Chapter 75
"Akulah ayahmu, yang kadang datang meski hanya lewat sebuah ajian pameling," kata orang itu dengan senyum ke arah Gajahmada.
Gajahmada memang tidak sangsi lagi. Suara orang itu terasa begitu dekat dengan hatinya, suara orang yang sangat dirindukan selama ini untuk dapat ditemuinya secara langsung.
"Ayah?" kata Gajahmada sambil mendekat dan memeluk penuh kerinduan tubuh orang itu yang ternyata adalah Pendeta Darmaraya, ayah kandungnya sendiri.
"Sembah dan sujudlah kepada kakekmu sendiri, wahai putraku," perintah Pendeta Darmaraya kepada Gajahmada.
Tanpa perintah kedua kalinya, Gajahmada telah bersujud di hadapan Raja Pulau Api. "Bangkitlah wahai cucundaku, sembah sujudmu telah kuterima. Ayahmu telah membuka semua rahasia ini saat usiaku sudah begitu rapuh."
"Sekian lama kesangsian ini hanya ada di dalam hati dalam penuh keraguan. Karena aku mendengar sendiri suara jerit tangis bayi laki-laki di dalam ruang persalinan sang permaisuri, namun seorang dukun bayi menyerahkan kepadaku seorang bayi perempuan. Sebuah keanehan yang selama ini selalu menghantui setiap mimpi-mimpiku," tutur Raja Pulau Api dengan kehalusan hati seorang kakek kepada cucundanya.
"Sekarang, prahara itu telah datang kembali mendekati kita. Pendeta Rakanata yang telah berganti nama menjadi Ki Guntur Geni telah menghimpun sebuah kekuatan untuk merampas kerajaan kakekmu ini," kata Pendeta Darmaraya kepada Gajahmada.
"Aku juga telah menyaksikan sendiri prahara yang terjadi hampir di setiap langkah perjalanan orang itu. Demi kemanusiaan, aku siap menghadapinya," jawab Gajahmada di hadapan ayah dan kakeknya.
"Jadi, kamu bersedia menjadi seorang panglima perang di kerajaanku ini?" tanya Raja Pulau Api.
"Cucunda dengan senang hati menerimanya, wahai Baginda Raja Pulau Api," jawab Gajahmada penuh senyum, merasa selama ini telah diperolok oleh kakek dan ayahnya yang telah mengetahui jati dirinya.
"Aku senang mendengarnya, wahai cucundaku. Dalam waktu singkat, semua orang di Pulau Api ini harus dapat merayakan pertemuan ini, merayakan kegembiraan kita bersama," ujar Raja Pulau Api.
Demikianlah, tiga lelaki itu saling bercerita tentang diri masing-masing selama masa yang terpisah satu dengan yang lainnya. Sementara itu, langit malam sudah mulai larut di atas istana Rakata.
"Ada sebuah rahasia yang juga harus kamu ketahui hari ini, wahai putraku," kata Pendeta Darmaraya.
"Aku siap mendengarnya, wahai ayahandaku," sahut Gajahmada dengan kening berkerut.
"Ibumu dan ayah angkatmu telah menyembunyikan nama aslimu. Itu semua mereka lakukan karena seperti itulah adat istiadat memperlakukan seorang anak yang terlahir saat gerhana matahari. Saat ini kulihat dirimu sudah dewasa, saatnya kamu memikul namamu sendiri," tutur Pendeta Darmaraya.
"Siapakah nama putramu ini, wahai ayahandaku?" tanya Gajahmada penuh perhatian.
"Namamu adalah Gajahmada, karena kamu ditemukan oleh ayah angkatmu bersama ibumu di Hutan Mada, di sebuah tanah yang indah di Balidwipa," jawab Pendeta Darmaraya menceritakan keadaan Gajahmada beberapa hari setelah kelahirannya.
"Gajahmada," gumam Gajahmada.
"Gajahmada, aku senang sekali dengan nama itu," puji Raja Pulau Api.
Langit malam semakin larut ditemani dewi purnama di atas istana Rakata. Tiga orang prajurit penjaga dengan terkantuk-kantuk berjalan menyusuri lorong istana memastikan bahwa malam itu tidak terjadi apa pun.
"Hari sudah larut, sebaiknya kalian beristirahat," kata Raja Pulau Api kepada Pendeta Darmaraya dan Gajahmada.
Malam itu, Gajahmada diajak beristirahat di sebuah tempat di istana Rakata bersama ayahnya. Di peraduannya, Gajahmada seperti tengah bermimpi melihat suasana kamar yang sangat elok sebagaimana kamar seorang pangeran. Ia tertidur dan bermimpi layaknya seorang pangeran di taman bunga istana bersama dua wanita yang diam-diam telah menyelinap dalam setiap mimpinya: Andini dan Dyah Rara Wulan.
Ketika pagi tiba, Gajahmada terbangun di kamarnya sendiri. "Ternyata aku memang tidak bermimpi," ucapnya sambil berbaring di peraduan yang elok.
"Ada beberapa hal penting yang harus kita bicarakan bersama kakekmu," kata Pendeta Darmaraya saat ditemui Gajahmada di ruang pringgitan pagi itu.
"Izinkan Ananda menemui beberapa kawan. Ananda takut mereka menjadi khawatir karena Ananda tidak pulang ke rumah mereka semalam," ujar Gajahmada.
"Baiklah, namun siang ini kutunggu kehadiranmu di istana ini," jawab ayahnya.
Gajahmada menyusuri lorong dan jalan setapak di istana. Ia melihat suasana istana yang sedang dihias seperti akan melaksanakan upacara besar. Ia tersenyum seorang diri. "Sebuah upacara besar untuk kembalinya sang pangeran," batinnya.
Seorang prajurit pribadi Raja Pulau Api yang semalam membawanya dari rumah Ki Lurah Jangkung menawarkan diri untuk mengantar hingga gerbang. Sepanjang jalan, tidak ada prajurit yang berani bertanya karena melihat keberadaan Gajahmada.
"Siang ini aku akan kembali," kata Gajahmada sebelum berpisah.
"Aku akan menunggumu, aku takut Tuan dipersulit masuk kembali ke istana ini," jawab prajurit itu penuh hormat.
Sesampainya di halaman rumah Ki Lurah Jangkung, Pangeran Jayanagara dan Ki Lurah Jangkung menyambutnya dengan gembira. Gajahmada singkat bercerita tentang pertemuan dengan Raja Pulau Api.
"Sebuah pertemuan yang mengharukan. Aku merasa gembira telah mendengarnya langsung dari Tuan Pangeran," ujar Ki Lurah Jangkung dengan sikap yang berubah drastis penuh hormat.
"Kita sudah begitu lama mengenalmu, selama ini kamu telah menutupi jati dirimu sendiri, wahai sahabatku," kata Pangeran Jayanagara. "Kakang Putu Risang juga sangat pandai menutup rahasia."
"Aku perlu bantuanmu, sahabat," kata Gajahmada setelah menceritakan tentang ancaman Pendeta Rakanata.
"Aku siap berada di belakangmu," tegas Pangeran Jayanagara.
"Ada hal penting yang akan dibicarakan ayahandaku bersama Raja Pulau Api di istana," kata Gajahmada saat hendak berpamit. Meski sempat ditawari makan siang oleh Nyi Lurah, Gajahmada berjanji akan sering berkunjung kembali.
Gajahmada kembali ke istana Rakata. Di luar istana, dua orang lelaki tengah mengamati suasana dengan curiga.
"Nampaknya akan ada sebuah upacara besar di istana," kata salah satunya.
"Ki Guntur Geni pasti senang mendapat berita ini, sebuah celah menghancurkan mereka di saat lengah," balas kawannya.
Mereka pun berbaur dengan keramaian di Kotaraja Rakata dan menghilang entah ke mana. Sementara itu, Gajahmada telah berada di tempat peristirahatan Raja Pulau Api, tempat ayahnya, Pendeta Darmaraya, sudah menunggu.