kotaraja Kawali," kata Gajahmada dalam hati.

Sementara itu, senja mulai pudar dan gelap malam mulai menghalangi pemandangan di atas Sungai Cisadane. Semalaman perahu kayu itu berlayar mengarungi Sungai Cisadane, menembus kegelapan di atas air sungai yang mengalir tenang di awal musim kemarau. Hingga akhirnya, langit malam mulai berubah warna kemerahan sebagai tanda ujung malam akan segera berganti.

Dari jauh terlihat kerlap-kerlip pelita rumah-rumah penduduk seperti tebaran bintang di atas gundukan daratan dalam kegelapan pagi. Cahaya pagi pun terlihat semakin terang, menampakkan hutan bakau di sisi Sungai Cisadane yang sudah mendekati muara Rakata.

"Pagi yang indah," ujar Pangeran Jayanagara sambil memandang beberapa bangau bluwok yang terbang rendah di hutan bakau.

Akhirnya, perahu kayu itu menepi di sebuah dermaga di ujung muara Rakata. Satu-dua perahu besar terlihat telah bersandar bersama sampan para nelayan. Bandar pelabuhan Rakata, sebuah bandar pelabuhan tua, di pagi itu terlihat ramai dipenuhi para buruh angkut yang membawa berbagai barang milik pedagang yang singgah. Konon, bandar pelabuhan itu pernah disinggahi perahu dagang dari berbagai negeri di dunia pada masa kejayaan Kerajaan Rakata. Namun, kerajaan itu semakin lama menjadi semakin suram setelah ditaklukkan oleh para prajurit Tanah Pasundan. Ditambah lagi dengan semakin maraknya bajak laut yang menguasai perairan di sekitar Selat Sunda, membuat para pedagang berpikir ulang untuk singgah di bandar tua itu.

"Apakah kalian berdua punya sanak keluarga di kotaraja ini?" tanya seorang pedagang kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara.

"Kami hanya pengembara. Biarlah langkah kaki kami yang membawa diri ini singgah di manapun yang kami inginkan," jawab Pangeran Jayanagara sambil mengucapkan terima kasih karena telah diberi tumpangan hingga sampai di bandar pelabuhan Rakata.

"Kamilah yang seharusnya berterima kasih. Tanpa kehadiran kalian berdua, mungkin kami hanya membawa sedikit barang dagangan ke kotaraja ini," jawab pedagang itu.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Pangeran Jayanagara, mereka berdua terlihat menyusuri tepian pantai sambil menikmati suasana pagi yang cerah. Di sebelah kanan mereka, jauh menjulang tinggi sebuah gunung biru. Itulah gunung berapi Rakata yang puncaknya setinggi langit. Kotaraja Rakata adalah perpaduan antara pantai, tanah perbukitan, dan hutan hijau yang cukup lebat. Di bawah kaki gunung itulah kotaraja tua ini berdiri.

"Mari kita memasuki Kotaraja Rakata," ajak Pangeran Jayanagara.

Mereka pun memasuki keramaian jalan Kotaraja Rakata. Terlihat beberapa wanita, tua maupun muda, tengah menjunjung bakul di atas kepala sambil bercanda. Orang Ujung Kulon, begitulah penduduk asli kotaraja membahasakan diri mereka sendiri. Memang, adat istiadat maupun bahasa mereka sangat berbeda dengan orang-orang Pasundan. Kulit serta wajah mereka pun terlihat lebih kasar dan tubuh mereka lebih tinggi dibandingkan orang Pasundan pada umumnya. Konon, mereka adalah keturunan seorang pendeta India yang terdampar di daratan ini, yang akhirnya memutuskan untuk hidup dan menetap di Ujung Kulon. Itulah cikal bakal kerajaan tua bernama Kerajaan Rakata.

"Para wanita giat membawa hasil bumi mereka ke pasar, sementara kaum lelaki berkumpul di penyabungan ayam," kata Gajahmada kepada Pangeran Jayanagara ketika mereka berada di muka pasar yang ramai.

"Pemaknaan wanita dalam Kitab Tatwa adalah siang dan malam bekerja untuk melayani kaum pria. Seperti itulah pemahaman mereka," sahut Pangeran Jayanagara.

"Setiap manusia terlahir dalam batasan pemahaman sendiri-sendiri, begitulah Pendeta Gunakara pernah menyampaikan kepadaku," kenang Gajahmada, teringat akan gurunya yang membimbingnya memahami Kitab Tatwa. "Berbahagialah manusia yang telah menemukan kepatuhan wanita di dalam dirinya sendiri."

"Mereka memang orang umum yang tidak punya waktu untuk memahami Kitab Tatwa. Sementara itu, sosok seperti Pendeta Rakanata yang sudah hafal luar kepala isi Kitab Tatwa, ternyata justru diperhamba oleh wanita di dalam dirinya sendiri, yakni nafsu angkara," timpal Pangeran Jayanagara.

Tidak terasa langkah kaki mereka membawa keduanya ke tengah pasar Kotaraja Rakata yang sudah sangat ramai.

"Kita cari makanan di kedai," ujar Pangeran Jayanagara sambil menunjuk sebuah kedai di tengah pasar.

Kedai itu cukup ramai. Gajahmada dan Pangeran Jayanagara segera masuk dan memesan makanan serta minuman kepada seorang pelayan.

"Kami punya minuman air manis tape beras hitam, kubawakan untuk kalian berdua," kata pelayan pria itu dengan ramah.

Mendengar tawaran tersebut, kedua anak muda itu saling berpandangan. Mereka tahu air manis beras hitam biasanya hanya disajikan untuk perjamuan pada perayaan Hari Galungan.

"Bawakan juga untuk kami," jawab Gajahmada sambil tersenyum dan mengedipkan mata kepada Pangeran Jayanagara agar penyamaran mereka sebagai orang baru tidak terbongkar.

"Ternyata di Kotaraja Rakata, setiap hari orang merayakan Hari Galungan," bisik Pangeran Jayanagara kepada Gajahmada setelah pelayan itu pergi.

Namun, saat mereka menikmati hidangan, terdengar suara teriakan dari luar kedai.

"Awas, ada kerbau mengamuk!"

Mendengar teriakan yang bersahutan itu, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara sontak keluar kedai. Di tengah pasar, mereka melihat seekor kerbau jantan tengah mengamuk. Jeritan lelaki dan perempuan terdengar saat kerbau itu menabrak dan menginjak-injak barang dagangan mereka. Kerbau jantan itu berlari berputar tanpa arah, meluluhlantakkan apapun di hadapannya. Beberapa orang pun berlari menjauh. Suasana pasar menjadi kacau balau, namun tidak seorang pun berani menghentikan ulah hewan itu.

Entah apa yang dilihatnya, kerbau itu tiba-tiba berbalik arah dan berlari kencang menuju kedai tempat Gajahmada dan Pangeran Jayanagara berada. Langkah kaki kerbau jantan itu begitu cepat hingga menerbangkan debu. Kerbau itu terus mendekat dengan dengusan keras dan sepasang tanduk tajam yang mengarah ke depan.

"Biarlah aku yang mengatasinya," kata Gajahmada kepada Pangeran Jayanagara, matanya tidak bergeming sedikit pun memandang kerbau yang kian mendekat itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment