Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 74

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 74

Pertanyaan salah seorang prajurit itu membuat kaget semua orang. Mereka langsung berpikir pasti ada kaitannya dengan peristiwa kematian seekor kerbau gila siang tadi.

"Juragan Maruhut pasti telah menghasut para petinggi istana dengan cerita palsunya," duga Ki Lurah Jangkung.

"Ada kepentingan apakah kalian bertanya tentang Mahesa Muksa?" tanya Ki Rangga Sujiwa mengambil alih pembicaraan.

"Kami hanya menjalankan perintah Baginda Raja, membawa orang yang bernama Mahesa Muksa ke istana," jawab salah seorang prajurit.

Sementara itu, Gajahmada yang juga berpikir bahwa kedatangan kedua prajurit itu berkaitan dengan peristiwa kerbau gila tersebut, merasa tidak ingin kedua tuan rumahnya tersangkut dengan apa yang telah dilakukannya. Gajahmada memang telah ditempa sejak kecil untuk berlaku sebagai seorang ksatria yang berani dengan dada terbuka atas segala perbuatannya sendiri.

"Aku Mahesa Muksa yang kalian cari," ujar Gajahmada dengan wajah terangkat kepada kedua prajurit pengawal pribadi Baginda Raja Pulau Api itu.

Ki Lurah Jangkung dan Ki Rangga Sujiwa terlihat menarik napas panjang mendengar Gajahmada dengan penuh keberanian menyebut namanya sendiri. "Anak muda ini sungguh tidak punya rasa takut sedikit pun," batin mereka berdua.

Sementara itu, Pangeran Jayanagara yang selama ini tidak angkat bicara terus menyimak apa yang akan terjadi selanjutnya, namun dalam hati ia siap membela sahabatnya apa pun yang terjadi.

"Baginda Raja Pulau Api berkenan untuk bertemu dengan Mahesa Muksa, malam ini juga," ujar salah seorang prajurit.

"Aku siap menemui Baginda Rajamu," sahut Gajahmada dengan tenang.

"Kami akan mengantarmu," kata prajurit lainnya yang sedari tadi diam, merasa gembira bahwa tugas mereka tidak sesulit yang diduga sebelumnya.

Demikianlah, tanpa kesukaran dan pemaksaan, Mahesa Muksa ikut keluar bersama kedua prajurit itu. Gajahmada terlihat berjalan dikawal oleh kedua prajurit tersebut menuruni anak tangga panggungan rumah itu. Punggung mereka masih terlihat melangkah di atas halaman pekarangan Ki Lurah Jangkung. Di bawah pandangan mata Ki Lurah Jangkung, Ki Rangga Sujiwa, dan Pangeran Jayanagara, Gajahmada dan kedua prajurit itu keluar dari pagar pekarangan rumah dan menjauh hilang di dalam kegelapan malam.

"Bila anak muda itu menjadi susah, aku akan membuat perhitungan sendiri dengan Juragan Maruhut," ujar Ki Lurah Jangkung dengan penuh amarah.

"Besok aku akan mencari tahu tentang keadaan anak muda itu," kata Ki Rangga Sujiwa berusaha menenangkan kakaknya.

"Benar, besok kita harus mencari tahu apa yang terjadi pada Mahesa Muksa," timpal Pangeran Jayanagara yang siap membela sahabatnya.

Sementara itu, Gajahmada dan kedua prajurit itu sudah jauh meninggalkan rumah Ki Jangkung, menyusuri jalan-jalan Kotaraja Rakata. Selama dalam perjalanan, ketiganya tidak banyak cakap. Kedua prajurit itu pun tidak bertanya kepada Mahesa Muksa yang terus melangkah mengikuti mereka. Namun, diam-diam kedua prajurit itu memuji ketenangan hati Mahesa Muksa.

Purnama begitu indah melekat di atas langit malam, menerangi istana Pulau Api manakala Gajahmada dan kedua prajurit itu memasuki pintu gerbang. Beberapa prajurit di gardu penjagaan hanya memandang mereka berjalan bersama, nampaknya mereka sudah mengenal kedua pengawal pribadi Baginda Raja Pulau Api tersebut. Mereka pun berjalan menyusuri lorong istana menuju tempat peristirahatan pribadi Baginda Raja.

"Terimalah sembah sujud dari kami," ucap salah seorang prajurit diikuti dengan sikap bersujud.

Melihat kedua prajurit itu bersujud, Gajahmada pun mengikuti mereka bersujud di hadapan Raja Pulau Api yang tengah duduk di atas hamparan kulit harimau besar.

"Kuterima sembah sujud kalian. Tinggalkan Mahesa Muksa bersama kami," titah Baginda Raja Pulau Api.

Mendengar perintah itu, kedua prajurit tersebut mundur teratur meninggalkan tempat peristirahatan Baginda Raja.

"Selamat datang, anak muda," sapa Baginda Raja Pulau Api dengan senyum keramahan.

Sejenak Gajahmada memandang ke arah Raja Pulau Api itu, seorang yang sudah cukup berumur, seusia Prabu Guru Darmasiksa. "Aku berhadapan dengan kakekku sendiri," batin Gajahmada.

Sementara itu, Gajahmada juga melihat seseorang di samping Raja Pulau Api yang menatapnya dengan sinar mata penuh kegembiraan. Gajahmada tertegun sejenak memandang orang itu; ia belum setua Raja Pulau Api, namun wajahnya seperti pinang dibelah dua dengan sang Raja, hanya usia yang membedakan keduanya.

"Apakah kamu sudah tahu mengapa dirimu malam ini datang menghadapku?" tanya Raja Pulau Api dengan suara berat penuh wibawa.

"Hamba hanya menduga bahwa kedatangan hamba berkaitan dengan peristiwa kerbau gila tadi siang," jawab Gajahmada tanpa rasa gentar sedikit pun berhadapan dengan orang yang paling dihormati di kerajaan Rakata itu, yang telah diketahuinya sebagai kakeknya sendiri.

Mendengar jawaban dan sikap Gajahmada, Raja Pulau Api dan orang di sebelahnya saling berpandangan.

"Aku memang telah mendengar tentang kejadian di pasar siang itu, tentang seorang anak muda yang membunuh seekor kerbau gila," kata Raja Pulau Api sambil menatap wajah Gajahmada.

"Hambalah orangnya yang telah membunuh kerbau itu," tegas Gajahmada dengan wajah tengadah tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Aku mendapat laporan bahwa kamulah yang membuat kerbau itu mengamuk dan merugikan banyak orang di pasar," ujar Raja Pulau Api.

"Itu fitnah, Tuanku. Justru hambalah yang telah meredakan kerbau gila itu," bela Gajahmada, mencoba meluruskan kejadian yang sebenarnya.

"Perbuatanmu membunuh kerbau itu adalah sebuah kesombongan, dan aku akan menghukummu," kata Raja Pulau Api.

Sedari kecil, Gajahmada sudah biasa hidup di lingkungan istana dan berhubungan dengan Raja Majapahit yang sangat dihormati. Jadi, tidak ada rasa takut sedikit pun saat berhadapan dengan Raja Pulau Api, apalagi jiwa ksatrianya telah ditempa untuk membela kebenaran. Peristiwa siang itu dianggapnya sebagai perbuatan baik untuk melindungi orang banyak. Namun, ia merasa kecewa dengan sikap Raja Pulau Api. Ia juga heran dengan sikap orang di sebelah sang Raja yang tidak pernah berpaling dan selalu tersenyum, seolah hukuman yang diucapkan sang Raja hanyalah sesuatu yang biasa.

"Ternyata kakekku seorang raja yang kurang bijaksana," batin Gajahmada, mulai merasa tidak senang.

"Aku akan memberikan hukuman terberat yang pernah ada di Pulau Api ini," kata Raja Pulau Api dengan sikap penuh wibawa.

"Menurutku, Tuanku Baginda telah melakukan ketidakadilan," kata Gajahmada dengan wajah teguh.

Mendengar perkataan Gajahmada, Raja Pulau Api dan orang di sebelahnya saling berpandangan, lalu mereka tertawa penuh kesenangan. Melihat hal itu, Gajahmada semakin tidak suka.

"Aku akan menambah hukumanmu lebih berat lagi karena kamu telah mengatakan bahwa aku kurang adil," ujar Raja Pulau Api dengan suara yang dipaksakan berat.

Seketika itu pula, Raja Pulau Api saling berpandangan kembali dengan orang di sebelahnya dan mereka tertawa bersama. Hal itu membuat Gajahmada semakin muak, merasa berada di lingkungan yang tidak sehat dan tidak manusiawi.

"Apakah kamu tidak bertanya hukuman apa yang akan kuberikan kepadamu?" tanya Raja Pulau Api dengan senyum di bibir.

Gajahmada memandang ke arah Raja Pulau Api dan orang di sebelahnya dengan perasaan kecewa. Ia menyayangkan telah menemui kakek kandungnya sendiri yang memiliki sikap kurang bijaksana dalam menengahi masalah.

"Hukuman apa pun akan hamba terima dengan hati terbuka," jawab Gajahmada dengan suara menahan rasa kecewa yang sangat.

"Aku akan menghukummu dengan sebuah keharusan yang harus kamu laksanakan dengan penuh kesadaran hati. Mulai saat ini, kunobatkan dirimu untuk menjadi seorang Panglima Perang tertinggi di keprajuritan Kerajaan Rakata ini," ucap Raja Pulau Api sambil tersenyum.

Mendengar itu, Gajahmada tersentak kaget bukan kepalang; ia tidak menyangka sama sekali bahwa hukuman yang diterimanya adalah jabatan tertinggi di kerajaan.

"Terimalah, wahai putraku," kata orang di sebelah Raja Pulau Api yang sedari tadi belum mengeluarkan suara.

Gajahmada kembali tersentak mendengar suara orang itu—sebuah suara yang nampaknya sangat akrab di telinganya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment