Chapter 76
"Kakekmu telah memerintahkan seorang Mahapatih untuk menyiapkan kekancingan dirimu menjadi seorang panglima perang di Kerajaan Rakata, tentunya dengan sebuah upacara besar agar semua orang mengetahui bahwa dirimu adalah bagian dari keluarga istana," ucap Pendeta Darmaraya sembari berhenti sebentar dan menarik napas panjang.
Terlihat Gajahmada diam, menyadari masih ada hal lain yang ingin disampaikan oleh ayahandanya itu.
"Namun, ada hal lain lagi yang akan kami sampaikan kepadamu, menyangkut suasana yang terus berkembang di kerajaan ini," lanjut Pendeta Darmaraya kepada Gajahmada.
Gajahmada menarik napas panjang, menduga-duga apa gerangan yang akan disampaikan oleh ayahnya. Sementara itu, Raja Pulau Api tetap diam di tempatnya, mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh putra Pendeta Darmaraya tersebut.
"Saat ini, istana kita tengah dibayang-bayangi oleh sebuah kekuatan gelap, sebuah kekuatan yang dipimpin oleh Pendeta Rakanata yang telah berganti nama menjadi Ki Guntur Geni. Kekuatan itu dapat bergerak kapan pun. Namun, sudah dapat kupastikan bahwa mereka sudah mengintai di sekitar istana ini," tutur Pendeta Darmaraya.
"Sebuah kekuatan gelap?" tanya Gajahmada kepada ayahandanya.
"Kusebut kekuatan mereka sebagai kekuatan gelap karena mereka telah berbaur di antara para penghuni Kotaraja Rakata ini," jelas Pendeta Darmaraya.
"Gerakan Gelap Mendem," gumam Gajahmada tanpa sadar.
"Kamu sudah mengerti maksudku, wahai putraku," sahut Pendeta Darmaraya seraya tersenyum kepada putra tunggalnya itu.
"Bersiaplah. Aku dan ayahmu telah menyiapkan sebuah cara untuk memancing mereka keluar dari persembunyiannya," sela Raja Pulau Api.
Gajahmada mengangguk-anggukkan kepala, merasa yakin bahwa ayah dan kakeknya telah memiliki strategi matang untuk menghadapi kekuatan Ki Guntur Geni.
"Kami akan memancing mereka dengan upacara kekancingan dirimu sebagai seorang panglima perang di Kerajaan Rakata," ujar Pendeta Darmaraya.
"Hari ini, kami telah memerintahkan Rangga Sujiwa untuk membawa keluar pasukannya dari istana. Mereka adalah pasukan senyap yang akan menghantam musuh dari arah belakang. Sebagaimana musuh, saat ini mereka juga telah membaur di antara para penghuni kotaraja," sambung Raja Pulau Api.
"Ki Guntur Geni pasti sudah banyak menyusupkan orangnya di istana ini. Itulah sebabnya aku memerintahkan Rangga Sujiwa dan pasukannya; mereka adalah para prajurit pilihan yang sangat setia kepadaku," tambah Raja Pulau Api, seolah mampu membaca isi pikiran Gajahmada yang khawatir gerakan mereka terbaca lawan.
"Kita akan membuat upacara yang meriah. Aku sengaja mengundang para brahmana; mereka adalah sahabat-sahabatku yang memiliki kemampuan tinggi, cukup untuk menahan pasukan Ki Guntur Geni di istana ini," kata Pendeta Darmaraya.
"Nampaknya kalian telah menyiapkan segalanya dengan baik," puji Gajahmada atas siasat dan rencana perang ayah serta kakeknya.
Sementara itu, dua orang lelaki tengah memasuki sebuah rumah besar di Kotaraja Rakata milik seorang juragan kaya. Namun, orang-orang tidak mengetahui bahwa rumah itu sudah tidak berpenghuni dan telah menjadi tempat persembunyian dua buronan besar yang dicari oleh pihak Istana Kawali. Mereka adalah Pendeta Rakanata dan mantan Patih Anggajaya, yang kini telah berganti jati diri sebagai Ki Guntur Geni dan Ki Guntur Bumi.
"Masuklah ke dalam," ujar Ki Guntur Geni di pendapa rumah kepada seorang wanita cantik, saat melihat dua orang lelaki berjalan di halaman yang luas.
"Kami membawa berita bagus," kata salah seorang lelaki setelah dipersilakan duduk oleh Ki Guntur Geni.
"Berita tentang wanita cantik?" tanya Ki Guntur Geni. Kedua orang kepercayaannya itu tersenyum.
"Kami membawa berita yang pasti akan menyenangkan hati Tuanku, tapi bukan tentang wanita cantik," jawab lelaki itu.
"Katakan, aku ingin segera mengetahuinya," desak Ki Guntur Geni. Lelaki itu pun bercerita tentang suasana Istana Rakata yang akan melaksanakan upacara besar dua hari lagi.
"Upacara apa?" tanya Ki Guntur Bumi.
"Upacara kekancingan untuk mengangkat seorang panglima perang kerajaan," jawab lelaki itu.
"Apakah kamu mengetahui siapa orang yang akan diangkat sebagai panglima perang?" tanya Ki Guntur Bumi.
"Tidak banyak yang tahu, namun salah seorang penyusup kita di istana menduga bahwa dia adalah salah seorang keturunan Raja Pulau Api sendiri," jawab kawan lelaki itu.
"Setahuku, dua orang putra Pangeran Rhawidu belum dewasa," sahut Ki Guntur Bumi keheranan.
"Siapapun orangnya, saat mereka melaksanakan upacara itulah waktu yang tepat untuk menyerang," ujar Ki Guntur Geni dengan wajah penuh semangat.
"Benar, pasukan Gelap Mendem kita memang sudah terlalu lama berada di kotaraja ini," timpal Ki Guntur Bumi menyetujui rencana tersebut.
Ki Guntur Geni memberikan beberapa petunjuk kepada kedua orang kepercayaannya. "Pasukan kita segera masuk secara bersamaan lewat pintu gerbang utama istana Rakata. Raja Pulau Api yang sudah tua itu pasti mati mendadak karena terkejut," ucap Ki Guntur Geni sambil tertawa, yang disambut tawa kegembiraan oleh yang lain.
"Dan kita akan menjadi raja bersama," kata Ki Guntur Geni kepada Ki Guntur Bumi, meski dalam hatinya berkata lain, "Aku akan membunuhmu, aku tidak rela berbagi kekuasaan dengan siapa pun."
"Kita akan berbagi selir," sahut Ki Guntur Bumi membayangkan para selir raja.
"Aku akan mencari untuk menambah selir-selir tercantik di Kerajaan Rakata ini," balas Ki Guntur Geni.
Hari pun berlalu. Secara kasat mata, Kotaraja Rakata terlihat seperti hari-hari sebelumnya. Namun, sesungguhnya di sana telah menyelinap dua kekuatan yang saling mengintai, seperti dua ekor harimau jantan yang mengendap-endap di padang perburuan. Satu harimau adalah pendatang yang ingin merebut wilayah, sementara yang lain adalah penjaga yang siap mempertahankan kekuasaannya.
Pasukan Ki Guntur Geni dan pasukan pimpinan Ki Rangga Sujiwa berada di satu arena, namun sama-sama tersembunyi. Mereka menyamar sebagai pedagang, pengembara, bahkan pengemis. Selebihnya bersembunyi di rumah-rumah penduduk. Gerakan Gelap Mendem ibarat semut hitam di kegelapan malam, menunggu hari upacara besar tiba.
Malam menjelang upacara, para undangan dari tempat yang jauh telah berdatangan. Pangeran Jayanagara sengaja diundang untuk bermalam di istana.
"Mereka dapat dipastikan akan memasuki pintu gerbang utama istana. Tugasmu adalah menghadapi mantan Patih Anggajaya," ujar Gajahmada kepada Pangeran Jayanagara sambil memberikan ciri-ciri khusus Ki Guntur Bumi. "Sementara itu, aku akan menghadapi sendiri Pendeta Rakanata atau Ki Guntur Geni."
Di tempat tertutup, di peristirahatan Raja Pulau Api, Pangeran Jayanagara, Gajahmada, Pendeta Darmaraya, dan sang Raja terus berbincang menyusun rencana hingga larut malam.
"Sepuluh brahmana, sahabat dekatku, akan membantu mempertahankan istana sembari menunggu pasukan Rangga Sujiwa keluar dari persembunyiannya," kata Pendeta Darmaraya.
"Aku telah memerintahkan beberapa prajurit kepercayaanku untuk siap siaga di medan pertempuran," tambah Raja Pulau Api. "Sementara itu, aku tidak menambah penjagaan di gardu jaga untuk memberi kesan tidak ada hal luar biasa. Hal ini kulakukan agar musuh tidak curiga, karena aku tahu Ki Guntur Geni telah menyusupkan orangnya di istanaku."
Sementara itu di luar istana, dua orang lelaki terlihat sedang berjalan di depan pintu gerbang utama Istana Rakata.