Chapter 78
"Jangan sombong!" seru Ki Guntur Bumi. Ia yang menganggap Pangeran Jayanagara memiliki tingkat kanuragan di bawah prajurit Rakata, segera meningkatkan tataran ilmunya untuk menyerang dengan lebih kuat dan ganas.
Namun, Ki Guntur Bumi kembali kecewa. Serangannya dengan mudah dielakkan oleh Pangeran Jayanagara yang justru melakukan serangan balasan lebih kuat dan cepat, mengarah ke titik kosong dan terbuka pada tubuh lawan.
"Gila!" maki lelaki pemarah itu sambil melompat jauh untuk menghindari serangan Pangeran Jayanagara.
Kini Ki Guntur Bumi sadar bahwa pemuda di hadapannya bukanlah orang sembarangan. Ia pun meningkatkan tataran ilmunya dari sebelumnya.
Melihat serangan Ki Guntur Bumi yang lebih kuat dan cepat, Pangeran Jayanagara menjadi lebih berhati-hati. Ia melambari dirinya dengan tenaga sejati untuk melindungi diri dari hawa panas yang terpancar melalui angin serangan mantan Patih Kawali itu.
Bukan main kecewanya Ki Guntur Bumi melihat pemuda itu tidak kesulitan menghadapi serangannya. Hawa panas yang terpancar lewat angin pukulannya seolah pudar dan tenggelam. Ternyata, Pangeran Jayanagara telah menghentakkan tenaga sakti sejati untuk meredam hawa panas tersebut dengan hawa dingin tandingan yang tidak kalah kuat. Hawa itu bahkan sempat menyengat dan membuat tubuh Ki Guntur Bumi menggigil saat angin pukulan Pangeran Jayanagara menyentuh kulitnya.
Sebagaimana Gajah Mada dan Ki Guntur Geni, Pangeran Jayanagara dan Ki Guntur Bumi tampak berlomba meningkatkan tataran ilmu masing-masing. Seketika itu pula, mereka terpisah dari arena pertempuran lainnya. Orang-orang menjauh karena takut terkena sambaran angin dahsyat dari keduanya. Hawa panas dan hawa dingin silih berganti terhempas di sekitar mereka.
Sementara itu, Pendeta Darmaraya bersama prajurit Rakata serta sepuluh brahmana telah mampu menahan laju serangan para pemberontak yang berjumlah sekitar seratus orang. Meski tidak menggunakan kesaktian tingkat tinggi, Pendeta Darmaraya tampak seperti sedang bermain-main, melompat ke sana kemari sambil merobohkan lawan satu per satu.
Bantuan yang ditunggu akhirnya datang. Diawali dengan suara gaung panah sanderan yang membelah udara Kotaraja Rakata, tidak lama kemudian pasukan prajurit Rakata tiba dan langsung menyerang para pemberontak dari arah belakang. Para pemberontak pun panik.
"Habisi mereka semua!" teriak lantang pimpinan pasukan baru itu, yang tidak lain adalah Ki Rangga Sujiwa.
Seratus prajurit Rakata yang datang mengepung dari belakang membuat puluhan pemberontak roboh dalam waktu singkat.
"Sial!" teriak Ki Guntur Geni penuh kekesalan saat menyadari pasukannya terkepung dari dua arah.
"Penipu ulung!" teriak Ki Guntur Bumi menyadari mereka telah terjebak dalam siasat perang Raja Pulau Api.
"Sebentar lagi mereka pasti dapat dilumpuhkan," ucap Raja Pulau Api yang masih duduk di batu keling di bangsal penobatan, menyaksikan pertempuran di gerbang istana.
Sebagaimana perkiraan Raja Pulau Api, kedatangan pasukan Ki Rangga Sujiwa membuat jumlah pemberontak menyusut tajam. Matahari di atas Istana Rakata sudah naik sepenggalan. Meski pihak istana sudah dipastikan berada di atas angin, pertempuran masih berlangsung. Mayat bergelimpangan di sekitar gerbang istana, sementara yang terluka parah tidak lagi mampu mengangkat senjata.
Akhirnya, jumlah pemberontak semakin berkurang dan hanya menyisakan segelintir orang yang bertahan. Pendeta Darmaraya dan sepuluh brahmana tidak lagi memiliki lawan, membiarkan sisa pemberontak dikepung oleh prajurit Rakata.
"Menyerahlah!" seru seorang prajurit Rakata kepada pemberontak yang masih bertahan meski tubuhnya bersimbah darah.
*Plok!*
Tangan yang kuat menghantam wajah orang itu hingga terpelanting. "Dasar keras kepala," ucap prajurit tersebut sambil menendang senjata lawan hingga terlepas.
Di sisi lain, Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara masih sibuk menghadapi lawan-lawan mereka, dua pentolan pemberontak yang juga menjadi buronan. Dua pertempuran terpisah itu disaksikan oleh hampir semua orang yang berada di istana.
"Ajian Muncang Kuning akan menyerap habis hawa murni anak setan ini," batin Ki Guntur Geni kesal karena tidak mampu menundukkan Gajah Mada. Pikiran serupa juga terlintas di benak Ki Guntur Bumi. Namun, kedua pemuda itu telah mengantisipasinya dengan menyiapkan ajian yang sama secara terbalik.
"Ilmu apa yang dimiliki anak setan ini?" batin Ki Guntur Geni saat tangannya beradu, namun ajian Muncang Kuningnya gagal menyerap hawa murni lawannya. Begitu pula Ki Guntur Bumi yang merasa ajiannya menjadi mandul saat menghadapi Pangeran Jayanagara.
Melihat ajian mereka tidak bergeming, kedua pemberontak itu meningkatkan tataran puncak ilmu mereka. Tenaga sakti Ki Guntur Geni dan Ki Guntur Bumi yang selama ini mencuri hawa murni orang-orang sakti memang luar biasa; angin serangan mereka terasa seperti air mendidih yang menyengat kulit.
Tidak ada jalan lain bagi kedua pemuda itu selain mengeluarkan ajian andalan yang diwariskan oleh Prabu Guru Darmasiksa. Pendeta Darmaraya membatin saat melihat kedua pemuda itu melakukan gerak yang sama. Mereka melompat menjauhi lawan masing-masing sekitar sepuluh langkah. Saat kaki menginjak tanah, mereka merenggangkan kaki dan merangkapkan tangan di depan dada.
Seketika, tangan kedua pemuda itu menjulur ke depan. Gerakan mereka begitu cepat; seleret cahaya kuning seperti lidah api muncul dari telapak tangan mereka. Ki Guntur Geni dan Ki Guntur Bumi tidak sempat mengelak dan tidak mampu bergerak sedikit pun saat cahaya kuning tersebut menghantam tubuh mereka.
Orang-orang di sekitar pertempuran terpaku bisu melihat tubuh Ki Guntur Geni dan Ki Guntur Bumi tersambar cahaya kuning dan langsung terbakar hangus. Gajah Mada sendiri terpana, tidak menyangka ajian Muncang Kuning yang dilontarkannya begitu dahsyat hingga mengubah tubuh Ki Guntur Geni menjadi setumpuk abu. Begitu pula dengan Pangeran Jayanagara yang melihat tubuh Ki Guntur Bumi gosong seperti kayu kering.
"Mereka berdua memiliki ajian sakti leluhur Raja Pasundan," bisik Pendeta Darmaraya kepada seorang brahmana sahabatnya.
Tewasnya dua pentolan pemberontak itu menjadi akhir dari pertempuran. Mayat-mayat bergelimpangan di tanah bersama korban luka yang mengerang kesakitan. Prajurit mulai mengumpulkan mayat dan menolong korban luka. Korban di pihak prajurit Rakata dapat dihitung dengan jari.
"Terima kasih telah menyelamatkan istanaku," ujar Raja Pulau Api yang menghampiri Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara.
Matahari di atas Istana Rakata merayap mendekati puncak singgasananya. Dua ekor elang tua terbang tinggi menuju tebing, menghilang di ujung batas penglihatan.
"Telah banyak korban di tangan kedua orang itu. Petualangan hitam mereka berakhir di ujung barat Jawadwipa ini, di bumi tempat mereka dilahirkan," ucap Pendeta Darmaraya sambil menarik napas lega. Kejahatan Ki Guntur Geni dan Ki Guntur Bumi akhirnya terpapas habis, berakhir dengan kematian tragis di tangan kedua pemuda itu, yang salah satunya adalah putra kandungnya sendiri, Gajah Mada.