Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 79

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 79

Tampak Gajah Mada, Pangeran Jayanagara, Pendeta Darmaraya, dan sepuluh orang Brahmana bersama Raja Pulau Api masih berdiri di bangsal penobatan, menyaksikan para prajurit Rakata membersihkan halaman sekitar gerbang istana dari para korban.

Diam-diam, Gajah Mada memuji sikap kakeknya, Raja Pulau Api, yang tetap berada di tempatnya menyaksikan para prajurit Rakata yang tengah mengevakuasi korban tewas maupun terluka sebagai tanda solidaritas seorang raja kepada bawahannya.

"Aku akan beristirahat setelah melihat para prajurit menyelesaikan tugasnya di halaman gerbang istana," ujar Raja Pulau Api kepada putranya, Pendeta Darmaraya, yang memintanya untuk kembali ke tempat peristirahatan.

Akhirnya, halaman gerbang istana tampak kembali seperti sedia kala. Para prajurit Rakata telah menempatkan korban tewas dan mereka yang terluka di sebuah tempat di istana.

"Nampaknya sudah saatnya kami berpamit diri," ucap salah seorang dari kesepuluh Brahmana yang hendak kembali ke kuil mereka masing-masing.

"Apakah tidak sebaiknya kalian beristirahat satu atau dua hari lagi di istana ini?" tanya Pendeta Darmaraya kepada para Brahmana.

"Kami sudah cukup menikmati suguhan di istana ini kemarin dan hari ini," jawab salah seorang dari para Brahmana itu.

"Kalau begitu, kami tidak dapat menahan Tuan-tuan lebih lama lagi," sahut Pendeta Darmaraya kepada para sahabat dekatnya itu.

Demikianlah, kesepuluh Brahmana itu berpamit diri meninggalkan istana Rakata.

"Tinggallah di istana ini selama yang kamu inginkan," kata Raja Pulau Api kepada Pangeran Jayanagara.

"Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku, wahai saudaraku," tutur Pangeran Jayanagara kepada Gajah Mada, melihat kebahagiaan di wajah sahabatnya yang telah dipertemukan kembali dengan ayah dan kakek kandungnya sendiri.

Namun, manakala mereka berempat tengah beranjak dari bangsal penobatan untuk beristirahat, seorang prajurit datang menghampiri mereka.

"Pasti ada berita penting yang hendak kamu sampaikan," ujar Raja Pulau Api kepada prajurit yang bersujud di hadapannya itu. Tampaknya, Raja Pulau Api mengenali bahwa prajurit tersebut adalah seorang petugas telik sandi kepercayaannya.

"Ampun, Tuanku Baginda, ada berita yang sangat penting. Hamba mendapat kabar bahwa saat ini ada pasukan besar dari tanah Pasundan sedang menuju ke Kotaraja Rakata," lapor prajurit itu.

"Pasti mereka datang untuk meminta pertanggungjawaban atas perbuatan Pangeran Rhawidu bersama pasukannya yang menyerang Kotaraja Kawali," kata Raja Pulau Api sambil menarik napas panjang.

"Haruskah kita mempertanggungjawabkan perbuatan orang lain?" tanya Pendeta Darmaraya.

"Apapun alasan kita, pihak Pasundan tidak akan menerimanya. Mereka pasti menyangka pasukan Rakata yang menyerang itu atas restu dariku," jawab Raja Pulau Api sambil memandang ke arah gerbang istana dengan tatapan kosong, entah apa yang sedang dipikirkannya.

Gajah Mada dapat membaca suasana perasaan kakeknya itu, lalu ikut merasa kasihan dan prihatin. "Bila saja aku dapat mendatangi mereka, mungkin perkataanku dapat mereka dengar," ujar Gajah Mada menawarkan diri untuk menemui pemimpin pasukan Pasundan itu.

Raja Pulau Api dan Pendeta Darmaraya memandang ke arah Gajah Mada. Mereka merasa ragu apakah pemimpin pasukan Pasundan mau mendengarkan Gajah Mada.

"Kami pernah membantu prajurit tanah Pasundan menghadapi pasukan Pangeran Rhawidu," Pangeran Jayanagara ikut meyakinkan Raja Pulau Api dan Pendeta Darmaraya.

"Kebetulan sekali kami sangat dekat dengan keluarga istana Kawali; mudah-mudahan kami juga mengenal pemimpin pasukan dari tanah Pasundan itu," tambah Gajah Mada.

"Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara telah mewarisi ajian leluhur para raja Pasundan. Pastilah mereka berdua memang begitu dekat dengan keluarga istana Kawali," batin Pendeta Darmaraya, mulai memercayai perkataan keduanya.

"Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan pedang. Tidak ada salahnya bila kita menempuh jalan damai dan mencoba berbicara dengan hati serta perasaan," kata Pendeta Darmaraya, menyetujui usulan Gajah Mada.

"Lurah Jatayu, apakah kamu mengetahui di mana pasukan dari tanah Pasundan itu saat ini?" tanya Raja Pulau Api kepada prajurit yang masih bersama mereka.

"Hamba mendapat berita bahwa saat ini pasukan dari tanah Pasundan masih berada di sekitar tanah Rumpin," jawab prajurit yang dipanggil Lurah Jatayu itu.

"Izinkan Ananda bersama Pangeran Jayanagara datang menemui mereka," pinta Gajah Mada.

"Restuku ada bersama kalian berdua," jawab Raja Pulau Api.

Demikianlah, Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara diizinkan oleh Raja Pulau Api untuk membicarakan perdamaian dengan pemimpin pasukan dari tanah Pasundan yang diperkirakan berada di sekitar tanah Rumpin.

Ketika langit mulai meredup dan cahaya matahari tenggelam di ufuk barat, sebuah sampan kecil meluncur perlahan membelah air muara Cisadane. Di atas sampan itu terdapat Gajah Mada, Pangeran Jayanagara, dan Lurah Jatayu. Sangat berat mendayung sampan melawan arus sungai Cisadane, namun dengan tenaga yang kuat, kedua anak muda itu terlihat mudah mendayung tanpa merasa lelah sedikit pun.

"Tenaga kedua anak muda ini sangat luar biasa," batin Lurah Jatayu.

Perahu itu terus melaju menyusuri sungai di malam hari yang gelap, hanya diterangi cahaya rembulan yang setia mengikuti perjalanan mereka. Di kiri kanan sungai, pemandangan hanyalah kegelapan hutan belukar yang lebat.

Perlahan malam berganti pagi. Suara ayam jantan bersahut-sahutan dari kejauhan. Langit terbuka, mengusir sisa embun pagi, dan kicau burung memenuhi udara.

"Kita beristirahat di ujung sana," ujar Gajah Mada sambil menunjuk tanah datar di tepian sungai Cisadane. Mereka pun menepi.

"Pangkalan Jati sudah tidak begitu jauh lagi," ujar Lurah Jatayu yang sangat mengenali medan tersebut.

"Kita pulihkan tenaga kita dulu," kata Gajah Mada sambil bersandar di batang pohon besar. Tidak lama berselang, mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba di Pangkalan Jati, tempat terakhir yang dapat dilalui perahu di sungai Cisadane. Lurah Jatayu meminta bantuan seorang kenalan di sana untuk menitipkan sampan mereka.

Untuk mencapai hutan Rumpin, mereka harus mendaki jalan yang cukup terjal. "Kita sudah berada di Hutan Rumpin," ujar Lurah Jatayu sambil menoleh ke bawah, memandang sungai Cisadane yang berkelok panjang.

"Berhati-hatilah," ucap Gajah Mada. Naluri dan ketajaman panca inderanya telah merasakan bahwa ada banyak mata yang mengintai mereka.

Benar saja, tiba-tiba beberapa orang keluar dari semak belukar dan mengepung mereka. "Berhenti dan katakan siapa kalian!" bentak salah seorang di antara mereka.

"Sejak kapan di Hutan Rumpin setiap orang harus mengatakan jati dirinya?" tanya Gajah Mada sambil tersenyum setelah mengetahui mereka adalah prajurit dari tanah Pasundan.

"Jawab pertanyaanku, bukan malah bertanya!" bentak orang itu lagi.

"Kami datang untuk menemui pemimpin kalian," jawab Gajah Mada dengan suara datar. Orang yang membentak itu terkejut dan mengamati Gajah Mada dari ujung kaki hingga kepala.

"Apa kepentinganmu menemui pemimpin kami?" tanya orang itu penuh curiga.

"Bawalah kami ke pemimpinmu, kepadanyalah aku akan menyampaikan kepentingan kami," tegas Gajah Mada tanpa rasa takut sedikit pun.

Orang itu tampak gemetar. Diam-diam, Gajah Mada telah mengerahkan tenaga sakti sejatinya melalui suara dan tatapan mata. "Mari, kuantar kalian menemui pimpinan kami," ucap prajurit itu seketika, mencoba menutupi rasa takut yang muncul akibat kilatan mata Gajah Mada yang begitu tajam.

Gajah Mada, Pangeran Jayanagara, dan Lurah Jatayu pun mengikuti langkah prajurit tersebut menuju pemimpin mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment